Makrifatlah Kepada Diri Sendiri Yang Dzalim Untuk Bermakrifat Kepada Alloh SWT

Terjemah Al Qur’an Surat  Ad Dzaariyat ayat  20-21 :

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda  bagi orang-orang yang yakin, dan  pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?

Terjemah Al Qur’an Surat Al Israa’ ayat 13-15 :

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

Allah SWT menjelaskan bahwa masing-masing manusia itu telah dicatat amal perbuatannya, dan tetaplah amal perbuatan itu dalam buku catatan seperti tetapnya kalung pada leher mereka. Maksudnya bahwa tiap-tiap amal perbuatan yang mereka perbuat, terekam dalam rekaman atau tercatat dalam sebuah kitab. Amal perbuatan tersebut mencakup amal baik dan amal buruk, besar maupun kecil yang diperbuat manusia atas dasar pilihannya. Rekaman rekaman atau catatan-catatan dari amal perbuatan mereka itu termuat dalam sebuah kitab yang terpelihara dan bersifat tetap tidak dapat berubah-ubah lagi.
Tetapnya catatan-catatan mereka dalam kitab itu, diumpamakan seperti tetapnya kalung pada leher manusia, sebagai kiasan bahwa catatan itu akan terpelihara, dengan tidak akan hilang, dan selalu berada pada manusia itu.
Selanjutnya Allah SWT menegaskan bahwa kitab yang mengandung rekaman amal perbuatan manusia itu akan dikeluarkan dan simpanannya pada hari kiamat, dan akan diperlihatkan kepada mereka, sehingga mereka dapat mengetahui isinya secara terbuka.

Kalau kita baru membuka dan menghisab kitab kita di hari kiamat, terlambatlah kita semua.

Apa yang bisa kita lakukan?

Perhatikan ayat ini : Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang yang arif) jika kamu tidak mengetahui, (TQS An Nahl 43).

Seorang yang arif menyampaikan bahwa ayat-ayat Al Qur’an di atas mengandung arti tersirat disamping yang tersurat. Ayat-ayat itu berisi perintah Alloh untuk memperhatikan diri sendiri dan menghisabnya, sebelum kita dihisab di hari kiamat.

Seorang yang arif yang dikaruniai pandangan mukasyafah atau terbukanya hijab/tabir, akan bisa membantu seorang yang akan melakukan hisab terhadap diri sendiri dengan menerangkan penerapan dari kalimah ”iqro’ kitabaka” atau ”bacalah kitabmu” itu.

Dengan pandangan seorang arif, setelah membaca ”kitab” pada umumnya manusia yang awam, alam batiniyah manusia adalah gelap. Setanlah yang menjadikan alam batin itu gelap, walaupun pada mulanya Alloh menciptakan alam batin itu terang.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(TQS Al Baqarah 257).

Dengan kasih sayang Alloh SWT kepada manusia, maka Dia mengutus para rasul dan Nabi, untuk membersihkan alam batin manusia, yang beriman kepadaNya melalui utusanNya itu

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (TQS Ali Imran 64).

Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir sudah wafat, maka apakah bisa ahli dzikir yang arif itu ”membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah”?. Jawabnya adalah ”bisa”, apabila ahli dzikir yang arif itu sebagai ulama pewaris ilmu para nabi (warotsatul anbiya) tetap terhubung dengan Nabi Muhammad SAW, walaupun beliau telah wafat tetapi hidup di alam barzah.

Sesuai dengan surat Ali Imran 64 itu, maka langkah menuju makrifat kepada Alloh adalah :

  1. Mencari ahli dzikir yang arif, yang tetap terhubung dengan Nabi Muhammad SAW,
  2. Dengan bantuan ahli dzikir itu : membaca kitab kita sendiri, membersihkan jiwa, belajar Al Kitab dan Al Hikmah secara terus menerus tiada berhenti, dan mengamalkan  semua perintah Alloh dan RasulNya dengan penuh keimanan dan ketaatan.

Dengan tuntunan  ahli dzikir yang arif, yang terbimbing oleh RasulNya itu, maka proses menuju makrifat kepada Alloh akan menjadikannya selamat di dunia, di alam kubur dan alam akhirat.

Berikut adalah artikel yang terkait dengan makrifat itu :

Republika, Jumat, 04 November 2011

Epistemologi Makrifat

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Wakil Menteri Agama RI

Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu (‘ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma’rifah).

Secara kebahasaan, kata ‘ilm berasal dari akar kata alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan ‘alam, berarti tanda, petunjuk, bendera. ‘Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai). Dalam pembahasan terdahulu tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT.  Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna ‘ilm dan ‘alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).

Sedangkan, makrifah berasal dari kata ‘arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i’rfah), pengakuan dosa (i’tiraf), wukuf di Arafah (‘arrafah al-hujjaj), Padang Arafah (‘arafat), tempat antara surga dan neraka (a’raf), bersetubuh (‘arafah al-ma’ah), saling mengenal satu sama lain (ta’aruf), warisan tradisi lama yang positif (‘urf), terkenal, masyhur (ma’ruf), ilmu pengetahuan luas (ma’arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif (‘irfan/ma’rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).

Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: “Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli”).(lihat di
https://darulkhodir.wordpress.com/2011/11/09/apa-itu-ilmu-hudhuri-dan-ilmu-hushuli/)
Secara ontologi, ilmu (‘ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).

Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus ‘menyerang’ kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.

Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid’ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu ‘Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.

Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan (‘ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.

Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah1) berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.

AsSalyan :

1) Mukasyafah ini tidak selalu hanya berupa penyingkapan tabir untuk melihat alam batiniyah yang agung, tetapi bisa pula berarti penyingkapan alam para setan (sayathin) yang keji, termasuk rekayasa mereka. Penyingkapan ini sangat penting untuk para salik, supaya tidak mudah tergelincir ke dalam rekayasa para setan-musuh manusia itu 

 
Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri2). Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.

AsSalyan :

2) Pengendalian dan mawas diri ini akan tercapai dengan lebih sempurna dengan mukasyafah atau penyingkapan alam para setan (sayathin) yang keji, termasuk rekayasa mereka. Sebagian salik menyangka menyaksikan Tuhan, sedangkan mereka tidak sadar, hanyalah menyaksikan setan yang mengaku sebagai Tuhan. Tanpa peranan dan bimbingan Nabi Muhammad SAW, penyaksian batiniyah oleh salik akan  sangat mudah diarahkan ke arah kesesatan dan kemusyrikan. Sehingga penyaksian tertinggi yang masih bisa dibicarakan dan dituliskan adalah penyaksian dan bimbingan  Nabi Muhammad SAW. Selebihnya akan menimbulkan perdebatan dan fitnah, sebagaimana yang telah terjadi pada Mansyur Al Hallaj.

 

Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, “Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar.” 3) Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, “Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki.” Selanjutnya, ia menambahkan, “Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah.”
AsSalyan :

3) Kalimat ” Allah akan membisikkan kepadanya…” adalah kalimat hakikat. Sebenarnya ada proses sebab-akibat dari ”Allah membisikkan”. Sebagaimana seorang nabi menerima wahyu, pada umumnya, melalui malaikat. Untuk beberapa kasus Alloh menghendaki seorang nabi menerima ”bisikan” langsung dari Alloh. Misal, Nabi Muhammad SAW menerima perintah sholat wajib lima waktu, langsung dari Alloh. Tetapi seorang wali Alloh, pada umumnya menerima ”bisikan” dari ruh yang suci dan mulia. Ruh paling suci dan mulia adalah ruh Nabi Muhammad SAW.

Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho’ berkomentar: “Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah.” Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.

Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas’alu ahl al-dzikr inkuntum la ta’lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.

Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151).

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/146984/Epistemologi_Makrifat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: