Mensucikan Diri dan Memeriksa serta Membedakan Haq dan Batilnya Informasi Ghaib

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Tuhan pengurus alam semesta ini,

Shalawat dan salam, kami panjatkan untuk Nabi Besar Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam,

Laa haula wa laa kuwwata illaa billaahil’aliyyil ‘adziim, Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung

Hanya dengan keagunganMu dan dengan sebab UtusanMu dan para WaliMu, kami mendapatkan kekuatan pikiran dan tangan sehingga tulisan ini bisa kami kerjakan.

Yang benar dari Allah SWT, yang salah dari hawa-nafsu kami sendiri.

 

Manusia

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan dimuliakan serta diberikan kelebihan dibanding makhluk-makhluk yang lain, sebagaimana tertulis di Al Qur’an surat ke 95 At Tiin ayat 4 dan surat ke 17 Al Isra’ ayat 70[1]:

  • “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
  • “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Dalam penciptaannya manusia diberikan misi oleh Penciptanya, yaitu beribadah kepada Al Khalik (Maha Pencipta), sesuai dengan Al Qur’an surat ke 51 Adz Dzaariyat ayat 56:

  • “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Tetapi dalam penciptaan manusia yang dimuliakan itu, terdapat makhluk (yang karena ketakaburannya merasa lebih mulia dari manusia), yang tidak rela :

  • “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS 2: 34).
  • Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”. Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya” (QS Al A’raf/7:11-18).

Makhluk yang tidak rela dengan penciptaan manusia itu adalah Iblis, dan para setan pengikutnya. Mereka akan selalu mengganggu manusia supaya tidak tercapai misi yang telah ditetapkanNya, dan menjadi hina bersama mereka di hari akhir nantinya.

Tetapi Allah SWT Maha Adil, diberiNya manusia itu,  penjaga yang selalu menjaganya :

  • “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” ( QS Ar Ra’du/13:11).

Disamping para malaikat penjaga itu, manusia juga diberikan petunjuk melalui para Rasul Allah SWT, dengan kitabullah, yang diturunkan melalui mereka dan para ulama yang mewarisi ilmu para nabi:

  • “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS Ali Imran 164).
  • Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS Al Anbiya 107).
  • Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.  Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Al Faathir 31-32).
  • ……..Maka tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kamu tiada mengetahui (QS Al Anbiyaa/21-7).
  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yg banyak.” Ad-Darimi di dalam Sunan Abu Dawud no. 3641 Ibnu Majah di dalam Muqaddimah dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban.

Dengan Maha Adilnya Allah SWT, manusia diberikan kecukupan untuk melaksanakan perjalanannya mencapai tujuan mulia dan mempertahankan diri terhadap setiap gangguan setan.

Sebenarnya manusia (juga bangsa jin) mempunyai dua pilihan, yaitu menjadi :

Pertama, Manusia yang mengabdi dan bertaqwa kepada Allah SWT, dengan mengikuti petunjuk Allah SWT melalui RasulNya, sehingga tetap dalam kemuliannya,

  • Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS Ali Imran/3: 185).

atau menjadi :

Kedua, Manusia yang tergoda oleh ajakan Iblis dan para setan pengikutnya untuk berpaling dari misi penciptaanya.

Apabila manusia memilih pilihan ke dua, maka akibat perbuatannya sendiri, manusia bisa menjadi hilang kebaikan dan kemuliannya, sesuai dengan Al Qur’an surat ke 30 Ar Ruum ayat 57-58 dan surat ke 95 At Tiin ayat 5 :

  • Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya). Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang dzalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertobat lagi. (QS 30:57-58)
  • “Kemudian Kami (putuskan) dia berada tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS 95:5).

Apabila kita mentafakuri ayat-ayat Allah SWT di atas, serta mentafakuri kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai manusia saat ini, badan manusia adalah bagaikan suatu perangkat yang sangat canggih. Manusia itu  jauh lebih canggih dibandingkan dengan robot super canggih (android) yang dilengkapi  dengan komputer super canggih.

Komputer yang canggih itu, dilengkapi dengan suatu perangkat supaya bisa berkomunikasi dengan komputer lingkungannya. Saat berkomunikasi, komputer saling mengirim data dan program. Pertukaran data/program itu ada yang bermanfaat, ada yang tidak bermanfaat, dan ada yang merugikan. Program yang merugikan itu dinamakan virus komputer. Virus itu bisa mengganggu jalannya komputer, bahkan bisa merusak program utama, data dan perangkat keras komputer.

Dalam jaringan komunikasi yang terbuka masukan-keluaran program/data terjadi, disadari atau tidak disadari oleh operator komputer. Untuk itulah komputer perlu dilengkapi dengan program anti virus, firewall, antispam dan lain-lain sistem penyaring yang canggih, berlisensi legal dan selalu diperbaharui/updated.

Bagaikan komputer, manusia mempunyai jaringan komunikasi yang terbuka. Manusia bisa menerima dan memberikan informasi dari dan kepada lingkungannya, disadari atau tidak disadarinya, disengaja atau tidak disengaja. Contoh, manusia bisa mendengar suara merdu yang ingin didengarnya, tetapi juga terpaksa mendengar suara bising yang tidak ingin didengarnya. Manusia bisa melihat sesuatu yang indah yang diinginkanya, tetapi bisa terpaksa melihat sesuatu yang buruk yang tidak diinginkannya, dalam keadaan jaga atau mimpi.

Komputer, kalau program anti virusnya rusak, atau illegal dan tidak bisa diupdate atau program antivirusnya kurang canggih dibanding virus-virus yang semakin canggih yang terus bermunculan. Maka komputer yang dihidupkan terus dan berkomunikasi itu bisa mengandung virus-virus yang menjadikan benda itu kurang optimal kemanfaatannya. Bahkan benda itu bisa rusak, minimal  data atau memorinya.

Manusia, oleh Allah Yang Maha Adil sudah diberikan penjaga dan ilmu penyaring dari semua keburukan. Tetapi kalau penjaganya ditinggalkan atau ilmu penyaring dari gangguan setan-setan terganggu, maka aktivitas utamanya  bisa terganggu, dan tujuan utamanya bisa tidak tercapai.

Beriman

Iman kepada Allah ‘azza wa jalla mencakup semua hal yang wajib diyakini dalam landasan dan pokok-pokok keimanan dari apa-apa yang Allah ‘azza wa jalla beritakan tentang diri-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk, yang disertai dengan amalan-amalan dalam hati, ketaatan dan ketundukan yang sepenuhnya lahir dan batin kepada Allah ‘azza wa jalla.

  • Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, aku berkata: wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara Islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ucapkanlah: “aku beriman kepada Allah”, kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu”. (HR. Muslim).
  • Dari Ubadah bin Shamit ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengucapkan: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa (Nabi Uzair as adalah hamba Allah*), Nabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan ruh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar”, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (HR. Muslim). *) Dikarenakan rekayasa setan, kalimat ini telah lama hilang pada beberapa kitab hadis.

Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda:

  • “Tiada seorang nabipun yang diutus oleh Allah sebelumku, Muhammad SAW, melainkan ia mempunyai beberapa orang hawari (penolong atau pengikut setia), dari kalangan ummatnya, juga beberapa sahabat, yang mengambil teladan dengan sunnahnya serta mentaati perintahnya. Selanjutnya sesudah mereka ini,  beberapa orang pengganti mereka, yang suka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, bahkan juga melakukan apa yang mereka tidak diperintahkan (para penyeleweng). Maka barangsiapa yang berjuang melawan mereka itu (yakni para penyeleweng dari ajaran-ajaran nabi yang sebenarnya ini), dengan tangan atau kekuasaannya, maka ia adalah seorang mu’min, barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, iapun seorang mu’min dan barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, juga seorang mu’min, tetapi jikalau semua itu tidak (dengan tangan, lisan dan hati), maka tiada keimanan samasekali sekalipun hanya sebiji sawi.” (HR. Muslim)

Jadi beriman yang sesungguhnya itu mengandung tiga aspek, yaitu beriman dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanaan dengan suatu perbuatan. Seseorang yang beriman kepada Allah dan RasulNya itu, artinya dia mengakui di hatinya, diucapkan dengan lisannya, dan dilaksanakan perintah-perintah Allah dan RasulNya. Maksudnya, kalau seseorang itu mengaku beriman tetapi belum melaksanakan perintahNya, berarti orang itu belum dikatakan beriman. Kalau seseorang itu mengaku beriman tetapi baru sebagian melaksanakan perintahNya yang mampu dia laksanakan, berarti orang itu belum sepenuhnya beriman  atau masih ada penyakit kemunafikan dalam dirinya.

Sebagai bagian dari kaum yang beriman, kaum muslimin dan muslimat  diwajibkan untuk mengimani/mempercayai adanya yang ghaib, sebagaimana firman Allah yang tertulis di Al Qur’an Surat 2/Al Baqarah:2-3, sbb:  :

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,”

 

Ghaib

Yang ghaib itu ada dua katagori, yaitu :

  1. Al Ghaib, yang Maha Ghaib. Dialah Allah SWT, Al Kholik Sang Maha Pencipta yang “laisa kamitslihi syaiun” (AsySyuraa 11), tidak bisa dimisalkan dengan sesuatupun, tidak bisa terjangkau dengan apapun, kecuali Dia berkehendak lain.
  2. Makhluk Ghaib, yang tergolong menjadi beberapa golongan makhluk, yaitu :

            a. Makhluk Ghaib Hamba Allah yang bertaqwa.

Para malaikat, jiwa para rasul dan nabi, jiwa para siddiqin, jiwa para wali Allah, jiwa para syuhada, jiwa para sholihin yang telah meninggal, dan para jin yang beriman dan beramal sholeh yang berjamaah dengan Nabi SAW sebagai imamnya dan taat kepada Nabi SAW.

Dalilnya adalah Al Qur’an Surat Al Baqarah 154, Surat Al Imran 169 dan Al Ahqaf 29:

  • Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
  • Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
  • Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

            b.  Makhluk Ghaib yang tidak bertaqwa kepada Allah SWT.

Bangsa Jin (Iblis, setan, jin kafir & munafik), jiwa manusia kafir & munafik yang telah meninggal yang masih mengikuti dan dipimpin setan. Dalilnya adalah :

Al Qur’an Surat Al Hijir 39 : Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Al Qur’an Surat Al Baqarah 208 : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Al Qur’an Surat Al An’am 128 : Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

         c.  Makhluk ghaib lain

Alam-alam ghaib (kubur/barzah, malakut, dll), kiamat, surga, neraka, dan lain-lain yang makhluk yang keberadaannya masih ghaib.

Tingkatan keghaiban

Sebagaimana langit dan bumi yang berlapis-lapis, makhluk ghaib juga bertingkat/berlapis keghaibannya. Lapisan keghaiban yang mampu dicapai manusia biasa (bukan nabi) yang dikaruniai kasyfiyah[2] itu, kami istilahkan, terdiri atas : jawarih, akal, sukma, qalbu, sir, dlomir dan akhfa. Bisa juga beberapa ulama menggunakan istilah-istilah yang berbeda.

Makhluk ghaib yang berada dilapisan yang lebih kasar (misal di tingkat jawarih) tidak mampu melihat makhluk ghaib yang berada dilapisan lebih halus di tingkat akal. Tetapi makhluk ghaib yang berada di tingkat lebih halus, misal di tingkat akhfa, akan bisa melihat dan mempengaruhi makhluk ghaib di tingkat  di bawahnya.

Contoh, jin adalah makhluk ghaib, yang diperintah Allah untuk beribadah kepadaNya. Dia dapat digoda oleh setan (bangsa jin juga) yang tidak terlihat olehnya. Begitu pula manusia yang dikaruniai kasyfiyah di tingkat jawarih, tidak akan bisa melihat makhluk ghaib di tingkat yang lebih lembut, kecuali makhluk itu memperlihatkan dirinya. Sehingga bisa jadi, dia bisa tertipu oleh makhluk ghaib dari tingkat yang lebih halus, yang menampakkan dirinya dengan rupa dan atribut atau kata-kata yang sangat menawan, yang sangat cemerlang cahayanya dan tampak atau terdengar sangat sholeh.

Informasi Ghaib

Informasi ghaib itu bermacam-macam sumbernya, mulai dari ide, ilham, khatir/bisikan ghaib, mimpi,  penglihatan & pendengaran ghaib, wahyu kepada binatang dan lain-lain sampai kepada wahyu kenabian dan mendengar pengakuan orang-orang yag mengaku diberikan kemampuan kasyfiyah.  Ide dan mimpi yang sering dialami oleh manusia juga termasuk masukan yang bersifat ghaib.

Manusia biasa, umumnya tidak mengetahui dari mana informasi ghaib itu itu, apakah berasal dari nafsu, apakah berasal dari setan atau apakah berasal dari hamba-hamba Allah yang bertaqwa.

Al Qur’an surat As Syams ayat 8 – 10 :

  • “maka diilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”

Yang mengilhami ketaqwaan adalah Allah SWT dan para makhlukNya yang bertaqwa, sebailknya yang mengilhami kefasikan adalah para makhlukNya yang tidak bertaqwa.

Risiko penipuan dalam menerima informasi ghaib bisa terjadi karena adanya setan yang dekat pada diri manusia dan yang selalu mengganggu manusia, dalam beribadah kepada Allah untuk mencapai tujuannya yang hakiki. Gangguan setan itu menjadikan manusia muslim bersifat riya, ujub, takabur, hasad/dengki, cinta dunia, nifaq/munafik. Bahkan dia bisa menyesatkan manusia kepada kemusyrikan dan kekafiran.

Petunjuk Allah SWT dan RasulNya bahwa setan itu dekat pada diri manusia, terdapat pada beberapa ayat Al Qur’an dan hadis Nabi SAW, antara lain :

  1. “Barang siapa yang berpaling dari mengingat (pengajaran dari) Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya [Az Zukhruf (43) : 36].
  2. Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim, berkata Ishaq: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Utsman berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari ayahnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya:  Tuan juga, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Aku juga, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam, ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.” Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Ammar bin Ruzaiq keduanya dari Manshur dengan sanad jarir seperti haditsnya, hanya saja dalam hadits Sufyan disebutkan: “Melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin dan dari kalangan malaikat.”
  3. Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id Al Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab telah mengkhabarkan kepadaku Abu Shakr dari Ibnu Qusaith telah menceritakan kepadanya bahwa Urwah telah menceritakan kepadanya bahwa Aisyah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar dari kediamannya pada suatu malam. Aisyah berkata: Aku merasa cemburu pada beliau lalu beliau datang dan aku melihat yang beliau lalukan. Beliau bertanya: “Kau kenapa, wahai Aisyah?” aku menjawab: Orang sepertiku mengapa tidak menyemburui orang seperti Tuan? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apa setanmu mendatangimu?” Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ada setan menyertaiku? Beliau menjawab: “Ya.” Aisyah bertanya: Juga menyertai semua manusia? Beliau menjawab: “Ya.” Ia bertanya: Menyertai Tuan juga? Beliau menjawab: “Ya, hanya saja Rabbku menolongku mengalahkannya hingga ia masuk Islam.” [H.R. Imam Muslim]
  4. Dari Ummul mu’minin Shafiyah binti Huyay radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. pada suatu saat beri’tikaf, lalu saya datang untuk menengoknya di waktu malam, lalu saya berbicara dengannya, kemudian saya berdiri untuk kembali ke rumah. Tiba- tiba beliau s.a.w. juga berdiri beserta saya untuk mengantarkan saya pulang. Selanjutnya ada dua orang lelaki dari kaum Anshar radhiallahu ‘anhuma berjalan melalui tempat itu. Setelah keduanya melihat Nabi s.a.w. lalu keduanyapun bercepat-cepat menyingkir. Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Perlahan-lahanlah berjalan, hai saudara berdua. Ini adalah Shafiyah binti Huyay.” Keduanya lalu berkata:”Subhanallah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam – yakni manusia – sebagaimana aliran darah. Sesungguhnya saya takut kalau-kalau dalam hatimu berdua itu timbul sesuatu yang jahat atau mengatakan sesuatu yang tidak baik.” (Muttafaq ‘alaih)

Diantara penceramah agama, mereka sering menyampaikan bahwa Allah itu dekat dengan diri seorang mukmin, bahkan lebih dekat dengan urat lehernya sendiri, dengan dalil :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS 2:186]. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” [ QS 50:16].

Tetapi mereka itu kurang intensif menyampaikan bahwa setan juga dekat (berjalan sealiran dengan jalan darah manusia), sebagaimana diriwayatkan dalam hadis-hadis Nabi SAW di atas.

Benar bahwa  Allah itu dekat dengan diri manusia mukmin, tetapi dengan syarat  dia harus “memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.  Nabi SAW memenuhi persyaratan itu dengan sempurna sehingga menjadi manusia yang paling sempurna, yang paling dekat dengan Allah SWT. Nabi SAW dengan pertolongan Allah SWT mengalahkan jin qarinnya hingga ia masuk Islam.

Renungan bagi kaum muslimin

Bagaimana dengan kita yang insya Allah bertekad dan belajar menjadi mukmin, apakah :

  1. sudah benar-benar beriman kepada Allah dan hal-hal lain yang termuat dalam rukun iman?
  2. sudah memenuhi segala perintah Allah dan sunah-sunah RasulNya?
  3. sudah mengalahkan jin qarin kita hingga masuk Islam atau tidak menjadi pengganggu?.

Kalau kita seorang muslim, belum dapat menjawab dan meyakinkan diri kita sendiri dengan tiga pertanyaan di atas, dan membiarkannya berlalu begitu saja, maka jangan-jangan kita ini masih dikendalikan oleh hawa nafsu yang ditunggangi oleh setan, sebagaimana firman Allah :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah (memutuskan[3]) mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? [QS 45:23].

Untuk pertanyan nomor satu dan dua, mungkin banyak diantara kaum muslim yang menyangka dirinya telah benar-benar beriman dan mengikuti perintah Allah.

Untuk pertanyaan nomor tiga, mungkin kita akan mendapat jawaban bahwa, yang bisa menundukkan jin qarin hanya Nabi SAW, kita manusia biasa tidak mungkin mengalahkannya. Mereka itu menolak pengetahuan-pengetahuan yang dianggap ghaib, karena kalau mempelajari ilmu kegaiban itu adalah musyrik. Sesungguhnya mereka tertipu oleh setan, supaya jangan memahami lebih lanjut mengenai setan dan bagaimana cara mengalahkan dengan sebenar-benar cara mengalahkannya. Mereka menyangka hanya dengan fasta’id billah sederhana dengan membaca ta’ud, mereka sudah terbebas dari setan.

Atau mungkin kita akan mendapat jawaban, bahwa mereka selalu berdzikir mengingat Allah, dengan kalimah-kalimah “Laa ilaa ha ilallah” atau “Allah-Allah-Allah” terus menerus, sehingga disangkanya dengan kalimah-kalimah itu setan-setan akan menyingkir. Mereka lupa bahwa Iblis (yang dulu namanya Azazil) itu adalah ahli dzikir kepada Allah yang tingkatannya, pada zaman dulu sebelum penciptaan nabi Adam a.s., bisa menyamai tingkatan para malaikat. Mereka lupa atau tertipu  bahwa dengan tercapainya kenikmatan berdzikir itu mereka bebas dari gangguan setan.

Bisa jadi, banyak diantara kaum muslim yang terkena firman Allah SWT :

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS 18:103-104]

Untuk itu janganlah menyangka bahwa, ide, ilham, mimpi, khatir atau bisikan yang sampai di hati atau benak kita itu, tidak ada risiko dari campur tangan setan. Semakin kotor hawa nafsu atau semakin banyak setan yang berada di dalam diri manusia, maka risiko virus informasi yang sesat akan semakin besar.

Terus, bagaimana solusinya?.

Untuk memahami teorinya, silahkan dibaca kitab Bidayatul Hidayah dan Kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali da berguru kepada ahlinya. Membaca, memahami dan melaksanakan petunjuk dari kitab-kitab itu memerlukan perjuangan yang tidak ringan.

Hal yang mendasar supaya kita bisa berjalan menuju ke arah mulai mampu mendeteksi informasi ghaib itu haq atau batil adalah :

Pertama adalah mengimani, meyakini dan mengimankan bahwa dalam diri manusia, disamping terdapat aspek lahiriyah, juga ada aspek batiniyah yang bersifat ghaib.

Keimanan tentang ghaib dalam diri manusia itu, lengkap meliputi tiga aspek, yaitu hati, lisan dan perbuatan. Perbuatan ini termasuk berusaha keras mencari tahu bagaimana sebenarnya setan-setan yang berjalan sejalan dengan aliran darah itu. Dan bagaimana cara Nabi SAW mengalahkan setan-setan itu dengan bantuan Allah. Ini adalah tindak lanjut dari ayat 164 surat Al Imran:

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bagi yang tidak mengimani adanya setan dalam dirinya itu, mereka akan masuk kriteria “orang-orang yang tidak beriman” :

“…………… dan orang-orang yang tidak beriman, wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)

Kedua adalah mencari ilmu dari para ulama.

Ilmu Nabi SAW diturunkan kepada para ulama yang saleh pewaris ilmu Nabi SAW. Untuk itulah setelah mengimani adanya setan dalam diri kita, maka datanglah kepada para ulama yang bisa membantu mengenal setan-setan yang berjalan dalam aliran darah kita sendiri. Ulama-ulama itu adalah ulama-ulama yang mendapat ilmu dari Nabi SAW dengan sanad (urutan penyampaian) yang sahih dan tidak terputus.  Idealnya ulama itu dikaruniai kemampuan kasyfiyah yang sulit tertipu oleh setan yang paling lembut. Ulama itu insya Allah  akan menjawab, kalau ditanya dengan kesungguhan hati, mengenai bagaimana kondisi diri kita saat ini. Ulama itu sebagai pewaris ilmu Nabi SAW akan “membacakan kepada mereka ayat-ayatNya”, keadaan alam batiniyah kita.

Untuk itu kita haruslah bersiap mental bahwa begitu banyak setan yang yang mengotori alam batiniah kita. Dengan penyampaian itu, banyak diantara penanya yang tidak siap, bahwa ternyata begitulah keadaan dirinya. Diantaranya banyak yang tidak percaya dengan informasi itu, apalagi adanya bisikan setan atau hawa nafsunya yang begitu kuat bantahannya.

Perjuangan untuk membersihkan diri dengan berjuang melawan setan dan hawa nafsu itu membutuhkan banyak ketekunan tenaga, pikiran, waktu dan harta, sehingga perjuangan itu dikatakan jihad besar.

Jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Perang Badar, perang terbesar dan yang sangat menentukan bagi keberlangsungan kaum Muslim. Kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar, dengan jumlah yang sedikit melawan musuh yang berjumlah sangat banyak, memang dahsyat. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw. mengatakan bahwa Perang Badar adalah perang kecil dan perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.” (Hadits shahih, kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih)

Diriwayatkan oleh Ibnu An Najr dari Abu Dzar radiyallahu anhu yang meriwayatkan hadit dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam; “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.”  Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad Dailami. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jamius Shagir no 1099 dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash Shahihah no 1496.

Jadi kalaupun percaya dengan informasi dari ulama tersebut, sebagian besar penanya tidak akan kembali kepada ulama itu untuk berjihad melawan kotoran hawa nafsu dan setan-setan yang menungganginya. Percaya atau iman tanpa perjuangan berarti iman atau kepercayaannya masih semu.

“……..dan orang-orang yang tidak beriman, wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)

Ketiga adalah mempraktekkan ilmu membersihkan diri dengan cara memerangi setan dan kotoran hawa nafsu.

Setelah menyadari bahwa sangat penting dan urgennya dalam membersihkan diri dengan cara memerangi kotoran hawa nafsu dan setan yang menungganginya. Maka kita bisa memulai program membersihkan diri kita dari kotoran hawa nafsu dan setan-setan yang menungganginya, dengan bimbingan ulama saleh pewaris ilmu Nabi SAW itu.

Perjuangan itu akan berlangsung terus seumur hidup manusia, di dunia maupun di alam barzah, karena setan akan terus mengganggu manusia sampai vonis terakhir yang akan diputuskan oleh Allah SWT di hari penghitungan nanti (yaumul hisab).

Ulama itu akan memberikan umpan balik kepada murid-muridnya sejauh mana hasil perjuangan kita, bagaimana usaha kita untuk terus berjuang lebih lanjut.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.   (QS Al Ankabut /29:69)

Hasil perjuangan membersihkan diri dengan cara melawan hawa nafsu dan setan itulah, insya Allah akan memperkecil risiko penyesatan oleh informasi ghaib yang kita terima.

Tanda-tanda bahwa kita mulai dikarunia hati dan akal yang relatip bersih dan mendapatkan informasi ghaib yang benar (ladunny) adalah :

  1. semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah wajib dan sunah secara ikhlas, dengan tepat waktu. Misalnya bersemangat untuk sholat wajib berjamaah tepat waktu disertai sholat-sholat sunahnya. Merasa menyesal kalau pekerjaan itu tidak dilakukan dengan sempurna.
  2.  semakin banyak dan jelas bisikan-bisikan hati untuk berbuat kebaikan.
  3. semakin terang hati dan akal dalam menganalisa hal-hal yang samar menjadi semakin jelas haq dan batilnya serta tidak mudah tertipu oleh informasi yang seakan-akan baik tetapi sebenarnya palsu dan menyesatkan.
  4. semakin sering mengalami mimpi yang haq, yang merupakan informasi yang terbukti kebenarannya.
  5. dan seterusnya sehingga alam malakut akan terlihat dengan jernih dengan mata hati. Sabda Nabi SAW : “Kalau sekiranya setan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam malakut”.

[1] Terjemah ayat Al Qur’an dlm tulisan ini adalah tafsir sederhana yang semoga bisa membantu memahami Al Qur’an.

[2] Kasyfiyah adalah kemampuan untuk melihat rupa dan mendengar suara makhluk-makhluk yang tidak nampak dan tak terdengar oleh pandangan dan telinga manusia biasa.

[3] Orang itu sendiri yang mendzalimi dirinya sehingga pendengaran dan hatinya terkunci. Allah membiarkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: