Kisah Nabi Ayub dan Penyebab Sakit Nabi Ayub a.s.

Catatan AsSalyan :

Dalam tulisan ini Prof. Dr. Nasaruddin Umar tidak memuat semua ayat Al Qur’an tentang sakitnya nabi Ayub secara lengkap, sehingga dia tidak mencantumkan peranan setan dalam sakitnya Nabi Ayub as. itu, serta tidak mencantumkan apa perkataan Nabi Ayub as. mengenai sebab sakitnya itu.

Firman Alloh SWT mengenai Nabi Ayub yang mendapat musibah sakit ini terdapat dalam Surat ke 21 atau Surat Al Anbiya ayat 83-84 dan  Surat ke 38 atau Surat Shaad  ayat 41.

Terjemah ayat-ayat itu adalah :

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS 21:83:84)

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38 :41-42-43).

Jadi ujian Alloh itu adalah istilah hakekat, tetapi sebab yang menjadikan Nabi Ayub sakit itu adalah setan yang terkutuk.

Dari kisah Nabi Ayub ini sebenarnya terdapat ”pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”, bahwa :

  • ujian itu hakekatnya dari Alloh SWT, tetapi perlu diketahui pula secara syariat, yaitu penyebab terjadinya ujian dan bagaimana menyelesaikan ujian itu.
  • Ujian berupa sakit itu ada penyebabnya. Penyebabnya bisa diri sendiri yang dibantu oleh setan atau hanya oleh setan. Dalam kasus nabi Ayub as. penyebabnya adalah setan.

Orang yang mencapai mashabir itu tetap berbaik sangka kepada Alloh SWT dan mengetahui penyebab musibah atau ujian yang menimpanya terdapat peran dirinya, makhluk dan setan yang menjadi musuh manusia.

Republika, Jumat, 16 Desember 2011

Antara al-Shabir, al-Mashabir, dan al-Shabur (I)

Oleh Nasaruddin Umar

Nabi Ayub adalah orang yang paling sabar di dalam Alquran. Ia dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit aneh. Sekujur tubuhnya membusuk. Bukan hanya itu, luka di sekujur tubuhnya dikerumuni belatung. Akibatnya, ia dipencilkan oleh masyarakat, termasuk oleh istri yang selama ini mendampinginya. Ia dibuang jauh di luar perkampungan, di sebuah pegunungan. Ia hidup dalam sebuah gua yang gelap dan sepi. Di dalam gua, Nabi Ayub menghabiskan waktunya seorang diri. Di dalam kesendiriannya inilah, Nabi Ayub pernah bersumpah di dalam dirinya, seandainya Allah memberikan kesembuhan niscaya akan aku cambuk istriku karena sikapnya yang tega membuang dirinya di tempat yang sepi.

Suatu ketika ia termenung dan memandangi belatung yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap belatung-belatung yang menggerogoti tubuhnya. Ia menjadikan belatung-belatung tersebut sebagai temannya dan mengatakan, “Wahai para belatung, sahabatku, makanlah sepuas-puasnya dagingku karena kalian semua sekarang sudah menjadi sahabatku. Kalau hari-hari yang lampau kalian kuanggap musuhku, ke mana-mana aku mencari tabib untuk memusnahkan kalian, maka sekarang satu-satunya yang bersedia menemaniku di kegelapan malam di dalam gua ini hanyalah kalian. Semua orang, termasuk anggota keluargaku, membuang aku di tempat yang jauh ini.”

Konon, belatung yang terjatuh pada saat ia beribadah diangkat lagi naik ke badannya. Begitu sayangnya Nabi Ayub terhadap belatung itu. Belatung-belatung itu seperti menjadi binatang kesayangannya. Kalau dahulu gigitan belatung itu menyakitkan, kini Nabi Ayub tak lagi merasakan rasa sakit itu. Kalau dahulu jijik dan benci, kini ia menyukai dan menyayangi belatung itu. Ini menjadi pelajaran bahwa perubahan paradigma dan persepsi ternyata bisa memengaruhi perasaan seseorang. Dari rasa yang amat sakit menjadi berkurang rasa sakitnya, bahkan mungkin menjadi kenikmatan tersendiri.

Setelah sekian lama Allah SWT menguji Nabi Ayub, suatu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan sesuatu: “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS Shad [38]: 42). Setelah Nabi Ayub memukulkan kakinya ke tanah, tiba-tiba memancar aliran air jernih dan sejuk dari bekas tumit Nabi Ayub. Nabi Ayub pun minum dan mandi dari air itu, dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah ke mana. Bahkan, bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayub. Ia lalu sembah sujud kepada Allah SWT dan bersyukur atas diakhirinya seluruh cobaan pada dirinya.

Catatan AsSalyan :

Dalam tulisan ini Prof. Dr. Nasaruddin Umar tidak memuat semua ayat Al Qur’an tentang sakitnya nabi Ayub secara lengkap, sehingga dia tidak mencantumkan peranan setan dalam sakitnya Nabi Ayub as. itu, serta tidak mencantumkan apa perkataan Nabi Ayub as. mengenai sebab sakitnya itu.

Firman Alloh SWT mengenai Nabi Ayub yang mendapat musibah sakit ini terdapat dalam Surat ke 21 atau Surat Al Anbiya ayat 83-84 dan  Surat ke 38 atau Surat Shaad  ayat 41.

Terjemah ayat-ayat itu adalah :

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS 21:83:84)

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS 38 :41-42-43).

Jadi ujian Alloh itu adalah istilah hakekat, tetapi sebab yang menjadikan Nabi Ayub sakit itu adalah setan yang terkutuk.

Dari kisah Nabi Ayub ini sebenarnya terdapat ”pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”, bahwa

  • ujian itu hakekatnya dari Alloh SWT, tetapi perlu diketahui pula secara syariat, yaitu penyebab terjadinya ujian dan bagaimana menyelesaikan ujian itu.
  • Ujian berupa sakit itu ada penyebabnya. Penyebabnya bisa diri sendiri yang dibantu oleh setan atau hanya oleh setan. Dalam kasus nabi Ayub as. penyebabnya adalah setan.

Akhir catatan —–

Peristiwa memancarnya air dari pukulan kaki Nabi Ayub mengingatkan kita pada Nabi Ismail yang juga melakukan hal yang sama, tiba-tiba keluar mata air yang kini menjadi sumur zamzam. Hanya bedanya, sumur zamzam dirawat dengan baik, sedangkan sumur Nabi Ayub yang terletak sekitar dua jam dari Kota Damaskus, dekat dari makam Imam al-Nawawi, pengarang kitab Riyadh al-Shalihin, tidak terurus dengan baik. Ketika penulis berkunjung, sumur ini baru saja dipugar oleh seorang Kanada yang mengaku kakinya yang dulu korengan dan sulit sembuh tiba-tiba sembuh setelah dicuci dengan air sumur itu. Ia kembali ke kota kecil ini untuk membangun tembok dan pagar di sekeliling sumur Ayub.

Ketika Nabi Ayub masuk kembali ke perkampungan di dalam kota dengan wajah tampan seperti semula, semua orang memujanya, termasuk istrinya. Namun karena sudah telanjur bersumpah akan mencambuk istrinya kalau ia kembali sembuh, ia diminta Allah SWT untuk menunaikan sumpahnya tanpa menimbulkan rasa sakit pada istrinya: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS Shad [38]: 44).

Yang menarik untuk diperhatikan dari kisah ini ialah Allah SWT menyebut Nabi Ayub sebagai orang yang shabir, bukan mashabir atau shabur. Di dalam Alquran ada tiga istilah yang sering digunakan Allah SWT, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.

Meskipun ketiga kata tersebut berasal dari akar kata yang sama (shabara), ketiganya membentuk makna berbeda satu sama lain.

  • Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap.
  • Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk ketegori mashabir.
  • Sedangkan, shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma yang terakhir ialah al-Sabur.

Catatan AsSalyan :

Orang yang mencapai mashabir itu tetap berbaik sangka kepada Alloh SWT dan mengetahui penyebab musibah atau ujian yang menimpanya terdapat peran dirinya, makhluk dan setan yang menjadi musuh manusia.

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/150175/Antara_al_Shabir_al_Mashabir_dan_al_Shabur_I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: