Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

                                                Oleh : Muhammad Abdul Sholeh          

Nama beliau sebagai nabi kurang banyak dikenal oleh kalangan umat Islam sendiri, padahal nama beliau tercantum dengan jelas dalam ayat al-Qur’an Q. S At –Taubah: 30. Namun, mungkin kurang banyak dikenal tersebut dikarenakan banyak kajian tentang beliau yang diduga dihapus oleh gerakan freemansonry (dikutip dari makalah Abdullah Patani), serta tidak ada keingin-tahuan umat Islam untuk mengetahui mengenai beliau. Kegelisahan inilah yang menggerakkan penulis untuk merangkum sedikit sejarah yang tercecer mengenai beliau.

Beliau merupakan sesosok hamba yang lahir pada era zaman nabi Sholeh ‘alaihissalam (sekitar tahun 2000-3000 SM). Kata “Uzair” itu diambil dari kata “Azaro” yang berarti mengkoreksi. Beliau mempunyai prinsip mengkoreksi akan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan sebagaimana mestinya. Keteguhan prinsipnya itulah yang membuat beliau dipercaya memegang tampuk birokrasi sebagai hakim pemerintahan. Kejujuran dan kecerdasan beliau membuat  umat-umat yang lain pada zamannya sangat iri.

Dikisahkan, suatu hari beliau berjalan-jalan hingga ke suatu tempat yang telah gersang, tak ada satu pohon pun yang berdaun. Kemudian beliau turun dari kuda dan bersujud kepada Alloh , sambil berkata “Siapakah gerangan yang bisa menghidupkan daerah ini, ya Alloh?”. Kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala mewahyukan untuk masuk kepada alam batin. Dalam hal kekinian, hal ini disebut mokswa, beliau menghilang masuk pada perjalanan alam batin. Seratus tahun lamanya pendidikan alam batin (mokswa) ini beliau tempuh.

Dalam pendidikannya ini beliau diberikan ilmu untuk menata rias (mengelola) negara dengan sempurna. Setelah bekal untuk menata negara ini dirasa cukup, maka beliau dikembalikan pada jasadnya untuk hidup seperti biasa kembali.

Hal ini terdapat dalam keterangannya dalam al-Qur’an QS Al Baqoroh:259. Yang artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang melalui suatu negeri yang temboknya telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”. Maka itulah tanda kekuasaan Alloh mematikan seorang hamba seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”. Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari” Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada keledai kamu yang telah menjadi tulang belulang, Kami (Alloh Subhanahu wa ta’ala) akan menjadikan kamu sebagai tanda kekuasan kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang itu, kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala menyusunnya kembali, kemudian kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya, melihat bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan yang telah mati. Beliaupun menjawab “Hamba yakin bahwa Alloh Subhanahu wa ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu.

Maka, dengan izin Alloh serta ilmu yang telah didapatkannya, beliau berusaha menata rias daerah tersebut yang semula sangat gersang. Dengan perjuangan beliau, maka negeri tersebut diatur dengan birokrasi yang berdasarkan kewahyuan. Hal ini membuat seluruh masyarakatnya beriman kepada Alloh. Serta diceritakan negeri ini makmur, tentram, dan sejahtera. Masa ini terjadi  selama tujuh puluh lima tahun..

Kenegarawanan beliau ini kemudian tersebar dan sampai ke Kerajaan Namrud, pada masa sebelum nabi Ibrohim ‘alaihissalam  lahir. Hal ini membuat Namrud tidak suka, sehingga kerajaan beliau diserang oleh kerajaan Namrud. Melihat keadaan itu, beliau lebih memilih berpulang ke alam Batin (mokswa).

Sepindahnya beliau ke alam batin ini, membuat rakyatnya bingung karena tidak ada yang meneruskan perjuangan kenegaraan beliau. Pada masa inilah muncul rekayasa setan yang ingin menguasai keimanan umat Nabi Uzair. Setan ini mengubah dirinya berjasad manusia serta berkata pada umat Nabi Uzair untuk membuat patung Uzair agar makmur, sentosa dan sejahtera. Serta oleh rekayasa setan, disebabkan oleh ketinggian ilmu beliau serta segala hal yang sangat mulia dari beliau, maka dibisikkan kepada umatnya (dengan niat setan untuk menghina Alloh subhanahu wa ta’ala dan juga menghina Nabi Uzair ‘alaihissalam), bahwa beliau itu adalah anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Sepeninggal beliau berpulang ke alam batin, maka patung yang digunakan untuk menghinakan beliau justru disembah serta beliau dianggap anak Tuhan. Namun, Alloh akan selalu memperjuangkan ketauhidan dan keislaman maka diutuslah nabi berikutnya yakni Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.(TQS At Taubah 33).

Kisah ini diharapkan agar mampu menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam, karena tanpa disadari kita semua pun ikut menghinakan nabi Uzair karena lisan-lisan umat Islam hingga kini akhir zaman sangat jarang yang mengucapkan bahwa beliau itu ‘abdulloh (hamba Alloh), bukan seperti direkayasakan setan bahwa beliau adalah ibnulloh atau anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Bung Karno, Contoh Pemimpin Yang Memperjuangkan Kemerdekaan dan Mempertahankannya

Bung Karno dan Politik Minyak (The Power of Oil)

“Jangan Dengarkan Asing..!!”

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tanpa Moskow, tanpa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “General Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya

Sumber :

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7751&type=2

Inilah Berita-Artikel Yang Bisa Dipercaya : Kenangan Bersama Muammar Qaddafy

Sebagian berita mengenai Libya dan Muamar Qaddafy (almarhum) yang sampai kepublik adalah berita yang besumber dari kantor berita barat, seperti AP, AFP, Reuters, BBC dsb. Biasanya berita dari barat mengenai Muamar Qaddafy (almarhum) sangat negatif, tidak pernah diberitakan sisi positifnya.

Contoh kalimat berita di Koran Republika Jumat, 21 Oktober 2011 yang bersumber dari BBC : “Berakhir sudah petualangan mantan pemimpin Libya Muamar Qadafi”. Seorang pemimpin negara yang memperjuangkan dan mempertahankan negaranya dari penjarahan asing dikatakan “petualang”.

 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (TQS Al Hujuraat/49:6).

 

Alloh SWT memperingatkan kepada supaya memeriksa dengan teliti berita dari orang fasik, apalagi berita dari orang kafir,  lebih-lebih berita dari kaum yg sesat dan dimurkainya. Sikap dasar mukmin bila mendengar berita dari barat, atau dari kaum kafir, seharusnya adalah jangan dipercaya dulu sebelum ada bukti yang membenarkannya.

 

Tetapi ternyata Koran Republika selama tiga hari berturut-turut memuat artikel yang mengesankan lebih positif kepada pribadi Almarhum Muamar Qaddafy .

Artikel ini berdasarkan wawancara dengan Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah  Buya Ahmad Syafi’i Maarif dan Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi

 

Kita mengetahui bahwa beliau-beliau itu bukan pribadi yang suka berbohong, sehingga bisa dikatakan berita ini bisa dipercaya.

 

 

Sabtu, 22 Oktober 2011 pukul 08:24:00

Imam Shalat Pengetuk Kalbu

Kenangan Bersama Qadafi (Bagian 1)

Oleh Mohammad Akbar

Senja baru saja menyelimuti langit Tripoli, Libya. Di satu sudut kota, di sebuah lapangan terbuka, ribuan massa tumpah ruah. Mereka semua berdiri membentuk barisan berbanjar. Rupanya, ritual shalat Maghrib sedang dilakukan di areal terbuka.

Sebagian besar lelaki menangis. Air mata mereka mengalir bukan karena sedih meratap, tapi karena mendengar lantunan ayat Alquran yang dibaca penuh khidmat. Ustaz Muhammad Arifin Ilham mengingat suara imam itu berintonasi rendah, namun seperti mampu menerabas relung hati yang mendengarnya.

Ada semacam ketukan yang terasa dalam setiap kali sang imam membacakan ayat suci Alquran itu. Lantunannya juga tak tergesa-gesa. Bagi Arifin, suara bacaan imam shalat bagaikan seorang manusia senja yang sedang mengajak dialog anaknya dengan penuh kasih sayang.

Sang imam adalah penguasa Libya Muamar Qadafi, memimpin shalat Maghrib bagi ribuan orang di lapangan Tripoli. Peristiwa itu terjadi sekitar Februari 2011, menjelang gonjang-ganjing politik yang membakar negeri itu dan akhirnya meruntuhkan kekuasaan rezim Qadafi yang telah berkuasa selama 42 tahun.

Kenangan itu masih saja membekas dalam ingatan pemimpin Majelis Zikir Az Zikra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, itu. ”Saya sampai ikut menangis juga,” kenang Arifin ketika berbincang dengan Republika, Jumat (21/10) siang. Dia mengaku tidak hanya sendirian menangis karena dari barisan shaf-shaf jamaah di dekatnya terdengar pula isakan tangis.

Saat itu shalat Maghrib dijamak (digabung) dengan shalat Isya. Mungkin itu adalah shalat terpanjang yang pernah dialaminya karena menghabiskan waktu dari seusai mentari tenggelam sampai waktu Isya tiba. ”Arifin menangis bahagia karena melihat ada pemimpin dunia yang bisa memimpin shalat dengan bacaan yang sepanjang ini. Suaranya juga seperti orang berdialog, pendek-pendek.”

Ritual itu menjadi lama, kata pemimpin Majelis Zikir Az Zikra ini, karena dalam satu rakaat Qadafi mampu melantunkan ayat Alquran hampir satu juz. ”Kalau tak salah pernah dalam satu rakaat itu sampai 140 ayat dari surah al-Baqarah,” ujar Arifin.

Arifin tidak hanya sekali saja mendapat kesempatan menjadi makmum dengan imam shalatnya adalah Qadafi. Kali pertama Arifin menjadi makmum shalat dengan imam Qadafi terjadi sekitar tiga tahun silam, saat kali kedua menyambangi Libya. Sebelum shalat dimulai, Qadafi biasanya melakukan proses pengislaman. Saat di Tripoli, ada 456 mualaf yang membaca syahadat, kebanyakan berasal dari suku-suku di Afrika.

Arifin mengaku sudah tiga kali diundang ke Libya. Kunjungan pertamanya terjadi sekitar 2005 walau tak sempat bertemu Qadafi. Namun, kenangan shalat Maghrib berjamaah di Tripoli itu memang menjadi yang terakhir. Sang imam yang dianggap rakyatnya sebagai tiran itu telah tewas setelah dua bulan bertahan menghadapi gempuran pasukan oposisi revolusioner di kota kelahirannya, Sirte, Kamis (20/10).

Meski sudah tiga kali berkunjung, namun Arifin mengaku tidak pernah berbicara empat mata dengan Qadafi. Pertemuannya dengan lelaki gurun itu hanya selintas saja. Walau hanya bertemu sekelebatan saja, tapi Arifin tetap menyimpan kesan mendalam.

Selain soal imam shalat, Arifin juga melihat sosok Qadafi jauh dari kesan arogan. Ia menceritakan bagaimana pengawalan terhadap Qadafi jauh dari umumnya pengawalan pejabat di Indonesia. Meski tak terlalu ingat berapa jumlah pastinya, ia menaksir jumlah pengawal Qadafi setiap kali datang ke sebuah acara kurang dari 10 orang.

Para pengawalnya juga murah senyum, tidak bersikap kaku layaknya pengawal pejabat di negeri ini. ”Yang pasti tidak seperti di negara kita kalau presiden mau datang. (Pengawalan) Qadafi tidak ketat. Tidak ada juga metal detector,” ujar Arifin. ”Pengawalannya tidak rumit. Kalau kita mau bunuh, (sepertinya) bisa langsung.”

Ia memang sempat menyinggung perihal pengawal Qadafi yang berasal dari perempuan. Namun, Arifin menyangkal jika Qadafi adalah penggemar pengawal perempuan cantik. ”Mungkin mata Arifin yang salah. Tapi, kayaknya sih nggak cantik, biasa-biasa saja. Badannya malah kekar-kekar. Mereka juga nggak pegang senjata.”

Selain pengawalan yang begitu terbuka, Arifin juga melihat sosok Qadafi itu terbilang unik. Dari mana sisi uniknya? Salah satunya adalah pakaian berlapis yang berwarna cokelat kekuningan yang selalu dilihatnya dalam dua kali pertemuan.

Lantas sebagai sosok pemimpin, kata Arifin, Qadafi juga menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap para musuh umat Islam. Ia menyebut sikap Qadafi terhadap Amerika Serikat dan Yahudi yang mengabaikan hak bangsa Palestina ditunjukkan dari pidatonya dalam bahasa Arab.

”Dia bisa berbicara lembut tetapi juga bisa begitu berapi-api. Biasanya kalau sudah berapi-api, dia bicara soal Yahudi dan Amerika yang membombardir Palestina. Itu yang membuat dia marah sekali.”

Arifin juga mengakui, Qadafi tergolong sosok yang dermawan. Dua kali datang ke Libya, dua kali pula ia melihat acara serah terima kunci pembangunan Islamic Centre maupun masjid di berbagai penjuru dunia. Salah satu masjid sumbangan Qadafi di Tanah Air adalah Masjid Muammar Qaddafy yang dibangun di atas tanah seluas lima hektare di Sentul, Bogor. Semua biaya pembangunan yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp 40 miliar berasal dari Libya.

Awalnya, masjid seluas 1.200 meter persegi itu hendak diberi nama Masjid Az-Zikra. Namun, atas inisiatif Arifin, masjid itu akhirnya diberi nama Muammar Qaddafy. ”Jadi, nama masjid itu bukan permintaan beliau dan juga bukan permintaan Lembaga Dakwah Libya. Ini sebagai ucapan terima kasih atas jasa beliau,” katanya.

Terlepas dari kesan positif yang pernah terpatri di hati, Arifin tetap tidak mau mengultuskan sosok Qadafi. ‘‘Tentunya setiap orang itu tak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Tapi, inilah kesan yang Arifin tangkap dari beliau. Semoga beliau bisa diterima dengan baik di sisi-Nya,” kata Arifin memanfaatkan harapan. n ed: rahmad budi harto

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/146032/Imam_Shalat_Pengetuk_Kalbu

 

————————————————————————————————————

 

Republika, Senin, 24 Oktober 2011

Harus Sabar Bertemu Sang Kolonel

Esthi Maharani

Kenangan Bersama Qadafi (Bagian 2)

Untuk bertemu dengan sosok Muamar Qadafi ternyata tidak mudah. Layaknya pimpinan berbagai negara, ada prosedur dan pengamanan ketat yang diberlakukan. Tetapi, hal yang paling perlu disiapkan adalah waktu.

Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif menceritakan beberapa pertemuannya dengan tokoh yang berkuasa di Libya selama kurang lebih 40 tahun ini. Pertemuan pertama terjadi pada 1999. Saat itu, Syafi’i mendampingi Amien Rais yang menjabat ketua MPR.

“Memang kami bertemu, tapi itu harus benar-benar ekstrasabar karena waktu untuk bertemu susah ditentukan,” kata Syafi’i kepada Republika, akhir pekan lalu.

Pernah suatu kali, pertemuan dengan ‘Sang Kolonel’ sudah diagendakan pukul 08.00 malam waktu setempat. Setelan jas lengkap sudah dipakai. Namun, tiba-tiba pertemuan dibatalkan. Harus menunggu lagi dan lagi. Bahkan, seringkali tidak ada kejelasan. Sambil menunggu waktu pertemuan disusun lagi, tak jarang tamu-tamu kehormatan, termasuk rombongan dari Indonesia berjalan-jalan dulu di Libya.

Sebelum bertatapan langsung dengan pimpinan yang naik tampuk kekuasaan dengan menyingkirkan Raja Idris ini, pun mesti melalui pemeriksaan ketat. Pengamanannya berlapis-lapis. “Banyak yang aneh dari pimpinan Libya ini,” kesan Syafi’i saat pertama kali bertemu.

Qadafi memiliki nama lengkap Muamar Abu Minyar al-Qadafi dan memimpin Libya sejak 1969. Jabatan yang disandangnya bukan merupakan jabatan resmi, tetapi ia menyandang ”Guide of the First of September Great Revolution of the Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya” atau ”Brotherly Leader and Guide of the Revolution”.

Unik dan lucu adalah dua kata yang sering diungkapkan Syafi’i begitu ditanya mengenai sosok Qadafi setelah beberapa kali bertemu dengannya. Penilaiannya itu disimpulkan dari cara Qadafi berperilaku sehari-hari, mulai dari cara berpakaian hingga pemikiran. Sang pemimpin Libya itu selalu menganggap dirinya intelek, meski temperamennya sering kali mengejutkan dan membuat orang bungkam.

Menurut Syafi’i, cara berpakaian Qadafi cukup nyentrik dan khas untuk ukuran pimpinan negara Islam. Para pengamat fesyen, menyebut pakaian yang dikenakan Qadafi diadopsi dari pakaian suku-suku di Afrika. Belum lagi, ia sangat menyenangi tinggal di dalam tenda. Tapi, tenda miliknya bukan sembarang tenda, melainkan tenda ajaib berwarna-warni yang sangat mewah.

Konon, tenda yang dilengkapi dengan hiasan mewah itu selalu dibawanya setiap berkunjung ke mancanegara. Keunikan lain yang dikatakan Syafi’i adalah pengawal-pengawal wanita yang selalu ada di samping Qadafi.

Setidaknya, ia memiliki 40 pengawal wanita yang kerap disebut masih perawan, memiliki keahlian bela diri, menembak, dan ditempa di akademi khusus. Qadafi sendirilah yang memilih mereka untuk berada di samping dan melindunginya. Para perempuan ini direkrut dari negara Ukraina, Kuba, dan Afrika.

Sedangkan dari segi pemikiran, Syafi’i mengaku sedih dan geli. Terlebih lagi saat pertemuan dengan Qadafi itu membahas pemikiran Islam, terutama Muhammadiyah di Indonesia.

“Saya berdialog dengan dia dan apa yang saya sampaikan dipahami dengan baik. Dia mengapresiasi perkembangan Islam di Indonesia,” tuturnya.

Tak ada sikap resistan atau percakapan yang alot antara para pimpinan Islam dari Indonesia dan Qadafi waktu itu. Qadafi memahami konsep Islam secara utuh.

Yang disayangkannya, implementasi dari nilai-nilai Islam tak diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam pengelolaan ketatanegaraan di Libya. Menurut dia, Qadafi lebih memilih menyimpan uangnya dan hidup lebih ‘sederhana’ dibandingkan harus menyejahterakan dan mengikuti keinginan rakyatnya.
(Catatan AsSalyan: kalau keinginan rakyat yg berdasarkan hawa-nafsu tentunya tidak perlu diikuti. Keinginan rakyat yg berdasarkan hawa-nafsu itu sering disebabkan oleh tayangan-tayangan media massa dari barat).

“Saya sudah memprediksikan dan mengatakan rezim Qadafi akan segera berakhir,” ujar Syafi’i. Seharusnya, Qadafi bisa melihat keinginan rakyat atas dirinya. Syafi’i menyatakan pemimpin jangan memaksakan untuk terus berkuasa, padahal rakyat sudah menolak secara terang-terangan.

Bukan hanya itu, pemikiran uniknya tergambar saat Qadafi mendorong warga negara lain untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintahan negaranya.

Qadafi memberikan bantuan uang untuk melakukan tindakan revolusioner, termasuk bantuan pendidikan militer. ed: budi raharjo

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/146132/Harus_Sabar_Bertemu_Sang_Kolonel

——————————————————————–

Republika, Rabu, 26 Oktober 2011

Nyentrik dan Hormat pada Ulama

Nashih Nasrullah

Kenangan Bersama Qadafi (Habis)

Sudah sepekan mantan pemimpin Libya Muamar Qadafi menemui ajalnya di tangan milisi revolusioner Dewan Transisi Nasional (NTC). Kematiannya hingga kini masih menyisakan pertanyaan karena Qadafi ditangkap dalam kondisi hidup-hidup di kota kelahirannya, Sirte.

Tetapi, bayangan kesederhanaan tokoh yang memimpin Libya sejak 1969 ini masih membekas di benak Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim se-Dunia (ICIS) Hasyim Muzadi. Sosok Qadafi di mata pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, itu tidak terbius dengan gemerlap materi dan kekayaan yang dimilikinya.

Qadafi, kata Hasyim, masih sering tidur di bawah tenda yang didirikan tidak permanen. Tempat itu ia pilih ketimbang istananya yang juga jauh dari kesan mewah. ”Ia pribadi sederhana,” kata Hasyim kepada Republika, Selasa (25/10).

Pimpinan Pondok Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, ini pernah bertatap muka dengan Qadafi dan diterima hangat di kantornya yang terletak di Ibu Kota Tripoli. Pertemuan itu berlangsung dua kali pada 2005 dan 2006. Dalam pertemuan itu, Hasyim dan Qadafi membicarakan perkembangan dunia, terutama masalah yang dihadapi umat Islam.

Saat bertemu dengannya, tak tertangkap kesan Qadafi yang kerap digambarkan media Barat selama ini sebagai pribadi yang keras dan sulit diajak bicara. Pada pertemuan kedua bahkan perbincangan berjalan begitu mengalir. ”Kami saling memberikan pandangan soal solusi masalah yang dihadapi dunia Islam,” ungkapnya mengenang kembali pertemuan tersebut.

Kesan singkat yang dilihat Hasyim, Qadafi adalah sosok yang cakap dan menguasai ilmu agama. Ini tergambar pula dari ratusan kitab keagamaan klasik ataupun kontemporer yang tersimpan di rak buku di ruang kerja Qadafi. Menurut Hasyim, Qadafi memang berwatak keras, tetapi ia luluh di hadapan para ulama. ”Ia tetap tawaduk,” ujarnya.

Mantan ketua umum PBNU ini juga mengingat Qadafi sebagai sosok yang nyentrik. Ia lawan arogansi dan hegemoni Barat. Namun pada saat bersamaan, mantan pemimpin tertinggi Libya itu membiarkan anaknya berdagang dengan pebisnis Barat. Ia membedakan dirinya dengan Barat dalam tiga hal, yaitu budaya, agama, dan politik.

Bagi Qadafi, nyentrik seakan telah menjadi bagian hidup sehari-harinya. Hasyim menceritakan kisah batalnya kedatangan pendiri Islamic Call Society itu ke Indonesia beberapa tahun silam. Sempat ketika masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Hasyim mengundangnya datang ke Tanah Air.

Sang Kolonel mengajukan dua syarat, yakni seluruh ormas Islam diundang dan meminta kesempatan berkhotbah di Masjid Istiqlal. ”Permintaan itu sulit dipenuhi, tapi juga memperlihatkan bahwa ia memang nyentrik,” kata Hasyim.

Menurut Hasyim, Qadafi mungkin banyak melakukan kesalahan. Tetapi, ia tidak seburuk citra yang dilekatkan media Barat.

Wasiat Qadafi

Sebelum menemui ajalnya, Qadafi rupanya telah menulis surat wasiat yang dititipkan kepada kerabatnya di Sirte. Dalam surat wasiat yang tidak disebut tanggal pembuatannya itu, ia mengungkapkan keinginan terakhirnya kepada rakyat Libya. Pria yang menguasai Libya selama 42 tahun ini menjelaskan alasan tindakannya selama ini dilakukan semata-mata untuk melindungi negaranya dari cengkeraman negara-negara Barat.

Berikut isi surat wasiat Qadafi, seperti yang ditulis BBC. ”Ini adalah kehendakku. Aku, Muamar bin Muhammad bin Abdussalam bin Humaid bin Abu Manyar bin Humaid bin Nayil al Fuhsi Qadafi, bersumpah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi Allah. Aku berjanji bahwa aku akan mati sebagai Muslim.”

“Jika harus dibunuh, aku ingin dikubur, sesuai dengan ritual Islam, dalam pakaian yang kupakai pada saat kematianku dan tubuh yang tidak dimandikan, di pemakaman di Sirte, di samping keluarga dan kerabatku. Aku ingin keluargaku, khususnya perempuan dan anak-anak, diperlakukan dengan baik setelah kematianku.”

“Rakyat Libya harus melindungi identitas, prestasi, sejarah, dan citra terhormat leluhur dan pahlawannya. Rakyat Libya jangan menyia-nyiakan pengorbanan dari orang-orang bebas dan terbaik. Saya meminta para pendukung saya untuk melanjutkan perlawanan dan memerangi setiap agresor asing terhadap Libya, hari ini, besok, dan selalu.”

“Biarkan orang-orang di dunia mengetahui bahwa kita bisa saja menawar lebih dan menjual kepada negara asing sebagai imbalan untuk kehidupan pribadi yang aman dan stabil. Kami menerima banyak tawaran itu. Tetapi, kami memilih untuk berada di garda depan konfrontasi sebagai simbol tanggung jawab dan kehormatan.”

“Bahkan, jika kami tidak segera memperoleh kemenangan, kami akan memberikan pelajaran kepada generasi mendatang bahwa memilih untuk melindungi bangsa adalah suatu kehormatan. Sedangkan menjualnya kepada asing adalah pengkhianatan terbesar dan sejarah akan mengingat selamanya meskipun akan ada upaya untuk memutarbalikkan kenyataan kepada kalian.”  ditto pappilanda ed: budi raharjo

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/146299/Nyentrik_dan_Hormat_pada_Ulama

 

Contoh Kaum Yang Dimurkai Alloh, Membantu Kaum Munafik

Republika, Rabu, 12 Oktober 2011
Jakarta Punya ’Kudeta’ Pinochet Punya Junta
Oleh Selamat Ginting

Diduga sangat kuat bahwa kedua peristiwa, baik di Santiago, Cile, maupun Jakarta, Indonesia, samasama didukung oleh kekuatan intelijen Amerika Serikat, CIA.

Presiden Cile Salvador Allende terkejut ketika dari balik jendela istana ia melihat puluhan tank mengepung Istana Presiden. Sebuah peristiwa berdarah yang dinamakan Gerakan 29 Juni 1973 itu menjadi awal jatuhnya kekuasaan sang presiden. Gerakan yang dipimpin Komandan Resimen Tank Kolonel Kavaleri Roberto Souper tak ayal menjadi langkah awal gerakan kudeta militer.

Namun, kudeta ini dapat digagalkan. Tetapi, sejumlah petinggi militer dicopot akibat peristiwa ini. Presiden Allende mengangkat Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Prats merangkap sebagai Menteri Pertahanan pada 9 Agustus tahun itu. Pilihan ini tidak disukai sejumlah petinggi militer sehingga Jenderal Prats hanya menjabat selama 13 hari. Prats dianggap tidak becus mengendalikan militer.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Tidak hanya jabatan Menteri Pertahanan yang dilepas dari Jenderal Prats. Ia juga kehilangan jabatan Panglima Angkatan Bersenjata Cile. Allende kemudian menunjuk Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Auguto Pinochet sebagai panglima angkatan bersenjata.

Suasana di Cile semakin kacau-balau pascaperistiwa kudeta yang gagal itu. Saat itu, unjuk rasa menjadi santapan sehari-hari. Mahkamah Agung secara resmi mengeluhkan ketidakmampuan pemerintah menegakkan hukum karena demonstrasi semakin tak terkendali.

Anggota parlemen dari kelompok kanan, seperti Demokrat Kristen dan Partai Nasional, meminta militer bertindak mengatasi kekacauan itu. Kekacauan itu memaksa Allende membuat dekrit presiden. Tetapi, dekrit itu ditentang parlemen dan dianggap melanggar undang-undang.

Demonstrasi yang didukung kekuatan politik serta operasi intelijen militer kemudian meminta Presiden Allende mundur dari jabatannya. Namun, Allende menolak dengan alasan ia terpilih melalui pemilihan umum yang demokratis pada 1970.

Saat instabilitas politik terjadi, tiba-tiba pada 11 September 1973 pesawat tempur Hawker Hunter menembaki Istana Presiden. Saat itu Presiden Allende tewas di dalam istana. Versi resmi, ia bunuh diri dengan senapan otomatis hadiah dari Pemimpin Kuba Fidel Castro. Namun, hingga kini peristiwa tersebut masih misterius, apakah Allende tewas bunuh diri atau ditembak.

Pertanyaan pentingnya, siapa di belakang aksi penembakan ke Istana dan membuat Presiden Allende tewas? Ternyata peristiwa 11 September 1973 satu rangkaian dengan peristiwa Gerakan 29 Juni 1973 yang dipimpin Kolonel Roberto Souper. Juga ada benang merahnya dengan pencopotan Jenderal Prats.

Semula ada empat pemimpin junta militer yang sudah bersepakat akan bergiliran menjadi presiden. Selain Jenderal Pinochet dari angkatan darat, ada Marsekal Gustavo Leigh Guzman dari angkatan udara, Laksamana Jose Toribio Merino Castro dari angkatan laut, dan Jenderal Polisi Cesar Mendoza Duran dari polisi nasional alias Gendarmerie.

Tapi, akhirnya diputuskan Jenderal Phinochet sebagai pemimpin junta. Dua hari kemudian, kongres dibubarkan. Stadion Nasional menjadi tahanan raksasa. Dalam tiga tahun, 130 ribu orang menjadi tawanan. Ribuan orang lenyap tak berbekas dan ribuan lagi disiksa.

Kasus kudeta yang dilakukan Jenderal Pinochet ini memiliki kemiripan dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta pada 1965-1966. Sebelum kudeta terhadap Presiden Allende, beredar dokumen yang meresahkan tentang perencanaan pembunuhan beberapa jenderal dan komandan-komandan militer. Dikenal dengan istilah dokumen rencana ‘Z’. Beredar daftar perwira tinggi Angkatan Darat yang akan dibunuh kalangan tokoh buruh, politikus, dan elite militer Cile.

Beredar pula isu yang menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan politik dalam negeri. Di kalangan masyarakat, terutama serikat buruh militan dan jenderal-jenderal konservatif, mendapat kiriman kartu-kartu kecil. Mau tahu apa bunyi kalimatnya? “Jakarta Se Acerca”. Artinya, Jakarta Sudah Mendekat.

Diduga sangat kuat bahwa kedua peristiwa, baik di Santiago, Cile, mau pun Jakarta, Indonesia, sama-sama di dukung oleh kekuatan, Central Intelligence Agency (CIA) yang merupakan agen rahasia pemerintah Amerika Serikat. Baru-baru ini, sebuah dokumen operasi intelijen CIA 1964-1966 yang lengkap dari Amerika Serikat telah dibuka pada publik internasional. Dokumen tersebut antara lain berisi tentang kejatuhan Presiden Soekarno.

Perang Dingin
Dokumen itu membuktikan peristiwa tersebut terencana sangat matang dan canggih. Apalagi, Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno memainkan peranan penting dalam kancah Perang Dingin antara blok Barat yang dipimpin AS dan blok Timur yang terdiri atas negaranegara sosialis.

Kepemimpinan Indonesia terlihat dalam menggalang kekuatan internasional dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok ataupun NEFO (New Emerging Forces) sebagai garis politiknya untuk menghadapi imperialisme dengan OLDEFO. Dokumen CIA yang sebelumnya merupakan dokumen rahasia yang berisi sejumlah informasi penting seputar peristiwa tersebut kini telah terbuka untuk publik.

Dokumen serupa telah dibuka untuk peristiwa jatuhnya Presiden Cile Salvador Allende. Di situ diungkap, melalui Operasi Jakarta, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menggunakan CIA untuk membantu junta militer Cile mengudeta Presiden Salvador Allende dan menaikan Wakil Panglima Ang katan Bersenjata Cile Augusto Pinochet Agurte.

Pemimpin junta militer Cile Jenderal Pinochet meniru beberapa langkah yang dilakukan Jenderal Soeharto di Indonesia sebelum lengsernya Presiden Soekarno. Di Indonesia juga terjadi pertentangan yang sangat keras antara tiga kekuatan saat itu, yakni Presiden Soekarno, angkatan darat yang dipimpin Jenderal AH Nasution, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Jangan lupa, di Jakarta juga beredar dokumen Gilchrist, sebuah dokumen yang banyak dikutip surat kabar pada 1965 soal keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia. Dokumen ini berasal dari sebuah telegram dari Duta Besar Inggris di Jakarta yang bernama Andrew Gilchrist yang ditujukan pada Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris. Telegram ini mengacu pada rencana gabungan intervensi militer AS dan Inggris di Indonesia.

Ada gerakan dari Resimen Tjakrabirawa di bawah pimpinan Letkol Untung yang menamakan dirinya sebagai dewan revolusi. Gerakan 30 September 1965 pimpinan Untung targetnya adalah tujuh perwira tinggi. Tak tanggung-tanggung, sasarannya adalah Menteri/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution dan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani. Hanya Nasution yang selamat, tapi putrinya tewas, begitu juga dengan ajudannya.

Di Cile pun ada Resimen Tank yang dipimpin Kolonel Roberto Souper. Buntut aksi tersebut, Panglima Angkatan Bersenjata Cile Jenderal Prats dicopot dari jabatannya. Wakilnya, Jenderal Pinochet, akhirnya diangkat sebagai panglima Angkatan Bersenjata Cile.

Pinochet sadar benar akan persamaan ini, apalagi Presiden Soekarno pun dituding Amerika Serikat lebih condong ke Uni Soviet. Maka, sandi saat mengudeta Presiden Allende diberi nama sandi Operasi Jakarta. Saya khawatir Cile akan dikuasai rezim komunis, tegas Pinochet.

Apalagi, Presiden Allende yang berideologi sosialis lebih dekat dengan raja komunis dunia saat itu, Uni Soviet. Dan, Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi salah satu sebab terjadinya perebutan kekuasaan di sejumlah negara termasuk di Indonesia pada 1965 dan Cile 1973.

Yang membedakan antara Cile dan Indonesia adalah Presiden Cile tewas terbunuh di istananya, sedangkan Presiden Soekarno tidak dibunuh. Ia dicopot dari jabatannya oleh MPRS yang dipimpin Jenderal AH Nasution. Kemudian, Jenderal Soeharto pemegang Surat Perintah 11 Maret 1966 dilantik menjadi pejabat presiden. Lima tahun setelah peristiwa 1965 itu, Soekarno wafat akibat sakit dalam status tahanan rumah pada 1970.

Pesan Santiago Berkaca dari Mahasiswa

Puluhan ribu mahasiswa, pengajar, dan masyarakat bergerak dari Universitas Santiago menuju ke Istana Presiden Cile, La Moneda, untuk menuntut reformasi. Pimpinan demonstran mengklaim, lebih dari 150.000 orang ikut serta dalam aksi itu. “Ini adalah satu unjuk rasa besar, melebihi yang kami perkirakan,” kata pemimpin mahasiswa Giorgio Jackson.

Namun, klaim itu dibantah Gubernur Santiago Cecila Perz. Menurutnya, jumlah pengunjuk rasa pada 22 September 2011 itu sekitar 50.000 orang. Mana yang benar soal jumlah pengunjuk rasa? Kini tak lagi diperbincangkan. Tetapi, inilah demonstrasi terbesar di Cile sejak kekuasaan diktator militer Jenderal Augusto Pinochet berakhir pada 1990 lalu.

Sedikitnya 50 pengunjuk rasa ditahan saat terlibat bentrok dengan polisi dalam satu demonstrasi menuntut subsidi pendidikan yang lebih besar. Demonstrasi itu juga sekaligus memperingati peristiwa 11 September 1973, saat terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Pinochet terhadap Presiden Cile Salvador Allende.

Demonstasi itu bahkan lebih besar dari unjuk rasa yang berlangsung sejak Juni, Juli, dan Agustus 2011 lalu. Jumlah massa yang banyak membuktikan bahwa tuntutan mahasiswa tetap didukung rakyat. Besarnya massa juga menunjukkan bahwa para mahasiswa tidak kehilangan kekuatan.

Presiden Cile Sebastian Pinera, konglomerat yang berhaluan kanan tengah yang berkuasa sejak Maret 2010, menolak tuntutan-tuntutan para demonstran. Kegagalan perundingan antara mahasiswa dan pemerintah pekan lalu menambah kemarahan para pengunjuk rasa.

Camila Vallejo, pemimpin mahasiswa berusia 23 tahun, mengemukakan kekecewaan atas buruknya kondisi pendidikan di Cile sudah ada sejak Pinochet berkuasa. Masyarakat memahami bahwa krisis dalam pendidikan pada faktanya adalah satu krisis yang telah terjadi selama pemerintah diktator itu. Itu bukan terjadi pada pemerintah sekarang, tetapi model neoliberal, katanya.

Dia mengatakan, kondisi belajar di negara itu bertentangan dengan citra umum Cile sebagai satu negara yang modern dan berhasil di Amerika Latin. Sistem kami tertinggal 30 tahun dan menciptakan banyak ketidaksamarataan. Sistem itu tidak menjamin kualitas (pendidikan), integrasi sosial, serta membuat warga sadar dan bertanggung jawab, katanya.

Demonstrasi mahasiswa kali ini tentu saja berbeda dengan peristiwa kudeta 11 September 1973. Diharapkan, aparat keamanan, dalam hal ini polisi maupun militer, tak lagi menggunakan kekerasan menghadapi unjuk rasa damai yang menuntut reformasi pendidikan. Apalagi, demonstrasi kali ini pun bukan menuntut presiden untuk mundur dari jabatannya.

Tetapi, demonstrasi melalui gerakan mahasiswa di istana bisa menggemparkan penguasa. Cile pernah merasakan hal itu. Jenderal Pinochet yang berkuasa melalui kudeta militer pada 11 September 1973 hanya bisa bertahan sekitar 15 tahun.

Pada pengujung 1980-an, dalam sebuah referendum nasional, rakyat Cile menolak dilanjutkannya pemerintah militer. selamat ginting
(-)
http://koran.republika.co.id/koran/0/145302/Jakarta_Punya_Kudeta_Pinochet_Punya_Junta

Sejarah Pembukuan Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Sejarah Pembukuan Hadis

Oleh Heri Ruslan

Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik.

Memasuki abad ke-8 M, satu per satu penghafal hadis meninggal dunia. Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga membuat para penghafal hadis terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tengah kondisi itu, upaya pemalsuan hadis demi memuluskan berbagai kepentingan merajalela.

Kondisi itu mengundang keprihatinan Umar bin Abdul Aziz (628-720 M), khalifah  Dinasti Umayyah kedelapan yang berkuasa pada 717-720 M. Guna mencegah punahnya hadis, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadis-hadis yang dikuasai para penghafal. Gagasan pembukuan hadis itu pun mendapat dukungan dari para ulama di zaman itu.

Sang khalifah yang dikenal jujur dan adil itu segera memerintahkan Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (wafat 117 H), untuk mengumpulkan hadis dari para penghafal yang ada di tanah suci kedua bagi umat Islam itu. Saat itu, di Madinah terdapat dua ulama besar penghafal hadis, yakni Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

“Kedua ulama besar itu paling banyak menerima hadis dan paling dipercaya dalam meriwayatkan hadis dari Aisyah binti Abu Bakar,” tulis Ensiklopedi Islam. Selain itu,  Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat 124 H) untuk menghimpun hadis yang dikuasai oleh para ulama di Hijaz dan Suriah.

Sejarah peradaban Islam mencatat az-Zuhri sebagai ulama agung dari kelompok tabiin pertama yang membukukan hadis. Memasuki abad ke-2 H atau abad ke- 8 M, upaya  pengumpulan, penulisan, serta pembukuan hadis dilakukan secara besar-besaran.

Para ulama penghafal hadis mencurahkan perhatian mereka untuk menyelamatkan “sabda Rasulullah SAW” yang menjadi pedoman kedua bagi umat Islam setelah Alquran. Ulama di berbagai kota peradaban Islam telah memberi kontribusi yang besar bagi pengumpulan, penulisan, dan pembukuan buku di abad ke-2 H.

Di Kota Makkah, ulama yang getol dan fokus menyelamatkan hadis adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Pembukuan hadis di Kota Madinah dilakukan oleh Malik bin Anas atau Imam Malik dan Muhammad bin Ishak. Kegiatan serupa juga dilakukan ulama di kota-kota peradaban Islam, seperti Basrah, Yaman, Kufah, Suriah, Khurasan, dan Rayy (Iran) serta Mesir.

Upaya pengumpulan, penulisan, dan pembukuan hadis pada masa itu belum sesuai harapan. Pada masa itu, masih terjadi percampuran antara sabda Rasulullah SAW dan fatwa sahabat dan tabiin. Hal itu tampak pada kitab al-Muwatta  yang disusun oleh Imam Malik.

Pada zaman itu, isi kitab hadis terbilang amat beragam. Dengan demikian, ada ulama yang menggolongkannya sebagai al-musnad, yakni kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat yang menerima hadis dari Rasulullah SAW.

Selain itu, ada pula yang memasukkan pada kategori al-jami, yakni kitab hadis yang memuat delapan pokok masalah, yaitu akidah, hukum, tafsir, etika makan-minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi SAW, akhlak, serta perbuatan baik dan tercela.

Ada pula yang menggolongkan kitab hadisnya sebagai al-mu’jam, yakni kitab yang memuat hadis menurut nama sahabat, guru, kabilah, atau tempat hadis itu didapatkan; yang diurutkan secara alfabetis.

Berbagai upaya dilakukan para ulama periode berikutnya. Para tabiin dan generasi sesudah tabiin mencoba memisahkan antara sabda Rasulullah SAW dengan fatwa para sahabat dan tabiin. Para ulama pun menuliskan hadis yang termasuk sabda Rasulullah lengkap dengan sanadnya atau dikenal sebagai al-musnad.

Ulama generasi pertama yang menulis al-musnad adalah Abu Dawud Sulaiman al- Tayasili (133-203 H).  Setelah itu, ulama generasi berikutnya juga menulis al-musnad. Salah seorang ulama terkemuka yang menulis kitab hadis itu adalah Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali. Kitab hadisnya dikenal sebagai Musnad al-Imam Ahmad Ibnu Hanbal.

Meski telah memisahkan antara hadis sabda Rasulullah SAW dn fatwa sahabat dan tabiin, al-musnad dianggap masih memiliki kekurangan karena masih mencampurkan hadis sahih, hasan, daif, bahkan hadis palsu alias maudhu.

Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik. Abad ini disebut sejarah Islam sebagai era tadwin atau pembukuan Alquran. Pada masa ini, muncul ulama-ulama ahli hadis yang membukukan sabda Rasulullah SAW secara sistematis.

Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu, antara lain; Imam  Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad at-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam an-Nasai menyusun kitab Sunan an-Nasai, dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah  atau kitab hadis yang enam.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkan hadis keenam pada jajaran al-Kutub as-Sittah. Sebagian ulama berpendapat, kitab yang keenam itu adalah Sunan Ibnu Hibban karya Ibnu Hibban al-Busti (270-354 H). Ulama lainnya menempatkan al-Muwatta karya Imam Malik sebagai kitab hadis keenam.  berbagai sumber

Ulama Penulis Kitab Hadis

Oleh
Heri Ruslan

Imam Bukhari
Ia terlahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 21 Juli 810 M. Beliau adalah ahli hadis termasyhur. Imam Bukhari dijuluki amirul mukminin fil hadits atau pemimpin kaum mukmin dalam hal ilmu hadis. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari.

Tak lama setelah lahir, Imam Bukhari kehilangan penglihatannya. Bersama gurunya Syekh Ishaq, ia menghimpun hadis-hadis sahih dalam satu kitab, dari satu juta hadis yang diriwayatkan 80 ribu perawi disaringnya menjadi 7.275 hadis. Ia menghabiskan waktunya untuk menyeleksi hadis sahih selama 16 tahun. Shahih Bukhari adalah salah satu karyanya yang paling fenomenal.

Imam Muslim
Imam Muslim lahir pada 204 H atau 819 M. Ada pula yang berpendapat beliau lahir pada 202 H atau 206 H. Seorang ahli hadis kontemporer asal India, Muhammad Mustafa Azami, lebih menyetujui kelahiran Imam Muslim pada 204 H. Azami dalam  Studies In Hadith Methodology and Literature, mengatakan, sejarah tidak dapat melacak garis keturunan dan keluarga sang imam.

Sejarah hanya mencatat aktivitas Imam Muslim dalam proses pembelajaran dan periwayatan hadis. Pada masa beliau, rihlah (pengembaraan) untuk mencari hadis merupakan aktivitas yang sangat penting. Imam Muslim pun tak ketinggalan mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat pengajaran hadis. Adz-Dzahabi dalam karyanya  Tadzkirat al-Hufazh menyebutkan bahwa Imam Muslim mulai mempelajari hadis pada 218 H. Ia menulis kitab al-Musnad ash-Shahih atau yang lebih dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab yang satu ini menempati kedudukan istimewa dalam tradisi periwayatan hadis. Dan, dipercaya sebagai kitab hadis terbaik kedua setelah kitab Shahih Bukhari karya Imam Bukhari.

Imam Abu Dawud

Ia bernama lengkap Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amru bin Amir al-Azdi al-Sijistani. Dunia Islam menyebutnya Abu Dawud. Beliau adalah seorang imam ahli hadis yang sangat teliti dan merupakan tokoh terkemuka para periwayat hadis. Ia dilahirkan pada 202 H/817 M di Sijistan.

Menurut Syekh Muhammad Said Mursi, dalam Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Imam Abu Dawud dikenal sebagai penghafal hadis yang sangat kuat. Ia menguasai sekitar 500 ribu hadis. Sejak kecil, Abu Dawud sudah mencintai ilmu pengetahuan.

Imam at-Tirmidzi
Imam at-Tirmidzi adalah orang pertama yang mengelompokkan hadis dalam kategori hasan, di antara sahih dan daif. Imam at-Tirmidzi adalah satu dari enam ulama hadis terkemuka. Nama besarnya mengacu pada tempat kelahirannya, yaitu Turmudz, sebuah kota kecil di bagian utara Iran.

Nama lengkapnya Muhammad bin Isa bin Saurah bin adh-Dhahak as-Salami al-Bughi. Ia sering dipanggil Abu Isa. Lahir pada bulan Zulhijjah tahun 209 Hijriah. Yusuf bin Ahmad al-Baghdadi menuturkan, Abu Isa mengalami kebutaan pada masa menjelang akhir usianya.

Semenjak kecil, at-Tirmidzi sudah gemar mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk ilmu hadis. Ia mulai mempelajari ilmu hadis ketika berumur 20 tahun di sejumlah kota-kota besar di wilayah kekuasaan Islam saat itu, di antaranya adalah Kota Khurasan, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Ray, Mesir, dan Syam.

Ibnu Majah
Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah al Quzwaini. Ia dilahirkan pada 207 Hijriah dan meninggal pada hari Selasa, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan tahun 275. Ia menuntut ilmu hadis dari berbagai negara hingga beliau mendengar hadis dari Mazhab Maliki dan al Laits. Sebaliknya, banyak ulama yang menerima hadis dari beliau. Ibnu Majah menyusun kitab Sunan Ibnu Majah, salah satu kitab yang masuk dalam Kutub As-Sittah.

Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133727/Sejarah_Pembukuan_Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Kitab-Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

Pembukuan Alquran mulai dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-2 Hijriah.

Sejak kapan penulisan dan pembukuan hadis dilakukan? Ada ahli hadis yang menyakini proses penulisan sabda Rasulullah SAW-pedoman hidup umat Islam kedua, setelah Alquran itu-dimulai pada era Nabi Muhammad. Namun, ada juga ahli hadis yang berpendapat bahwa Nabi SAW melarang umatnya pada waktu itu untuk menulis hadis.

“Tulislah (hadis itu!) Demi Allah, tidak keluar dari Rasul itu kecuali kebenaran,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Perintah itu disampaikan Rasulullah kepada sahabat Abdullah bin Amr bin As. Hadis ini dijadikan dasar bolehnya penulisan hadis sejak zaman Nabi SAW masih hidup.

Namun, ahli hadis lainnya berpandangan, justru Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis hadis, karena khawatir bercampur dengan Alquran. “Jangan kamu menuliskan apa-apa yang datang dariku, siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain Alquran, maka hapuslan,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal.

“Kedua hadis itu benar,” ungkap ulama dari al-Azhar Kairo, Syekh Abdul Halim Mahmud. Larangan menulis hadis yang disampikan Rasulullah itu bersifat umum, sedangkan diperbolehkannya menulis sabdanya bersifat khusus. Hadis yang membolehkan, kata ahli hadis dari Suriah, Syekh Muhammad Ajaj al-Khatib, justru lebih kuat.

Di zaman Khulafa ar-Rasyidun, banyak sahabat yang berminat untuk menulis hadis. Namun, mereka tak melakukannya karena khawatir umat Islam akan lebih mencurahkan perhatiannya kepada hadis, dibandingkan Alquran. Sehingga, Abu Bakar dan Umar terpaksa harus membakar sekitar 500 hadis yang mereka kumpulkan.

Pengumpulan, penulisan, dan pembukuan Alquran mulai dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-2 Hijriah. Saat itu, dunia Islam dikuasai oleh Kekhalifahan Umayyah di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin yang dikenal jujur dan adil itu memerintahkan pengumpulan, penulisan, dan pembukuan hadis.

Saat itu, satu per satu penghafal hadis meninggal dunia. Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga membuat para penghafal hadis terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tengah kondisi itu, upaya pemalsuan hadis demi memuluskan berbagai kepentingan merajalela.

Pada abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik. Abad ini disebut sejarah Islam sebagai era tadwin atau pembukuan hadis. Pada masa ini, muncul ulama-ulama ahli hadis yang membukukan sabda Rasulullah SAW secara sistematis.

Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu, antara lain, Imam Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad at-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam an-Nasai menyusun kitab Sunan an-Nasai, dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini menyusun Sunan Ibnu Majah. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah atau kitab hadis yang enam.
Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133733/Kitab_Kitab_Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Enam Kitab Hadis Utama

Oleh Heri Ruslan

Imam az-Zahabi mengatakan, kitab hadis yang ditulis Imam Bukhari merupakan kitab yang tinggi nilainya dan paling baik setelah Alquran.

Di antara sederet kitab hadis yang ditulis para ulama sejak abad ke-2 Hijriah, para ulama lebih banyak merujuk pada enam kitab hadis utama atau Kutub as-Sittah. Keenam kitab hadis yang banyak digunakan para ulama dan umat Islam di seantero dunia itu adalah Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai,  serta Sunan Ibnu Majah.

Sahih al-Bukhari
Kitab hadis ini disusun oleh Imam Bukhari. Sejatinya, nama lengkap kitab itu adalah al-Jami al-Musnad as-Sahih al-Muktasar min Umur Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam wa Sunanihi. Kitab hadis nomor satu ini terbilang unggul karena hadis-hadis yang termuat di dalamnya bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

“Sekalipun ada hadis yang sanadnya terputus atau tanpa sanad sekali, namun hadis itu hanya berupa pengulangan,” tulis Ensiklopedi Islam. Karena kualitas hadisnya yang teruji, Imam az-Zahabi mengatakan, kitab hadis yang ditulis Imam Bukhari merupakan kitab yang tinggi nilainya dan paling baik setelah Alquran.

Dengan penuh ketekunan dan semangat yang sangat tinggi, Imam Bukhari menghabiskan umurnya untuk menulis Shahih al-Bukhari. Ia sangat prihatin dengan banyaknya kitab hadis pada zaman itu yang mencampuradukkan antara hadis sahih, hasan, dan daif tanpa membedakan hadis yang diterima sebagai hujah (maqbul) dan hadis yang ditolak sebagai hujah (mardud).

Imam Bukhari makin giat mengumpulkan, menulis, dan membukukan hadis karena pada waktu itu hadis palsu beredar makin meluas. Selama 15 tahun, Imam Bukhari berkelana dari satu negeri ke negeri lain untuk menemui para guru hadis dan meriwayatkannya dari mereka.

Dalam mencari kebenaran suatu hadis, Imam Bukhari akan menemui periwayatnya di mana pun berada sehingga ia betul-betul yakin akan kebenarannya. Beliau pun sangat ketat dalam meriwayatkan sebuah hadis. “Hadis yang diterimanya adalah hadis yang bersambung sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.”

Tak hanya itu, ia juga memastikan bahwa hadis itu diriwayatkan oleh orang yang adil dan kuat ingatan serta hafalannya. Tak cukup hanya itu, Imam Bukhari juga akan selalu memastikan bahwa antara murid dan guru harus benar-benar bertemu. Contohnya, apabila rangkaian sanadnya terdiri atas Rasulullah SAW-sahabat-tabiin-tabi at tabiin-A -B-Bukhari, beliau akan menemui B secara langsung dan memastikan bahwa B menerima hadis dan bertemu dengan A secara langsung.

Menurut Ibnu hajar al-Asqalani, kitab hadis nomor wahid ini memuat sebanyak 7.397 hadis, termasuk yang ditulis ulang. Imam Bukhari menghafal sekitar 600 ribu  hadis. Ia menghafal hadis itu dari 90 ribu perawi. Hadis itu dibagi dalam bab-bab yang yang terdiri atas akidah, hukum, etika makan dan minum, akhlak, perbuatan baik dan tercela, tarikh, serta sejarah hidup Nabi SAW.

Sahih Muslim
Menurut Imam Nawawi,  kitab Sahih Muslim memuat 7.275 hadis, termasuk yang ditulis ulang. Berbeda dengan Imam Bukhari, Imam Muslim hanya menghafal sekitar 300 ribu hadis atau separuh dari yang dikuasai Imam Bukhari. “Jika tak ada pengulangan, jumlah hadis dalam kitab itu mencapai 4.000,” papar Ensiklopedi Islam.

Imam Muslim meyakini, semua hadis yang tercantum dalam kitab yang disusunnya itu adalah sahih, baik dari sisi sanad maupun matan. Seperti halnya Shahih Bukhari, kitab itu disusun dengan sistematika fikih dengan topiknya yang sama.

Sang imam tergerak untuk mengumpulkan, menulis, dan membukukan hadis karena pada zaman itu ada upaya dari kaum zindik (kafir), para ahli kisah, dan sufi yang berupaya menipu umat dengan hadis yang mereka buat-buat sendiri. Tak heran, jika saat itu umat Islam sulit untuk menilai mana hadis yang benar-benar dari Rasulullah SAW dan bukan.

Soal syarat penetapan hadis sahih, ada perbedaan antara Imam Bukhari dan Imam Muslim. Shahih Muslim tak menerapkan syarat terlalu berat. Imam Muslim berpendapat antara murid (penerima hadis) dan guru (sumber hadis) tak harus bertemu, cukup kedua-duanya hidup pada zaman yang sama.

Sunan Abi Dawud
Kitab ini memuat 5.274 hadis, termasuk yang diulang. Sebanyak 4.800 hadis yang tercantum dalam kitab itu adalah hadis hukum. “Di antara imam yang kitabnya masuk dalam Kutub as-Sittah, Abu Dawud merupakan imam yang paling fakih,” papar Ensiklopedi Islam.

Karenanya, Sunan Abi Dawud dikenal sebagai kitab hadis hukum. Para ulama hadis dan fikih mengakui bahwa seorang mujtahid cukup merujuk pada kitab hadis itu dan Alquran. Ternyata, Abu Dawud menerima hadis itu dari dua imam hadis terdahulu, yakni Imam Bukhari dan Muslim. Berbeda dengan kedua kitab yang disusun kedua gurunya itu,  Sunan Abi Dawud mengandung hadis hasan dan daif. Kitab hadis tersebut juga banyak disyarah oleh ahli hadis sesudahnya.

Sunan at-Tirmidzi
Kitab ini juga dikenal dengan nama Jami’at-Tirmidzi.  Karya Imam at-Tirmidzi ini mengandung 3.959 hadis, terdiri dari yang sahih, hasan, dan daif. Bahkan, menurut Ibnu Qayyim al-Jaujiyah, di dalam kitab itu tercantum sebanyak 30 hadis palsu. Namun, pendapat itu dibantah oleh ahli hadis dari Mesir, Abu Syuhbah.

“Jika dalam kitab itu terdapat hadis palsu, pasti Imam at-Tirmidzi akan menjelaskannya,” tutur Syuhbah. Menurut dia, at-Tirmidzi selalu memberi komentar terhadap kualitas hadis yang dicantumkannya.

Sunan an-Nasa’i

Kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan al-Mujtaba. An-Nasa’i menyusun kitab itu setelah menyeleksi hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang juga ditulisnya berjudul as-Sunan al-Kubra  yang masih mencampurkan antara hadis sahih, hasan, dan daif. Sunan an-Nasa’i  berisi 5.671 hadis, yang menurut Imam an-Nasa’i adalah hadis-hadis sahih.

Dalam kitab ini, hadis daif terbilang sedikit sekali sehingga sebagian ulama ada yang meyakini kitab itu lebih baik dari Sunan Abi Dawud dan Sunan at-Tirmidzi. Tak heran, jika para ulama menjadikan kitab ini rujukan setelah Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Sunan Ibnu Majah
Kitab ini berisi 4.341 hadis. Sebanyak 3.002 hadis di antaranya terdapat dalam al-Kutan al-Khasah dan 1.339 hadis lainnya adalah hadis yang diriwaytkan Ibnu Majah. Awalnya, para ulama tak memasukkan kitab hadis ini ke dalam jajaran Kutub as-Sittah karena di dalamnya masih bercampur antara hadis sahih, hasan, dan daif. Ahli hadis pertama yang memasukkan kitab ini ke dalam jajaran enam hadis utama adalah al-Hafiz Abu al-fadal Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat 507 Hijiriah). N berbagai sumber


Ranking Kualitas Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

Kesahihan sabda Rasulullah SAW yang terkandung dalam sebuah kitab hadis tentu akan menentukan kualitas kitab itu. Para ulama pun menetapkan kitab hadis berdasarkan kualitas sabda Rasulullah SAW ke dalam empat ranking atau peringkat:

”    Peringkat pertama ditempati Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.  Ada pula ulama yang memasukan kitab al-Muwatta karya Imam Malik dalam peringkat pertama.

”     Peringkat kedua ditempati oleh Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, dan Sunan an-Nasai. Para ulama masih berbeda pendapat tentang Sunan Ibnu Majah yang masuk dalam Kutub as-Sittah untuk ditempatkan dalam peringkat kedua.

”    Peringkat ketiga adalah kitab yang banyak memuat hadis daif atau lemah, seperti Musnad Ibnu Abi Syaibah, Musnad Abi Dawud Sulaiman at-Tayalisi, Musnad Abdillah Ibnu Hamid, dan Mussanaf Abd ar-Razzaq.

”    Peringkat keempat adalah kitab-kitab hadis yang ditulis oleh ahli kisah, pendakwah, dan para sufi, seperti Musanaf Ibnu Mardawih dan Musanaf Abi Syaikh.

Beragam Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

”    Al-ajza.  Kitab yang menghimpun hadis dalam satu topik tertentu. Contohnya Kitab al-Fara’id, yang menghimpun hadis tentang masalah waris. Kitab itu disusun oleh Zaid bin Sabit.

”    Al-atraf.  Kitab yang menghimpun hadis hanya pada awal matannya tanpa menyebut matan hadis seutuhnya. Contohnya, penulisan hadis yang artinya “setiap amalan itu dimulai dengan niat”, hadis riwayat jamaah ahli hadis.

”    Al-Mustadrak. Kitab yang menghimpun hadis tertentu yang memenuhi syarat hadis yang ditulis oleh imam terdahulu, tetapi belum dicantumkan dalam kitabnya. Misalnya, al-Mustadrak ala as-Sahihain yang disusun oleh al-Hakiman an-naisaburi.

”    Al-Mustakhraj. Kitab yang menghimpun hadis yang diambilkan dari salah satu kitab hadis dengan menggunakan  sanad yang berbeda dengan sanad hadis yang dirujuknya atau buku induknya. Misalnya, Mustakhraj yang disusun oleh Muhammad bin Ya’qub asy-Syaibani an-Naisaburi.

”    Al-Jami. Kitab yang menghimpun delapan pokok masalah, seperti akidah, hukum, tafsir, etika makan dan minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi SAW, akhlak, serta perbuatan baik dan buruk.

”    Al-Musnad. Kitab hadis yang penyusunan hadisnya didasarkan atas urutan nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Contohnya, Musnad Ibnu Hanbal.

”    Al-Mu’jam. Kitab hadis yang merupakan kamus besar yang di dalamnya memuat hadis berdasarkan nama sahabat, guru, kabilah, atau menurut tempat hadis didapatkan yang diurut secara alfabetis.

”    As-Sunan, Kitab Hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fikih yang di dalamnya bercampur antara hadis sahih, hasan, dan daif dengan memberi penjelasan terhadap hadis itu. Contohnya, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sunan an-Nasai.

Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133726/Enam_Kitab_Hadis_Utama

Runtuhnya Kejayaan Kaum Muslimin, Karena Para Pemimpinnya Tidak Menjalankan Islam Sepenuhnya

Republika, Ahad, 13 Maret 2011

Ambruknya Dinasti-Dinasti “Islam” (Lebih cocok “Dinasti Muslim”)

Oleh Heri Ruslan

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran [3]: 140).

Gelombang aksi unjuk rasa tengah melanda negara-negara di Timur Tengah. Rakyat di berbagai negara yang ada di wilayah itu berupaya melengserkan para pemimpinnya. Penguasa Tunisia dan Mesir–dua negara berpenduduk Muslim telah dijatuhkan. Kini, rakyat Libya, Yaman, serta Bahrain juga melakukan upaya yang sama.

Seperti tercantum dalam Alquran surah Ali Imran ayat 140, sudah menjadi sunatullah,  kejayaan dan kehancuran sebuah kekuasaan akan berlangsung secara bergiliran. Peradaban Islam yang sempat menguasai dunia selama beberapa abad juga diwarnai dengan jatuh-bangunnya berbagai dinasti Islam.

Sejarawan Islam, Prof Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam, membagi perjalanan imperium Islam ke dalam beberapa periode. Pertama, masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kedua, periode kemajuan Islam I (650-1000 M). Pada masa ini, peradaban Islam berada di bawah kekuasaan Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah, dan Khilafah Bani Abbas.

Setelah Khilafah Rasyidah berakhir setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh pada 660 M, berdirilah Dinasti Umayyah di bawah Umayyah bin Abi Sufyan.  Dinasti yang berpusat di Damaskus Suriah itu berdiri pada 661 M dan ambruk pada 750 M. Pada masa itu, kekuasaan Islam semakin meluas. Namun, kekuasaan Dinasti Umayyah tak mencapai satu abad.

Memasuki tahun ke-90, kekuasaan Dinasti Umayyah dihancurkan oleh Dinasti Abbasiyah. “Dinasti Umayyah digulingkan oleh berbagai gerakan oposisi yang memandang bahwa pemerintahan ini tidak sah,” papar Nur Ahmad Fadhil Lubis Phd dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah. Setelah itu, berdirilah Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada 750 M.  Abbasiyah berkuasa selama lima abad (750-1258 M).

Periode ketiga, disebut Prof Badri Yatim sebagai masa disintegrasi (1000-1250 M). Pada era itu, kejayaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad, Irak, mulai meredup. Dinasti-dinasti yang sebelumnya berada dalam kendali Baghdad, satu per satu mulai memerdekakan diri. Sejak 945 M, Abbasiyah pun hanya tinggal nama karena yang berkuasa sebenarnya Dinasti Buwaih (945-1055) dan Dinasti Dinasti Seljuk (1055-1258).

Periode keempat disebut sebagai masa kemunduran (1250-1500 M). Pada 1258, kekuasaan Abbasiyah benar-benar ambruk, setelah Baghdad diserang dan dihancurkan bangsa Mongol. Pusat kebudayaan dunia itu pun hancur ketika Hulagu Khan membumihanguskan Baghdad. Kejayaan (umat) Islam pun mulai meredup.

Periode kelima, disebut Prof Badri Yatim, sebagai masa munculnya tiga kerajaan besar Islam (1500-1800), yakni Kerajaan Turki Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan pada masa kekuasaan tiga kerajaan ini.

Kejayaan ketiga kerajaan itu pun meredup sejak 1700 hingga 1800 M. Tak hanya redup, tapi juga benar-benar ambruk dan hancur.  Setelah tenggelamnya kejayaan Islam, sebagian besar wilayah kekuasaan imperium Islam berada dalam jajahan negara-negara Barat. Dan, kemajuan berpindah dari peradaban Islam ke Barat.

Laporan utama pada edisi ini akan mengulas bagaimana setiap dinasti mengalami kemunduran dan kehancuran. Tentu saja, agar kita dapat menjadikannya sebagai pelajaran.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130905/Ambruknya_Dinasti_dinasti_Islam

———————————————————————————————————————————–

Republika, Ahad, 13 Maret 2011

Runtuhnya Dinasti Umayyah

Oleh Nidia Zuraya

Pemberontakan terhadap Dinasti Umayyah umumnya dipicu ketidakpuasan rakyat terhadap kepala daerah yang ditunjuk Khalifah.

Sudah menjadi sunatullah sebuah kekuasaan akan mengalami kejayaan dan keruntuhan. Ketika peradaban Islam menguasai dunia, secara bergantian dinasti-dinasti Islam memegang tampuk kekuasaan. Setiap kerajaan atau kesultanan Islam yang berkuasa tentu pernah mengalami masa-masa keemasan.

Tak dapat dimungkiri, sejarah telah membuktikan dinasti-dinasti Islam di era keemasannya telah memberikan kontribusi yang begitu besar bagi peradaban manusia. Tanpa kejayaan peradaban Islam, barangkali dunia Barat pun belum tentu mencapai kemajuan. Diakui atau tidak, Barat banyak belajar dari peradaban Islam.

Sejarah selalu kaya akan hikmah dan pelajaran. Yang dapat dipelajari dan diambil hikmah dari peradaban Islam tak hanya masa keemasannya saja. Era kejatuhan dan ambruknya dinasti-dinasti Islam juga menarik untuk dipelajari. Redup dan tenggelamnya sebuah dinasti Islam pada masa silam itu tentu mengandung begitu banyak pelajaran.

Setelah terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib pada 20 Ramadhan 40 Hijirah (660M), era Khilafah Rasyidah berakhir, lalu muncullah Dinasti Umayyah yang didirikan pada 661 M oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan. “Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun,” ungkap Sejarawan Islam Prof Badri Yatim dalam buku bertajuk Sejarah Peradaban Islam.

Dinasti Umayyah yang melanjutkan tradisi kerajaan-kerajaan pra-Islam di Timur Tengah mengundang kritik keras dan memunculkan kubu oposisi. Kelompok oposisi terbesar yang sejak awal menentang pemerintahan keluarga Bani Umayyah adalah kelompok Syiah, yaitu para pengikut dan pecinta Ali bin Abi Thalib serta keturunannya yang merupakan Ahlulbait (keturunan Nabi Muhammad SAW yang berasal dari anak dan menantunya, Fatimah dan Ali).

Selain kelompok Syiah, pemerintahan Dinasti Umayyah juga mendapat penentangan dari orang-orang Khawarij. Kelompok Khawarij ini merupakan orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib, karena mereka merasa tidak puas terhadap hasil tahkim atau arbitrase dalam perkara penyelesaian persengketaan antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah.

Usaha menekan kelompok oposisi terus dijalankan oleh penguasa Umayyah bersamaan dengan usaha memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga Afrika Utara dan Spanyol.

Selain menghadapi persoalan eksternal, para penguasa Umayyah juga menghadapi persoalan internal, yaitu pemberontakan dan pembangkangan yang dilakukan oleh orang-orang dekat khalifah di berbagai wilayah kekuasaan Umayyah, seperti di Irak, Mesir, Palestina, dan Yaman.

Pemberontakan yang terjadi selama pemerintahan Dinasti Umayyah umumnya dipicu oleh faktor ketidakpuasan terhadap kepala daerah yang ditunjuk oleh khalifah. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II), misalnya, terjadi sejumlah pemberontakan di wilayah kekuasaannya.

Di Mesir, kerusuhan terjadi karena gubernur yang diangkat Marwan II menghentikan pemberian tunjangan yang dulu diperintahkan oleh Yazid III untuk diberikan kepada para anggota baru dalam angkatan darat dan laut. Sementara di Yaman, kerusuhan timbul antara lain karena pemerintah setempat memungut pajak sangat tinggi dari orang Arab.

Kesibukan Marwan II dalam menumpas pemberontakan membuat wilayah Khurasan dikuasai Bani Abbas (dinasti yang didirikan Abu Abbas as-Saffah). Gerakan Bani Abbas ini merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup Dinasti Umayyah.

Setelah Khurasan dapat dikuasai, gerakan Bani Abbas bergerak menuju Irak dan dapat merebut wilayah itu dari pejabat Bani Umayyah. Setelah menguasai wilayah Irak sepenuhnya, pada 132 H/750 M, Abu Abbas as-Saffah dibaiat sebagai khalifah yang menandai berdirinya Dinasti Abbasiyah.

Sejak saat itu, Bani Abbas mulai melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang dahulu dikuasai oleh Dinasti Umayyah pun berhasil direbut. Bahkan, pasukan Bani Abbas berhasil membunuh Marwan II dalam sebuah pertempuran kecil di wilayah Bushair, Mesir. Kematian Marwan II menandai berakhirnya Dinasti Umayyah yang berkuasa dari 41 H/661 M-133 H/750 M.

Sebab keruntuhan
Runtuhnya Dinasti Umayyah bukanlah semata-mata disebabkan oleh serangan Bani Abbas. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah menyebutkan, terdapat sejumlah faktor yang sangat kompleks, yang menyebabkan tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah.

* Pengangakatan lebih dari satu putra mahkota

Sebagian besar khalifah Bani Umayyah mengangkat lebih dari seorang putra mahkota. Biasanya, putra tertua diwasiatkan terlebih dahulu untuk menduduki takhta. Setelah itu, wasiat dilanjutkan kepada putra kedua dan ketiga, atau salah seorang kerabat khalifah, seperti paman atau saudaranya. Putra mahkota yang lebih dahulu menduduki takhta cenderung mengangkat putranya sendiri. Hal itu menimbulkan perselisihan.

* Timbulnya fanatisme kesukuan
Sejak pertama kali diturunkan, ajaran Islam berhasil melenyapkan fanatisme kesukuan antara bangsa Arab Selatan dan Arab Utara, yang telah ada sebelum Islam. Namun, pada masa Bani Umayyah, fanatisme ini muncul kembali, terutama setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Yazid I).

Bangsa Arab Selatan yang pada masa itu diwakili kabilah Qalb adalah pendukung utama Muawiyah dan putranya, Yaid I. Ibu Yazid I yang bernama Ma’sum berasal dari Kabilah Qalb. Pengganti Yazid I, Muawiyah II, ditolak oleh bangsa Arab Utara yang diwakili oleh kabilah Qais dan mengakui kekhalifahan Abdullah bin Zubair (Ibnu Zubair). Ketika terjadi bentrokan di antara kedua belah pihak, kabilah Qalb dapat mengalahkan kabilah Qais yang mengantarkan Marwan I ke kursi kekhalifahan.

* Kehidupan khalifah yang melampaui batas

Beberapa khalifah Umayyah yang pernah berkuasa diketahui hidup mewah dan berlebih-lebihan. Hal ini menimbulkan rasa antipati rakyat kepada mereka. Kehidupan dalam istana Bizantium agaknya memengaruhi gaya hidup mereka. Yazid bin Muawiyah (Yazid I), misalnya, dikabarkan suka berhura-hura dengan memukul gendang dan bernyanyi bersama para budak wanita sambil minum minuman keras. Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) juga tidak lebih baik dari Yazid I. Ia suka berfoya-foya dengan budak wanita. Putranya, al-Walid II, ternyata tidak berbeda dengan ayahnya.

* Fanatisme kearaban Bani Umayyah
Kekhalifahan Bani Umayyah memiliki watak kearaban yang kuat. Sebagian besar khalifahnya sangat fanatik terhadap kearaban dan bahasa Arab yang mereka gunakan. Mereka memandang rendah kalangan mawali (orang non-Arab). Orang Arab merasa diri mereka sebagai bangsa terbaik dan bahasa Arab sebagai bahasa tertinggi.

Fanatisme ini menimbulkan kebencian penduduk non-Muslim kepada Bani Umayyah. Oleh karena itu, mereka ikut ambil bagian setiap kali timbul pemberontakan untuk menumbangkan Dinasti Umayyah. Keberhasilan Bani Abbas dalam menumbangkan Bani Umayyah disebabkan antara lain oleh dukungan dan bantuan mawali, khususnya Persia, yang merasa terhina oleh perlakuan pejabat Bani Umayyah.

* Kebencian golongan Syiah

Bani Umayyah dibenci oleh golongan Syiah karena dipandang telah merampas kekhalifahan dari tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Menurut golongan Syiah, khilafah (kepemimpinan atau kekuasaan politik) atau yang mereka sebut ‘imamah’ adalah hak Ali dan keturunannya, karena diwasiatkan oleh Nabi Muhammad SAW.  ed; heri ruslan

—————————————————————————————————————————————

Ambruknya Sang  Adidaya Dinasti Abbasiyah
Oleh Nidia Zuraya

Setelah tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah, kemudian muncullah Dinasti Abbasiyah sebagai penguasa dunia Islam. Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam terlama, yakni menguasai dunia selama lebih dari lima abad (750-1258 M). Pada era kekuasaan Abbasiyah, peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya.

Dinasti Abbasiyah mulai melemah setelah banyaknya mazhab yang menentang pemerintahan. Selain itu, berbagai pemberontakan dan gerakan yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan pusat bermunculan di berbagai wilayah. Tak cuma itu, munculnya perdebatan intelektual yang dalam berbagai hal menjurus kepada konflik juga membuat adidaya dunia di era kekhalifahan itu meredup.

Para raja kecil

Tumbuhnya negeri-negeri yang berhaluan Syiah dan Khawarij di wilayah pinggiran,  serta sejumlah gubernur yang diangkat oleh Abbasiyah menjadi begitu kuat dan berpengaruh, membuat mereka membangun dinasti sendiri di daerahnya dan mewariskan kedudukannya kepada keturunannya.

Salah satu contohnya adalah Dinasti Aglabid di Afrika Utara. Dinasti ini didirikan oleh seorang gubernur Abbasiyah yang dikirim oleh Khalifah Harun ar-Rasyid ke Tunis pada tahun 800 M.

Keutuhan wilayah Abbasiyah juga terancam dengan hadirnya armada angkatan laut Bizantium (Romawi Timur) yang mendarat di delta Sungai Nil. Ahmad bin Tulun yang dikirim oleh Abbasiyah pada 868 M untuk mengamankan Mesir justru memproklamirkan kemerdekaan dari Abbasiyah dengan mendirikan Dinasti Tulun.

Elite militer dan pedagang

Disintegrasi Abbasiyah menjadi sejumlah dinasti provinsi yang independen menunjukkan adanya perubahan yang mendasar dalam struktur pemerintahan dan masyarakat. Munculnya elite militer bekas budak dan sistem pengaturan konsesi lahan semakin memperjelas bahwa tidak saja penguasa Abbasiyah yang semakin lemah, akan tetapi memang juga terjadi pergeseran kekuasaan dari elite lama ke elite baru.

Transformasi sistem sosial dan politik itu telah dimulai pada abad ke-9 M. Pemerintahan Abbasiyah awal didirikan atas koalisi pejabat pemerintahan pusat dengan keluarga pengusaha dan tuan tanah di daerah. Setelah beberapa abad, para pejabat pemerintahan pusat cenderung semakin didominasi oleh keturunan birokrat istana dan meminggirkan mereka yang berasal dari keluarga penguasa daerah.

Ketika generasi birokrat semakin berkuasa, Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah kehilangan kontak dengan daerah taklukannya, hingga akhirnya birokrasi menjadi organisasi yang berbasis di ibu kota dan jarang terkait dengan provinsi. Pejabat dan para stafnya tidak lagi mewakili kepentingan berbagai ragam penduduk.

Kebijakan sentralisasi fiskal yang diterapkan pemerintahan Abbasiyah mendorong kalangan elite pedagang untuk menggeser para penguasa tradisional dan tuan tanah di daerah. Bahkan, keberadaan para elite pedagang ini juga menandingi korps birokrat dan perwira militer.

Persoalan ekonomi

Kebangkrutan ekonomi pada akhirnya memorak-porandakan kekuasaan Abbasiyah. Permasalahan besar yang dihadapi dinasti ini pada masa akhir kekuasaannya adalah menurunnya sumber pendapatan penguasa.

Perang saudara yang tiada henti dan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Qaramitah membuat daerah-daerah kantong pertanian menjadi terbengkalai. Kondisi ini tidak saja memperlemah kedudukan Abbasiyah, tetapi sekaligus justru makin memperkuat posisi lawannya.

Pada 326 H/937 M, Muhammad bin Ra’iq, panglima militer Kota Wasit yang terletak di tepi Sungai Tigris, menghancurkan Bendungan Nahrawan dan merusak saluran irigasi. Hal ini dilakukan dengan harapan bisa menenggelamkan tentara lawannya dan memutuskan sumber logistik mereka. Ternyata, hal ini justru merusak sumber bahan makanan pihaknya sendiri dan seluruh warga Kota Baghdad.

Pecahnya Bendungan Nahrawan adalah peristiwa paling dramatis yang menandai hancurnya perekonomian dan melemahnya kekuasaan Abbasiyah. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Muhammad bin Ra’iq untuk mendesak Khalifah ar-Radi  agar menyerahkan pemerintahan sipil dan militer kepadanya.  ed; heri ruslan

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130899/Runtuhnya_Dinasti_Umayyah

———————————————————————————————————————————–

Redupnya Kekhalifahan di Andalusia

Oleh Heri Ruslan

Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mulai meredup ketika Hisyam naik takhta pada usia 11 tahun.

Spanyol dikuasai peradaban Islam pada era kekuasaan Kekhalifahan Umayyah. Ketika itu, Bani Umayyah yang berbasis di Damaskus, Suriah, dipimpin Khalifah Al-Walid (705-715 M).  Awalnya, kekuasaan Islam di Andalusia berada di bawah kendali Dinasti Umayyah. Setelah digulingkan Dinasti Abbasiyah, kendali berada di Baghdad.

Sejak 912 M, pada era kepemimpinan Amir Abdurrahman III, kekuasaan Islam di Andalusia memerdekakan Abbasiyah. Sejak itu, berdirilah Kekhalifahan Umayyah di Spanyol. Penguasanya mulai menggunakan gelar khalifah. Peradaban Islam di Spanyol sempat mencapai masa keemasannya dalam berbagai bidang.

Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mulai meredup ketika Hisyam naik takhta pada usia 11 tahun. Akibatnya, kekuasaan dikendalikan para pejabat.  Memasuki era 1013-1086 M, Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan yang berpusat di satu kota, seperti Toledo, Sevilla, Cordoba, dan sebagainya.

Menurut sejarawan Islam, Prof Badri Yatim, Kekhalifahan Umayyah di Andalusia hancur karena berbagai faktor. Pertama, konflik Islam dengan Kristen. “Para penguasa Muslim tak melakukan Islamisasi secara sempurna,” tutur Prof Badri. Penguasa Muslim hanya puas dengan menagih upeti kepada kerajaan-kerajaan Kristen.

Padahal, kehadiran Arab Islam di Spanyol telah memperkuat kebangsaan orang-orang Kristen. Pertentangan pun tak terelakkan. Pada abad ke-11 M, umat Kristen mengalami kemajuan yang pesat. “Sedangkan, umat Islam mengalami kemunduran,” ujar Prof Badri. Umat Islam pun terusir dari Spanyol pada 1492 M.

Kedua, tak adanya ideologi pemersatu. Salah satu kelemahan Umayyah Spanyol adalah tak menempatkan para mualaf tak diperlakukan sejajar dengan orang-orang Arab. Menurut Prof Badri Yatim, sebagaimana politik Dinasti Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tak pernah menerima orang-orang pribumi. Akibat merasa direndahkan, kelompok etnis non-Arab akhirnya menggerogoti kekuasaan.

Ketiga, kesulitan ekonomi. Pada paruh kedua Islam di Spanyol, para penguasa lalai memperkuat sektor ekonomi. Mereka, menurut Prof Badri Yatim, lebih serius membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Akibatnya, keuangan negara  menjadi lemah dan berimbas pada kekuatan politik dan militer.

Keempat, tak jelasnya sistem peralihan kekuasaan. Akibatnya, terjadi perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Inilah yang membuat Bani Umayyah di Spanyol runtuh dan berubah dikuasai oleh raja-raja dari berbagai golongan atau Muluk al-Thawaif.

Kelima, menurut Prof Badri Yatim, peradaban Islam di Spayol sulit untuk meminta bantuan dari kekuatan Islam di tempat lain, kecuali Afrika Utara sehingga basis kekuasaan Islam di Spanyol habis setelah diusir Kerajaan Kristen.


Serangan Hulagu Khan Hingga Timur Lenk

Pada 1258 M, Kota Baghdad-ibu kota peradaban Islam-jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan.  Sebanyak 200 ribu tentara Mongol meluluhlantakkan Baghdad.  Menurut Prof Badri Yatim, sejak itulah, peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan lenyap dibumihanguskan.

Kekuatan politik umat Islam pun menjadi rapuh. Kota Baghdad yang kaya akan bangunan-banguna megah diratakan dengan tanah. Pascaserangan yang sangat dahsyat itu, umat Islam kembali bangkit dari kehancuran. Upaya itu dilakukan selama satu abad.

Namun, upaya untuk bangkit itu kembali tersungkur setelah  keturunan Hulagu Khan bernama Timur Lenk menyerang dan menghancurkan kota-kota Islam yang menjadi pusat peradaban. Serangan itu terjadi setalah 100 tahun Baghdad diserang Hulagu Khan.

Sejatinya, Timur Lenk sudah beragama Islam. Namun, jiwa penakluk yang diwariskan nenek moyangnya membuat Timur Lenk menyerang dan menghancurkan kota-kota Islam. Baghdad pun kembali diluluhlantakkan Timur Lenk. Akibatnya, sulit bagi peradaban Islam untuk kembali bangkit.


Dinasti yang Lepas dari Khalifah Abbasiyah

Persia:
1.    Thahiriyyah di Khurasan (820-872 M)
2.    Shafariyah di Fars (868-901 M)
3.    Samaniyah di Transoxania (873-998 M)
4.    Sajiyyah di Azerbaijan (878-930 M)
5.    Buwaihiyyah (932-1055 M)

Turki
:
1.    Thuluniyah di Mesir (837-903 M)
2.    Ikhsyidiyah di Turkistan (932-1163 M)
3.    Ghaznawiyah di Afghanistan (952-1189 M)
4.    Dinasti Seljuk

Arab:

1.    Idrisiyyah di Maroko (788-985 M)
2.    Aglabiyyah di Tunisia (800-900 M)
3.    Dulafiyah di Kurdista (825-898 M)
4.    Alawiyah di Tabaristan (864-928 M)
5.    Hamidiyah di Allepo  (929-1002 M)
6.    Mazyadiyyah di Hillah (1011-1150 M)
7.    Ukailiyyah di Maushil (929-1002 M)
8.    Mirdasiyyah di Allepo (1023-1079)

Kurdi:

1.    Al-Barzuqani (959-1015 M)
2.    Abu Ali (990-1095 M)
3.    Ayubiyah (1167-1250 M)

Spanyol:

1.    Kekhalifahan Ummayah di Andalusia
Mesir :
1.    Kekhalifahan Fatimiyah

————————————————————————————————————————————— 

Hancurnya Tiga Imperium Raksasa
Oleh Heri Ruslan

Selama tiga abad-1500 hingga 1800 M-peradaban Islam masih memiliki tiga kekuatan yang tersebar di Turki, Persia, dan India. Di Istanbul, Turki, berdiri sebuah kerajaan besar yang juga sempat menjadi adikuasa selama lebih dari 600 tahun bernama Turki Usmani atau Ottoman.

Turki Usmani disegani dan memiliki pengaruh yang begitu hebat setelah menaklukkan Bizantium pada 1453 M. Sebagai adikuasa, Kesultanan Turki Usmani mampu menguasai sebagian benua Asia, Eropa, dan Afrika. Puncak keemasannya dicapai pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566 M).

Di Persia, berdiri sebuah kerajaan Islam yang besar, yakni Safawi. Kerajaan ini didirikan oleh Syah Isma’il pada 1501 M di Tabriz, Iran. Ia memproklamasikan Syiah Isna Asyariyah sebagai agama negara.

Di India, berdiri kerajaan Islam bernama Mogul yang berkuasa dari abad ke-16 hingga 19 M. Kesultanan itu didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur-keturunan Timur Lenk, penguasa Islam asal Mongol. Pada era keemasannya,  Kerajaan Mogul berperan besar dalam mengembangkan agama Islam, ilmu pengetahuan, sastra, hingga arsitektur.


Jatuhnya Tiga Raksasa

1. Kerajaan Safawi
Kerajaan Safawi mulai mengalami kemunduran sejak Abas I turun takhta. Enam raja penggantinya tak mampu mendongkrak kemajuan, malah menunjukkan pelemahan dan kemunduran. Pada era kekuasaan Safi Mirza, Kerajaan Safawi mulai menukik. Safi Mirza yang juga cucu Abbas I, dikenal sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Berbagai kota dan wilayah yang dikuasai Safawi mulai terlepas.

Setelah itu, Safawi dipimpin Sulaiman seorang raja pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar kerajaan. “Akibatnya, rakyat masa bodoh terhadap pemerintahan,” papar Prof Badri Yatim. Selain itu, Safawi pun harus berhadapan dengan pemberontakan yang dilakukan bangsa Afghan.

Terlebih lagi, Kerajaan Safawi kerap berkonfrontasi dengan Kerajaan Turki Usmani. “Dekadensi moral yang melanda sebagian pemimpin Safawi turut mempercepat kehancuran kerajaan,” ungkap Prof Badri Yatim. Sultan Sulaeman adalah seorang pecandu berat narkotika dan senang kehidupan malam.

2. Kerajaan Mugal
Setelah satu setengah abad mencapai masa keemasan, Kerajaan Mugal di India akhirnya meredup dan hingga akhirnya hancur. Kerajaan itu hancur pada 1858 M. Faktor penyebabnya, menurut Prof Badri Yatim, antara lain:
1.Stagnasi pembinaan kekuatan militer. Akibatnya, operasi militer Inggris tak terpantau. Kekuatan militer di laut dan darat Kerajaan Mugal menurun.
2.Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik yang menyebabkan pemborosan keuangan negara.
3.Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan sehingga konflik agama sangat sukar diatasi.
4.Pewaris takhta kerajaan pada paruh akhir adalah figur-figur yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

3. Kerajaan Usmani
Menurut Prof Badri Yatim, adikuasa dunia, Kerajaan Turki Usmani, juga mengalami kehancuran karena berbagai faktor:
1.Wilayah kekuasaan yang sangat luas sehingga administrasi pemerintahan menjadi rumit dan tak beres. Di sisi lain, para penguasanya memiliki ambisi yang besar untuk memperluas wilayah kekuasaan.
2.Heterogenitas penduduk. Akibat menguasai wilayah yang luas, Turki Usmani mengendalikan berbagai etnis penduduk. Heterogenitas itu memicu banyaknya pemberontakan.
3.Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Turki Usmani dipimpin sultan-sultan yang lemah, baik kepribadian, maupun kepemimpinan. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau.
4.Budaya pungli. Perbuatan pungli melemahkan kekuatan kerajaan. Setiap orang yang menginginkan jabatan, harus menyuap atau membayar uang pelicin.
5.Merosotnya ekonomi. Peperangan yang terus dilakukan membuat perekonomian merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja untuk perang terus menguras anggaran negara.
6.Stagnasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tak dikembangkan para penguasa terakhir. Akibatnya, Turki Usmani kalah canggih dari segi persenjataan dibandingkan negara-negara Barat.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130900/Redupnya_Kekhalifahan_di_Andalusia

Mr Sjafruddin Prawiranegara, Satu diantara Para Penyelamat Republik Indonesia

 

Republika, Selasa, 22 Februari 2011

Mr Sjafruddin Prawiranegara, Sang Penyelamat Republik

Lukman Hakiem
Sekretaris Panitia Satu Abad
Mr Sjafruddin Prawiranegara
(1911-2011)

Mr Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-15 Februari1989) adalah Presiden yakni Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan kedua Republik Indonesia (RI) setelah Ir Soekarno-yang menjadi Presiden Republik Indonesia sejak 18 Agustus1945- menyerah dan ditawan oleh tentara kolonial Belanda yang melakukan agresi II pada 19 Desember 1948.

Sehari sebelum penyerangan ibu kota RI di Yogyakarta 1949, Bung Karno dan Hatta, mengeluarkan mandat untuk Sjafruddin Prawiranegara yang isinya perintah untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra bila mereka ditawan Belanda. Mandat ini ditandatangani langsung oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Mandat yang lain diberikan adalah kepada dr Sudarsono, LN Palar, dan AA Maramis di New Delhi (India), untuk membentuk pemerintahan darurat, jika usaha Sjafruddin di Sumatra tidak berhasil. Mandat ini ditandatangani M Hatta selaku Wapres, dan Agus Salim sebagai Menlu.

 

Tidak Tahu

Sjafruddin tidak pernah tahu ada mandat kepadanya untuk membentuk pemerintahan darurat. Ia hanya mendengarnya dari siaran radio bahwa ibu kota Yogyakarta telah diduduki Belanda, pada 19 Desember 1949 sore. Ia menemui Teuku Muhammad Hassan dan menyampaikan kemungkinan kevakuman pemerintahan. Ia pun mengusulkan supaya dibentuk sebuah pemerintahan untuk menyelamatkan negara yang sedang dalam bahaya.

Setelah berdiskusi panjang lebar, termasuk soal hukum karena tidak ada mandat, maka dibentuklah pemerintahan darurat. Pemerintahan darurat itu dipimpin Sjafruddin dan TM Hasan sebagai wakilnya. Kesepakatan dua tokoh ini merupakan embrio dari pembentukan pemerintahan darurat yang tiga hari kemudian dilaksanakan di Halaban. Walaupun usia Sjafruddin lebih muda dari TM Hasan, tetapi Sjafruddin berani mengambil tanggung jawab perjuangan untuk menyelamatkan RI dengan segala risikonya.

Mengenai hal ini Amrin Imran dkk dalam buku PDRI dalam Perang dan Damai (2003:52-53), mencatat: “Yogyakarta jatuh. Akan tetapi nadi Republik tetap berdenyut. Pusat nadi itu pindah ke pedalaman Sumatera Barat dalam wujud PDRI dipimpin Sjafruddin Prawiranegara. Dari sana denyut itu menjalar ke seluruh wilayah RI bahkan ke perwakilan RI di luar negeri, termasuk perwakilan RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), LN Palar. Denyut itu juga menggetarkan tubuh Angkatan Perang di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang melalui radiogram menyatakan mendukung dan berdiri di belakang PDRI pimpinan Sjafruddin Prawiranegara.”

Dilupakan Bangsanya

Keberanian Sjafruddin membentuk dan memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), telah membuktikan bahwa RI tidak pernah bubar hanya karena Soekarno-Hatta dan para pemimpin lain ditangkap. Sikap tegas dan gigih PDRI, telah memperkuat semangat Mr Mohamad Roem ketika harus berunding dengan van Roijen.

Ironisnya, peristiwa historis yang amat penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan eksistensi RI ini, selama puluhan tahun telah banyak terlupakan. Sjafruddin Prawiranegara sebagai sutradara dan aktor utama PDRI, selama berpuluh tahun bagai telah diharamkan untuk ditampilkan dalam bingkai sejarah bangsa. Bahkan, sekadar sketsanya sekalipun!

Masalah politik, rupanya menjadi penghalang utama untuk melahirkan kesadaran berbangsa dan mengingat sejarah bangsa yang otentik ini. Sehingga, terhadap PDRI, bukan saja bangsa ini terlambat memberi pengakuan, tetapi juga sampai sekarang pemerintah belum mau memeringati dan secara terbuka bersama seluruh bangsa, mengingat serta mencatat PDRI dengan tinta emas sebagai satu tahap yang sangat menentukan dalam perjuangan bangsa kita.

Dapat diduga, di masa Orde Lama nama Sjafruddin Prawiranegara tidak boleh dimunculkan, karena keikutsertaannya dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Di masa Orde Baru, nama Sjafruddin dicoret dari buku sejarah karena suaranya yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah, terutama keikutsertaannya dalam Kelompok Petisi 50, sebuah pernyataan keprihatinan terhadap pidato Presiden Soeharto yang ditandatangani oleh 50 orang politisi sipil dan senior militer.

Peran PRRI

Bicara tentang Sjafruddin Prawiranegara, kita tidak bisa tidak bicara tentang dua hal: PDRI dan PRRI. Demikian kata pakar ilmu politik Dr Salim Said. Pada yang pertama, jelas jasa Sjafruddin menyelamatkan Republik Indonesia yang pemimpinnya sesudah ditahan oleh Belanda. Sedang PRRI, haruslah dilihat sebagai usaha menyelamatkan RI yang terancam oleh komunisme.

PRRI bukanlah gerakan separatis, melainkan gerakan alternatif untuk menyelamatkan Indonesia yang terancam oleh komunisme dan “petualangan” politik Presiden Soekarno. PRRI kalah, dan selanjutnya diperlukan waktu beberapa tahun sebelum akhirnya ancaman Partai Komunis Indonesia (PKI) serta “petualangan” politik Presiden Soekarno hancur lewat Gerakan 30 September/PKI pada 1965.

PRRI berbeda dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM). GAM dan OPM berangkat dari penolakannya kepada Republik Indonesia, sedangkan PRRI justru berjuang untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman komunisme.

Jika dibaca kalimat-kalimat awal Piagam Perdjuangan Menjelamatkan Negara tertanggal Padang, 10 Februari 1958 yang ditandatangani oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Perjuangan, nyata sekali betapa PRRI lahir didasarkan atas keinginan kuat untuk melindungi republik yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dari tindakan sewenang-wenang yang bertentangan dengan konstitusi yang berlaku saat itu.

Seabad Sjafruddin

Sudah terlalu lama bangsa ini tidak objektif di dalam membaca sejarah. Agar bangsa ini kembali siuman terhadap sejarahnya sendiri, sejumlah pribadi membentuk Panitia Satu Abad Mr Sjafruddin Prawiranegara dengan sejumlah agenda kegiatan yang bertujuan mengingatkan bangsa Indonesia terhadap:

Pertama, satu fase penting di dalam sejarah perjuangan fisik Republik Indonesia, yaitu terbentuknya PDRI di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949 dengan tokoh utamanya Mr Sjafruddin Prawiranegara.

Kedua, agar di dalam melihat peristiwa-peristiwa yang dianggap krusial dalam perjalanan bangsa, seperti masalah PRRI, Petisi 50, dan lain-lain tidak terpaku pada pandangan kacamata kuda, melainkan haruslah selalu bergerak ke tiga arah: mengungkap fakta-fakta objektifnya, melihat secara jeli dan rinci akar masalahnya, dan menarik relevansinya ke masa kini, jika mungkin malah ke masa depan yang jauh.

Dengan dua tujuan di atas, kita ingin melakukan “perdamaian dengan sejarah” yang telah dimulai oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie pada 1998 dengan memberikan Bintang Mahaputera kepada sejumlah tokoh yang sejak masa Presiden Soekarno sampai masa Presiden Soeharto dianggap sebagai pembangkang, antara lain, kepada Sjafruddin Prawiranegara dan M Natsir.

Ikhtiar mulia tersebut telah dilanjutkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2006, Presiden SBY mengeluarkan Keputusan Presiden yang menetapkan hari kelahiran PDRI, 19 Desember, sebagai Hari Bela Negara.

Pada 2008, mantan perdana menteri RI yang menjadi arsitek utama Negara Kesatuan Republikl Indonesia, Mohammad Natsir, oleh Presiden SBY ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Dengan mengenang dan menghargai Sjafruddin Prawiranegara, sesuai dengan jasanya menyelamatkan republik, arah menuju perdamaian dengan sejarah, insya Alah maju selangkah lagi. Wallahu a’lam.

 

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24

 

 

Ahmadiyah, Penodaan Agama

KH Ali Mustafa Yaqub
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa

Tragedi penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang telah mencoreng wajah Islam yang ramah dan rahmat bagi seluruh penghuni jagat raya ini. Dugaan sementara, sekurang-kurangnya ada tiga skenario untuk mengetahui siapa dalang alias aktor intelektual di balik tragedi tersebut.

Pertama, tragedi itu didalangi oleh musuh-musuh Islam secara global. Sasarannya adalah untuk membenarkan bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan, anarkis, radikal, bahkan teroris.

Kedua, tragedi Cikeusik itu didalangi oleh mantan-mantan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Sasarannya adalah untuk mengadu domba antarumat beragama.

Ketiga, tragedi itu didalangi oleh orang-orang Ahmadiyah sendiri. Sasarannya untuk memperoleh simpati. Sebab, di Indonesia ada kamus politik, semakin banyak dizalimi, akan semakin banyak mendapatkan simpati.

Penodaan Agama

Selama ini ada kesan bahwa kaum Muslim tidak siap berbeda pendapat, sehingga ketika ada kelompok lain yang berbeda paham, mereka harus dihabisi. Kaum Muslim seolah-olah hanya menganggap pahamnya sendiri yang benar, yang lain salah.

Kesan seperti ini tentulah berlawanan dengan ajaran Islam. Sebab, Islam mengakui eksistensi agama lain tanpa mengakui kebenaran ajarannya. Islam mengakui pluralitas agama (bukan pluralisme agama), dengan prinsip lakum dinukum wa liya din (bagi kamu agama kamu dan bagi saya agama saya).

Pluralitas agama tidak hanya diakui oleh Islam, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa Nabi Muhammad SAW, sekurang-kurangnya ada lima agama yang hidup berdampingan secara damai, yakni Islam, Nasrani, Yahudi, Majusi, dan Animisme.

Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran dan hadis Nabi yang membolehkan, apalagi menyuruh orang Muslim melakukan kekerasan atau membunuh orang lain karena perbedaan agama. Dalam praktik juga tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa orang Islam membunuh orang lain karena perbedaan agama.

Salah seorang mertua Nabi SAW, ayahanda Ummul Mukminin Shofiyah, yang bernama Huyai bin Akhtab, adalah pemeluk Yahudi. Tetapi, Rasul SAW tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya.

Masalah Ahmadiyah sebenarnya bukan soal perbedaan akidah (keyakinan), melainkan masalah penodaan agama Islam. Sekiranya orang Ahmadiyah tidak mengklaim dirinya Muslim dan tidak menodai Alquran dan hadis Nabi, maka tidak ada masalah dengan umat Islam. Orang Ahmadiyah mau mengimani bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu nabi atau bahkan tuhan, umat Islam tidak akan mempermasalahkan hal itu, asalkan mereka tidak menodai agama Islam.

Ahmadiyah sudah jelas menodai Alquran dan hadis, baik secara material maupun interpretasi (penafsiran). Penodaan secara material, contohnya, mereka telah membajak atau mengoplos sejumlah ayat Alquran (wahyu), dan ditambahkan dengan perkataan Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang terkandung dalam Haqiqat al-Wahyi.

Contoh nyata pengoplosan ayat adalah surah al-Baqarah [2] ayat 35 tentang perintah Allah SWT agar Adam tinggal di surga.  Kata ‘Ya Adam’ justru diganti dengan ‘Ya Ahmad’.

Pengoplosan ayat lainnya adalah surah al-Anfal [8] ayat 17. Dalam ayat ini disebutkan  “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar…”

Oleh Ahmadiyah maknanya adalah “Ya Ahmad, Kami mengutus engkau dari Qadian, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar,…”

Inilah di antara contoh penodaan Alquran secara materi oleh Ahmadiyah. Tak hanya dua ayat di atas, tetapi jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan ayat.

Sedangkan, penodaan secara interpretasi atau penafsiran makna ayat adalah pada surah al-Ahzab [33] ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”

“Pada akhir zaman nanti, akan keluar 30 orang pembohong yang semuanya mengaku sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada nabi sesudah aku (La nabiyya min ba’diy)”. (HR Tirmidzi).

Dalam ayat di atas, secara tegas Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup nabi-nabi. Namun oleh Ahmadiyah, ayat tersebut dimaknai sebagai nabi yang paling mulia. Karena itu, dalam pemahaman Ahmadiyah masih terbuka jalan kenabian, memungkinkan adanya nabi baru. Inilah yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam hadis di atas dijelaskan bahwa tidak ada nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, orang yang mengaku dirinya nabi adalah pembohong atau pendusta, seperti Musailamah al-Kadzdzab (sang pembohong besar). Masih banyak hadis lain yang diriwayatkan oleh para ahli hadis seputar Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi.

Ketika kelompok Ahmadiyah didebat soal ini, mereka senantiasa berkelit dan menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaru). Ini sama dengan yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah di Pakistan, yakni membuat kamuflase untuk mencari keselamatan.

Sumpah mereka dengan menggunakan dua kalimat syahadat juga tidak bisa diterima karena tidak konsisten dalam memahaminya. Ahmadiyah mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi tidak mau mempercayai akan hadis-hadisnya.

Karena itu, jika Mirza Ghulam Ahmad sudah jelas melakukan kesesatan, tentu saja orang yang mengikutinya juga tersesat, kendati mereka melakukan shalat, puasa, atau haji. Ibaratnya, walau 99,9 persen ibadahnya sama dengan yang dilakukan umat Islam, 0,1 persen berbeda dan itu adalah hal prinsip, maka mereka jelas berbeda dengan Islam.

Bagi kaum liberal yang menyatakan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh menghakimi akidah seseorang, hal itu tidak bisa diterima juga, mengingat pemimpin Ahmadiyah telah mengajak orang untuk memahami akidah yang salah. Misalnya, jika ada orang Islam mengatakan tuhannya adalah kerbau dan nabinya adalah sapi, sebagai umat Islam, apakah kita tidak boleh untuk meluruskannya?

Allah telah memberikan pikiran (akal) kepada kita untuk membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang salah. Bila tidak, sama saja kita tidak mengakui dua kalimat syahadat. Inilah pentingnya membedakan antara orang Islam dan Mukmin, dengan orang yang bukan Islam.

Dua opsi

Oleh karena itu, menurut hemat saya, hanya ada dua pilihan (opsi) dalam penyelesaian Ahmadiyah. Pertama, Ahmadiyah berdiri sendiri sebagai agama baru dan melepaskan semua atribut Islam sehingga mereka bisa hidup berdampingan dengan umat Islam.

Pilihan kedua, pemerintah harus tegas untuk membubarkan Ahmadiyah sebagaimana fatwa MUI tahun 1980 dan 2005, serta fatwa Rabithah ‘Alam Islami (RAI/Liga Islam Dunia) tahun 1974 yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Tidak ada jalan keluar untuk menghindari tragedi serupa seperti di Cikeusik, kecuali melalui jalur hukum dengan mengacu kepada Undang-Undang No 1/1965. Pimpinan, tokoh, dan mubalig Ahmadiyah harus diadili dan dihukum karena jelas-jelas mengajarkan paham yang salah. Padahal, Lia Eden, pendiri Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden, yang juga menodai Alquran, sudah dua kali diadili dan divonis penjara.

Jika penodaan agama Islam oleh Ahmadiyah ini tidak diselesaikan secara hukum, gesekan (bentrokan) antara Ahmadiyah dan Islam dikhawatirkan akan terus terjadi. Kita berharap, dengan ketegasan sikap pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini secara hukum, masalah Ahmadiyah di Indonesia bisa selesai. Insya Allah.