Bung Karno, Contoh Pemimpin Yang Memperjuangkan Kemerdekaan dan Mempertahankannya

Bung Karno dan Politik Minyak (The Power of Oil)

“Jangan Dengarkan Asing..!!”

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tanpa Moskow, tanpa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “General Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya

Sumber :

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7751&type=2

Iklan

Demokrasi Yang Patut Dicontoh : Rakyat Iran memilih anggota Dewan Pakar atau Dewan Ulama

Di Indonesia terdapat Majelis Ulama Indonesia (MUI), suatu ormas yang dianggap mewakili semua ormas-ormas Islam di Indonesia. MUI ini berwenang mengeluarkan fatwa, tetapi tidak mempunyai wewenang menerapkan atau memaksakan fatwa itu untuk dilaksanakan.

Di Iran terdapat  Dewan Pakar (Majles-e Khubregan) yang dipilih oleh rakyat. Posisi para ulama di Dewan Pakar adalah posisi yang sangat penting karena merekalah yang akan memilih dan menetapkan Wali Faqih, pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran.

Para ulama yang duduk di Dewan Pakar tidak mendapatkan gaji dari negara.

————————————————————-

Mencari Manusia Setengah Dewa

Penulis : Dina Y Sulaeman

Salju lebat yang datang terlalu cepat, sebelum musim dingin tiba, seolah memberikan warna baru pada pemilu 15 Desember di Teheran. Poster-poster para kandidat pemilu yang digantung di pohon-pohonan Jalan Chamran tampak membeku diselimuti salju. Pemandangan di jalan-jalan besar lain di kota Teheran tak jauh berbeda. Pepohonan, dinding-dinding, pagar-pagar, halte bus, bahkan tiang listrik, penuh dengan tempelan poster-poster para kandidat. Sehari sebelum pelaksanaan pemilu, semua poster-poster itu pun ditarik dan disingkirkan, disaksikan oleh pepohonan yang tengah menahan endapan salju di ranting-rantingnya.

Pemilu yang kali ini diselenggarakan di Iran adalah pemilu yang lain daripada yang lain. Pemilu yang hanya ada satu-satunya di dunia, yaitu pemilu Dewan Pakar (Majles-e Khubregan), sebuah lembaga yang terdiri dari 86 ulama pilihan rakyat dari berbagai penjuru Iran.

Posisi para ulama di Dewan Pakar adalah posisi yang sangat krusial karena merekalah yang akan memilih dan menetapkan Wali Faqih, pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran. Namun anehnya, posisi ini tidak mendatangkan uang karena para ulama yang duduk di Dewan Pakar sama sekali tidak mendapatkan gaji dari negara.

Hiruk pikuk menjelang pemilu sudah terasa sejak dua-tiga bulan menjelang hari H. Namun, yang banyak bersuara adalah para pendukung ulama, bukan ulamanya sendiri, terutama dari kalangan yang menamakan diri kelompok reformis. Mereka membuat weblog-weblog untuk membentuk opini. Sebanyak 495 ulama mendaftarkan diri untuk bertarung dalam pemilu. Mereka kemudian diverifikasi oleh KPU yang juga terdiri dari para ulama. Jauh sebelum hasil verifikasi keluar, kelompok reformis sudah melemparkan ancaman, “Kalau kandidat-kandidat kami tidak lolos seleksi, artinya pemilu ini tidak valid,” kata Musavi Lari, seorang ulama reformis garis keras. Namun Musavi Lari akhirnya tetap harus gigit jari karena mayoritas pemilih tetap memberikan suara mereka kepada ulama-ulama dari sayap konservatif.

Verifikasi dilakukan untuk meneliti tingkat keilmuan para kandidat. Para ulama yang boleh duduk di Dewan Pakar haruslah sudah mencapai tingkat “mujtahid” (menguasai keilmuan yang dibutuhkan untuk mengambil deduksi hukum syar‘i). Para ulama yang sudah dikenal, antara lain yang sudah bergelar ayatullah bisa dipastikan lolos verifikasi secara otomatis. Namun, nama-nama baru harus mengikuti ujian tulis di bidang hukum Islam. Di kota Teheran, ada 3 ulama perempuan yang mencalonkan diri namun kemudian dinyatakan tidak lulus ujian tulis. Dari 495 pendaftar, ada 166 ulama yang lolos seleksi dan bertarung dalam pemilu. Setiap provinsi di Iran akan mendapat jatah ulama sesuai dengan perbandingan jumlah penduduk. Warga Teheran yang berjumlah 8 juta orang memiliki jatah 16 ulama untuk duduk di Dewan Pakar.

Dalam pemilu kali ini, untuk pertama kalinya ada kandidat yang lolos seleksi meski dia tidak dikenal sebagai ulama dan tidak mengenakan baju jubah khas ulama, yaitu Doktor Mohsen Esmaili. Dia ahli bidang fisika yang kemudian mengambil doktor di bidang hukum. Sambil kuliah di universitas, dia juga menutut ilmu keislaman di hawzah ilmiah, lembaga yang mencetak para ulama di Iran hingga mencapai derajat “mujtahid”. Namun rupanya dia tidak berhasil mendapat suara cukup banyak sehingga tidak termasuk dalam 16 ulama wakil rakyat Teheran.

Ketika 86 ulama telah terpilih untuk duduk di Dewan Pakar, mereka akan mengadakan sidang untuk memilih seorang Wali Faqih di antara mereka sendiri.

Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Kepemimpinan tertinggi dalam negara ini dipegang oleh seorang Wali Faqih atau ulama dengan kriteria yang sangat banyak: memiliki keilmuan yang dibutuhkan untuk memberi fatwa dalam urusan agama, memiliki integritas dan kesucian akhlak yang dibutuhkan untuk memimpin umat Islam, dan memiliki visi politik dan sosial, kebijaksanaan, keberanian, kemampuan adiministrasi, dan kemampuan pemimpin yang memadai. Benar-benar kriteria manusia setengah dewa.

(AsSalyan : istilah manusia setengah dewa kurang cocok untuk Islam. Yang lebih cocok adalah manusia yang sholeh).

Dua minggu menjelang pemilu, jalanan mulai ramai oleh tempelan poster. Namun poster yang dipajang lebih banyak poster-poster para kandidat Dewan Kota (DPRD) yang digelar bersamaan dengan pemilu Dewan Pakar. Di channel-channel televisi lokal dan radio, para ulama kandidat Dewan Pakar secara bergantian berpidato.

Umumnya isi pidato mereka bukan mengkampanyekan diri sendiri, melainkan menjelaskan kepada rakyat Iran apa tugas dan posisi Dewan Pakar dalam sistem negara.

Kampanye juga dilakukan dengan memanfaatkan internet, namun lagi-lagi, lebih bertema khutbah dan menjelaskan riwayat hidup tiap kandidat. Di masjid-masjid, kesibukan juga mulai terasa. Para ibu setelah usai sholat berjamaah sibuk berdiskusi, ulama mana yang sebaiknya dipilih dalam pemilu.

Tentu saja tidak semua orang antusias menyambut pemilu ini. Seorang penduplikat kunci yang saya temui di kios kecilnya di Jalan Satarkhan yang penuh dengan ratusan poster kandidat, dengan sengit berkata, “Apa gunanya ikut pemilu?! Yang mereka lakukan hanyalah apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kami inginkan!” Ada juga yang tetap ikut pemilu meski skeptis, “Yah, yang penting partisipasi,” kata Alireza, seorang lelaki usia 30-an.

Kegiatan politik rakyat Iran tidak bergantung pada partai-partai politik. Dalam pemilu apapun, siapa saja bisa mendaftarkan diri sebagai kandidat, tanpa perlu melewati partai. Namun biasanya, banyak kandidat yang mendapat dukungan dari partai atau lembaga-lembaga semi partai. Secara umum ada dua kubu politik konservatif (ushulgara) dan reformis (eshlahtalab) yang bertarung dalam dunia politik Iran. Ada berbagai kelompok atau lembaga politik yang aktif di kedua kubu. Masing-masing kelompok mengeluarkan list atau daftar nama kandidat-kandiat yang mereka dukung. Kelompok Jameatain (konservatif) misalnya, merilis 16 nama, antara lain Ayatullah Mishkini dan Ayatullah Misbah Yazdi. Sementara itu, kelompok-kelompok reformis, seperti Karguzaran Sazandegi dan Partai Pemuda Iran Islami beraliansi menyusun empat belas nama dalam list mereka, antara lain Rafsanjani, Hasan Ruhani, dan Ghulamreza Rizwani.

(As Salyan : Rakyat Indonesia sudah terjebak oleh sistem demokrasi semu yang dikendalikan oleh partai-partai, yang mana partai-partai itu sendiri dikendalikan oleh para pemilik modal yang sangat kaya).

Saat saya berjalan-jalan mengunjungi sebuah TPS di kawasan Tehran Barat dan membaur di tengah para pemilih, di sebuah sudut terdengar bisik-bisik dua perempuan, seorang ibu tua dan gadis muda. Si Ibu meminta tolong kepada si gadis untuk menuliskan nama para kandidat pilihannya di atas formulir khusus. Ada tiga lembar kertas sederhana berukuran 20×15 cm yang mirip kwitansi toko, satu kuning emas, satu biru, dan satu lagi merah muda. Di formulir kuning emas ada enam belas kolom kosong yang harus diisi nama-nama para ulama pilihan. Si gadis dengan patuh menuliskan 16 nama ulama dari list Jameatain, pilihan si ibu. Formulir warna merah muda harus diisi kandidat pemilu sela Parlemen (untuk menggantikan anggota parlemen yang mengundurkan diri atau meninggal dunia). Untuk mengisi formulir biru (pemilu dewan kota), si Ibu menyerahkan sebuah brosur kecil. Si gadis protes dengan suara pelan, “Tidak ada gunanya memilih orang-orang ini. Kenapa Ibu tidak memilih orang-orang reformis?” Jawab si ibu, “Ah, biarlah, ini jadi tanggung jawab Ahmadinejad.”

Saya melirik brosur itu, ternyata berisi nama-nama kandidat Dewan Kota yang beraliansi di bawah nama Raihane Khus Khedmat. Isu yang tersebar, aliansi itu mendapat dukungan dari Presiden Ahmadinejad. Si gadis kembali diam dan mengisi formulir. Si Ibu duduk di kursi sebelah si gadis, “Aku cuma menjalankan kewajiban syar’i, demi Islam,” katanya. “Baguslah,” jawab si gadis. Di TPS itu, tampak orang-orang berdatangan bersama keluarga mereka. Anak-anak kecil pun diajak oleh orangtua mereka, membuat suasana ruangan riuh rendah. Semakin siang, antrian panjang mengular sampai keluar ruangan. Membludaknya peserta pemilu membuat KPU memutuskan agar waktu pelaksanaan diperpanjang hingga 3 jam. Di kota Damghan, Iran timur, bahkan dikabarkan ada sepasang pengantin datang ke TPS lengkap dengan pakaian pengantin mereka.

Menurut data dari KPU Iran turn-out vote pemilu kali ini mencapai 61 persen. Sebelumnya, banyak pihak menyatakan bahwa pemilu kali ini adalah ujian untuk Ahmadinejad yang berasal dari kubu konservatif. Bila rakyat banyak yang datang ke pemilu, artinya rakyat masih mendukung kelompok konservatif. Tak heran bila sehari setelah pemilu, Ahmadinejad menulis surat terbuka untuk rakyat Iran, menyatakan terimakasihnya atas kehadiran mayoritas rakyat ke pemilu.

Di televisi nasional diperlihatkan antrian-antrian panjang –di beberapa kota bahkan antrian terjadi di tengah deraian salju- di TPS-TPS yang umumnya digelar di sekolahan atau masjid. Bahkan Presiden Ahmadinejad dan Ketua Parlemen Haddad Adel pun harus rela berdiri mengantri selama lebih sepuluh menit sebelum KTP mereka diberi stempel pemilu dan mendapatkan tiga lembar formulir untuk diisi. Pemilu di Iran selama ini memang diselenggarakan dengan cara yang sangat simpel. Tak dilakukan pendaftaran pemilih. Setiap orang yang mau berpartisipasi dalam pemilu tinggal datang ke TPS terdekat di manapun dia berada dengan membawa KTP yang berbentuk paspor. Di bagian belakang KTP itu ada lembaran khusus tempat membubuhkan stempel-stempel pemilu. Setelah distempel oleh panitia, dia akan mendapatkan formulir untuk diisi nama-nama kandidat pilihannya, lalu dimasukkan ke kotak suara. Selama ini pun kotak suara dibuat dari kardus bekas yang dibungkus kain seadanya. Baru mulai pemilu kali ini disediakan kotak suara permanen dari bahan plastik.

Wewenang seorang Wali Faqih sangat besar, jauh melebihi wewenang seorang presiden. Wali Faqih-lah yang menandatangani surat pengangkatan presiden setelah terpilih melalui pemilu, menghentikan presiden jika Mahkamah Agung memutuskan bahwa presiden tersebut bersalah melanggar tugas-tugas konstitusionalnya atau jika parlemen menyampaikan mosi tidak percaya, menetapkan komandan tertinggi dalam angkatan bersenjata nasional, menyatakan perang dan damai, dan memobilisasi angkatan bersenjata. Selain itu, Wali Faqih berwewenang menunjuk, memberhentikan, dan menerima pengunduran diri dari beberapa lembaga penting, seperti Ketua Mahkamah Agung, Kepala Radio dan Televisi, atau Pemimpin Dewan Pengawal Revolusi Iran.

Saat ini, Wali Faqih Iran dijabat oleh Ayatullah Khamenei. Dia terpilih secara aklamasi dalam sidang Dewan Pakar yang diselenggarakan segera setelah Imam Khomeini meninggal dunia tahun 1989. Sejak itu, setiap kali Dewan Pakar terbentuk melalui pemilu 8 tahun sekali, Ayatullah Khamenei kembali terpilih sebagai Wali Faqih, hingga hari ini. Dewan Pakar juga bersidang setahun sekali untuk mengevaluasi kinerja Wali Faqih. Bila mereka mendapati Wali Faqih tidak menjalankan tugas dengan baik atau melanggar Undang-Undang, Dewan Pakar berhak memberhentikannya dan menggantinya dengan ulama lain.

***

Matahari kota Teheran hari itu memang bersinar cerah dan salju telah berhenti turun, menyisakan gumpalan-gumpalan salju di tempat teduh. Namun, udara tetap terasa dingin menyengat tulang sumsum dan angin bertiup memedihkan mata. Sengatan dingin itu rupanya tak menghalangi orang-orang untuk datang ke kotak-kotak pemilihan suara, untuk mencari dan memilih manusia setengah dewa. Sulit dipercaya bahwa mereka ada, tapi sebagian orang-orang Iran sepertinya meyakininya.

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7757&type=4

Iran Menurut Dahlan Iskan

Tulisan dibawah ini adalah karya Dahlan Iskan (DI), yang saat ini, Maret 2011, adalah Menteri BUMN RI, dari situs PLN http://www.pln.co.id/?p=2825.

Saat menulis tulisan ini Dahlan Iskan adalah Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Kami memuat tulisan ini dalam blog kami, supaya para pembacanya lebih memahami negara Iran yang selama ini diberitakan negatif oleh media masa utama blok barat. Dan kami mempercayai bahwa Dahlan Iskan adalah seorang yang cukup jujur dan bersemangat dalam membangun bangsanya, sehingga informasi mengenai Iran ini cukup sahih.

Kami juga membuat beberapa cacatan atau komentar yang menunjukan pendapat kami terhadap beberapa paragraf pada tulisan ini. Kami juga membuat huruf atau font yang tebal pada beberapa kalimat yang kami anggap penting untuk diperhatikan.

Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembargo Amerika

Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.

Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.

(As Salyan : Sayangnya DI tidak menuliskan mengapa perjuangan untuk mendapatkan gas itu redup kembali).

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda.

(As Salyan : siapa yg menikmati pemborosan itu?)

Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.

Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat.

Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.

Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

(As Salyan: Indonesia sudah bisa nggak?)

Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.

Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!

Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya.

(As Salyan: RI sebagai negara muslim terbesar, yang mampu membuat pesawat terbang, apa tidak mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya?)

Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.

Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya.

(As Salyan: Pejabat RI yg dominan, mencintai AS dan semua produknya).

Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.

Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya.

Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

(As Salyan: Kelihatannya RI harus diembargo supaya bisa kepepet, bangkit, mandiri dan akhirnya maju???).

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.

Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.

Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.

“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.

Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.

(As Salyan: Saat Nabi SAW dan para khalifah penggantinya, kami belum pernah mendengar riwayat yang sahih bahwa adanya sholat Jumat di Kota Madinah selain di masjid Nabawi.  Kami yang mengikuti mazhab fikih Imam Syafii meyakini bahwa sholat Jum’at adalah wajib bagi laki-laki yang mukallaf).

Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.

Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.

Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.

Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah.

Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.

Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.

(As Salyan: ternyata demokratis juga. Lihat di http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7757&type=4, bagaimana rakyat Iran memilih dewan ulama)

Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.

Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.

Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.

Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.

Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makam Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makam ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah. (As Salyan : tidak begitu jelas siapa Fatimah yang dimakamkan di Qum)

Yang juga menarik adalah strata sosialnya.

Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.

Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.

Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.

Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf! (As Salyan: dan berlaku lembutlah).

Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?

Banyak faktor yang melatar belakanginya. :

Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju.

Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia.

Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar.

Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic.

Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.

Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.

Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.

Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.

Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran. Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.

Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.

Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.

Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.

Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.

Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.

Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial.

Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.

Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.

Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.

Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.

Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.

AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.

Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.

Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq. (As Salyan: sebenarnya Rasululloh hanya mengenalkan Islam yang satu, tidak Suni, Syiah atau yg lainnya).

Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.

Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?

Dahlan Iskan

CEO PLN

Apakah Orang yang Hidup Bisa Bertemu dengan Orang yang Sudah Wafat? Bisa

Pendahuluan

Terhadap pertanyaan Apakah Orang yang Hidup Bisa Bertemu dengan Orang yang Sudah Wafat?, Sebagian kalangan muslim berpendapat bahwa  tidak mungkin orang yang hidup bertemu dengan orang yang sudah wafat. Mereka beralasan bahwa orang yang sudah wafat itu berada di alam barzakh atau kubur, yaitu alam yang tidak bisa ditembus oleh orang yang masih hidup di alam dunia. Barzakh di artikan dinding yang tidak dapat ditembus. Pemahaman mereka ini dibatasi oleh keterbatasan pengalaman dan keterbatasan pengetahuan mengenai hadis-hadis Nabi SAW dan  keterbatasan pengetahuan mengenai banyaknya atsar atau riwayat para sahabat Nabi SAW dan para salafus shalih. Mereka itu terbatas pemahamannya karena sedikitnya atau ketiadaannya pengalaman yang menambah pemahaman itu. Hal itu disebabkan karena mereka itu tidak pernah bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat. Kalaupun mereka bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat, mereka sudah mempunyai  prasangka yang kuat bahwa yang telah ditemuinya itu bukan orang yang sudah dikenalinya yang telah wafat. Sebagian dari kalangan ini juga tidak memperhatikan mimpi-mimpi, apakah mimpi itu berarti atau tidak bagi dirinya.

Sebagian kalangan muslim yang lain mempunyai pendapat, mungkin saja bertemu dengan orang yang telah wafat. Pertemuan itu bisa terjadi di alam mimpi, bahkan bisa pula terjadi pada saat bukan mimpi atau saat sadar atau saat tidak tidur. Hal ini diperkuat dengan hadis Nabi SAW pada saat beliau isra’ mikraj.

Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: …………… kemudian perjalanan diteruskan dan tidak lama sampailah ke Baitul Maqdis. Di Baitul Maqdis ternyata telah berkumpul para Nabi terdahulu, menantikan kedatangan Beliau. Di Baitul Maqdis bersolat berjama’ah dengan para Nabi terdahulu sebagai Imam sholat…. dst .

Berdasarkan hadis di atas, Nabi SAW yang masih hidup bertemu dengan para nabi terdahulu yang semuanya telah wafat.

Kami (AsSalyan) termasuk yang meyakini bahwa dimungkinkan orang yang masih hidup bertemu dengan orang yang sudah wafat, baik dalam tidur lewat mimpi maupun dalam keadaan terjaga (bukan mimpi). Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi SAW :

Dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka seakan-akan dia melihatku pada saat terjaga dan setan tidaklah dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhori)

Juga hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR, Tirimidzi, dia berkata ini adalah hadits hasan shahih)

Bila ada yang bertanya, apakah ada jaminan bahwa setan tidak akan mengganggu orang yang mengganggu orang bermimpi itu? . Jawabannya : setan akan selalu mengganggu manusia untuk mencapai kebenaran. Walau hanya Alloh yang bisa menjamin, manusia terlepas dari gangguan setan, dengan cara Dia menjadikan seorang mukmin bisa mencapai taraf mukhlasin (benar-benar ikhlas), tetapi seorang mukmin hanya berikhtiar untuk meminimalkan gangguan itu. Hanya Nabi SAW yang bersifat maksum atau terjaga oleh Alloh untuk berbuat salah. Manusia mukmin biasa hanyalah bertawakal kepada Nya.

Kami mempunyai banyak pengalaman bertemu dengan orang yang sudah wafat dalam keadaan kami bermimpi maupun dalam keadaan kami terjaga. Kami telah memuat tulisan yang menjelaskan mengenai pertemuan antara yang masih hidup dengan yang sudah mati di  Mungkinkah Murid Berguru kepada Penghuni Alam Lain?

Karena setan selalu mengganggu manusia supaya tidak mendapatkan kebenaran yang hakiki, maka mereka bisa menampakkan diri mereka serupa dengan orang yang telah wafat dan berkata ini itu seolah-olah mereka itu memberikan nasehat yang baik dan bermanfaat. Tetapi sebenarnya mereka itu bermaksud menjerumuskan manusia pada akhirnya. Kisah penyesatan setan itu sebagian kami tulis di :

Makhluk Halus Mengaku Putera Raden Patah

Sosok Ghaib Yang “Baik dan Menolong”

Guru Tarekat Mengaku Bisa “Menyelamatkan Jiwa” Yang Penasaran Di Alam Barzah

Kenalilah penyesatan setan dan bacalah tulisan kami

Pengetahuan Tentang Penipuan Setan Menurut Orang Awam/Umum

Penyesatan dan Penipuan Setan

Untuk itu  walaupun dimungkinkan orang yang masih hidup bertemu dengan orang sudah wafat, tetapi kita harus sangat berhati-hati. Kemungkinan bisa benar bertemu dengan orang yang wafat yang dimaksud, bisa juga kemungkinan bertemu dengan setan yang menyerupai orang yang telah wafat.

Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Alloh dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Alloh dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. (HR Muslim)

Untuk memeriksa kebenaran mimpi bertemu dengan seseorang yang telah wafat, maka alat pemeriksanya adalah iman benar kepada Alloh SWT yang tersambung melalui Nabi Muhammad SAW, melalui mata rantai mubayaah (janji setia) untuk taat kepada Alloh dan RasulNya. Iman yang benar itu selalu diserta dengan dzikir hati dan lisan :

“Laa Ilaa ha illallooh wahdahu laa syariikalah. Muhammadur rasuulullooh, ‘Uzair bin Imron ‘abdullooh, ‘Isa bin Maryam ‘abdullooh wa rasuuluh, Ummu Maryam amatullooh, hiya laisat bi shshoohibah. Al khoiru kulluhu min Alloh, wa syarru laisa min Alloh”.

Artinya : Tiada Tuhan selain Alloh, yang Maha Esa dan tidak ada sekutu baginya, Muhammad utusan Alloh, Uzair bin Imran hamba Alloh, Isa bin Maryam hamba dan utusanNya, Ummu Maryam hamba perempuan Alloh dan dia bukan istriNya. Kebaikan selalu dari Alloh, dan keburukan bukan dari Alloh.

Kalimah-kalimah di atas, adalah pengamalan dari ayat ke 30, 32 dan 33 Surat At-Taubah, yang artinya :

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Alloh” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Alloh”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?. (TQS At-Taubah 30).

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (TQS At-Taubah 32).

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (TQS At-Taubah 33).

Dan pengamalan dari hadis Nabi riwayat Ubadah bin As Shomit :

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Nabi Uzair as. adalah hamba Alloh dan hayatNya, Nabi Isa as. adalah hamba Alloh dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Alloh akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (HR Muslim).

Bacalah dengan fasih terus menerus kalimat-kalimat dzikir di atas (dalam mimpi ataupun saat terjaga) dan mintalah penampakan orang yang sudah wafat itu untuk ikut membacanya. Periksalah apakah bacaan dia cukup fasih dan bisa lebih dari tujuh kali. Kalau kita masih ragu apakah penampakan orang yang sudah wafat itu benar-benar orang yang dimaksud, maka teruskan bacaan dzikir di atas, sampai hilang keraguan itu.

Mengapa sosok yg ditemui itu harus mampu membaca bacaan itu secara fasih? Karena setan cenderung untuk mengatakan terhadap Nabi Uzair dan Nabi Isa sebagai ibnullooh (na’udzubillahi min dzalik). Setan sulit mengatakan mengenai beliau-beliau itu sebagai ’abdulloh. Setan itu sifat dasarnya takabur, mereka sulit untuk berdoa yang mengakui dosanya. Maka bilamana perlu tambahlah dengan dzikir :  Yaa Alloh, yaa Robbana, dzolamnaa anfusanaa wa inlam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanaa kunannaa minal khoosiriin, dengan penuh ketawadhu’an dan terus menerus. Memang tidak mudah untuk mengingat dan bisa membaca kalimah-kalimah itu, apalagi dalam keadaan mimpi. Hal ini memerlukan kekuatan batin, yang itu perlu untuk terus-menerus dilatih.

Ini adalah pengalaman kami bertemu dan berhadapan dengan sosok-sosok yang tampak di alam mimpi atau di alam sadar, serta pengalaman seorang yang saleh yang telah bertemu dengan Nabi SAW dalam mimpinya. Dalam mimpinya itu beliau mendengar dan menyaksikan Nabi Muhammad SAW, para nabi a.s dan para sahabatnya r ’anhum melantunkan dzikir itu.

Berikut ini kami sampaikan pendapat Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengenai masalah bertemunya orang yang hidup dengan yang sudah wafat melalui mimpi.

Ibnu Qoyyim menguatkan tulisannya dengan kisah-kisah dari hadis-hadis atau atsar para sahabat Nabi SAW dan para salafus shalih. Perlu diketahui bahwa para sahabat Nabi SAW dan para salafus shalih itu adalah orang-orang yang lebih dekat kepada Nabi SAW dibanding manusia muslim di saat ini. Merekapun jauh lebih tinggi derajatnya dibanding kita semua, sehingga kebenaran mimpi mereka, yang bertemu dengan para pendahulunya yang telah wafat, lebih besar dibanding kita semua.

Ibnu Qoyyim mengunakan istilah ruh atau roh, sebenarnya yang dimaksud adalah jiwa atau sukma orang yang masih hidup bertemu dengan jiwa/sukma orang yang telah wafat.

 

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menulis dalam kitabnya yang berjudul “Ar Ruh”, pada bab  “Apakah Ruh Orang yang Hidup Bisa Bertemu dengan Ruh Orang yang Sudah Wafat? :

Bukti dan penguat dari pertanyaan ini terlalu banyak untuk dihitung dan hanya Allohlah yang tahu jumlahnya. Apa yang dirasakan, dilihat dan kenyataan merupakan bukti yang paling akurat tentang hat ini. Roh orang­-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah meninggal bisa saling bertemu, sebagaimana roh di antara orang-orang yang hidup juga bisa saling bertemu. Alloh befirman,

“Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang tetah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berpikir.” (Az-Zumar: 42).

Abu Abdullah bin Mandah menyebutkan, dari Ibnu Abbas, dia berkata berkaitan dengan ayat ini, “Aku mendengar kabar bahwa roh orang-orang yang hidup dan yang sudah meninggal dapat saling bertemu kala tidur, lalu mereka saling bertanya. Kemudian Alloh menahan roh orang yang sudah meninggal dan mengembalikan roh orang-orang yang masih hidup ke jasadnya.”

Ibnu Abi Hatim menyebutkan di dalam tafsirnya, dari As-Saddi, tentang firman Alloh, “Orang yang belum mati di waktu tidurnya”, bahwa Alloh memegang roh di dalam tidurnya itu, lalu roh orang yang hidup itu bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal, lalu mereka saling mengingat dan saling mengenal. Kemudian roh orang yang hidup kembali ke jasadnya di dunia hingga sampai ajalnya, dan roh orang yang sudah meninggal ingin kembali ke jasadnya, tapi ia ditahan.”

Inilah salah satu dari dua pendapat tentang ayat ini, bahwa yang ditahan adalah roh orang yang sudah meninggal, dan yang dikembalikan adalah roh yang ditahan karena sedang tidur. Artinya, Alloh menahan roh orang yang sudah meninggal dan tidak mengembalikan ke jasadnya kecuali setelah datangnya hari kiamat, dan roh orang yang tidur ditahan lalu dikembalikan lagi ke jasadnya sampai ajal yang telah ditentukan, lalu roh ini akan ditahan ketika dia meninggal.

Pendapat kedua tentang ayat ini, bahwa yang ditahan dan yang dikembalikan dalam ayat ini adalah roh orang hidup saat tidurnya. Ajal orang yang sudah berakhir seperti yang ditetapkan, maka Alloh menahan roh itu di sisi-Nya dan tidak mengembalikannya ke jasadnya. Sedangkan orang yang ajalnya belum sampai waktu yang ditentukan, Dia mengembalikannya ke jasadnya, sampai ajal yang ditetapkan itu tiba.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah memilih pendapat yang kedua ini, dan dia berkata, “Begitulah yang ditunjukkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Alloh menyebutkan penahanan roh yang telah ditetapkan untuk menahannya karena sedang tidur. Sedangkan roh yang ditahan-Nya ketika ia meninggal, tidak disifati dengan menahan atau mengembalikan, tapi itu merupakan bentuk ketiga.”

Namun yang lebih kuat adalah pendapat pertama. Sebab Alloh mengabarkan dua macam penahanan roh, yaitu: Penahanan besar yang disebut penahanan roh karena meninggal, dan penahanan kecil karena tidur. Jadi roh bisa dibagi menjadi dua macam:

– Satu macam roh yang ditetapkan kematiannya, lalu ia ditahan di sisi Alloh, yaitu penahanan karena kematian.

– Satu macam roh yang mempunyai sisa hidup hingga waktu yang telah ditentukan, yang dikembalikan ke jasadnya hingga berakhirnya sisa waktu yang telah ditentukan itu.

Alloh menjadikan penahanan dan pengembalian sebagai dua hukum bagi jiwa yang dipegang seperti yang disebutkan dalam ayat itu. Yang ini ditahan dan yang itu dikembalikan. Alloh mengabarkan bahwa jiwa yang belum meninggal adalah yang ditahan-Nya ketika ia tidur. Kalau memang memegang jiwa orang yang tidur itu ada dua macam: Memegang jiwa yang meninggal dan memegang jiwa yang tidur, tentunya Alloh tidak mengatakan, “Orang yang belum mati di waktu tidurnya”. Artinya, semenjak jiwa itu dipegang, berarti ia  meninggal. Sementara Alloh mengabarkan bahwa jiwa itu belum mati. Lalu bagaimana mungkin Alloh juga menyatakan setelah itu, “Maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya”

Bagi orang yang sependapat dengan hal ini dapat mengatakan, “Firman Alloh ‘Maka Dia tahan jiwa orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya’, setelah Alloh memegangnya saat tidur. Yang pertama Alloh memegangnya saat tidur, kemudian menetapkan kematiannya setelah itu. Yang pasti, ayat ini mengandung dua macam penahanan jiwa atau roh, penahanan saat tidur dan penahanan saat mati. Yang satu tetap ditahan di sisi-Nya dan yang lain dikembalikan lagi ke jasadnya. Sebagaimana yang sudah diketahui, Alloh menahan setiap jiwa yang mati, baik yang mati pada saat tidur atau yang mati pada saat terjaga. Namun Dia mengembalikan jiwa orang yang memang belum mati. Firman-Nya, “Alloh memegang jiwa (orang) ketika mati-nya”, bisa berarti mati pada saat tidur dan bisa berarti mati pada saat terjaga.

Pertemuan antara roh orang-orang yang hidup dengan roh orang-orang yang sudah meninggal menunjukkan bahwa orang yang hidup bisa melihat orang yang sudah meninggal pada waktu tidur (mimpi), sehingga orang yang hidup bisa mencari kabar dari orang yang sudah meninggal, dan orang yang  sudah meninggal bisa mengabarkan apa yang tidak diketahui orang yang hidup, sehingga kabar itu pun menjadi singkron. Roh orang yang sudah meninggal itu juga bisa mengabarkan apa yang sudah lampau dan yang mendatang. Bahkan boleh jadi ia mengabarkan harta yang pernah dipendamnya di tempat tertentu yang tidak diketahui siapa pun selain dia, atau boleh jadi dia mengabarkan hutang yang belum dilunasinya, lalu ia menyebutkan bukti dan saksi-saksinya.

Yang lebih jauh dari gambaran itu semua, bahwa roh orang yang sudah meninggal bisa mengabarkan suatu amalan yang tidak pernah diketahui siapapun. Yang lebih hebat lagi, ia bisa mengabarkan kepada orang yang hidup, Engkau pernah menemui kami pada waktu ini dan itu”, dan memang begitulah kenyataannya. Boleh jadi roh itu mengabarkan beberapa urusan yang .memberikan kepastian kepada orang yang hidup, karena memang tak seorangpun yang mengetahuinya. Telah kami sampaikan kisah Ash-Sha’b bin Jutsamah yang sudah meninggal dunia, dan perkataannya kepada Auf bin Malik. Begitu pula kisah Tsabit bin Qais bin Syammas dan beberapa pengabaran yang disampaikannya kepada orang yang mimpi bertemu dengannya, berkaitan dengan baju besinya dan hutang yang belum dilunasinya

Atsar Mimpi Para Salafus Shalih Bertemu Sahabatnya yang Telah Wafat Dalam Mimpi

Hal serupa terjadi pada kisah Shadaqah bin Sulaiman Al-Ja’fari, pengabaran-pengabaran anaknya kepadanya tentang apa yang dilakukannya setelah dia meninggal dunia, begitu kisah Syabib bin Syaibah dan perkataan ibunya setelah dia meninggal, “Semoga Alloh memberikan balasan kebaikan kepadamu”, karena dia telah menalqini ibunya dengan kaliamt La ilaha illaIlah ketika meninggalnya, begitu pula kisah Al-Fadhl bin Al-Muwaffiq beserta anak­nya dan pengabaran-pengabarannya bahwa dia mengetahui kedatangannya.

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Abdullah bin Salam bertemu dengan Salman Al-Farisy. Masing-masing berkata kepada yang lain, “Jika engkau meninggal lebih dahulu daripada aku, maka temuilah aku dan kabarkanlah kepadaku apa yang engkau dapatkan dari Rabb-mu, dan jika aku mati lebih dahulu daripada dirimu, maka aku akan menemuinya dan mengabarkan hal serupa kepadamu.”

“Apakah orang yang sudah meninggal dapat bertemu dengan orang yang masih hidup?” tanya yang lain.

“Benar. Roh mereka ada di surga dan pergi menurut kehendaknya,” jawabnya.

Sa’id menuturkan, “Maka setelah Fulan meninggal dunia, dia menemui temannya dalam tidur, seraya berkata, `TawakAlloh engkau dan terimalah kabar gembira, karena aku tidak melihat suatu balasan seperti balasan karena tawakal.”.

 

Al-Abbas bin Abdul-Muththalib berkata, “Aku benar-benar ingin bertemu Umar dalam mimpi. Sebab terakhir aku bertemu dengannya hampir setahun yang lalu. Maka ketika aku benar-benar bermimpi bertemu dengannya, dan dia sedang mengusap keringat di dahinya, dia berkata, “Inilah waktu kosongku. Hampir saja tempat semayamku berguncang, kalau tidak karena aku bertemu orang yang penuh belas kasih”.

Ketika Syuraih bin Abid Ats-Tsamali hampir mendekati ajal, Ghidhaif bin Al-Harits masuk ke dalam rumahnya dengan sikap yang amat serius, seraya berkata, “Wahai Abul-Hajjaj, jika engkau bisa menemui kami setelah engkau meninggal dunia lalu engkau mengabarkan apa yang engkau lihat, maka lakukanlah.”

Setelah Syuraih merunggal dunia sekian lama, barulah Ghudhaif mimpi bertemu dengannya. Ghudhaif bertanya, “Bukankah engkau benar-benar telah meninggal?”

“Begitulah,” jawab Syuraih.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Ghudhaif.

“Rabb kami mengampuni dosa-dosa kami, dan tidak ada yang mendapat kecuali Al-Ahradh,” jawab Syuraih.

“Siapa yang dimaksudkan Al-Ahradh itu?” tanya Ghudhaif.

“Orang-orang yang dituding dengan jari orang banyak karena sesuatu,” Syuraih.

Abdullah bin Umar bin Abdul-Aziz berkata, “Aku mimpi bertemu ayahku beberapa lama ayah meninggal dunia, yang seakan-akan dia sedang di sebuah taman. Ayah menyodoriku beberapa buah, yang kutakwili sebagai anak. Aku bertanya, “Apa amal yang paling utama menurut apa yang ayah?”

“Istighfar wahai anakku,” jawabnya.

Maslamah bin Abdul-Malik mimpi bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz setelah dia meninggal dunia. Dia bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bertanya-tanya bagaimana keadaan engkau setelah meninggal dunia?”

“Wahai Maslamah, inilah waktuku yang kosong. Demi Alloh, aku tidak ada waktu istirahat kecuali saat ini saja,” jawab Umar bin Abdul-Aziz..

“Lalu di mana engkau berada wahai Amirul-Mukminin?” tanya Maslamah.

“Aku bersama para pemimpin petunjuk di surga Adn,” jawab Umar bin Abdul Aziz.

Shalih Al-Barad berkata, “Aku mimpi bertemu Zararah bin Aufa setelah dia meninggal dunia. Aku bertanya, “Semoga Alloh merahmatimu. Apa yang ditanyakan kepadamu dan apa pula jawabanrnu?”

Karena dia berpaling, aku bertanya lagi, “Apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Dia menjawab, “Aku dimuliakan karena kemurahan dan kemuliaanNya.­

“Bagaimana keadaan Abul-Ala’ bin Yazid, saudara Mutharrif?” tanyaku.

Dia menjawab, “Dia berada di derajat yang tinggi.”

“Apa amal yang paling baik di sisi kalian?” tanyaku.

Dia menjawab, “Tawakal dan tidak berangan-angan yang muluk-muluk.”

Malik bin Dinar berkata, “Aku mimpi bertemu Muslim bin Yasar setelah dia meninggal dunia. Aku mengucapkan salam kepadanya tapi dia tidak menyahutnya. Aku bertanya, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?”

Dia menjawab, “Aku adalah orang yang sudah mati. Maka bagaimana mungkin aku bisa menyahut salammu?”

“Apa yang engkau temui setelah meninggal dunia?” tanyaku.

“Demi Alloh, aku menemui guncangan dan gempa yang dahsyat.

“Lalu apa setelah itu?” tanyaku.

Dia menjawab, “Mimpi yang kamu alami ini terjadi karena Alloh Yang Maha Pemurah. Dia menertma kebaikan-kebaikan dari kami dan mengampuni kesalahan-kesalahan kami serta menjamin bagi kami kesudahannya.”

Setelah itu Malik jatuh dan pingsan dan beberapa hari kemudian dia jatuh sakit yang disusul dengan kematiannya.

Suhail saudara Hazm berkata, “Aku mimpi bertemu Malik bin Dinar setelah dia meninggal dunia. Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Yahya, aku selalu berpikir, apa yang engkau bawa menghadap kepada Alloh?”

Dia menjawab, “Aku datang sambil membawa dosa yang banyak, lalu dosa-dosa itu diampuni karena baik sangka kepada Alloh.”

Setelah Raja’ bin Haiwah meninggal, istri Abid mimpi bertemu dengannya. Maka istri Abid bertanya kepadanya, “Wahai Abu Miqdam, kemanakah kalian menuju?”

Raja’ menjawab, “Kepada kebaikan. Tapi setelah meninggalkan kalian, kami kaget dan kami mengira kiamat telah tiba.”

“Kalian kaget karena apa?” tanya istri Abid.

Dia menjawab, “Al-Jarrah dan rekan-rekannya masuk surga sambil membawa beban mereka sehingga mereka berjubel di pintu surga.”

Jamil bin Murrah berkata, “Mauriq Al-Ajli sudah kuanggap seperti saudara dan sekaligus rekan. Suatu hari aku berkata kepadanya, “Siapa pun di antara kita yang lebih dahulu meninggal, maka dia harus menemui yang lain lalu mengabarkan apa yang dialaminya.”

Ternyata Mauriq yang lebih dahulu meninggal. Tak lama setelah itu ia mimpi bertemu dengannya, yang seakan-akan dia menemui kami seperti yang biasa dia lakukan semasa hidupnya. Dia juga mengetuk pintu seperti yang biasa dia lakukan. Istriku berkata, “Aku bangkit untuk membukakan pintu seperti yang biasa kulakukan jika dia datang, lalu kukatakan kepadanya,  wahai Abul-Mu’tamar dan hampirilah pintu saudaramu.”

Dia berkata, “Bagaimana aku bisa masuk sementara aku sudah meninggal? Aku datang hanya untuk mengabarkan kepada Jamil tentang apa  diperbuat Alloh terhadap diriku. Beritahukanlah kepadanya bahwa Alloh menempatkan aku di dua kuburan.”

Ketika Muhammad bin Sirin meninggal dunia, maka sebagian di antara rekannya ada yang merasakan kesedihan yang amat mendalam. Saat tidur dia dan melihat Muhammad bin Sirin dalam keadaan yang baik, seraya “Wahai saudaraku, aku sudah melihatmu dalam keadaan yang membuatku gembira. Laiu apa yang terjadi dengan Al-Hasan?”

            Muhammad bin Sirrin menjawab, “Dia diangkat tujuh puluh derajat di atasku”.

“Mengapa begitu, padahal kami melihat engkau lebih utama dari dirinya?”

Dia menjawab, “Karena kesedihannya yang terus-menerus.”

Ibnu Uyainah berkata, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri di dalam tidur. Aku berkata, “Berilah aku nasihat.”

Dia berkata, “Buatlah dirimu tidak dikenal manusia.”

Ammar bin Saif berkata, “Aku mimpi bertemu Al-Hasan bin Shalih di dalam tidur, lalu kutanyakan kepadanya, “Sejak lama aku berharap dapat bertemu denganmu. Maka apa yang terjadi dengan dirimu, sehingga engkau dapat  mengabarkannya kepada kami?”

Dia menjawab, “Terimalah kabar gembira, karena aku tidak melihat sedikit balasan yang lebih baik dari berbaik sangka terhadap Alloh.”

Setelah Dhaigham, seorang ahli ibadah meninggal dunia, maka di antara  rekannya ada yang mimpi bertemu dengannya. Dhaigham bertanya, “Apakah  engkou mendoakan aku?

Maka rekannya menyebutkan alasan dia mendoakannya. Kemudian Dhaigham berkata, “Selagi engkau mendoakan aku, maka keuntungannya akan kembali kepada dirimu sendiri.”

Setelah Rabi’ah meninggal, seorang rekannya mimpi bertemu dengannya, dilihatnya dia sedang mengenakan pakaian sutra halus dan sutra tebal. Sementara ketika matinya dia dikafani dengan kain jubah dan kain kerudung  dari wool. Rekannya bertanya, “Apa yang terjadi dengan kain jubah dan kain dari wool yang dulu digunakan sebagai kafanmu?”

Rabi ah menjawab, “Demi Alloh, Dia melepasnya dari badanku lalu menggantinya dengan kain sutra yang engkau lihat ini. Kain kafanku itu disingkirkan dan diikat, lalu dibawa ke Iliyin, agar menjadi sempurna bagiku pada hari kiamat nanti.”

Rekannya bertanya, “Untuk itukah engkau berbuat selama di dunia?”

Rabi`ah menjawab, “Yang demikian itu karena aku melihat kemuliaan Alloh yang diberikan kepada wali-wali-Nya.”

“Apa yang terjadi dengan Abdah binti Kilab?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, sama sekali tidak. Demi Alloh, dia mengalahkan kami karena mendapatkan derajat yang tinggi.”

“Mengapa begitu? Padahal menurut pandangan manusia, engkau lebih banyak beribadah daripada dia.”

Rabi’ah menjawab, “Karena dia tidak peduli seperti apa keadaannya di dunia, ketika memasuki pagi atau sore hari.”

“Apa yang terjadi dengan Abu Malik?” Yang dimaksudkan adalah Dhaigham.

Rabi’ah menjawab, “Dia dikunjungi Alloh kapan pun yang dikehendaki­Nya.”

“Apa yang terjadi dengan Bisyr bin Mansur?”

Rabi’ah menjawab, “Bagus, benar-benar bagus. Demi Alloh, Dia memberinya balasan lebih baik dari apa yang diharapkannya.”

“Suruhlah aku untuk mengerjakan sesuatu yang dapat mendekatkan aku kepada Alloh!”

Rabi’ah berkata, “Hendaklah engkau banyak berdzikir kepada Alloh, karena yang demikian itu akan lebih cepat mendatangkan kegembiraan di dalam kuburmu.”

Setelah Abdul-Aziz bin Sulaiman, seorang ahli ibadah meninggal dunia, di antara rekannya munpi bertemu dengannya yang mengenakan pakaian warna hijau, dan di atas kepalanya ada mahkota dari mutiara. Temannya bertanya, “Bagaimana keadaanmu setelah meninggalkan kami? Apa yang engkau rasakan setelah meninggal? Bagaimana urusan yang engkau lihat di sana?”

Maka dia menjawab, “Tentang kematian, janganlah engkau tanyakan kekerasan, kesusahan dan kesedihannya. Hanya saja rahmat Alloh melingkupi kami dari segala aib, dan kami tidak mendapatkan kecuali karunia-Nya.”

Shalih bin Bisyr berkata, “Setelah Atha’ As-Salmy meninggal dunia, aku bermimpi bertemu dengannya dalam tidur. Aku bertanya, “Wahai Abu Muhammad, bukanlah engkau sekarang bersama orang-orang yang sudah meninggal dunia?”

“Begitulah,” jawabnya.

“Bagaimana keadaanmu setelah meninggal dunia?”

Dia menjawab, “Demi Alloh, keadaanku baik-baik dan kudapatkan Alloh Maha Pengampun dan menerima syukur.”

“Demi Alloh, sewaktu di dunia engkau lebih banyak ditimpa kesedihan.”

Dia berkata sambil tersenyum, “Demi Alloh, yang demikian itu justru membuatku dalam ketentraman terus-menerus dan kekal.”

“Di derajat manakah engkau sekarang?”

Dia menjawab, “Bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Alloh, dari para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin, dan mereka adalah teman yang sebaik-baiknya.”

Setelah Ashim Al-Jahdari meninggal dunia, di antara keluarganya ada yang rnimpi bertemu dengannya. Keluarganya itu bertanya, “Bukankah engkau benar-benar sudah meninggal dunia?”

Ashim menjawab, “Begitulah.”

“Di mana engkau sekarang?”

Dia menjawab, “Demi Alloh, aku sekarang berada di taman-taman surga hersama beberapa rekanku. Kami berkumpul pada setiap malam Jum’at dan pagi harinya, menemui Bakar bin Abdullah Al-Mazny, untuk mendengar kabar tentang kalian.”

“Apakah itu jasad kalian ataukah roh kalian?”

Dia menjawab, “Sama sekali tidak. Jasad telah hancur. Roh kamilah yang saling bertemu.”

Murrah Al-Hamdzany biasa sujud lama, sehingga tanah-tanah mengusamkan keningnya. Seteiah dia meninggal dunia, ada seseorang dari keluarganya mimpi bertemu dengannya, dan bekas sujudnya itu seperti bintang kejora. Keluarganya itu bertanya, “Apakah bekas yang menempel di keningmu itu?”

Dia menjawab, “Bekas sujud karena pengaruh tanah itu diberi cahaya.

“Di mana martabatmu di akhirat?”

Dia menjawab, “Di martabat yang baik, suatu tempat tinggal yang penghuninya tidak berpindah dan tidak mati.”

Abu Ya’qub Al-Qari berkata, “Kala tidur aku bermimpi seorang laki-laki yang kulitnya sawo matang dan tinggi perawakannya. Banyak orang yang membuntuti di belakangnya. Aku bertanya, “Siapa orang itu?”

Orang-orang itu menjawab, “Dia adalah Uwais Al-Qarni.”

Maka aku pun juga mengikuti di belakangnya. Lalu kukatakan kepadanya, “Berilah aku nasihat, semoga Alloh merahmatimu.”

Dia menampakkan wajah yang kurang suka kepadaku. Tapi aku berkata lagi, “Aku adalah orang yang mengharap petunjuk. Maka berilah aku petunjuk, semoga Alloh merahmatimu.”

Akhirnya dia menghadap ke arahku dan berkata, “Carilah rahmat Alloh dengan mencintai-Nya, waspadailah kemurkaan-Nya saat durhaka kepada­Nya dan janganlah engkau memupuskan harapanmu kepada-Nya pada saat itu.” Setelah itu berpaling dan pergi meninggalkan aku.

Ibnus-Sammak berkata, “Aku mimpi bertemu Mas’ar di dalam tidur, lalu kutanyakan kepadanya, “Apakah aural yang paling utama menurutmu?”

Dia menjawab, “Majlis dzikir.”

Al-Ajlah berkata, “Aku mimpi bertemu Salamah bin Kuhail di dalam tidur, lalu kutanyakan kepadanya, “Apakah amal yang paling utama menurutmu?”

Dia menjawab, “Shalat malam.”

Abu Bakar bin Abu Maryam berkata, “Aku mimpi bertemu Wafa’ bin Bisyr setelah dia meninggal dunia. Kutanyakan kepadanya, “Apa yang engkau kerjakan wahai Wafa’?”

Dia menjawab, “Aku selamat setelah melakukan segala upaya.” “Amal macam apa yang kalian dapatkan paling utama?” tanyaku. Dia menjawab, “Menangis karena takut kepada Alloh.”

Al-Laits bin Sa’d menuturkan dari Musa bin Wardan, bahwa dia mimpi bertemu Abdullah bin Abu Habibah setelah dia meninggal. Abdullah bin Abu Habibah berkata, “Kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanku diperlihatkan kepadaku. Aku melihat dalam kebaikan-kebaikanku ada yang berupa biji-biji delima. Aku mengambilnya lalu kumakan. Aku melihat dalam keburukan-keburukanku ada yang berupa dua benang sutra dalam kopiahku”.

Sunid bin Daud berkata, “Keponakanku, Juwairiyah bin Asma’ memberitahuku, dia berkata, “Dulu ketika kita berada di Abadan, ada seorang pemuda penduduk Kufah dan seorang ahli ibadah yang mendatangi kita. Dia meninggal pada siang hari yang sangat panas. Aku berkata, “Kita berteduh dulu, dan setelah itu kita urus jenazahnya.” Pada saat itu aku tertidur, dan aku bermimpi seakan-akan aku berada di sebuah area kuburan. Di area kuburan itu kubah dari mutiara yang bercahaya dan sangat indah. Ketika aku sedang melihatnya, kubah itu terbelah dan dari bagian dalamnya muncul seorang gadis yang kecantikannya belum pernah kulihat yang seperti itu. Gadis itu menghampiriku seraya berkata, “Demi Alloh, janganlah engkau menahan pemuda itu dari hadapan kami hingga waktu zhuhur.”

Seketika itu pula terbangun kaget, dan aku langsung mengurus jenazahnya, dan kugali liang kubur di tempat kubah yang kulihat dalam mimpiku dan jasadnya kukuburkan di sana.”

Abdul-Malik bin Itab Al-Laitsi berkata, ” Aku mimpi bertemu Amir bin Qais di dalam tidur. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

“Alloh mengampuni dosaku,” jawabnya. “Dengan apa Dia mengampunimu?” tanyaku. “Dengan shalat dan puasa,” jawabnya.

“Apakah engkau melihat Manshur bin Zadan?”

Dia menjawab, “Sama sekali tidak. Tapi kami melihat istananya dari kejauhan.”

Yazid bin Nu’amah berkata, “Ada seorang gadis yang meninggal dunia karena wabah pes yang berjangkit. Ayahnya mimpi bertemu dengannya, seraya bertanya, “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang akhirat.”

Gadis itu berkata, “Wahai ayah, aku menghadapi urusan yang agung, yang kita ketahui namun tidak pernah kami amalkan, sedang kalian beramal dan tidak mengetahui. Demi Alloh, satu kali tasbih atau dua kali, satu rakaat atau dua rakaat dalam lembar amalku, lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.”

Katsir bin Murrah berkata, “Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan masuk di tingkatan yang tinggi dalam surga. Aku berkeliling di sana dan aku pun terkagum-kagum melihat keadaannya. Tiba-tiba aku bertemu dengan sekumpulan wanita di pojok masjid. Aku mengucapkan salam kepada mereka, lalu kutanyakan, “Dengan apa kalian sampai ke tingkatan ini?

Mereka menjawab, “Dengan sujud dan takbir.”

Muzahim, pembantu Umar bin Abdul-Aziz menyebutkan dari Fathimah binti Abdul-Malik, istri Umar bin Abdul-Aziz, dia berkata, “Suatu malam Umar bin Abdul-Aziz terbangun, lalu dia berkata, “Aku baru saja mimpi yang sangat mengagumkan.”

“Mimpi apa itu?” tanya istri Umar.

“Aku tidak akan menceritakannya kepadamu kecuali setelah tiba waktu pagi,” kata Umar.

Ketika tiba waktu subuh, dia bangun dan shalat, lalu kembali ke tempat duduknya. Istri Umar menuturkan, “Kugunakan kesempatan itu untuk mendekatinya, lalu kukatakan, “Beritahukanlah mimpimu semalam.”

Umar berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku diangkat ke suatu tanah yang luas dan hijau, yang seakan-akan itu merupakan permadani yang hijau. Di sana ada sebuah istana bewarna putih yang sepertinya terbuat dari perak. Kemudian ada seseorang yang keluar dari dalam istana itu sambil berseru dengan lantang, “Mana Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib? Mana Rasulullah SAW?” Maka muncul Rasulullah SAW, lalu masuk ke dalam istana itu. Kemudian ada orang lain yang keluar dari dalam istana, lalu berseru dengan suara lantang, “Mana Abu Bakar Ash-Shiddiq? Mana Abu Qahafah?” Maka Abu Bakar muncul lalu masuk ke dalam istana. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam istana dan berseru, “Mana Umar bin Al-Khaththab?” Maka muncul Umar bin Al-Khaththab lalu masuk ke dalam istana. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam istana dan berseru, “Mana Utsman bin Affan?” Maka Utsman bin Affan muncul lalu masuk ke dalam istana itu. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam istana dan berseru, “Mana Ali bin Abu Thalib?” Maka dia muncul lalu masuk ke dalam istana. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam istana dan berseru, “Mana Umar bin Abdul Aziz?” Lalu Umar berkata, “Maka aku bangkit hingga aku masuk ke dalam istana. Aku mendekat ke arah Rasulullah SAW dan orang-orang yang disebutkan tadi ada di sekeliling beliau. Aku bertanya-tanya di dalam hati, “Di sebelah mana aku harus duduk?” Maka kuputuskan untuk duduk di sebelah Umar bin Al-Khaththab. Ketika aku sedang memeriksa, ternyata Abu Bakar ada di sebelah kanan Rasulullah SAW, dan di sebelah Abu Bakar ada satu orang lagi. Aku bertanya, “Siapakah orang yang ada di antara Abu Bakar dan Rasulullah SAWitu?” Ada yang menjawab, “Dia adalah Isa bin Maryam.” Tiba-tiba ada yang berbisik kepadaku, namun antara diriku dan dirinya ada pembatas yang berupa cahaya, “Wahai Umar bin Abdul Aziz, pegangilah apa yang ada pada dirimu selama ini dan teguhkanlah hatimu padanya.” Kemudian seakan-akan dia mengizinkan aku untuk keluar. Maka aku pun keluar dari istana itu. Aku menoleh ke belakang, yang ternyata Utsman bin Affan juga ikut keluar dari -sana, seraya berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah menolongku.” Kulihat Ali bin Abu Thalib juga keluar dari istana seraya berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah mengampuni aku.”

Sa’id bin Abu Urubah menuturkan dari Umar bin Abdul-Aziz, dia berkata,

Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW, sementara Abu Bakar dan Umar duduk di sisi beliau. Aku mengucapkan salam lalu ikut duduk. Ketika aku sedang duduk itu muncul Ali dan Mu’awiyah, lalu keduanya dimasukkan ke dalam satu rumah yang pintunya tetap dibuka, sehingga aku bisa melihat. Tak seberapa .ama berselang Ali keluar dari rumah seraya berkata, “Aku telah diberi keputusan oleh Rabbul-Ka’bah.” Tak seberapa lama kemudian Mu’awiyah juga keluar dari rumah itu seraya berkata, “Aku telah diampuni Rabbul-Ka’bah.”

Hammad bin Abu Hasyim berkata, “Ada seorang laki-laki menemui Umar bin Abdul-Aziz seraya berkata, “Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW di dalam tidur, sementara Abu Bakar ada di sisi kanan beliau dan Umar di sisi kiri beliau. Lalu datang dua orang yang saling bertengkar, sementara engkau ada di hadapan dua orang itu sambil duduk. Lalu dikatakan kepada engkau, “Wahai Umar, jika engkau beramal, maka beramAlloh seperti dua orang ini.” Yang maksudnya adalah Abu Bakar dan Umar.

Umar bin Abdul-Aziz meminta orang itu untuk bersumpah atas nama Alloh dan bertanya, “Apakah engkau benar-benar mimpi seperti itu?”

Maka orang itu pun bersumpah, dan setelah itu Umar bin Abdul Aziz menangis.

Abdurrahman bin Ghunm berkata, “Aku mimpi bertemu Mu’adz bin Jabal tiga hari setelah dia meninggal. Dia naik di atas punggung kuda yang amat bagus. Sementara di belakangnya ada beberapa orang yang kulitnya putih sambil mengenakan pakaian warna hijau dan mereka juga naik kuda-kuda yang bagus. Mu’adz yang berada di depan berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.  Kemudian dia menengok ke arah kiri dan kanan, seraya berkata, “Wahai Ibnu Rawahah, wahai lbnu Mazh’un, segala puji bagi Alloh yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi kepada kami tempat ini, sedang kami diperkenankan menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” Kemudian Mu’ adz menyalami aku dan sambil meng-ucapkan salam.

Qubaishah bin Uqbah berkata, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri di dalam tidur setelah dia meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang diperbuat Alloh kepadamu?”

Dia menjawab, “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Rabb-ku dan Dia befirman kepadaku, ‘Selamat datang. Aku ridha kepadamu wahai Abu Sa’id. Kamu biasa mendirikan shalat jika malam sudah merangkak, dengan kata-kata yang sedih dan hati yang pasrah. Maka silahkan pilih istana mana yang kamu inginkan, dan kunjungilah Aku karena Aku tidak jauh darimu’.”

Sufyan bin Uyaibah berkata, “Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri setelah dia meninggal dunia, seakan-akan dia beterbangan di surga dari satu pohon korma ke pohon lainnya, dan dari satu pohon ke pohon korma, seraya berkata, “Untuk kemenangan serupa ini hendaknya berusaha orang-orang yang suka bekerja.”

Ada yang bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau dimasukkan ke dalam surga?”

Dia menjawab, “Dengan menghindarkan diri dari keduniaan.” “Apa yang terjadi dengan Ali bin Ashim?”

Dia menjawab, “Aku tidak melihatnya melainkan seperti bintang.”

Syu’bah bin Al-Hajjaj dan Mas’ar bin Kaddam, adalah dua orang penghapal Al-Qur’an dan dua orang yang mulia. Abu Ahmad Al-Buraidi berkata, “Aku mimpi bertemu keduanya, setelah keduanva meninggal dunia. Lalu aku bertanya kepada Syu’bah, “Wahai Abu Bustham, apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Dia menjawab, “Semoga Alloh melimpahkan taufik kepada dirimu. Ingatlah apa yang kukatakan ini, bahwa Illah-ku menempatkan aku di taman yang memiliki seribu pintu terbuat dari perak dan mutiara. Dia befirman kepadaku, ‘Hai Syu’bah, orang yang haus mengumpulkan ilmu dan memperbanyaknya. Kamu mendapatkan nikmat sehingga dapat berdekatan dengan-Ku dan Aku ridha kepadamu dan kepada seorang hamba-Ku yang suka bangun malam, dialah Mas’ar. Aku memberi kesempatan kepada Mas’ar untuk mengunjungi Aku dan akan kubukakan Wajah-Ku Yang Mulia, agar dia dapat memandangnya. Inilah Yang Kuperbuat terhadap orang-orang yang banyak beribadah dan tidak melakukan kemungkaran’.

Ahmad bin Muhammad Al-Labadi berkata, “Aku mimpi bertemu Ahmad bin Hambal dalam tidur. Lalu kutanyakan kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, .Apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Dia menjawab, “Dia mengampuni dosa-dosaku. Kemudian Alloh berfirman, `Hai Ahmad, apakah kamu menganggap-Ku akan menjatuhkan hukuman enam puluh kali cambukan?’ Aku menjawab, `Benar wahai Rabb-ku’. Lalu Dia befirman, `Inilah Wajah-Ku. Aku telah membukanya bagimu, maka pandanglah’.”

Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj berkata, “Aku diberitahu seorang laki-laki dari penduduk Thursus. Dia berkata, “Aku berdoa kepada Alloh agar aku mimpi bertemu dengan orang-orang yang sudah dikubur, sehingga aku bisa bertanya kepada mereka tentang Ahmad bin Hambal, apa yang diperbuat Alloh terhadap dirinya? Maka dua puluh tahun kemudian aku bermimpi dalam tidurku, seakan-akan ahli kubur berdiri di atas kubur mereka, lalu mereka berkata kepadaku, “Hai, engkau berdoa kepada Alloh agar engkau dapat mimpi bertemu dengan kami, lalu engkau akan bertanya kepada kami tentang seseorang yang semenjak dia meninggalkan kalian telah ditempatkan para malaikat di bawah sebatang pohon yang bagus.” Abu Muhammad Abdul­ Haqq berkata, “Perkataan ahli kubur ini hanya ingin menggambarkan ketinggian derajat Ahmad bin Hambal dan keagungan kedudukannya, sehingga mereka pun tidak sanggup menggambarkannya secara tepat dan bagaimana keadaannya. Yang pasti, seperti itulah yang dimaksudkan.”

Abu Ja’far As-Saqa’, rekan Bisyr bin Al-Harits berkata, “Aku mimpi bertemu Bisyr Al-Hafi dan Ma’ruf Al-Kurkhi, yang seakan-akan keduanya mendatangiku. Aku bertanya, “Dari mana?”

Keduanya menjawab, “Dari surga Firdaus. Kami baru saja mengunjungi orang yang pernah diajak bicara oleh Alloh, yaitu Musa.”

Ashim Al-Jazri berkata, “Dalam tidurku aku bermimpi seakan-akan aku bertemu Bisyr bin Al-Harits. Maka aku bertanya kepadanya, “Dari mana engkau wahai Abu Nashr?”

Dia menjawab, “Dari Iliyin.”

“Apa yang terjadi dengan Ahmad bin Hambal?”

“Saat ini aku meninggalkannya bersama Abdul-Wahhab Al-Warraq ada di hadapan Alloh, yang keduanya sedang makan dan minum,” jawabnya.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?

Dia menjawab, “Alloh tahu aku kurang suka makanan. Maka Dia mempcrkenankan aku hanya untuk memandangnya saja.,,

Abu Jaifar As-Saga’ berkata, “Aku mimpi bertemu Bisyr bin Al-Harits setelah dia meninggal. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Abu Nashr, apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Dia menjawab, “Alloh menyayangiku dan merahmatiku. Dia juga befirman kepadaku,’ Wahai Bisyr, sekiranya kamu bersujud kepada-Ku di atas bara api, maka kamu belum memenuhi rasa svukur atas apa yg; Kumasukkan ke dalam hati hamba-hamba-Ku . Lalu Alloh memperkenankan aku untuk  memasuki separoh surga. Maka aku segera masuk ke sana  dari manapun yang kukehendaki, dan Dia berjanji untuk mengampuni dosa orang-orang yang mengiringi jenazahku.”

Aku bertanva, “Bagaimana keadaan Abu Nashr At-Tammar”

Dia menjawab, “Dia berada di atas semua manusia karena kesabarannya menerima cobaan dan kemiskinannya.”

Abdul-Haqq berkata, “Boleh jadi yang dimaksudkan separoh surga itu adalah separoh kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnva, karena memang kenikmatan di surga itu ada dua paroh, satu paroh merupakan kenikmatan rohani dan paroh lain merupakan kenikmatan fisik. Pada awal mulanya mereka mereguk kenikmatan rohani. Jika roh sudah dikembalikan ke jasad, maka kenikmatan rohani itu ditambahi dengan kenikmatan fisik.” Sedangkan selainnya berkata, “Kenikmatan surga dikaitkan dengan ilmu dan amal. Bagian yang diterima Bisyr ialah karena amal, dan lebih baik dari pada bagannya karena ilmu. Tapi Allohlah yang lebih tahu.”

Seseorang yang shalih berkata, “Aku mimpi bertemu Abu Bakar AsvySyibli, yang sedang duduk di sebuah majlis di musim semi di suatu tempat yang biasa dia duduki. Dia menemuiku sambil mengenakan pakaian yang amat bagus. Maka aku bangkit untuk menyambut kedatangannya dan ku ucapkan salam kepadanva. Kemudian aku duduk di hadapannva. Aku bertanva, “Siapakah di antara teman-temanmu yang tempatnya paling dekat denganmu?”

Dia menjawab, “Orang yang paling banyak berdzikir kepada Alloh, yang paling banyak memenuhi hak Alloh dan yang paling cepat mencari keridhaan Nya.’

Abu Abdurrahman As-Sahili berkata, “Aku mimpi bertemu Maisarah bin Sulaim setelah dia meninggal dunia. Aku berkata kepadanya, “Sudah sekian lama engkau tiada.”

Dia menimpali, “Perjalanan amat panjang.” “Lalu bagaimana kesudahanmu?” tanyaku.

Dia menjawab, “Alloh memberikan keringanan kepadaku karena dulu aku suka memberi fatwa yang meringankan.”

“Apa yang bisa engkau perintahkan kepadaku?”

Dia berkata, “Mengikuti atsar dan bersahabat dengan orang-orang yang baik, tentu keduanya bisa menyelamatkan dari neraka dan mendekatkan kepada Alloh.”

Abu Ja’far Adh-Dharir berkata, “Aku mimpi bertemu Isa bin Zadan setelah dia meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Dia menjawab, “Aku melihat bidadari-bidadari yang cantik membawa nampan-nampan minuman, bernyanyi sambil berjalan dan bajunya tergerai.”

Di antara rekan Ibnu Juraij berkata, “Aku bermimpi seakan-akan aku mendatangi kuburan yang ada di Makkah ini. Aku melihat di semua kuburan ada tendanya. Di atas salah satu kuburannya ada tenda, rumah dari bulu dan pohon bidara. Aku masuk ke dalam tenda itu sambil kuucapkan salam. Ternyata di dalamnya ada Muslim bin Khalid Az-Zanjy. Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Aku bertanya, “Wahai Abu Khalid, mengapa di atas kuburan­-kuburan itu ada tendanya, sementara di atas kuburanmu ada tenda, rumah dari bulu dan bidara?”

Dia menjawab, “Sebab aku dulu banyak berpuasa.”

“Lalu dimana kuburan Ibnu Juraij dan di mana posisinya? Dulu aku suka duduk-duduk dengannya dan kini aku ingin mengucapkan salam kepadanya.”

Dia menjawab, “Di mana kuburan Ibnu Juraij? Dia diangkat ke Iliyin.” Katanya sambil memutar-mutar jari telunjuknya.

Hammad bin Salamah mimpi bertemu di antara rekannya yang sudah meninggal. Hammad bertanya kepadanya, “Apa yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?”

Rekannya menjawab, “Alloh befirman kepadaku, ‘Sudah cukup lama penderitaanmu di dunia, dan kini kupanjangkan ketenangan dan kenikmatanmu.”

 

Pembahasan

Ini merupakan masalah yang panjang dan luas untuk disampaikan di sini. Jika engkau masih sulit untuk mempercayainya, karena itu hanya sekedar mimpi, yang berarti tidak terjaga dari kekeliruan dan kesalahan, maka perhatikanlah baik-baik penuturan seseorang yang mimpi bertemu seorang temannya atau kerabatnya atau siapa pun (yang sudah meninggal dunia), lalu orang yang sudah meninggal itu mengabarkan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun kecuali orang yang bermimpi itu, atau dia memberitahukan harta yang disimpannya ketika masih hidup atau memberitahukan sesuatu yang akan terjadi, lalu apa yang diberitahukan itu benar-benar terjadi seperti yang dikatakannya, atau dia mengabarkan ihwal kematiannya atau kematian keluarganya, dan ternyata persis seperti yang dikabarkannya, atau dia mengabarkan sebuah tanah yang subur atau tandus atau tentang musuh, musibah, penyakit atau suatu tujuan, yang kenyataannya persis seperti yang dikabarkannya. Yang demikian ini banyak terjadi, dan hanya Allohlah yang dapat menghitung jumlahnya. Hal ini bisa terjadi pada siapa pun, dan kami melihat yang demikian itu sebagai suatu keajaiban.

Boleh jadi ada orang yang mengatakan, “Itu semua merupakan gambaran ilmu dan keyakinan, yang dialami seseorang yang bersangkutan ketika dirinya terbebas dari segala kesibukan fisik karena dia sedang tidur. Itu semua batil dan mustahil terjadi. Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui urusan­urusan semacam itu, yang dikabarkan orang yang sudah meninggal dunia dan tidak pernah terlintas di dalam benaknya, tanpa ada tanda-tanda dan isyarat, walaupun kami juga tidak mengingkari bahwa sebagian di antaranya memang benar-benar terjadi.”

Pernyataan semacam ini tak bisa diterima dan dianggap batil. Memang di antara mimpi ada yang terjadi karena pengaruh bisikan jiwa dan gambaran keyakinan. Bahkan banyak orang yang bermimpi sebagai imbas dari pengaruh lintasan-lintasan hatinya, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan kenyataan

Mimpi itu sendiri ada tiga macam:

1. Mimpi yang datangnya dari Alloh.

2. Mimpi yang datangnya dari syetan.

3. Mimpi yang datangnya dari bisikan sanubari.

Mimpi yang benar ada beberapa macam, gambarannya seperti dalam beberapa contoh berikut:

– Semacam ilham yang disusupkan Alloh ke dalam hati hamba. Hal ini berupa bisikan Alloh terhadap hamba-Nya ketika dia tidur, seperti yang dikatakan Ubadah bin Ash-Shamit dan lain-lainnya.

– Mimpi yang disusupkan malaikat yang memang sudah ditugaskan untuk itu.

– Roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal dunia, baik keluarga, kerabat, rekan atau siapa pun dia.

– Roh yang naik ke hadapan Alloh lalu Alloh befirman kepadanya.

– Roh yang masuk ke dalam surga dan melihat segala sesuatu yang ada di sana.

–  Dan lain-lainnya.

Bertemunya roh orang yang masih hidup dengan roh orang yang sudah meninggal dunia termasuk jenis mimpi yang benar seperti yang dialami banyak orang dan termasuk hat yang dapat dirasakan. Memang ini termasuk masalah vang masih rancu di antara manusia. Ada yang mengatakan bahwa sernua ilmu terpendam di dalam jiwa. Karena kemampuan ilmu hanya berkait dengan alam nyata, maka ia terhalang untuk mengetahui roh. Jika seseorang terbebas dari segala kesibukan karena tidur, maka dia bisa bermimpi menurut latar belakangnya. Karena kebebasannya dari segala kesibukan dan kedekatannya dengan kematian lebih sempurna, maka ilmu dan pengetahuannya dalam hal ini juga lebih sempurna. Dalam hal ini bisa benar dan bisa batil, sehingga tidak bisa ditolak semuanya dan tidak selayaknya diterima semuanya. Kebebasan jiwa untuk melihat berdasarkan ilmu dan pengetahuan, tidak bisa diperoleh tanpa kebebasan itu. Tapi jika jiwa itu benar-benar bebas, maka ia tidak bisa melihat ilmu Alloh yang disampaikan kepada Rasul-Nya secara rinci tentang rasul-rasul dan umat-umat yang terdahulu, tentang hari kiamat, perintah dan larangan, asma’ dan sifat, dan lain-lainnya yang memang tidak bisa diketahui kecuali lewat wahyu. Tapi kebebasan jiwa ini bisa membantu pengetahuan tentang semua itu, yang relatif bisa didapatkan dengan cara yang mudah, tanpa harus membawa jiwa kepada aktivitas badan.

Ada pula yang berkata, bahwa ini termasuk ilmu yang disampaikan kepada jiwa secara spontan, tanpa ada sebabnya. Ini merupakan pendapat orang-orang yang biasa mengingkari sebab dan hukum yang lebih kuat. Mereka termasuk orang-orang yang bertentangan dengan syariat, akal dan fitrah.

Ada pula yang berpendapat, mimpi itu merupakan perumpamaan yang disampaikan Alloh kepada hamba-Nya, tergantung dari latar belakang yang dibuat malaikat yang menangani mimpi. Terkadang mimpi itu berupa perumpamaan yang disampaikan, terkadang mimpi yang dialami seseorang dan sesuai dengan kenyataan, berdasarkan ilmu dan pengetahuannya.

Yang terakhir ini merupakan pendapat yang lebih mengena daripada dua pendapat sebelumnya. Tapi mimpi tidak sebatas itu saja. Di sana ada sebab­sebab lain seperti yang sudah disebutkan di atas, yang menggambarkan pertemuan beberapa roh, yang satu mengabarkan kepada yang lain dan pengetahuan roh tentang segala sesuatu tanpa sarana apa pun.

Abu Abdullah bin Mandah menyebutkan di dalam kitab An-Nafsu warRuh, dari hadits Muhammad bin Humaid, kami diberitahu Abdurrahman bin Maghra’, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab bertemu Ali bin Abu Thalib, lalu Umar berkata kepadanya, “Wahai Abul-Hasan, boleh jadi engkau tahu dan kami tidak, atau kami yang tahu dan engkau tidak. Tiga hal akan kutanyakan kepadamu, siapa tahu engkau tahu sebagian di antaranya.”

“Apa itu?” tanya Ali bin Abu Thalib.

Umar menjawab, “Seseorang mencintai orang lain, padahal orang yang mencintai itu tidak melihat satu kebaikan pun kebaikan pada orang yang dicintainya. Seseorang membenci orang lain, padahal orang yang membenci itu tidak melihat satu pun keburukan pada diri orang yang dibencinya.”

Ali berkata, “Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya roh-roh itu seperti pasukan yang dimobilisir, yang bertemu di tempat terbuka dan mereka pun merasa bosan. Selagi roh-roh itu saling mengenal, maka ia akan bersatu, dan selagi roh-roh itu saling mengingkari, maka ia akan berselisilih .”

Umar berkata, “Itu satu.” Lalu dia melanjutkan perkataannya, “seseorang menyampaikan hadits padahal dia lupa, dan justru saat lupa itulah dia menyebutkan hadits tersebut.”

Ali berkata, “Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah ada di dalam hati-hati itu melainkan ada satu hati yang terhalang mendung seperti mendung yang menghalangi rembulan, ketika rembulan itu bersinar. Jika rembulan itu terhalang mendung, maka keadaan menjadi gelap. Jika mendung itu menghilang, maka keadaan menjadi terang. Ketika hati itu hendak memberitahukan, lalu terhalang mendung, maka ia menjadi lupa. Jika mendung itu menyingkir, maka ia menjadi ingat kembali.”

Umar berkata, “Itu yang kedua.” Lalu dia melanjutkan perkataannya, “seseorang bermimpi, di antara mimpinya itu ada yang benar cdan ada pula yang dusta.”

Ali berkata, “Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seseorang tidur lelap, melainkan rohnya dibawa ke ‘Arsy. Yang tidak bangun sebelum tiba di ‘Arsy, maka itulah mimpi yang benar. Sedangkan yang bangun sebelum tiba di ‘Arsy, maka itulah mimpi yang dusta’.”

Umar berkata, “Itulah tiga perkara yang selama kucari jawabannya. Segala puji bagi Alloh, sehingga aku mengetahuinya sebelum aku mati.”

Baqiyyah bin Khalid berkata, “Kami diberitahu Shafwan bin Amr, dari Sulaim bin Amir Al-Hadhramy, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab berkata, Aku heran terhadap mimpi seseorang, sehingga dia melihat sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, sehingga dia seperti memegang tangan dan melihat sesuatu padahal itu tidak terjadi.”

Ali bin Abu Thalib menimpali, “Wahai Amirul-Mukminin, sesungguhnya Alloh telah berirman, ‘Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa ( orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan .”

Ali berkata lagi, “Roh-roh itu dibawa naik ketika tidur, dan apa yang dilihatnya di langit, maka itu adalah benar. Ketika roh itu dikembalikan ke jasadnya, maka syetan menyeretnya ke udara dan mendustakannya. Maka mimpi yang dilihatnya saat itu adalah batil.”

Sulaim bin Amir berkata, “Maka Umar bin Al-Khaththab menjadi kagum terhadap perkataan Ali itu.”

Menurut Ibnu Mandah, ini merupakan pengabaran yang masyhur dari Shafwan bin Amr dan lain-lainnya, yang juga diriwayatkan dari Abud Darda’.

‘Ath-Thabrany menyebutkan dari hadits Ali bin Thalhah, bahwa Abdullah bin Abbas berkata kepada Umar bin Al-Khaththab, “Wahai Amirul-Mukminin, ada beberapa masalah yang ingin kutanyakan kepadamu.”

“Bertanyalah semaumu,” kata Umar.

“Wahai Amirul-Mukminin, karena apa seseorang ingat? Karena apa seseorang lalai? Karena apa mimpi itu benar? Karena apa mimpi itu dusta?”

Umar menjawab, “Sesungguhnya di atas hati itu ada awan laiknya awan vang menutupi rembulan. Jika awan ini menutupi hati, maka hati anak Adam menjadi lalai. Jika awan itu hilang, maka hati menjadi ingat dan tidak lalai. Lalu karena apa mimpi itu menjadi benar dan dusta? Sesungguhnya Alloh telah befirman, “Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa(orang) yang belum mati di waktu tidurnya’. Siapa yang jiwa atau rohnya masuk ke kerajaan langit, maka itu adalah mimpi yang benar dan selagi tidak masuk ke kerajaan langit, maka itu adalah dusta.”

Ibnu Luhai’ah meriwayatkan dari Ibnu Utsman bin Nu’aim Ar-Ru’aini, dari Abu Utsman Al-Ashbahy, dari Abud-Darda’, dia berkata, “Jika seseorang tidur, maka rohnya dibawa naik sampai ke ‘Arsy. Jika roh itu suci, maka ia diperkenankan sujud di sana, dan jika roh itu kotor, maka ia tidak diperkenankan sujud di sana.”

Ja’far bin Aun meriwayatkan dari Ibrahim Al-Hijri, dari Abul-Ahrash, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Sesungguhnya roh itu pasukan yang seakan dimobilisir, yang saling bertemu dan merasa bosan sebagaimana kuda pun yang bisa merasa bosan. Selagi roh-roh itu saling mengenal, maka ia akan bersatu, dan selagi saling mengingkari, maka ia akan berselisih.”

Manusia semenjak dahulu hingga sekarang tentu menyadari hal ini dan menyaksikannya. Jamil bin Ma’mar Al-Udzri berkata dalam syairnya,

Waktu siang terus bergolak hingga malamnya

rohku dalam haribaan yang menyatu dengan rohnya.

Jika ada yang berkata, “Orang yang bermimpi dalam tidur bisa berbincang-bincang dengan orang lain yang masih hidup, padahal jarak antara keduanya cukup jauh. Sedangkan orang yang melihat dalam keadaan terjaga, rohnya tidak berpisah dari jasad. Lalu bagaimana roh keduanya bisa saling bertemu?”

Hal ini dapat dijawab, bahwa yang demikian itu boleh jadi merupakan gambaran yang diberikan malaikat berupa mimpi kepada orang yang sedang tidur, atau bisikan sanubari orang yang bermimpi itu sendiri, seperti yang dikatakan Habib bin Aus dalam syairnya,

Waspadai kepalsuan yang mendatangimu

karena bisikan-bisikan yang datang dari hatimu

Boleh jadi ada dua roh yang selaras dan hubungan keduanya amat erat, sehingga yang satu dapat merasakan apa yang dirasakan rekannya, sementara orang lain tidak merasakannya, karena kedekatan hubungan mereka. Biasanya hal ini disertai berbagai kejadian yang aneh.

Maksudnya, roh orang-orang yang masih hidup dapat saling bertemu sebagaimana roh orang yang masih hidup dapat bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal.

Di antara orang salaf ada yang berkata, “Sesungguhnya roh-roh itu saling bertemu di angkasa, saling mengenal atau saling mengingat. Malalaikat mimpi mendatangi roh itu dan menampakkan gambaran yang baik atau yang buruk. Alloh telah mengutus seorang malaikat untuk mendatangkan rnimpi yang benar, memberitahukan atau mengilhamkan pengetahuan tentang setiap jiwa, nama dan keadaannya yang berkaitan dengan agama, dunia dan tabiatnya, sehingga tidak ada yang tersamar sedikit pun dalam hat ini dan tidak ada yang meleset. Malaikat itu membawa lembaran ilmu gaib Alloh dari Ummul-Kitab, sesuai dengan kebaikan dan keburukan orang itu, dalam agama dan dunianya. Dia diberi perumpamaan dan gambaran bentuk sesuai dengan kebiasaannya. Terkadang dia diberi kabar gembira dengan suatu kebaikan yang pernah dilakukannya, terkadang dia diberi peringatan dari kedurhakaan yang dilakukannya, terkadang diberi peringatan tentang sesuatu yang tidak disenanginya dan diberi sebab-sebab yang bisa menghindarkan diri darinya, dan hikmah atau kemaslahatan lain yang dijadikanlah Alloh dalam mimpi, sebagai limpahan nikmat dan rahmat dari-Nya, kebaikan dan kemurahan-Nya. Alloh menjadikan salah satu di antara cara-caranya ialah lewat pertemuan beberapa roh, yang kemudian saling mengingatkan. Berapa banyak orang yang bertaubat, menjadi baik dan zuhud di dunia hanya karena mimpi yang dialaminya dalam tidur. Berapa banyak orang yang mendapat harta terpendam hanya karena lewat mimpi.”

Dalam kitab Al-Mujalasah karangan Abu Bakar Ahmad bin Marwan Al­ Mlaliki disebutkan dari Ibnu Qutaibah, dari Abu Hatim, dari Al-Ashma’i, dari Al-Mu’tamar bin Sulaiman, dari seseorang yang memberitahukan kepadanya, dia berkata, “Suatu kali kami bertiga mengadakan perjalanan jauh. Ketika salah seorang di antara kami tidur, kami melihat dari hidungnya keluar sesuatu seperti sebuah lampu. Lalu lampu itu masuk ke dalam sebuah gua tak jauh dari tempat kami, keluar lagi dan masuk ke dalam hidung teman kami. Lalu teman kami itu terbangun sambil mengusap-usap mukanya. Dia berkata, “Aku baru saja mimpi vang sangat aneh. Aku melihat di dalam gua itu ada begini dan begitu.” Maka kami pun masuk dan kami mendapatkan di dalamnya ada sisa-sisa harta yang terpendam, entah sudah berapa lama.”

Abdul-Muththalib juga pernah bermimpi agar datang ke Zamzam. Ketika ke sana, dia mendapatkan harta terpendam.

Inilah Umair bin Wahb yang bermimpi, seakan-akan ada orang yang berkata kepadanya, “Bangunlah dan datanglah ke tempat ini dan itu dari suatu rumah, lalu galilah, niscaya engkau akan mendapatkan harta peninggalan ayahmu.” Karena memang ayahnya pernah menimbun harta yang melimpah dan dia keburu meninggal tanpa sempat meninggalkan wasiat tentang harta itu. Maka Umair langsung bangun dari tidurnya dan menggali rumah seperti yang ditunjukkan dalam mimpinya. Ternyata di sana ada sepuluh ribu dirham dan biji emas yang banyak. Dengan uang itu dia bisa melunasi hutangnya dan keadaan keluarganya pun menjadi mapan. Hal itu terjadi setelah dia masuk Islam. Ketika keadaan sudah berubah, putrinya yang paling kecil berkata kepadanya, “Wahai ayah, Rabb kita yang mencintai kita dengan agama-Nya, lebih baik daripada Hubal dan Uzza. Kalau tidak karena ayah masuk Islam, tentu harta benda ini tidak akan ditunjukkan, dan selama-lamanya ayah akan menyembah Hubal.”

Ali bin Abu Thalib Al-Qairawany berkata, “Apa yang terjadi pada diri Umair ini dan ditemukannya harta benda yang melimpah lewat mimpi, merupakan kejadian yang amat mengagumkan bagi kami. Pada zaman kami hal seperti ini juga dialami Abu Muhammad Abdullah Al-Bughanisyi, seorang laki-laki yang shalih dan terkenal, karena sering mimpi bertemu dengan roh orang-orang yang sudah meninggal dan juga bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang gaib. Apa yang dialaminya itu diceritakan kepada keluarga dan kerabatnya, sehingga lambat laun dia menjadi terkenal. Suatu kali ada seseorang yang menemuinya, lalu mengadu bahwa seorang sahabat karibnya meninggal tanpa meninggalkan pesan apa pun. Padahal rekannya itu memiliki harta yang banyak tapi tidak diketahui di mana tempatnya. Padahal harta itu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Maka pada malam itu Abu Muhammad berdoa kepada Alloh, sehingga dia mimpi bertemu dengan orang yang ciri-cirinya sudah disebutkan. Ketika dia menanyakan urusan di atas, maka orang tersebut memberitahukannya.”

Berikut ini termasuk peristiwa yang jarang terjadi. Ada seorang wanita tua yang shalih meninggal dunia. Sementara dia hanya menitipkan tujuh dinar kepada seorang wanita teman dekatnya. Wanita yang dititipi itu datang kepada Abu Muhammad dan mengadu tentang apa yang menimpa dirinya. Wanita itu memberitahukan namanya dan nama wanita yang telah meninggal dunia. Keesokannya, wanita itu datang lagi menemui Abu Muhammad, dan Abu Muhammad berkata, “Fulanah berkata kepadamu,’Hendaklah engkau kembali ke rumahku, hitunglah bilangan atap rumahnya sebanyak tujuh kayu, tentu di sana engkau akan mendapatkan uang dinar di dalam kayu yang ketujuh, yang tersimpan di dalam sobekan kain wool’. Maka wanita itu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, dan dia mendapatkan apa yang dikatakan rekannya yang telah meninggal dunia itu

Al-Qairawani juga berkata, “Aku diberitahu seseorang yang kukira dia tidak berdusta, dia berkata, “Aku diupah seorang wanita yang kaya untuk merobohkan rumahnya. Padahal rumah itu dibangun dengan biaya yang mahal dan banyak. Ketika aku sudah mulai merobohkannya, dia menyuruh-ku untuk menghentikannya, juga atas persetujuan beberapa orang di sekitar-nya.

“Ada apa?” aku bertanya.

Wanita pemilik rumah menjawab, “Demi Alloh, kurasa aku tidak perlu merobohkan rumah ini. Ayahku meninggal dunia, padahal dulu dia orang yang kaya raya. Namun begitu kami tidak mendapatkan harta yang banyak. Suatu saat aku berpikir bahwa hartanya dipendam, sehingga aku ingin merobohkan rumah ini, siapa tahu aku mendapatkan harta itu di dalamnya.”

Sebagian orang yang hadir di tempat itu berkata, “Engkau kehilangan cara yang paling mudah untuk mengetahui harta itu.”

“Apa itu?” tanya wanita pemilik rumah.

“Temuilah Fulan dan mintalah pertolongan kepadanya agar dia mencari jalan keluar dari kisahmu, siapa tahu dia mimpi bertemu dengan ayahmu, sehingga dia bisa menunjukkan di mana hartanya, sehingga engkau tidak berpayah-payah dan tidak repot.”

Maka wanita pemilik rumah itu menemui orang yang dimaksudkan lalu kembali lagi menemui kami. Dia mengatakan bahwa dia telah menulis nama dirinya dan nama ayahnya, yang kemudian diserahkan kepada orang tersebut. Keesokan harinya ketika aku hendak memulai kerja, pemilik rumah dan orang tersebut datang, seraya berkata, “Aku mimpi bertemu ayahmu yang mengatakan bahwa harta itu tersimpan di dalam sebuah celukan tanah.”

Maka kami menggali tanah seperti yang ditunjukkan dan ternyata di sana ada bungkusan kain yang di dalamnya terdapat harta yang banyak. Kami benar-benar heran dengan kejadian ini. Tapi wanita pemilik rumah menganggap harta itu masih terlalu sedikit. Dia berkata, “Harta ayahku lebih banyak dari bungkusan ini. Maka aku harus menemui orang itu lagi.”

Maka wanita pemilik rumah mendatangi orang tersebut dan memohonnya sekali lagi. Pada keesokan harinya orang itu datang dan berkata, “Ayahku berkata agar engkau menggali di bawah kolam besar yang bentuk­nya empat persegi yang dijadikan tempat penyimpanan minyak.”

Kami menggali tempat itu dan mendapatkan wadah yang amat besar. Maka wanita pemilik rumah mengambilnya. Tapi rupanya dia belum puas dan masih menginginkan harta yang lain lagi dari peninggalan ayahnya. Ketika dia memintaku untuk memohon pertolongan lagi kepada orang tersebut, namun aku kembali sendirian, maka wanita itu tampak muram dan sedih, seraya berkata, “Orang itu berkata, bahwa dia mimpi bertemu ayah, agar mengatakan kepadaku,’Engkau telah mengambil apa yang ditetapkan. Adapun harta lainnya diduduki Ifrit dari jenis jin, yang menjaganya dan hendak diberikan kepada siapa yang berhak’.”

Kisah tentang masalah ini amat banyak. Begitu pula penggunaan suatu obat untuk mengobati penyakit menurut petunjuk mimpi yang dilihat ketika tidur.

Aku (Ibnu Qayyim) diberitahu tidak hanya oleh satu orang saja yang sebenarnya tidak condong kepada Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, bahwa dia mimpi bertemu dengan Syaikhul-Islam setelah dia meninggal dunia. Dalam mimpinya itu dia bertanya tentang beberapa masalah fara’idh yang dianggapnya rumit, dan juga masalah-masalah lain, yang kemudian dijawab dengan benar oleh Syaikhul-Islam.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa masalah ini bukan termasuk sesuatu yang diingkari kecuali oleh orang yang bodoh dan tidak mengerti masalah roh, hukum-hukum dan keadaannya.

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (I)

Republika, Jumat, 02 Desember 2011

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (I)

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Kata al-taibin dan al-tawwabin (orang-orang yang bertobat) berasal dari akar kata taba-yatubu yang artinya kembali, yaitu kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan meyimpang. Beberapa kata yang sinonim secara harfiah tetapi kemudian berbeda dalam peristilahan, seperti raja’a berarti kembali ke jalan atau ke tempat semula, seperti kata Tuhan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kata radda yang kemudian membentuk kata murtad berarti ditolak, yakni setelah seseorang bermohon untuk kembali tetapi ditolak oleh perbuatannya sendiri.

Di sinilah letak perbedaan antara tobat dan istighfar. Tobat menuntut tindak lanjut lebih jauh, sedangkan istighfar lebih merupakan ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-‘azhim. Sedangkan tobat lebih dari sekadar itu, menghendaki tindak lanjut yang boleh jadi amat berat dilaksanakan para pelakunya. Secara terminologi, tobat biasa diartikan kembali dari sikap, perbuatan, dan perbuatan yang tercela menuju kepada yang terpuji.

Al-Taibin adalah bentuk isim fa’il dari kata taba, berarti orang-orang yang kembali menyadari kesalahannya dengan melakukan persyaratan tobat. Dalam kitab Hadâiq al-Haqâiq karya Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (W 660 H), disebutkan bahwa persyaratan tobat bukan sekadar mengucapkan kalimat istighfar tetapi juga harus meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, mengganti perbuatan itu dengan perbuatan baik, menyesali diri dengan perbuatan dosa dan maksiat itu, serta berikrar untuk tidak akan pernah mengulangi lagi perbuatan tercela itu.

Selain persyaratan tersebut, Imam al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menambahkan dengan :

  • mengembalikan semua barang orang yang pernah diambil,
  • meminta maaf  kepada orang yang pernah difitnah atau dibicarakan aibnya,
  • menghancurkan daging dan lemak yang tumbuh dalam dirinya yang berasal dari sumber yang haram dengan cara al-riyadhah, yakni menjalani latihan jasmani dan rohani dalam menempuh berbagai tahapan menuju kedekatan diri kepada Allah, dan mujahadah, yakni perjuangan melawan dorongan nafsu amarahnya, tidak makan, minum, dan memakai pakaian kecuali yang bersumber dari yang halal, dan mensucikan hati dari sifat khianat, tipu daya, sombong, iri hati, dengki, panjang angan-angan, lupa terhadap kematian, dan yang semacamnya.

 

Dengan demikian, tobat lebih berat daripada istighfar.

Sementara itu, al-tawwabin perinsipnya sama saja dengan al-taibin, yaitu melakukan pertobatan dari dosa dan maksiat pada saat terjadinya dosa, bahkan kadang mengumpulkan dosa lalu sekaligus dilakukan pertobatan secara menyeluruh. Sedangkan, al-tawwabin frekuensinya lebih sering, bahkan tanpa harus menunggu adanya perbuatan dosa atau maksiat tetap saja selalu bertobat dan beristighfar.

  • Orang-orang yang masuk kategori al-tawwabin selalu merasa ada yang salah di dalam dirinya sehingga selalu bolak-balik berobat kepada Allah SWT.

Orang-orang seperti inilah uang disebutkan di dalam Alquran: Innallah yuhib al-tawwabin wa yuhib al-mutathahhirin (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri). (QS al-Baqarah [2]: 222).

Tobat menurut Imam al-Gazali ada tiga tingkatan.

Pertama, tobatnya orang awam, yaitu tobat dari dosa dan maksiat.

Kedua, tobatnya orang khawas, yaitu tobat tidak karena melakukan dosa atau maksiat akan tetapi tobat karena alpa melakukan ketaatan yang bersifat sunah, misalnya meninggalkan shalat dhuha, shalat tahajud, puasa Senin-Kamis, dan lain-lain.

Ketiga, tobatnya orang khawas al-khawas, yaitu tobat bukan karena dosa dan maksiat atau meninggalkan ketaatan sunah apalagi wajib, melainkan tobat karena berkurangnya nilai khusyuk dari seluruh rangkaian rutinitas ibadah yang dilakukan. Bagi golongan ini, alpa sedikit pun tidak mengingat Allah SWT dirasakan seperti melakukan dosa sehingga ia berusaha untuk menutupi kelemahan-kelemahan itu dengan tobat dan istighfar.

Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu atas tiga macam, yaitu

1) Tobat dari segala kesalahan dan dosa. Inilah tobatnya masyarakat awam.

2) Tobat dari kelalaian dari ingat kepada Allah. Inilah tobatnya orang khawas.

3) Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan. Inilah tobatnya orang khawas al-khawas.

Orang yang tobat karena takut siksaan disebut taubat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala disebut inabah, dan orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah.

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam karyanya Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar, yaitu

pertama, tobat masyarakat awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat.

Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena Zat-Nya Yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan. Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.”
Kemudian khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-‘arifun dan al-muqarrabun. Al-muqarrabun adalah khawas al-khawas. Hubungan antara al-‘arifun dengan al-muqarrabun adalah sama dengan hubungan seorang pemula dalam menempuh jalan kegiatan suluk dengan orang yang sudah sampai pada tingkat makrifah.

Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari rida Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat. Dalam firman-Nya disebutkan: “Jika Allah mencintai seorang hamba, dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu kemudian Beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah: 222). Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya. Maka, dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu tidak ada lagi melekat pada dirinya. Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya: “Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa.” Dalam hadis lain dikatakan: “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah daripada seorang pemuda yang bertobat.”

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh istrinya, Aisyah ra, mengapa Engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah Engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT? Rasulullah menjawab singkat, “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur.” Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya pembersihan diri dari dosa dan maksiat tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). Tobat merupakan sifat orang-orang beriman, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Alquran: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. (QS an-Nur [24]: 31).

Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin. Sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (al-muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran: “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33). Selain inabah juga dikenal istilah lain, yaitu aubah, yang merupakan sifat para nabi dan rasul, sebagaimana firman-Nya: “Ni’mal ‘abdu innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [38]: 44).

Sumber :

http://koran.republika.co.id/koran/52/149109/Antara_al_Taibin_dan_al_Tawwabin_I

 


Jumat, 09 Desember 2011 pukul 13:03:00

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (2)

tasawuf

Prof Dr Nasaruddin Umar

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah).
(QS Yusuf [12]: 87).

Tobatnya para al-taw wabin biasa juga disebut dengan tobat nasuha, yaitu tobat yang benar-benar dilandasi ketulusan hati secara murni, tobat yang tidak pernah mengulangi lagi perbuatan dosa yang sama selamanya. Yahya bin Mu’adz mengatakan: “Melakukan satu perbuatan dosa setelah tobat jauh lebih buruk daripada melakukan 70 perbuatan dosa sebelum tobat.

Sementara menurut Dzun Nun al-Mishri, beristighfar dari dosa tanpa berusaha melepaskan diri dari dosa itu adalah tobatnya para pendusta. Barang siapa bertobat kemudian tidak membatalkan tobatnya, ia termasuk orang bahagia. Jika ia membatalkannya sekali atau dua kali kemudian mengulanginya lagi, ia masih diharapkan tetap pada sikap tobatnya, sebab segala sesuatu telah ditetapkan ajalnya.

Diriwayatkan dari Abu Hafash al-Haddad, ia pernah berkata: “Dulu aku meninggalkan perbuatan begini sekali, lalu kemudian aku kembali lagi kepadanya. Kemudian aku meninggalkannya lagi dan tidak mengulanginya lagi.” Syekh Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, ada sebagian murid bertobat lalu meninggalkan tobatnya. Pada suatu hari ditanyakanlah, jika ia kembali lagi bertobat apakah tobatnya masih diterima? Tiba-tiba terdengar suara yang menjawabnya:

“Hai Fulan, engkau telah menaati kami, maka kami pun berterima kasih kepadamu. Kemudian engkau meninggalkan kami, maka kami pun menangguhkanmu. Jika engkau kembali lagi bertobat, kami akan menerimamu.” Lalu, murid itu kembali bertobat dan tercapailah apa yang dituju.

Menurut kalangan arifin, seseorang yang telah bertekad untuk bertobat, yang pertama kali harus dilakukan ialah melunasi segala macam bentuk kezaliman yang pernah dilakukan terhadap sesamanya dan mengembalikan kepada hak-hak me reka. Jika tidak mampu melakukan hal itu, ia tetap harus berusaha kapan ia mampu mengembalikan kepada mereka yang berhak menerimanya, selalu mendoakan bagi pemiliknya yang berhak menerima agar ia terbebas dari padanya. Kemudian, ia menghindari dan memutuskan hubungannya dengan yang lain untuk menuju kedekatan diri kepada Allah; mengganti segala hak dan kewajibannya kepada Allah yang luput dilakukan selama ini; serta menyesali dan menangisi terhadap apa yang dilalaikan selama ini sehingga jauh dari Allah dan menyia-nyiakan waktu muda dan sehatnya.

Pengarang Al-Haqaiq al-Haqaiq mengingatkan bahwa seorang pendosa tidak sepantasnya putus asa dari rahmat Allah dalam menerima tobat mereka, walaupun dosa mereka banyak dan besar serta berulang-ulang membatalkan tobat dan bergelimang dalam dosa. Sebab, putus asa itu merupakan kesalahan fatal dan justru menjadi penyebab untuk sema kin tenggelam dalam lumpur dosa selamanya. Jika seseorang dihadapkan dengan kondisi seperti ini, sebaiknya yakinkan dalam dirinya bahwa hal itu adalah tipu daya setan yang selalu menghalangi manusia untuk bertobat dan selalu menggoda agar tetap melakukan dosa seumur hidup. Obat dari penyakit seperti itu ialah seorang pendosa hendaknya merenungkan firman Allah:

“Wala taiasu min ruh Allah (Dan jangan kamu berputus-asa dari rahmat Allah).” (QS Yusuf [12]: 87). Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS az-Zumar [39]: 87). “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS an-Nisa [4]: 116). Ayat-ayat dalam Alquran seperti ini sangat banyak.

Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, ada dua ayat dalam Alquran yang jika dibaca oleh orang berdosa lalu memohon ampunan kepada Allah, niscaya dosa-dosanya akan terampuni.” Ayat yang dimaksud ialah: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135).

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa [4]: 110).

Sesungguhnya esensi tobat didasarkan pada jalan dan sumber seperti yang dikemukakan di atas. Jika tobat dijalankan secara tepat dan ikhlas semata hanya karena Allah, seluruh prosesinya akan berjalan dengan baik dan sempurna. Jika sebagian persyaratannya tidak terpenuhi atau tujuannya tercemari oleh polusi keduniaan seperti hanya karena tuntutan reputasi dan popularitas serta menarik perhatian orang lain dan yang semacamnya, maka tobat seperti ini bagaikan sebuah bangunan di atas pinggir sungai yang diruntuhkan oleh derasnya banjir dan terhanyut sampai ke jurang neraka jahanam. Na’udzu billahi min dzalik! ed: wachidah handasah.

http://koran.republika.co.id/koran/0/149643/Antara_al_Taibin_dan_al_Tawwabin_2

Kisah Nabi Ayub dan Penyebab Sakit Nabi Ayub a.s.

Catatan AsSalyan :

Dalam tulisan ini Prof. Dr. Nasaruddin Umar tidak memuat semua ayat Al Qur’an tentang sakitnya nabi Ayub secara lengkap, sehingga dia tidak mencantumkan peranan setan dalam sakitnya Nabi Ayub as. itu, serta tidak mencantumkan apa perkataan Nabi Ayub as. mengenai sebab sakitnya itu.

Firman Alloh SWT mengenai Nabi Ayub yang mendapat musibah sakit ini terdapat dalam Surat ke 21 atau Surat Al Anbiya ayat 83-84 dan  Surat ke 38 atau Surat Shaad  ayat 41.

Terjemah ayat-ayat itu adalah :

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS 21:83:84)

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38 :41-42-43).

Jadi ujian Alloh itu adalah istilah hakekat, tetapi sebab yang menjadikan Nabi Ayub sakit itu adalah setan yang terkutuk.

Dari kisah Nabi Ayub ini sebenarnya terdapat ”pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”, bahwa :

  • ujian itu hakekatnya dari Alloh SWT, tetapi perlu diketahui pula secara syariat, yaitu penyebab terjadinya ujian dan bagaimana menyelesaikan ujian itu.
  • Ujian berupa sakit itu ada penyebabnya. Penyebabnya bisa diri sendiri yang dibantu oleh setan atau hanya oleh setan. Dalam kasus nabi Ayub as. penyebabnya adalah setan.

Orang yang mencapai mashabir itu tetap berbaik sangka kepada Alloh SWT dan mengetahui penyebab musibah atau ujian yang menimpanya terdapat peran dirinya, makhluk dan setan yang menjadi musuh manusia.

Republika, Jumat, 16 Desember 2011

Antara al-Shabir, al-Mashabir, dan al-Shabur (I)

Oleh Nasaruddin Umar

Nabi Ayub adalah orang yang paling sabar di dalam Alquran. Ia dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit aneh. Sekujur tubuhnya membusuk. Bukan hanya itu, luka di sekujur tubuhnya dikerumuni belatung. Akibatnya, ia dipencilkan oleh masyarakat, termasuk oleh istri yang selama ini mendampinginya. Ia dibuang jauh di luar perkampungan, di sebuah pegunungan. Ia hidup dalam sebuah gua yang gelap dan sepi. Di dalam gua, Nabi Ayub menghabiskan waktunya seorang diri. Di dalam kesendiriannya inilah, Nabi Ayub pernah bersumpah di dalam dirinya, seandainya Allah memberikan kesembuhan niscaya akan aku cambuk istriku karena sikapnya yang tega membuang dirinya di tempat yang sepi.

Suatu ketika ia termenung dan memandangi belatung yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap belatung-belatung yang menggerogoti tubuhnya. Ia menjadikan belatung-belatung tersebut sebagai temannya dan mengatakan, “Wahai para belatung, sahabatku, makanlah sepuas-puasnya dagingku karena kalian semua sekarang sudah menjadi sahabatku. Kalau hari-hari yang lampau kalian kuanggap musuhku, ke mana-mana aku mencari tabib untuk memusnahkan kalian, maka sekarang satu-satunya yang bersedia menemaniku di kegelapan malam di dalam gua ini hanyalah kalian. Semua orang, termasuk anggota keluargaku, membuang aku di tempat yang jauh ini.”

Konon, belatung yang terjatuh pada saat ia beribadah diangkat lagi naik ke badannya. Begitu sayangnya Nabi Ayub terhadap belatung itu. Belatung-belatung itu seperti menjadi binatang kesayangannya. Kalau dahulu gigitan belatung itu menyakitkan, kini Nabi Ayub tak lagi merasakan rasa sakit itu. Kalau dahulu jijik dan benci, kini ia menyukai dan menyayangi belatung itu. Ini menjadi pelajaran bahwa perubahan paradigma dan persepsi ternyata bisa memengaruhi perasaan seseorang. Dari rasa yang amat sakit menjadi berkurang rasa sakitnya, bahkan mungkin menjadi kenikmatan tersendiri.

Setelah sekian lama Allah SWT menguji Nabi Ayub, suatu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan sesuatu: “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS Shad [38]: 42). Setelah Nabi Ayub memukulkan kakinya ke tanah, tiba-tiba memancar aliran air jernih dan sejuk dari bekas tumit Nabi Ayub. Nabi Ayub pun minum dan mandi dari air itu, dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah ke mana. Bahkan, bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayub. Ia lalu sembah sujud kepada Allah SWT dan bersyukur atas diakhirinya seluruh cobaan pada dirinya.

Catatan AsSalyan :

Dalam tulisan ini Prof. Dr. Nasaruddin Umar tidak memuat semua ayat Al Qur’an tentang sakitnya nabi Ayub secara lengkap, sehingga dia tidak mencantumkan peranan setan dalam sakitnya Nabi Ayub as. itu, serta tidak mencantumkan apa perkataan Nabi Ayub as. mengenai sebab sakitnya itu.

Firman Alloh SWT mengenai Nabi Ayub yang mendapat musibah sakit ini terdapat dalam Surat ke 21 atau Surat Al Anbiya ayat 83-84 dan  Surat ke 38 atau Surat Shaad  ayat 41.

Terjemah ayat-ayat itu adalah :

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS 21:83:84)

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38 :41-42-43).

Jadi ujian Alloh itu adalah istilah hakekat, tetapi sebab yang menjadikan Nabi Ayub sakit itu adalah setan yang terkutuk.

Dari kisah Nabi Ayub ini sebenarnya terdapat ”pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”, bahwa

  • ujian itu hakekatnya dari Alloh SWT, tetapi perlu diketahui pula secara syariat, yaitu penyebab terjadinya ujian dan bagaimana menyelesaikan ujian itu.
  • Ujian berupa sakit itu ada penyebabnya. Penyebabnya bisa diri sendiri yang dibantu oleh setan atau hanya oleh setan. Dalam kasus nabi Ayub as. penyebabnya adalah setan.

Akhir catatan —–

Peristiwa memancarnya air dari pukulan kaki Nabi Ayub mengingatkan kita pada Nabi Ismail yang juga melakukan hal yang sama, tiba-tiba keluar mata air yang kini menjadi sumur zamzam. Hanya bedanya, sumur zamzam dirawat dengan baik, sedangkan sumur Nabi Ayub yang terletak sekitar dua jam dari Kota Damaskus, dekat dari makam Imam al-Nawawi, pengarang kitab Riyadh al-Shalihin, tidak terurus dengan baik. Ketika penulis berkunjung, sumur ini baru saja dipugar oleh seorang Kanada yang mengaku kakinya yang dulu korengan dan sulit sembuh tiba-tiba sembuh setelah dicuci dengan air sumur itu. Ia kembali ke kota kecil ini untuk membangun tembok dan pagar di sekeliling sumur Ayub.

Ketika Nabi Ayub masuk kembali ke perkampungan di dalam kota dengan wajah tampan seperti semula, semua orang memujanya, termasuk istrinya. Namun karena sudah telanjur bersumpah akan mencambuk istrinya kalau ia kembali sembuh, ia diminta Allah SWT untuk menunaikan sumpahnya tanpa menimbulkan rasa sakit pada istrinya: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS Shad [38]: 44).

Yang menarik untuk diperhatikan dari kisah ini ialah Allah SWT menyebut Nabi Ayub sebagai orang yang shabir, bukan mashabir atau shabur. Di dalam Alquran ada tiga istilah yang sering digunakan Allah SWT, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.

Meskipun ketiga kata tersebut berasal dari akar kata yang sama (shabara), ketiganya membentuk makna berbeda satu sama lain.

  • Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap.
  • Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk ketegori mashabir.
  • Sedangkan, shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma yang terakhir ialah al-Sabur.

Catatan AsSalyan :

Orang yang mencapai mashabir itu tetap berbaik sangka kepada Alloh SWT dan mengetahui penyebab musibah atau ujian yang menimpanya terdapat peran dirinya, makhluk dan setan yang menjadi musuh manusia.

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/150175/Antara_al_Shabir_al_Mashabir_dan_al_Shabur_I

Antara Al-Mukhlishin dan Al-Mukhlashin

Republika, Jumat, 30 Desember 2011

Antara Al-Mukhlishin dan Al-Mukhlashin

Oleh Nasaruddin Umar

Al-mukhlishin dan al-mukhlashin berasal dari akar kata ‘akhlasha-yukhlishu’, berarti tulus, jujur, jernih, bersih, dan murni. Dari akar kata tersebut lahir kata ‘al-mukhlish’, jamaknya ‘al-mukhlishin’ berarti orang yang setulus-tulusnya mengikhlaskan diri di dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya tertuju kepada Allah SWT.

Pengertian ikhlas lebih populer berarti kesungguhan dan ketulusan di dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya tertuju kepada Allah SWT. Kalangan ulama tasawuf menjelaskan pengertian ikhlas sebagai upaya untuk menyucikan ketaatan dari perhatian sesama makhluk dan menjadikan Allah sebagai tujuan dalam berbagai ketaatan yang dilakukannya. Kebalikan dari ikhlas ialah riya, yaitu suatu perbuatan yang dilakukan selain untuk Allah SWT, juga untuk mendapatkan pujian dari makhluk. Riya terjadi manakala seseorang mulai menikmati pujian dari kebaikan yang dilakukannya.

Syekh al-Fudhail mengatakan, “Menghentikan suatu amal karena manusia adalah riya, dan mengerjakan suatu karena manusia adalah syirik.” Sahl bin Abdullah mengatakan, ikhlas merupakan ibadah yang paling sulit bagi jiwa, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya (?). Abu Said al-Kharraz menambahkan, riyanya para ‘arifin (ahli ma’rifah) adalah lebih utama daripada ikhlasnya para murid. Al-Sariy Rahmatullah ‘alaih mengatakan, barangsiapa berhias karena manusia dengan apa yang bukan miliknya, maka ia akan terlempar dari penghargaan Allah.

Menurut Ruwaim bin Ahmad bin Yazid al-Baghdadi, ikhlas adalah segala amal yang dilakukan pelakunya tidak bermaksud mendapatkan balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Abu Ya’kub al-Susiy Rahimahullah mengatakan, barangsiapa melihat dalam keikhlasannya suatu keikhlasan, maka keikhlasannya itu masih memerlukan keikhlasan lagi.

Dalam hadis Qudsi Nabi bersabda, “Ikhlas merupakan satu rahasia di antara rahasia-Ku, aku menaruhnya dalam hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai”. Dalam hadis lain dikatakan, “Aku berlepas diri dari persekutuan orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan Aku, maka Aku akan melepaskan diri dari padanya”. “Sungguh berbahagialah orang-orang yang ikhlas, sebab merekalah yang menjadi pelita hidayah dan merekalah yang membuat semua malapetaka akan hilang.”

Awal ikhlas dan tauhid serta caranya adalah sebagaimana disebutkan Allah dalam Alquran surah al-Ikhlas. Kemudian, ikhlas dalam ketaatan, Allah berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS Al-Bayyinah 98:5).

Dari kata ikhlash, lahir kata ‘al-mukhlash’, jamaknya ‘al-mukhlashin’ berarti orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlishin), tetapi Allah SWT yang proaktif untuk memberikan keikhlasan. Al-Mukhlishin masih sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas, sedangkan al-mukhlashin sudah tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam posisi ikhlas. Keikhlasan sudah merupakan bagian dari habit dan kehidupan sehari-harinya.

Jika kadarnya masih dalam batas al-mukhlishin maka masih riskan untuk diganggu dengan berbagai provokasi iblis, karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan, al-mukhlashin, iblis sudah menyerah dan tidak bisa lagi berhasil mengganggunya karena langsung di-back-up oleh Allah SWT. Berbagai firman Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah sampai di maqam al-mukhlashin membuat upaya iblis sudah tidak mempan lagi. Ayat-ayat tersebut, antara lain:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (al-mukhlashin).” (QS Yusuf 12:24).

Ayat di atas terkait dengan hubungan antara Yusuf yang dijebak oleh istri raja di dalam kamar kosong karena terpesona ketampanannya. Dalam keadaan sepi, aman, disertai dengan adanya kemauan, maka hampir saja perbuatan tercela (zina) itu terjadi, namun Allah SWT yang proaktif melindungi Nabi Yusuf. Cobaan yang berat bagi Nabi Yusuf mampu dilewatinya, bukan karena kemampuannya untuk menahan diri, tetapi lebih karena pertolongan Allah SWT.

Dalam ayat lain, Allah SWT menyatakan, “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka’.” (QS al-Hijr [15]:39-40). Sejalan dengan ayat lainnya, “Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka’.” (QS Shad [38]:82-83).

Perkataan ayat-ayat tersebut semuanya menggunakan kata al-mukhlashin¸ bukannya al-mukhlishin. Ini menunjukkan bahwa jika keikhlasan seseorang baru sampai di tingkat keikhlasan awal maka tidak ada jaminan iblis untuk menghindari mereka. Karena itu, banyak sekali orang-orang yang kelihatannya sudah menjadi tokoh bahkan ulama, tetapi masih berhasil tergoda dan jatuh di dalam cengkeraman nafsunya dan perbuatan terlarang pun dilakukannya.

Orang-orang yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin bukan hanya terhindar dari cengkeraman iblis, tetapi juga terhindar dari fitnah dan berbagai kecelakaan social*). Namun, untuk mencapai tingkat al-mukhlashin memerlukan latihan spiritual (mujahadah) yang tinggi dan telaten (istikamah). Mencapai derajat al-mukhlishin saja begitu sulit, apalagi mencapai tingkat al-mukhlashin. Seorang ulama tasawuf  bernama Makhul mengatakan, “Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama 40 hari, kecuali akan tampak hikmah dari hatinya melalui lidahnya.” Barangsiapa yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin, maka patutlah ia bersyukur karena ia sudah berhasil menjadi orang yang langka. Kelangkaannya terlihat dari sulitnya menemui orang yang betul-betul ikhlas tanpa pamrih sedikit pun dari amal kebajikannya.

Catatan AsSalyan :

Sebenarnya Nabi Yusuf  as. tertimpa fitnah (cobaan/ujian), yang akhirnya beliau dipenjara, tetapi beliau itu lulus dari ujian atau fitnah itu.

Dalam konteks kehidupan masyarakat kontemporer, sulit sekali menemukan orang-orang yang betul-betul ikhlas dalam arti al-mukhlishin, apalagi orang-orang yang tergolong al-mukhlashin.

Pola hidup yang semakin pragmatis dan rasional membuat banyak sekali manusia yang terjebak di dalam suasana pemikiran yang materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan kepentingan materi dan kesenangan fisik. Pola dan gaya hidup seperti ini jelas mengancam pola hidup keikhlasan. Kini, sedemikian jauh bergeser keikhlasan itu di dalam masyarakat modern. Keikhlasan banyak sekali ditemukan di bibir, tetapi tidak dalam kenyataan hidup. Padahal, keikhlasan itu tidak dikatakan, tetapi diwujudkan dan dibudayakan.

Sumber :  http://republika.co.id:8080/koran/52/151139/Antara_Al_Mukhlishin_dan_Al_Mukhlashin