Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Oleh : Fathimatuz Zahra *)

 

Dalam haditsnya, Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam bersabda, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang diutamakan dibanding dengan bulan lainnya.  Pada bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, sehingga manusia seharusnya menjadi khusyuk dan ta’at beribadah pada bulan ini, serta dapat meninggalkan sikap-sikap buruk setelah Ramadhan berakhir.

Namun, yang menjadi pertanyaan hingga kini, mengapa seseorang yang beribadah di bulan Ramadhan tak pernah meninggalkan jejak yang positif setelahnya? Hal ini tampak dari tindakan-tindakan negatif yang merugikan satu dengan yang lain masih saja terjadi, misalnya pemimpin yang tidak peduli apapun yang terjadi dengan rakyatnya. Maka di sinilah perlu dicoba dipahami puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah.

Ruqyah Ruhaniah

Ruqyah merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi pada masa kini, ruqyah selalu identik dengan pengobatan penyakit dengan cara mengambil makhluk-makhluk gaib yang ada dalam diri seorang manusia. Bagitu pula harapan kita terhadap puasa Ramadhan yang kita lalui saat ini, dengan harapan seluruh penyakit ruhani akan hilang sehingga kita akan menjadi manusia seutuhnya.

Diperlukannya ruqyah ruhaniah karena pada setiap diri manusia selalu berisiko ditumpangi oleh makhluk Alloh lainnya, yakni syetan dan kawan-kawannya. Walaupun mereka berwujud ghaib, dan manusia modern menganggapnya sebagai hal yang irasional. Namun, satu hal yang tidak dapat dilupakan, dengan meminjam pendapat dari Ibnu Sina bahwa Alloh itu ada, serta selalu baik.

Jangan dilupakan bahwa syetan juga selalu menumpangi kehidupan manusia sebagaimana janjinya pada Tuhan saat penciptaan Adam. Syetan berjanji serta mendapatkan ijin dari Tuhan untuk bebas menggoda setiap manusia. Di sinilah syetan selalu mencari peluang untuk masuk ke dalam diri manusia, serta mengendalikan semua perbuatan manusia tersebut agar menyimpang dari rasa kemanusiaannya serta menuruti hawa nafsu syaithan.

Hal ini tidak terkecuali dilakukan pula terhadap para nabi dan rasul-rasul utusan  Alloh. Alloh pun mewahyukan pada surat al-Isra’  bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tetapi Alloh selalu bersikap baik, pada hamba-hambanya, apalagi untuk hamba-hambanya yang terpilih dengan jalan melakukan ruqyah ruhaniah. Hal ini dilakukan karena para utusan Alloh tersebut bertugas menyampaikan kalam-Nya  yang tentunya akan meterjemahkan dan memancarkan Nur Illahiahnya kepada seluruh umatnya.

Sebagai contoh yang dilakukan pada Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam pada usia dua bulan, dua puluh lima tahun serta yang paling terkenal serta baru saja kita peringati bersama yakni peringatan peristiwa Isra’  mi’raj yang berkaitan dengan perintah ibadah sholat bagi kaum Muslim. Setelah dilakukan  ruqyah ruhaniah inilah, maka turun perintah shalat dan puasa setelahnya.

Ruqyah ruhaniah ini dilakukan dengan jalan membedah secara ghaib tubuh manusia untuk mengeluarkan syetan, jin, iblis yang menumpang pada tubuh seorang manusia. Hal ini perlu dikeluarkan karena dalam sifat hewaniahnya yang dibawa oleh makhluk-makhluk dalam tubuh tersebut, yang mendorong manusia pada arah negatif. Ruqyah ini hanya dapat dilakukan dengan perintah Tuhan melalui  malaikat Jibril.

Dengan dilakukannya ruqyah ruhaniah ini, maka manusia itu, bersamaan dengan keluarnya syetan dan kawan-kawan dari tubuhnya, akan menjadi manusia seutuhnya. Karena mereka mampu menerima signal-signal Nur-Nya. Tentunya Alloh akan memercikkan sifat-sifat ke-Ilahiannya sehingga akan tercermin dalam kehidupan manusia tersebut.

Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa wajib yang dilakukan umat Islam setahun sekali serta dilaksanakan selama sebulan penuh. Puasa ini bertujuan membentuk manusia seutuhnya. Serta banyak hal lain yang telah banyak kita ketahui pedoman serta petunjuknya sebagaimana banyak tertayang pada acara-acara Ramadhan di televisi.

Namun, yang masih sangat disayangkan saat ini banyak ummat Islam hanya menjalani puasa sebagai rutinitas, pengguguran kewajiban serta euphoria pada saat Ramadhan itu masih di depan mata, namun tidak meninggalkan perubahan setelah Ramadhan itu berakhir.

Banyak yang melupakan keterikatan sejarah antara Isra’  mi’raj  sebagai sebuah substansi yakni ketika Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam diruqyah ruhaniah oleh malaikat Jibril maka pewahyuan kenabiannya pun dimulai.

Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi ini, semestinya pun mampu memercikkan nur Tuhan dalam tingkah lakunya sehari-hari.

Untuk itulah Tuhan memberikan ajaran-ajaran peribadatan pada seluruh manusia dengan tujuan utama agar manusia tersebut mampu menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini sehingga pelestarian bumi ini dapat tetap berfungsi bagi manusia itu sendiri. Salah satu jalan yang diperintahkan adalah puasa, yang diturunkan pada umat-umat sebelumnya pula. Puasa merupakan jalan untuk membuka pintu agar ruqyah ruhaniah itu dapat dilakukan.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan semua setan akan dibelenggu, namun perlu diingat bahwa setan itu mempunyai banyak posisi, ada yang berada di dalam tubuh manusia maupun di luar yang mengelilingi seluruh lingkungan manusia. Setan yang dibelenggu ini hanya yang ada dalam tubuh manusia tersebut, dengan puasa maka setan tersebut dipersempit ruang geraknya, karena seiring dengan sedikitnya makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Dengan demikian, ketika seorang manusia berpuasa, maka kekuatan setan itu menurun, walaupun setan tetap melakukan godaannya pada manusia yang berpuasa. Di sinilah fungsi seorang manusia mengendalikan hawa nafsunys, yakni dengan melakukan perang terhadap setan sebagai musuh yang nyata. Di sinilah pintu untuk melakukan ruqyah ruhaniah menjadi terbuka.

Untuk itu, maka disediakan malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan. Hal ini diperuntukkan bagi ummat yang berpuasa sebagai pembuka pintu ruqyah ruhaniah, saat inilah para malaikat melakukan ruqyah tersebut.

Sehingga ummat-ummat yang mampu melakukan puasa yang benar-benar dilakukan dengan berperang melawan musuh nyatanya tersebut,  menjadi manusia sejati kembali sehingga Ramadhanya mampu mencerahkan kesebelas bulan lainnya dengan jalan serta sifat-sifat positif.

***

Untuk itu, sebagai langkah agar bangsa ini mampu menjadi bangsa seutuhnya karena masyarakat, pejabat, pemimpin bangsa in terdiri dari manusia-manusia seutuhnya. Dengan momentum puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah ini, maka diharapakan sebelas bulan setelah Ramadhan ini berakhir terjadi penurunan peringkat-peringkat negatif yang melekat pada bangsa ini.

Dengan momentum puasa ini pula, seluruh bangsa bersama-sama bertekad untuk berjihad melawan setan yang merupakan musuh yang nyata yang memicu kebobrokan bangsa ini berdasar pada rayuan-rayuan untuk melakukan korupsi, saling mencelakai satu dengan yang lain, kanibalisme, dsb.

*) Penulis adalah alumni Program Studi Cross Religion and Cross Cultural Studies UGM

Iklan

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (I)

Republika, Jumat, 02 Desember 2011

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (I)

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Kata al-taibin dan al-tawwabin (orang-orang yang bertobat) berasal dari akar kata taba-yatubu yang artinya kembali, yaitu kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan meyimpang. Beberapa kata yang sinonim secara harfiah tetapi kemudian berbeda dalam peristilahan, seperti raja’a berarti kembali ke jalan atau ke tempat semula, seperti kata Tuhan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kata radda yang kemudian membentuk kata murtad berarti ditolak, yakni setelah seseorang bermohon untuk kembali tetapi ditolak oleh perbuatannya sendiri.

Di sinilah letak perbedaan antara tobat dan istighfar. Tobat menuntut tindak lanjut lebih jauh, sedangkan istighfar lebih merupakan ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-‘azhim. Sedangkan tobat lebih dari sekadar itu, menghendaki tindak lanjut yang boleh jadi amat berat dilaksanakan para pelakunya. Secara terminologi, tobat biasa diartikan kembali dari sikap, perbuatan, dan perbuatan yang tercela menuju kepada yang terpuji.

Al-Taibin adalah bentuk isim fa’il dari kata taba, berarti orang-orang yang kembali menyadari kesalahannya dengan melakukan persyaratan tobat. Dalam kitab Hadâiq al-Haqâiq karya Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (W 660 H), disebutkan bahwa persyaratan tobat bukan sekadar mengucapkan kalimat istighfar tetapi juga harus meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, mengganti perbuatan itu dengan perbuatan baik, menyesali diri dengan perbuatan dosa dan maksiat itu, serta berikrar untuk tidak akan pernah mengulangi lagi perbuatan tercela itu.

Selain persyaratan tersebut, Imam al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menambahkan dengan :

  • mengembalikan semua barang orang yang pernah diambil,
  • meminta maaf  kepada orang yang pernah difitnah atau dibicarakan aibnya,
  • menghancurkan daging dan lemak yang tumbuh dalam dirinya yang berasal dari sumber yang haram dengan cara al-riyadhah, yakni menjalani latihan jasmani dan rohani dalam menempuh berbagai tahapan menuju kedekatan diri kepada Allah, dan mujahadah, yakni perjuangan melawan dorongan nafsu amarahnya, tidak makan, minum, dan memakai pakaian kecuali yang bersumber dari yang halal, dan mensucikan hati dari sifat khianat, tipu daya, sombong, iri hati, dengki, panjang angan-angan, lupa terhadap kematian, dan yang semacamnya.

 

Dengan demikian, tobat lebih berat daripada istighfar.

Sementara itu, al-tawwabin perinsipnya sama saja dengan al-taibin, yaitu melakukan pertobatan dari dosa dan maksiat pada saat terjadinya dosa, bahkan kadang mengumpulkan dosa lalu sekaligus dilakukan pertobatan secara menyeluruh. Sedangkan, al-tawwabin frekuensinya lebih sering, bahkan tanpa harus menunggu adanya perbuatan dosa atau maksiat tetap saja selalu bertobat dan beristighfar.

  • Orang-orang yang masuk kategori al-tawwabin selalu merasa ada yang salah di dalam dirinya sehingga selalu bolak-balik berobat kepada Allah SWT.

Orang-orang seperti inilah uang disebutkan di dalam Alquran: Innallah yuhib al-tawwabin wa yuhib al-mutathahhirin (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri). (QS al-Baqarah [2]: 222).

Tobat menurut Imam al-Gazali ada tiga tingkatan.

Pertama, tobatnya orang awam, yaitu tobat dari dosa dan maksiat.

Kedua, tobatnya orang khawas, yaitu tobat tidak karena melakukan dosa atau maksiat akan tetapi tobat karena alpa melakukan ketaatan yang bersifat sunah, misalnya meninggalkan shalat dhuha, shalat tahajud, puasa Senin-Kamis, dan lain-lain.

Ketiga, tobatnya orang khawas al-khawas, yaitu tobat bukan karena dosa dan maksiat atau meninggalkan ketaatan sunah apalagi wajib, melainkan tobat karena berkurangnya nilai khusyuk dari seluruh rangkaian rutinitas ibadah yang dilakukan. Bagi golongan ini, alpa sedikit pun tidak mengingat Allah SWT dirasakan seperti melakukan dosa sehingga ia berusaha untuk menutupi kelemahan-kelemahan itu dengan tobat dan istighfar.

Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu atas tiga macam, yaitu

1) Tobat dari segala kesalahan dan dosa. Inilah tobatnya masyarakat awam.

2) Tobat dari kelalaian dari ingat kepada Allah. Inilah tobatnya orang khawas.

3) Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan. Inilah tobatnya orang khawas al-khawas.

Orang yang tobat karena takut siksaan disebut taubat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala disebut inabah, dan orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah.

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam karyanya Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar, yaitu

pertama, tobat masyarakat awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat.

Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena Zat-Nya Yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan. Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.”
Kemudian khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-‘arifun dan al-muqarrabun. Al-muqarrabun adalah khawas al-khawas. Hubungan antara al-‘arifun dengan al-muqarrabun adalah sama dengan hubungan seorang pemula dalam menempuh jalan kegiatan suluk dengan orang yang sudah sampai pada tingkat makrifah.

Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari rida Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat. Dalam firman-Nya disebutkan: “Jika Allah mencintai seorang hamba, dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu kemudian Beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah: 222). Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya. Maka, dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu tidak ada lagi melekat pada dirinya. Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya: “Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa.” Dalam hadis lain dikatakan: “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah daripada seorang pemuda yang bertobat.”

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh istrinya, Aisyah ra, mengapa Engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah Engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT? Rasulullah menjawab singkat, “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur.” Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya pembersihan diri dari dosa dan maksiat tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). Tobat merupakan sifat orang-orang beriman, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Alquran: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. (QS an-Nur [24]: 31).

Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin. Sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (al-muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran: “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33). Selain inabah juga dikenal istilah lain, yaitu aubah, yang merupakan sifat para nabi dan rasul, sebagaimana firman-Nya: “Ni’mal ‘abdu innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [38]: 44).

Sumber :

http://koran.republika.co.id/koran/52/149109/Antara_al_Taibin_dan_al_Tawwabin_I

 


Jumat, 09 Desember 2011 pukul 13:03:00

Antara al-Taibin dan al-Tawwabin (2)

tasawuf

Prof Dr Nasaruddin Umar

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah).
(QS Yusuf [12]: 87).

Tobatnya para al-taw wabin biasa juga disebut dengan tobat nasuha, yaitu tobat yang benar-benar dilandasi ketulusan hati secara murni, tobat yang tidak pernah mengulangi lagi perbuatan dosa yang sama selamanya. Yahya bin Mu’adz mengatakan: “Melakukan satu perbuatan dosa setelah tobat jauh lebih buruk daripada melakukan 70 perbuatan dosa sebelum tobat.

Sementara menurut Dzun Nun al-Mishri, beristighfar dari dosa tanpa berusaha melepaskan diri dari dosa itu adalah tobatnya para pendusta. Barang siapa bertobat kemudian tidak membatalkan tobatnya, ia termasuk orang bahagia. Jika ia membatalkannya sekali atau dua kali kemudian mengulanginya lagi, ia masih diharapkan tetap pada sikap tobatnya, sebab segala sesuatu telah ditetapkan ajalnya.

Diriwayatkan dari Abu Hafash al-Haddad, ia pernah berkata: “Dulu aku meninggalkan perbuatan begini sekali, lalu kemudian aku kembali lagi kepadanya. Kemudian aku meninggalkannya lagi dan tidak mengulanginya lagi.” Syekh Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, ada sebagian murid bertobat lalu meninggalkan tobatnya. Pada suatu hari ditanyakanlah, jika ia kembali lagi bertobat apakah tobatnya masih diterima? Tiba-tiba terdengar suara yang menjawabnya:

“Hai Fulan, engkau telah menaati kami, maka kami pun berterima kasih kepadamu. Kemudian engkau meninggalkan kami, maka kami pun menangguhkanmu. Jika engkau kembali lagi bertobat, kami akan menerimamu.” Lalu, murid itu kembali bertobat dan tercapailah apa yang dituju.

Menurut kalangan arifin, seseorang yang telah bertekad untuk bertobat, yang pertama kali harus dilakukan ialah melunasi segala macam bentuk kezaliman yang pernah dilakukan terhadap sesamanya dan mengembalikan kepada hak-hak me reka. Jika tidak mampu melakukan hal itu, ia tetap harus berusaha kapan ia mampu mengembalikan kepada mereka yang berhak menerimanya, selalu mendoakan bagi pemiliknya yang berhak menerima agar ia terbebas dari padanya. Kemudian, ia menghindari dan memutuskan hubungannya dengan yang lain untuk menuju kedekatan diri kepada Allah; mengganti segala hak dan kewajibannya kepada Allah yang luput dilakukan selama ini; serta menyesali dan menangisi terhadap apa yang dilalaikan selama ini sehingga jauh dari Allah dan menyia-nyiakan waktu muda dan sehatnya.

Pengarang Al-Haqaiq al-Haqaiq mengingatkan bahwa seorang pendosa tidak sepantasnya putus asa dari rahmat Allah dalam menerima tobat mereka, walaupun dosa mereka banyak dan besar serta berulang-ulang membatalkan tobat dan bergelimang dalam dosa. Sebab, putus asa itu merupakan kesalahan fatal dan justru menjadi penyebab untuk sema kin tenggelam dalam lumpur dosa selamanya. Jika seseorang dihadapkan dengan kondisi seperti ini, sebaiknya yakinkan dalam dirinya bahwa hal itu adalah tipu daya setan yang selalu menghalangi manusia untuk bertobat dan selalu menggoda agar tetap melakukan dosa seumur hidup. Obat dari penyakit seperti itu ialah seorang pendosa hendaknya merenungkan firman Allah:

“Wala taiasu min ruh Allah (Dan jangan kamu berputus-asa dari rahmat Allah).” (QS Yusuf [12]: 87). Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS az-Zumar [39]: 87). “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS an-Nisa [4]: 116). Ayat-ayat dalam Alquran seperti ini sangat banyak.

Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, ada dua ayat dalam Alquran yang jika dibaca oleh orang berdosa lalu memohon ampunan kepada Allah, niscaya dosa-dosanya akan terampuni.” Ayat yang dimaksud ialah: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135).

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa [4]: 110).

Sesungguhnya esensi tobat didasarkan pada jalan dan sumber seperti yang dikemukakan di atas. Jika tobat dijalankan secara tepat dan ikhlas semata hanya karena Allah, seluruh prosesinya akan berjalan dengan baik dan sempurna. Jika sebagian persyaratannya tidak terpenuhi atau tujuannya tercemari oleh polusi keduniaan seperti hanya karena tuntutan reputasi dan popularitas serta menarik perhatian orang lain dan yang semacamnya, maka tobat seperti ini bagaikan sebuah bangunan di atas pinggir sungai yang diruntuhkan oleh derasnya banjir dan terhanyut sampai ke jurang neraka jahanam. Na’udzu billahi min dzalik! ed: wachidah handasah.

http://koran.republika.co.id/koran/0/149643/Antara_al_Taibin_dan_al_Tawwabin_2

Peningkatan Ketaqwaan Setelah Ibadah di Bulan Ramadhan

Republika, Jumat, 02 September 2011

Menapaki Syawal

Oleh Damanhuri Zuhri

Diharapkan ada peningkatan ibadah.

Hal ini disampaikan oleh Prof.  Nasaruddin Umar mengenai bulan Syawal. Ia mengatakan, Syawal dapat dijadikan sebagai pengukur apakah Ramadhan seseorang mabrur atau sebaliknya. Dan, mabrur tidaknya sebuah ibadah mahdah, ujar dia, teridentifikasi setelah pelaksanaannya, seperti ibadah haji.

“Mabrur atau tidaknya haji kita diukur berdasarkan tingkat perubahan dan keistiqamahan,” katanya, Kamis (25/8). Jika seseorang dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya dan konsisten dalam nilai-nilai luhur ibadah, tanda-tanda kemabruran ada pada dirinya. Meski, kepastian kemabruran itu hanya Allah SWT (RasulNya dan para WaliNya yg dianugerahi pengetahuan olehNya) yang tahu.

Menurut dia, bekal yang perlu dipertahankan Muslim pada bulan Syawal adalah kebiasaan untuk senantiasa berlaku sabar, ikhlas, tekun, menjaga keluhuran budi pekerti, kejernihan batin, kebersihan hati, dan kelurusan jalan pikiran. “Bekal ini penting karena itulah yang akan membentengi kita dari berbagai godaan agar kita tidak jebol,” jelasnya.

Hal tersebut terkait dengan target puasa Ramadhan yang mestinya dipahami benar oleh setiap Muslim. Ia mengatakan, sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW, contohlah akhlak Allah (dan RasulNya). Salah satu target berpuasa ialah memperoleh derajat ketakwaan kepada Allah yang bisa diprogram dan ditakar di dalam diri masing-masing.

Ibarat panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari. Setelah 11 bulan hidup di dalam suasana power struggle, penuh persaingan, over masculine, dan sesekali muncul konflik, maka pada bulan suci, Muslim berada di dalam bulan yang feminin, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Jika di luar Ramadhan terasa Tuhan transenden, jauh dari kita, maka pada Ramadhan terasa Tuhan itu imanen, dekat sekali.

Transendensi Tuhan terasa manakala seseorang terlalu dalam dicengkeram oleh logika dan pemikiran, seolah-olah semuanya harus dilogikakan. Sesuatu yang tidak masuk akal, tidak ada tempatnya di dalam diri. Akibatnya, pragmatisme menjadi pandangan hidup. Baik buruknya sesuatu diukur berdasarkan kepentingan dan selera biologis. Oleh karena itu, tentu hidup terasa melelahkan, kering, dan tak pernah tenang.

Kedekatan (kepada) Tuhan (dan RasulNya), jelas Nasaruddin, terasa ketika seseorang memberi sedikit ruang kepada batin guna merasakan kehangatan belaian kasih sayang Tuhan di dalam dirinya. “Puasa diharapkan mampu melembutkan jiwa dan meluruskan jalan pikiran kita,” tambahnya. Ia pun mengevaluasi apa yang terjadi pada Ra madhan lalu sebagai sebuah introspeksi.

Menurut dia, ada dua fenomena sosial keagamaan yang muncul setiap bulan Ramadhan, yaitu syiar dan kesemarakan serta fenomena penghayatan dan pendalaman makna. Yang pertama melibatkan emosi jamaah untuk merayakan Ramadhan dan yang kedua lebih menekankan kesadaran dan kekhidmatan beribadah. Idealnya, kedua fenomena ini diintegrasikan jika menghendaki umat yang produktif.

Sayangnya, umat Islam selama ini masih lebih banyak berorientasi pada kesemarakan dan mengabaikan aspek penghayatan dan pendalaman makna. Hasilnya, masih terdapat jarak antara perilaku umat dengan esensi tujuan agama. Dengan kata lain, masih terdapat jarak antara umat dan ajaran agamanya yang melahirkan paradoks antara kesalehan individu dan sosial.

Sering kali ditemukan amar makruf tidak berbanding lurus dengan nahi mungkar. Mereka beribadah sama rajinnya dengan melakukan maksiat dan pelanggaran lainnya. “Seolah tak ada hubungan antara shalat, puasa, haji, dan korupsi. Ketaatan beragamanya tak memproteksi dirinya dari kebatilan,” kata Nasaruddin. Malah ada fenomena, yang berkali-kali haji dan umrah berulang kali korupsi berjamaah.

Pakar Al Qur’an Muchlis M Hanafi meng uraikan, Syawal terambil dari akar kata yang terdiri atas syin, waw, dan lam. Maknanya berkisar pada kata naik, meningkat, ringan. Dahulu, orang Arab menamakan bulan dengan keadaan atau peristiwa yang terjadi saat itu, seperti Ramadhan yang datang saat panas terik. Dalam situasi panas, unta tidak menghasilkan susu. Itulah saat Syawal.

Menurut pakar bahasa, al-Farra, dinamakan demikian karena saat itu unta sering mengangkat ekornya akibat panas. Dulu, masyarakat Arab menganggapnya sebagai bulan yang tidak baik untuk menikah sebab perempuan tidak akan mau digauli oleh suaminya seperti yang dilakukan unta dengan mengangkat ekornya. Pandangan ini dibatalkan oleh Islam sebab semua hari itu baik.

Rasulullah menikahi Aisyah di bulan Syawal dan ternyata beliau menjadi istri yang sangat istimewa bagi Rasul. Apa pun sebab penamaan Syawal, yang jelas setelah melewati bulan Ramadhan dengan segala aktivitas ibadah di dalamnya diharapkan ada peningkatan dalam amal ibadah. “Pembiasaan pada Ramadhan semoga dapat membuat kita ringan beramal kebajikan di kemudian hari.”

Latihan fisik dan olah jiwa selama bulan Ramadhan dengan melakukan pelbagai amal ibadah, ujar Muchlis, menjadi bekal dalam memasuki masa-masa berikutnya. Agar perilaku terpuji tetap terjaga dan bahkan meningkat, diperlukan istiqamah. “Salah satu pertanda amal ibadah kita diterima Allah yaitu munculnya dorongan dalam jiwa untuk terus melakukannya.”

Dengan demikian, jangan hanya pada bulan Ramadhan berlaku baik dan rajin beribadah. Sifat pemaaf, sabar, dermawan, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang dibiasakan pada bulan Ramadhan hendaknya dipertahankan. Dan, agar terasa ringan dalam melakukan itu semua diperlukan keikhlasan. Setia menjalankan perintah agama itu berat, tetapi dengan keikhlasan akan terasa ringan.

Muchlis menuturkan, salah satu bentuk istiqamah dalam meneladani sunah Rasulullah pada bulan Syawal yaitu berpuasa enam hari, yang dalam hadis riwayat Muslim disebut bernilai seperti puasa selama setahun. ed: ferry kisihandi

(Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/52)

Muqadimah Bidayatul Hidayah

Muqaddimah

 

 

Dengan menyebut nama Allah Yung Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Katakanlah sesungguhnya petunjuk yang benar adalah milik Allah”

Berkata seorang Syekh yang besar, imam yang sangat terkemuka, Al-Alim Al-Allamah, pembela Islam, pembawa banyak berkah bagi manusia, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali, semoga Allah mensucikan ruh beliau dan menyinari kuburnya. Amin

Segala puji dan syukur untuk Allah dengan sebenar-benarnya pujian, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, yaitu Nabi Muhammad SAW, seorang utusan dan hamba Allah  yang telah mengemban risalah dengan sebaik-baiknya, juga kepada segenap keluarga dan para sahabatnya, serta para generasi yang hidup pada masa setelahnya.

Ketahuilah, wahai orang  yang bersemangat dalam menimba ilmu agama, yang terlihat dari dirinya kesungguhan cinta dan tingginya dahaga kepada pengetahuan agama;  bahwa jika engkau di dalam mencari ilmu memiliki tujuan untuk bersombong, merasa lebih dari orang lain, mencari pujian di hadapan manusia dan mengumpulkan materi dunia dengan memperalat ilmu agama untuk kepentingan nafsu belaka, maka sesungguhnya engkau telah melangkah dalam menghancurkan agamamu, merusak jati dirimu dan menjual akhiratmu demi duniamu. Dengan demikian, maka akan rugi “perdagangan” agamamu dan akan rusak urusan akhiratmu, bahkan orang yang mengajarkan agama kepadamu seakan-akan telah menolongmu di dalam melaksanakan kemaksiatan. Dia seakan-akan telah menemanimu di dalam kerugian dan dia tidak jauh beda dengan orang yang menjual pedangnya kepada para perampok yang ingin mem­bunuhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“Barang siapa membantu sebuah kemaksiatan walaupun hanya dengan separuh kata, maka dia mendapatkan dosa yang sama dengan orang yang melakukannya “.

Adapun jika tujuanmu di dalam mencari ilmu adalah untuk menggapai ridha Allah dan mencari lentera hidayah dalam beribadah, bukan sekedar untuk mengetahui ataupun bercerita, maka herbahagialah engkau! Tataplah keberuntunganmu di hari kiamat yang pasti akan gemilang. Para malaikat senantiasa akan membentangkan sayapnya untukmu di setup perjalanan serta ikan-ikan di lautan akan membacakan istighfar untukmu di dalam setiap gerakanmu.

Hanya saja sebelum melangkah lebih lanjut, ketahuilah bahwa sesungguhnya hidayah (petunjuk Allah) adalah buah hasil dari pengamalan ilmu pengetahuan agama, dan bahwasanya hidayah tersebut memiliki permulaan dan akhiran, memiliki tingkatan dan urutan, meliputi bagian luar dan bagian dalam. Sekali-kali engkau tidak akan pernah sampai ke puncaknya, kecuali setelah engkau mendaki bukit kecilnya, engkau tidak akan dapat menemukan kedalaman hakikatnya kecuali setelah memahami bagian luarnya

Ketahuilah, dengan kitab ini aku ingin menunjukkan kepadamu permulaan-permulaan hidayah, agar engkau melatih hawa nafsumu dengan mengamalkan seluruh isinya, agar mengukur kebenaran pengakuanmu dengan mengistiqamahkan kandungan dan tuntunannya, dan agar menguji hatimu di dalam mengimplementasikan seluruh ilmunya. Jika engkau mendapat­kan hatimu tertarik kepada permulaan hidayah yang akan aku jelaskan dalam kitab ini, atau engkau mendapatkan motivasi yang tinggi karena membacanya dan hawa nafsumu tunduk serta menerimanya, maka bergegaslah engkau untuk mendaki bukit­-bukit hidayah, agar engkau segera mencapai puncaknya. Menyelamlah di dalam berbagai lautan ilmu agar engkau menemukan berbagai rahasianya. Namun apabila engkau mendapatkan hatimu menunda-nunda di dalam mengamalkan isinya, padahal ia berkali-kali selalu mendengar ajakan untuk berbuat kebaikan, maka ketahuilah bahwa nafsu yang mengajak menuntut ilmu tersebut, adalah nafsu jelek yang mengajak menuntut ilmu hanya demi memuaskan kepentingan syahwat belaka, dan semangat yang telah ia tampakkan hanyalah demi menuruti bisikan setan yang terkutuk saja. Berhati-hatilah, karena pada akhirnya ia akan menjeratmu dengan tali tipuannya, lalu ia akan menjerumuskan dirimu ke dalam jurang kerugian. Sadarlah bahwa dia telah bermaksud menawarkan kepadamu keburukan dalam merk dan label kebaikan, dan sedang mem­promosikan kesalahan dalam tampilan kebenaran. Semua itu ia lakukan dengan gigih kepadamu agar ia mampu menipumu tanpa engkau sadar, sehingga ia dapat memasukkan dirimu ke dalam golongan orang-orang yang merugi sementara engkau merasa beruntung, sebagaimana firman Allah :

“Katakanlab (Muhammad), Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-­baiknya.”(QS. Al-Kahf/18: 103-104).

Sadarilah bahwa ketika melakukan penyesatan tersebut, setan akan selalu membisikkan dan mendengungkan kepadamu berbagai keutamaan ilmu dan keagungan derajat para ulama, ia selalu menyuarakan di telingamu berbagai keterangan yang menjelaskan kemuliaan ilmu dan para ahlinya atau dengan kalimat-kalimat lainnya. Sementara itu, ia melalaikan kesadaran­mu dari hadis-hadis yang menjelaskan bahaya orang yang ber­ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Ia melupakan dirimu dari sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Barang siapa yang bertambah ilmu, namun tidak bertambah hidayah (amal) maka ia bertambah jauh dari Allah”.

Ia melalaikan dirimu dari sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya”

Dia melalaikan dirimu dari sabda Rasulullah SAW yang mengandung doa berikut ini :

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dan ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu; dari amal yang tidak terkabul, dan dari doa yang tidak  didengar (di sisi Al lahSWT)”.-

Dan ia juga melupakan dirimu dari sabda Rasulullah berikut ini :

“Ketika aku isra’ dan mi’raj aku melihat segolongan manusia yang bibir mereka dipotong-potong dengan gunting dari neraka. Aku bertanya, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang memerintah kebaikan tetapi kami tidak melaksanakannya dan kami melarang keburukan tetapi kami justru melakukannya”.

Wahai saudaraku, orang yang tidak mempelajari ilmu agama pastilah akan celaka, begitu pula orang yang alim tetapi tidak mengamalkan ilmunya, dia akan lebih celaka seribu kali lipat. Oleh karenanya, hati-hatilah! Jangan engkau tunduk pada tipu daya setan karena la akan membelenggumu dengan tali tipuannya dan akan mencelakakan dirimu dengan cara buruknya.

Kemudian ketahuilah bahwa sesungguhnya para ahli ilmu (baik para santri, kiai, ulama, ustad dlan kaum intelek lainnya), di dalam belajar, mengajar dan menyebarkan ilmu, terbagi menjadi tiga kelompok:

Pertama:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama untuk menjadikan ilmu tersebut sebagai bekalnya menuju akhirat. Ia tidak bertujuan apa pun kecuali mencari ridha Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Kelompok ini adalah yang paling beruntung di antara kelompok yang lain.

 

Kedua:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama sebagai alat di dalam meraih kesenangan duniawi, untuk mendapatkan kemuliaan dan pujian manusia serta untuk mendapatkan kedudukan,  harta dan kemewahan. Walaupun begitu, mereka mengetahui dan menyadari bahwa maksud itu adalah salah dan menjadi tanda buruknya niat, mereka juga mengakui bahwa di dalam hatinya terdapat maksud yang kotor serta tujuan yang sangat murahan. Kelompok ini termasuk golongan yang mengkhawatirkan. Mereka di antara dua kemungkinan.

Yang pertama; apabila ajal menjemput mereka, sebelum mereka sempat bertobat, maka dikhawatirkan bagi mereka akhiran yang buruk (su’ul­khatimah) dan nasib mereka di hari kiamat terserah kepada kehendak Allah SWT.

Yang Kedua, jika ia menerima taufiq (pertolongan untuk bertobat) sebelum datangnya ajal lalu ia mampu beramal sesuai dengan ilmunya dan menyesali segala kekurangannya di masa yang lalu, maka baginya ter­dapat harapan besar bahwa suatu saat la akan digabungkan dengan orang-orang yang beruntung. Berdasarkan sabda Rasulullah

“Orang yang bertobat dari dosa, (maka diampuni segala dosanya) seperti orang yang tidak mempunyai dosa “

 

Ketiga:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama sebagai alat untuk menumpuk harta, untuk berlaku sombong dan mengejar kedudukan. Dia merasa paling hebat karena banyaknya pengikut serta memperalat ilmunya untuk meraih setiap tujuan dunia. Sementara dengan semua kesalahan itu, semua keburukan itu, ia merasa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Karena ia merasa berpakaian dengan pakaian ulama, dan bergaya dengan gaya mereka, baik di dalam ucapan maupun formalitas, ditambah lagi dengan kegilaan mereka kepada dunia yang fana. Secara lahir maupun batin, dalam sudut pandang apa pun, kelompok ini adalah kelompok orang­-orang celaka dan bodoh yang tertipu dengan perasaan bangga kepada diri sendiri. Kelompok ini harapan tobatnya telah terputus, karena mereka tidak merasa bersalah bahkan mereka berprasangka bahwa mereka adalah orang-orang yang telah berbuat kebaikan. Mereka lupa terhadap firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS Ash-Shaff/61: 2-3)

Mereka itu juga termasuk golongan ulama suu’ yang di­khawatirkan bahayanya untuk umat, oleh Rasulullah SAW, se­bagaimana dalam sabda beliau :

“Ada sesuatu yang lebih aku takuti fitnahnya untuk kalian dari pada dajjal, para sahabat bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Para ulama yang jelek “

Hal demikian itu alasannya ialah karena dajjal telah jelas statusnya, nyata kesalahannya dan dengan gamblang diketahui penyesatannya. Lain halnya dengan para ulama jelek ini, mereka mengajak manusia berpaling dari  dunia dengan lisan dan ucapan, sedang dalam tindakan dan perilaku mereka mengajak manusia untuk mencintai dunia. Padahal pengaruh bahasa sikap lebih tajam daripada pengaruh bahasa lisan, dan juga watak manusia akan lebih mudah mengikuti perbuatan daripada mengikuti perkataan. Akibatnya, kerusakan-­kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka lebih banyak daripada kebaikan-kebaikan yang ditimbulkan oleh perkataan-perkataan mereka. Sebab masyarakat awam (tidak berilmu) tidak akan berani mencintai dunia, kecuali akibat dari keberanian para ‘ulama suu’ di dalam mencintainya. Sehingga ilmu mereka telah menjadi sebab atas keberanian masyarakat untuk melanggar hukum-hukum Allah SWT. Lebih fatal lagi, di atas semua itu nafsu mereka yang bodoh selalu mengajak mereka untuk berangan-angan yang tinggi di sisi Allah SWT, mendorong mereka kepada perasaan telah berjasa kepada-Nya dengan ilmu mereka, dan hawa nafsu mereka menggambarkan kepada mereka bahwa mereka lebih baik dari kebanyakan manusia.

Oleh karena itu, jadilah engkau orang yang termasuk dalam kelompok pertama dan berhati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk di dalam kelompok kedua! Janganlah engkau menunda-nunda tobatmu! Berapa banyak mereka yang sering menunda-nunda akhirnya meninggal dunia sebelum dia ber­tobat, maka celakalah dia dan terputuslah seluruh harapannya. Dan awas! Jangan sampai engkau termasuk kelompok yang ketiga, karena dengan menjadi anggota kelompok ini engkau akan merugi dengan kerugian yang tiada menyisakan ke­sempatan untuk berbenah lagi, bahkan engkau akan celaka dengan kerugian yang tidak diharapkan keberuntungannya lagi. Golongan ini tidak dapat ditunggu kebaikannya untuk selama­-lamanya.

Jika engkau bertanya, “Lalu apakah permulaan hidayah itu? Tunjukkan kepadaku, agar aku dapat menguji nafsuku dengan mengamalkannya!”.  Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya permulaannya adalah takwa kepada Allah SWT secara lahiriyah dan puncaknya adalah takwa kepada-Nya secara batiniyah. Yakinlah bahwa tiada keberuntungan yang hakiki dan abadi kecuali dengan ketakwaan sebagaimana tiada hidayah yang sejati kecuali bagi orang-orang yang telah bertakwa dengan sebenar-benarnya.

Adapun takwa secara definitif, sebagaimana keterangan para ulama ialah, “Perwujudan dari melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan konsisten yang sebenar-benarnya.”

Inti takwa meliputi dua bagian; Pertama yaitu melak­sanakan segala perintah Allah SWT dan kedua adalah menjauhi segala larangan-Nya. Aku akan menunjukkan kepadamu dua bagian takwa lahir tersebut dengan penjelasan yang singkat dan akan aku tambah lagi dengan satu bagian yang berhubungan dengan amal hati agar kitab ini terasa lebih lengkap dan men­cukupi.