Kematian itu Dekat

Kematian itu Dekat

Oleh : Fathimatuz Zahra *)

 

Kematian demi kematian akan selalu terdengar ringan karena hampir sepanjang hari di setiap titik pelosok penjuru akan selalu terjadi. Maka, itulah kematian itu dekat dengan kehidupan kita. Hal ini disebabkan di dalam ayat al-Qur’an pun telah disebutkan setiap yang hidup pasti akan mati. Namun, dekatnya kematian justru banyak ditakuti setiap manusia, sehingga banyak manusia memilih menjauhi kematian karena dianggap menakutkan.

Menjauhi kematian yang amat sangat dekat inilah yang banyak dilakukan dengan jalan memanjangkan angan-angan akan kehidupan duniawi. Berdasarkan hal inilah, maka muncul cita-cita, harapan, target yang kesemuanya dilakukan dengan harapan dapat melupakan dekatnya sebuah kematian tersebut. Hal inilah, menurut pendapat penulis, merupakan akar masalah dari segala problematika kehidupan. Ingin menjauhi kematian adalah tipu daya yang akan menjerumuskan manusia pada titik depresi maupun penyakit  yang lain.

Disadari atau tidak, kehidupan sehari-hari adalah sakaratul maut karena akan selalu bertemu dengan pilihan-pilihan yang membutuhkan kejelian. Dalam setiap pilihan kehidupan yang dipilih, apakah hal tersebut akan menyelamatkan atau menjerumuskan kehidupan kita. Hal inilah fungsinya seorang manusia diberi kemampuan akal, yakni agar dalam pilihan itu dapat menyelamatkan kehidupannya.

Kehidupan seperti apakah yang menyelamatkan? Sebab banyak orang menganggap bahwa kehidupan bergelimang harta, pekerjaan menjanjikan, pujian tak pernah berhenti dilontarkan, dan hal-hal yang menyenangkan merupakan bagian dari hidup yang selamat ini. Walaupun berbagai hal kesenangan tersebut mengabaikan kejujuran, kepedulian terhadap sesama. Kehidupan seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari pelarian terhadap takut datangnya kematian.

Kehidupan yang menyelamatkan yakni kehidupan yang bertujuan untuk bekal kematian kelak. Dalam era sekarang ini, prinsip kehidupan seperti ini dianggap sebagai prinsip yang tidak modern. Namun, hal ini merupakan kunci segala permasalahan kehidupan. Sebenarnya hal ini, bukan solusi yang asing di tengah berbagai solusi permasalahan yang ditawarkan. Prinsip ini pun telah sering didengar, sebagaimana para walisongo terdahulu menyimpulkan dari berbagai hadis maupun qur’an, bahwa urip mung mampir ngombe (Hidup itu hanya untuk sekedar pelepas dahaga).

Hal ini, merupakan hal yang sederhana namun manfaatnya lebih dari kesederhanaan prinsip tersebut. Dalam berbagai teori kekinian, dengan menggunakan prinsip dasar bahwa hidup hanyalah untuk bekal kematian, maka akan menimbulkan efek rileks dalam mengejar berbagai target dalam alam kehidupan manusia. Efek rileks inilah yang justru akan mampu meningkatkan tingkat efektivitas pencapaian target kehidupan, karena tekanan yang tidak terlampau berat justru akan meningkatkan hasil. Maka dunia justru akan menghamba tanpa harus diminta sekalipun.

Namun, sayang hal ini telah sering dilupakan. Bahkan, perlakuan terhadap kematian yang seharusnya hal ini menjadi sarana pengingat kehidupan manusia pun telah berubah. Kematian seolah permainan yang akan menutup kehidupan, tanpa disadari bahwa justru inilah awal kehidupan yang sebenarnya. Ketika disadari bahwa kematian itu adalah gerbang kehidupan, maka kematian bukan hal yang harus ditakuti tetapi justru harus selalu diingat.

Idealnya, apabila dalam sebuah masyarakat akan selalu teringat akan kematian, maka kehidupan dalam masyarakat tersebut akan menjadi tentram dan harmonis. Karena dengan mengingat kematian, banyak tindakan-tindakan negatif yang terpikir atau akan dilakukan pun terkendali. Serta dengan pikiran yang ringan segala permasalahan akan menemukan solusinya dengan ringan.

Maka, detik ini saatnya mulai kita camkan dalam tiap langkah kehidupan bahwa kematian itu dekat, kematian itu indah, kematian itu adalah solusi, serta kematian adalah gerbang kehidupan. Maka kehidupan akan menjadi lebih dinamis, tidak banyak beban, serta nyata. Sedangkan kehidupan adalah gerbang kematian keinginan.

 

*) Penulis adalah alumni Program Studi Cross Religion and Cross Cultural Studies UGM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: