Ilmu Nabi Khodir a.s dan Ilmu Nabi Musa a.s

Republika, Jumat, 05 Agustus 2011

Apa Itu Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli?

Oleh  Prof Dr Nasaruddin Umar

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Ketika Nabi Musa baru saja menaklukkan Fir’aun, salah seorang sahabatnya bertanya kepadanya, “Masih adakah orang yang lebih hebat dari Anda?” Jawaban Nabi Musa saat itu seolah-olah menafikan kehebatan orang lain selain dirinya.  Seketika itu juga Allah SWT memerintahkan Musa untuk segera belajar kepada seseorang. Nabi Musa pun mencari guru, “Lalu, ia bertemu seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS al-Kahfi [18] ayat 65). Alangkah kagetnya Nabi Musa sebab orang yang akan menjadi gurunya itu adalah  seorang yang sama sekali tidak pernah populer dan penampilannyapun sederhana, yang kemudian diketahui bernama Khidir. Lebih mengagetkan lagi ketika sang guru memberikan syarat kepadanya sebagai seorang murid, “…Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku menerangkan kepadamu.” (QS al-Kahfi [18] ayat 70).  Khidir menyangsikan kemampuan dan kesabaran Musa untuk menjadi muridnya, tetapi Musa memberi jaminan untuk mengikuti syarat-syarat itu.  Alhasil, proses belajar-mengajar dimulai dan tidak dilakukan di dalam ruang bangunan, tetapi ia diajak berkeliling naik turun gunung, menyeberang laut, bertadabur alam, seakan-akan sang guru memperkenalkan laboratorium terbuka yang beratapkan langit. Ketika keduanya melewati pantai,  sang guru tiba-tiba membocorkan satu persatu perahu-perahu nelayan. Musa kaget dan menanyakan perbuatan gurunya dengan mengatakan, bukankah ini satu-satunya sumber utama mata pencaharian penduduk di desa miskin ini. Lalu, sang guru mengingatkan komitmen awalnya agar tidak banyak berinterupsi. Ketika perjalanan dilanjutkan, sang guru menjumpai kerumunan anak-anak kecil sedang bermain, tiba-tiba salah seorang di antaranya langsung di-bunuhnya.

Musa kembali kaget luar biasa dan mempertanyakan tindakan gurunya, mengapa anak yang tak berdosa tega dibunuhnya. Sang guru kembali mengingatkan komitmen awalnya. Perjalanan dilanjutkan, ketika keduanya menjumpai reruntuhan bangunan tua yang tak berpenghuni, sang guru menghabiskan waktu berhari-hari untuk memugamya.

Setelah dinding bangunan ditegakkan, sang murid lega mungkin di sinilah ia akan diberi pelajaran. Alangkah kagetnya Musa ketika sang guru mengajaknya untuk meninggalkan bangunan itu. Pikiran Musa semakin curiga, apakah orang yang selama ini diikuti betul-betul seorang guru atau seorang yang tidak normal.

Kejadian-kejadian yang dilakukan gurunya betul-betul tidak masuk dalam pikiran Musa, maka pada peristiwa ketiga ini Musa nekat kembali mempertanyakan keabsahan perbuatan gurunya. Akhirnya, Khidir menilai Musa belum siap untuk menjadi muridnya.

Menjelang perpisahan antara guru dan murid, sang guru memberikan penjelasan terhadap kejadian-kejadian itu.

Pertama, perahu nelayan itu dilubangi karena sebentar lagi raja tiran negeri itu bersama para pasukannya akan melakukan kenduri di pantai. Perahu-perahu laik pakai dipantai itu akan dirampas. Para pemilik perahu bocor merasa berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada mereka. Perahu-perahu mereka pun akan lenyap seandainya masih dalam kondisi baik.

Kedua, anak itu akan menjadi racun masyarakat di kemudian hari, termasuk mengkafirkan kedua orang tuanya yang beriman, sementara kedua orang tuanya masih akan dikaruniai anak-anak lain yang saleh.

Ketiga, di bawah reruntuhan bangunan tua itu tersimpan harta karun yang besar nilainya, sementara ahli waris harta itu masih kecil. Dikhawatirkan jika bangunan tua itu ambruk, maka harta karun akan tersingkap dan jatuh di tangan orang lain. Bangunan itu akan runtuh ketika sang ahli waris sudah dewasa. Nabi Musa kembali tercengang untuk kesekian kalinya mendengarkan penjelasan gurunya.

Kalangan ilmuwan menganggap Musa sebagai representasi dari ilmu hushuli dan Khidir sebagai representasi dari ilmu hudhuri. Ilmu hushuli ialah ilmu yang memisahkan subjek ilmu pengetahuan (‘alim) dan objek ilmu pengetahuan (ma’lum). Kehebatan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk menguasai objek-objek di luar dirinya. Semakin ahli seseorang di dalam menemukan suatu karya dalam suatu bidang maka semakin hebat pula orang itu.

Para ilmuwan yang banyak tergabung di dalam aliran hushuli umumnya dari para filsuf, fukaha, dan teolog. Dengan bangga, di antara mereka mengklaim dirinyalah sebagai ilmuwan sejati. Kelompok ini lebih terkesan antroposentris karena cenderung menafikkan objek-objek di luar diri manusia untuk mengatur dirinya. Dengan kata lain, yang paling tahu apa, siapa, dan bagaimana kebutuhan dan kehendak manusia ialah dirinya sendiri, bukan unsur asing, apalagi unsur gaib.

Sedangkan ilmu hudhuri ialah ilmu yang tidak memisahkan antara objek dan subjek. Manusia sebagai subyek sudah dilengkapi dengan alat-alat kecerdasan internal yang memungkinkan dirinya untuk mengakses sesuatu yang amat dalam di dalam dirinya sendiri. Aliran ini berkeyakinan segala sesuatu dapat diketahui melalui kemampuan pendalaman batin.

Hadis yang sering dikemukakan kelompok ini ialah Man arafa nafsahu fa qad arafa rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya maka ia akan diberi kesanggupan untuk memahami diriNya).

Tuhan Yang Maha Rumit untuk diketahui dapat dipahami melalui metode hudhuri. Kelompok yang lebih dekat dengan aliran ini ialah para sufi.

Metode pendekatan pertama membayangkan Tuhan itu jauh (transenden) sehingga perlu upaya pendekatan diri secara ekstra. Sedangkan metode pendekatan kedua membayangkan Tuhan lebih dekat {immanen) seperti istilah Alquran, “Kami lebih dekat dari pada urat tenggorokan” . Istilah yang sering muncul di dalam metode hushuli ialah pintar-bodoh (alim-jahul).

Orang yang rajin belajar, mengobservasi, dan meneliti pasti bisa menguasai ilmu pengetahuan (‘alim). Kelompok pertama mengedepankan proses pendidikan yang lebih formal (ta’lim) seperti selama ini kita lakukan terhadap anak-anak kita.

Sedangkan istilah yang lebih familiar untuk metode kedua ialah ingat-lupa (dzikr-ghafil) dan tersingkap-tertutup (mukasyafah-mahjub). Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan standar, hanya mereka terkontaminasi lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali).

Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini antara lain fasalu ahl al-dzikr inkuntum la ta’lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu), ‘Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikrii (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tadzki-rah, tashawwuf, tashwir, tadzkiyah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir

Intergrasi kedua metode keilmuan di atas sangat dibutuhkan jika kita menghendaki terbentuknya watak, karakter, dan kepribadian umat dan bangsa yang utuh.

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/140599/Apa_Itu_Ilmu_Hudhuri_dan_Ilmu_Hushuli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: