Antara Al-Mukhlishin dan Al-Mukhlashin

Republika, Jumat, 30 Desember 2011

Antara Al-Mukhlishin dan Al-Mukhlashin

Oleh Nasaruddin Umar

Al-mukhlishin dan al-mukhlashin berasal dari akar kata ‘akhlasha-yukhlishu’, berarti tulus, jujur, jernih, bersih, dan murni. Dari akar kata tersebut lahir kata ‘al-mukhlish’, jamaknya ‘al-mukhlishin’ berarti orang yang setulus-tulusnya mengikhlaskan diri di dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya tertuju kepada Allah SWT.

Pengertian ikhlas lebih populer berarti kesungguhan dan ketulusan di dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya tertuju kepada Allah SWT. Kalangan ulama tasawuf menjelaskan pengertian ikhlas sebagai upaya untuk menyucikan ketaatan dari perhatian sesama makhluk dan menjadikan Allah sebagai tujuan dalam berbagai ketaatan yang dilakukannya. Kebalikan dari ikhlas ialah riya, yaitu suatu perbuatan yang dilakukan selain untuk Allah SWT, juga untuk mendapatkan pujian dari makhluk. Riya terjadi manakala seseorang mulai menikmati pujian dari kebaikan yang dilakukannya.

Syekh al-Fudhail mengatakan, “Menghentikan suatu amal karena manusia adalah riya, dan mengerjakan suatu karena manusia adalah syirik.” Sahl bin Abdullah mengatakan, ikhlas merupakan ibadah yang paling sulit bagi jiwa, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya (?). Abu Said al-Kharraz menambahkan, riyanya para ‘arifin (ahli ma’rifah) adalah lebih utama daripada ikhlasnya para murid. Al-Sariy Rahmatullah ‘alaih mengatakan, barangsiapa berhias karena manusia dengan apa yang bukan miliknya, maka ia akan terlempar dari penghargaan Allah.

Menurut Ruwaim bin Ahmad bin Yazid al-Baghdadi, ikhlas adalah segala amal yang dilakukan pelakunya tidak bermaksud mendapatkan balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Abu Ya’kub al-Susiy Rahimahullah mengatakan, barangsiapa melihat dalam keikhlasannya suatu keikhlasan, maka keikhlasannya itu masih memerlukan keikhlasan lagi.

Dalam hadis Qudsi Nabi bersabda, “Ikhlas merupakan satu rahasia di antara rahasia-Ku, aku menaruhnya dalam hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai”. Dalam hadis lain dikatakan, “Aku berlepas diri dari persekutuan orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan Aku, maka Aku akan melepaskan diri dari padanya”. “Sungguh berbahagialah orang-orang yang ikhlas, sebab merekalah yang menjadi pelita hidayah dan merekalah yang membuat semua malapetaka akan hilang.”

Awal ikhlas dan tauhid serta caranya adalah sebagaimana disebutkan Allah dalam Alquran surah al-Ikhlas. Kemudian, ikhlas dalam ketaatan, Allah berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS Al-Bayyinah 98:5).

Dari kata ikhlash, lahir kata ‘al-mukhlash’, jamaknya ‘al-mukhlashin’ berarti orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlishin), tetapi Allah SWT yang proaktif untuk memberikan keikhlasan. Al-Mukhlishin masih sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas, sedangkan al-mukhlashin sudah tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam posisi ikhlas. Keikhlasan sudah merupakan bagian dari habit dan kehidupan sehari-harinya.

Jika kadarnya masih dalam batas al-mukhlishin maka masih riskan untuk diganggu dengan berbagai provokasi iblis, karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan, al-mukhlashin, iblis sudah menyerah dan tidak bisa lagi berhasil mengganggunya karena langsung di-back-up oleh Allah SWT. Berbagai firman Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah sampai di maqam al-mukhlashin membuat upaya iblis sudah tidak mempan lagi. Ayat-ayat tersebut, antara lain:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (al-mukhlashin).” (QS Yusuf 12:24).

Ayat di atas terkait dengan hubungan antara Yusuf yang dijebak oleh istri raja di dalam kamar kosong karena terpesona ketampanannya. Dalam keadaan sepi, aman, disertai dengan adanya kemauan, maka hampir saja perbuatan tercela (zina) itu terjadi, namun Allah SWT yang proaktif melindungi Nabi Yusuf. Cobaan yang berat bagi Nabi Yusuf mampu dilewatinya, bukan karena kemampuannya untuk menahan diri, tetapi lebih karena pertolongan Allah SWT.

Dalam ayat lain, Allah SWT menyatakan, “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka’.” (QS al-Hijr [15]:39-40). Sejalan dengan ayat lainnya, “Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka’.” (QS Shad [38]:82-83).

Perkataan ayat-ayat tersebut semuanya menggunakan kata al-mukhlashin¸ bukannya al-mukhlishin. Ini menunjukkan bahwa jika keikhlasan seseorang baru sampai di tingkat keikhlasan awal maka tidak ada jaminan iblis untuk menghindari mereka. Karena itu, banyak sekali orang-orang yang kelihatannya sudah menjadi tokoh bahkan ulama, tetapi masih berhasil tergoda dan jatuh di dalam cengkeraman nafsunya dan perbuatan terlarang pun dilakukannya.

Orang-orang yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin bukan hanya terhindar dari cengkeraman iblis, tetapi juga terhindar dari fitnah dan berbagai kecelakaan social*). Namun, untuk mencapai tingkat al-mukhlashin memerlukan latihan spiritual (mujahadah) yang tinggi dan telaten (istikamah). Mencapai derajat al-mukhlishin saja begitu sulit, apalagi mencapai tingkat al-mukhlashin. Seorang ulama tasawuf  bernama Makhul mengatakan, “Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama 40 hari, kecuali akan tampak hikmah dari hatinya melalui lidahnya.” Barangsiapa yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin, maka patutlah ia bersyukur karena ia sudah berhasil menjadi orang yang langka. Kelangkaannya terlihat dari sulitnya menemui orang yang betul-betul ikhlas tanpa pamrih sedikit pun dari amal kebajikannya.

Catatan AsSalyan :

Sebenarnya Nabi Yusuf  as. tertimpa fitnah (cobaan/ujian), yang akhirnya beliau dipenjara, tetapi beliau itu lulus dari ujian atau fitnah itu.

Dalam konteks kehidupan masyarakat kontemporer, sulit sekali menemukan orang-orang yang betul-betul ikhlas dalam arti al-mukhlishin, apalagi orang-orang yang tergolong al-mukhlashin.

Pola hidup yang semakin pragmatis dan rasional membuat banyak sekali manusia yang terjebak di dalam suasana pemikiran yang materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan kepentingan materi dan kesenangan fisik. Pola dan gaya hidup seperti ini jelas mengancam pola hidup keikhlasan. Kini, sedemikian jauh bergeser keikhlasan itu di dalam masyarakat modern. Keikhlasan banyak sekali ditemukan di bibir, tetapi tidak dalam kenyataan hidup. Padahal, keikhlasan itu tidak dikatakan, tetapi diwujudkan dan dibudayakan.

Sumber :  http://republika.co.id:8080/koran/52/151139/Antara_Al_Mukhlishin_dan_Al_Mukhlashin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: