Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

                                                Oleh : Muhammad Abdul Sholeh          

Nama beliau sebagai nabi kurang banyak dikenal oleh kalangan umat Islam sendiri, padahal nama beliau tercantum dengan jelas dalam ayat al-Qur’an Q. S At –Taubah: 30. Namun, mungkin kurang banyak dikenal tersebut dikarenakan banyak kajian tentang beliau yang diduga dihapus oleh gerakan freemansonry (dikutip dari makalah Abdullah Patani), serta tidak ada keingin-tahuan umat Islam untuk mengetahui mengenai beliau. Kegelisahan inilah yang menggerakkan penulis untuk merangkum sedikit sejarah yang tercecer mengenai beliau.

Beliau merupakan sesosok hamba yang lahir pada era zaman nabi Sholeh ‘alaihissalam (sekitar tahun 2000-3000 SM). Kata “Uzair” itu diambil dari kata “Azaro” yang berarti mengkoreksi. Beliau mempunyai prinsip mengkoreksi akan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan sebagaimana mestinya. Keteguhan prinsipnya itulah yang membuat beliau dipercaya memegang tampuk birokrasi sebagai hakim pemerintahan. Kejujuran dan kecerdasan beliau membuat  umat-umat yang lain pada zamannya sangat iri.

Dikisahkan, suatu hari beliau berjalan-jalan hingga ke suatu tempat yang telah gersang, tak ada satu pohon pun yang berdaun. Kemudian beliau turun dari kuda dan bersujud kepada Alloh , sambil berkata “Siapakah gerangan yang bisa menghidupkan daerah ini, ya Alloh?”. Kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala mewahyukan untuk masuk kepada alam batin. Dalam hal kekinian, hal ini disebut mokswa, beliau menghilang masuk pada perjalanan alam batin. Seratus tahun lamanya pendidikan alam batin (mokswa) ini beliau tempuh.

Dalam pendidikannya ini beliau diberikan ilmu untuk menata rias (mengelola) negara dengan sempurna. Setelah bekal untuk menata negara ini dirasa cukup, maka beliau dikembalikan pada jasadnya untuk hidup seperti biasa kembali.

Hal ini terdapat dalam keterangannya dalam al-Qur’an QS Al Baqoroh:259. Yang artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang melalui suatu negeri yang temboknya telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”. Maka itulah tanda kekuasaan Alloh mematikan seorang hamba seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”. Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari” Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada keledai kamu yang telah menjadi tulang belulang, Kami (Alloh Subhanahu wa ta’ala) akan menjadikan kamu sebagai tanda kekuasan kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang itu, kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala menyusunnya kembali, kemudian kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya, melihat bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan yang telah mati. Beliaupun menjawab “Hamba yakin bahwa Alloh Subhanahu wa ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu.

Maka, dengan izin Alloh serta ilmu yang telah didapatkannya, beliau berusaha menata rias daerah tersebut yang semula sangat gersang. Dengan perjuangan beliau, maka negeri tersebut diatur dengan birokrasi yang berdasarkan kewahyuan. Hal ini membuat seluruh masyarakatnya beriman kepada Alloh. Serta diceritakan negeri ini makmur, tentram, dan sejahtera. Masa ini terjadi  selama tujuh puluh lima tahun..

Kenegarawanan beliau ini kemudian tersebar dan sampai ke Kerajaan Namrud, pada masa sebelum nabi Ibrohim ‘alaihissalam  lahir. Hal ini membuat Namrud tidak suka, sehingga kerajaan beliau diserang oleh kerajaan Namrud. Melihat keadaan itu, beliau lebih memilih berpulang ke alam Batin (mokswa).

Sepindahnya beliau ke alam batin ini, membuat rakyatnya bingung karena tidak ada yang meneruskan perjuangan kenegaraan beliau. Pada masa inilah muncul rekayasa setan yang ingin menguasai keimanan umat Nabi Uzair. Setan ini mengubah dirinya berjasad manusia serta berkata pada umat Nabi Uzair untuk membuat patung Uzair agar makmur, sentosa dan sejahtera. Serta oleh rekayasa setan, disebabkan oleh ketinggian ilmu beliau serta segala hal yang sangat mulia dari beliau, maka dibisikkan kepada umatnya (dengan niat setan untuk menghina Alloh subhanahu wa ta’ala dan juga menghina Nabi Uzair ‘alaihissalam), bahwa beliau itu adalah anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Sepeninggal beliau berpulang ke alam batin, maka patung yang digunakan untuk menghinakan beliau justru disembah serta beliau dianggap anak Tuhan. Namun, Alloh akan selalu memperjuangkan ketauhidan dan keislaman maka diutuslah nabi berikutnya yakni Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.(TQS At Taubah 33).

Kisah ini diharapkan agar mampu menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam, karena tanpa disadari kita semua pun ikut menghinakan nabi Uzair karena lisan-lisan umat Islam hingga kini akhir zaman sangat jarang yang mengucapkan bahwa beliau itu ‘abdulloh (hamba Alloh), bukan seperti direkayasakan setan bahwa beliau adalah ibnulloh atau anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: