Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Oleh : Fathimatuz Zahra *)

 

Dalam haditsnya, Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam bersabda, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang diutamakan dibanding dengan bulan lainnya.  Pada bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, sehingga manusia seharusnya menjadi khusyuk dan ta’at beribadah pada bulan ini, serta dapat meninggalkan sikap-sikap buruk setelah Ramadhan berakhir.

Namun, yang menjadi pertanyaan hingga kini, mengapa seseorang yang beribadah di bulan Ramadhan tak pernah meninggalkan jejak yang positif setelahnya? Hal ini tampak dari tindakan-tindakan negatif yang merugikan satu dengan yang lain masih saja terjadi, misalnya pemimpin yang tidak peduli apapun yang terjadi dengan rakyatnya. Maka di sinilah perlu dicoba dipahami puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah.

Ruqyah Ruhaniah

Ruqyah merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi pada masa kini, ruqyah selalu identik dengan pengobatan penyakit dengan cara mengambil makhluk-makhluk gaib yang ada dalam diri seorang manusia. Bagitu pula harapan kita terhadap puasa Ramadhan yang kita lalui saat ini, dengan harapan seluruh penyakit ruhani akan hilang sehingga kita akan menjadi manusia seutuhnya.

Diperlukannya ruqyah ruhaniah karena pada setiap diri manusia selalu berisiko ditumpangi oleh makhluk Alloh lainnya, yakni syetan dan kawan-kawannya. Walaupun mereka berwujud ghaib, dan manusia modern menganggapnya sebagai hal yang irasional. Namun, satu hal yang tidak dapat dilupakan, dengan meminjam pendapat dari Ibnu Sina bahwa Alloh itu ada, serta selalu baik.

Jangan dilupakan bahwa syetan juga selalu menumpangi kehidupan manusia sebagaimana janjinya pada Tuhan saat penciptaan Adam. Syetan berjanji serta mendapatkan ijin dari Tuhan untuk bebas menggoda setiap manusia. Di sinilah syetan selalu mencari peluang untuk masuk ke dalam diri manusia, serta mengendalikan semua perbuatan manusia tersebut agar menyimpang dari rasa kemanusiaannya serta menuruti hawa nafsu syaithan.

Hal ini tidak terkecuali dilakukan pula terhadap para nabi dan rasul-rasul utusan  Alloh. Alloh pun mewahyukan pada surat al-Isra’  bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tetapi Alloh selalu bersikap baik, pada hamba-hambanya, apalagi untuk hamba-hambanya yang terpilih dengan jalan melakukan ruqyah ruhaniah. Hal ini dilakukan karena para utusan Alloh tersebut bertugas menyampaikan kalam-Nya  yang tentunya akan meterjemahkan dan memancarkan Nur Illahiahnya kepada seluruh umatnya.

Sebagai contoh yang dilakukan pada Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam pada usia dua bulan, dua puluh lima tahun serta yang paling terkenal serta baru saja kita peringati bersama yakni peringatan peristiwa Isra’  mi’raj yang berkaitan dengan perintah ibadah sholat bagi kaum Muslim. Setelah dilakukan  ruqyah ruhaniah inilah, maka turun perintah shalat dan puasa setelahnya.

Ruqyah ruhaniah ini dilakukan dengan jalan membedah secara ghaib tubuh manusia untuk mengeluarkan syetan, jin, iblis yang menumpang pada tubuh seorang manusia. Hal ini perlu dikeluarkan karena dalam sifat hewaniahnya yang dibawa oleh makhluk-makhluk dalam tubuh tersebut, yang mendorong manusia pada arah negatif. Ruqyah ini hanya dapat dilakukan dengan perintah Tuhan melalui  malaikat Jibril.

Dengan dilakukannya ruqyah ruhaniah ini, maka manusia itu, bersamaan dengan keluarnya syetan dan kawan-kawan dari tubuhnya, akan menjadi manusia seutuhnya. Karena mereka mampu menerima signal-signal Nur-Nya. Tentunya Alloh akan memercikkan sifat-sifat ke-Ilahiannya sehingga akan tercermin dalam kehidupan manusia tersebut.

Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa wajib yang dilakukan umat Islam setahun sekali serta dilaksanakan selama sebulan penuh. Puasa ini bertujuan membentuk manusia seutuhnya. Serta banyak hal lain yang telah banyak kita ketahui pedoman serta petunjuknya sebagaimana banyak tertayang pada acara-acara Ramadhan di televisi.

Namun, yang masih sangat disayangkan saat ini banyak ummat Islam hanya menjalani puasa sebagai rutinitas, pengguguran kewajiban serta euphoria pada saat Ramadhan itu masih di depan mata, namun tidak meninggalkan perubahan setelah Ramadhan itu berakhir.

Banyak yang melupakan keterikatan sejarah antara Isra’  mi’raj  sebagai sebuah substansi yakni ketika Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam diruqyah ruhaniah oleh malaikat Jibril maka pewahyuan kenabiannya pun dimulai.

Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi ini, semestinya pun mampu memercikkan nur Tuhan dalam tingkah lakunya sehari-hari.

Untuk itulah Tuhan memberikan ajaran-ajaran peribadatan pada seluruh manusia dengan tujuan utama agar manusia tersebut mampu menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini sehingga pelestarian bumi ini dapat tetap berfungsi bagi manusia itu sendiri. Salah satu jalan yang diperintahkan adalah puasa, yang diturunkan pada umat-umat sebelumnya pula. Puasa merupakan jalan untuk membuka pintu agar ruqyah ruhaniah itu dapat dilakukan.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan semua setan akan dibelenggu, namun perlu diingat bahwa setan itu mempunyai banyak posisi, ada yang berada di dalam tubuh manusia maupun di luar yang mengelilingi seluruh lingkungan manusia. Setan yang dibelenggu ini hanya yang ada dalam tubuh manusia tersebut, dengan puasa maka setan tersebut dipersempit ruang geraknya, karena seiring dengan sedikitnya makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Dengan demikian, ketika seorang manusia berpuasa, maka kekuatan setan itu menurun, walaupun setan tetap melakukan godaannya pada manusia yang berpuasa. Di sinilah fungsi seorang manusia mengendalikan hawa nafsunys, yakni dengan melakukan perang terhadap setan sebagai musuh yang nyata. Di sinilah pintu untuk melakukan ruqyah ruhaniah menjadi terbuka.

Untuk itu, maka disediakan malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan. Hal ini diperuntukkan bagi ummat yang berpuasa sebagai pembuka pintu ruqyah ruhaniah, saat inilah para malaikat melakukan ruqyah tersebut.

Sehingga ummat-ummat yang mampu melakukan puasa yang benar-benar dilakukan dengan berperang melawan musuh nyatanya tersebut,  menjadi manusia sejati kembali sehingga Ramadhanya mampu mencerahkan kesebelas bulan lainnya dengan jalan serta sifat-sifat positif.

***

Untuk itu, sebagai langkah agar bangsa ini mampu menjadi bangsa seutuhnya karena masyarakat, pejabat, pemimpin bangsa in terdiri dari manusia-manusia seutuhnya. Dengan momentum puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah ini, maka diharapakan sebelas bulan setelah Ramadhan ini berakhir terjadi penurunan peringkat-peringkat negatif yang melekat pada bangsa ini.

Dengan momentum puasa ini pula, seluruh bangsa bersama-sama bertekad untuk berjihad melawan setan yang merupakan musuh yang nyata yang memicu kebobrokan bangsa ini berdasar pada rayuan-rayuan untuk melakukan korupsi, saling mencelakai satu dengan yang lain, kanibalisme, dsb.

*) Penulis adalah alumni Program Studi Cross Religion and Cross Cultural Studies UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: