Sistem Politik-Ekonomi Berbasis Riba, Keserakahan dan Ketidakadilan, Mustahil Bisa Menjadi Solusi Dunia

Sistem ekonomi yang menguasai dunia saat ini adalah sistem ekonomi berbasis riba, dengan para rentenir yang menguasai ekonominya, ditambah dengan sistem ekonomi moneter yang berdasarkan hal-hal semu (uang kertas/fiat money-atau kertas-benda tak nernilai tetapi ditetapkan nilainya yang tinggi)

Sistem ekonomi ini hanya menguntungkan kreditur/rentenir  yang memeras tenaga dan hasil kerja para pekerja (bagaikan sapi perah) sebagai debiturnya. Begitu para pekerja/debiturnya mulai sedikit menghasilkan perahan, maka mulailah para rentenir merasa khawatir. Para rentenir berusaha menambah kreditnya (hutang)  dengan harapan pekerja-sapi perah itu tetap hidup dan menghasilkan perahan bagi rentenir.

Sistem politik dan ekonomi yang tidak bersandar pada keikhlasan kepada Alloh SWT, seperti sistem riba, fiat money, ketidakadilan, penjajahan (terselubung ataupun nyata), keserakahan, penghancuran kemerdekaan, dan lain-lain yang sejenis tidak akan pernah menjadi solusi bagi kesejahteran ummat manusia. Sistem politik ekonomi ini bisa dikatakan dalam istilah yang lebih keras adalah sistem politik (penyambut kemunculan) Dajjal.

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda,

“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti), harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka:

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 159)”(HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155).

Dari An Nawwas bin Sam’an berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebut Dajjal, beliau melirihkan suara dan mengeraskannya hingga kami mengiranya berada di sekelompok pohon kurma.

Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran  seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga. (HR. Muslim no. 2937)

Dari dua hadis di atas, bisa disimpulkan bahwa, Dajjal dengan sistem-sistemnya harus dihancurkan dulu oleh pemimpin-penguasa dunia yang adil, setelah itu  sistem yang berkeadilan dan penuh keikhlasan dibangun untuk menggantikannya. Dengan itulah dunia akan penuh dengan harta yang melimpah dan dengan keberkahan dari Alloh SWT.

Sistem Dajjal yang harus dihancurkan terlebih dahulu disimbolkan dengan :

  1. Salib, sebuah simbol kemusyrikan, penghalang kepada jalan kebenaran yang lurus.
  2. Babi, sebuah simbol keserakahan.
  3. Upeti, sebuah simbol penjajahan manusia atas manusia yang lain.

 

Artikel di bawah ini menggambarkan betapa sulitnya mengatasi krisis utang berbasis riba itu. Bantuan dari para rentenir bukan bantuan yang tulus, tetapi hanyalah niat buruk berkedok bantuan yang sebenarnya berniat menguasai, menjajah dan memeras pihak yang lemah.

 

 

 

Republika, Senin, 07 November 2011,

Susahnya Mengatasi Krisis Utang Eropa

Oleh Iman Sugema

Semakin hari kita mengamati perkembangan krisis utang di zona euro, menjadi semakin yakin kita bahwa krisis tersebut belum akan usai untuk beberapa saat ke depan. Krisis utang di Yunani sudah hampir dua tahun berlangsung dan sampai saat ini masih belum juga mampu ditanggulangi.

Memang, ada sejumlah kemajuan, tetapi percepatan skala masalah tetap membuat kemajuan itu seakan tidak berarti. Belum lagi ada tiga negara lainnya yang juga terbelit utang paling serius, yakni Portugal, Irlandia, dan Italia.

Kalau dijumlahkan total utang dari empat negara yang sedang dilanda masalah ini adalah sekitar dua triliun dolar AS. Siapa yang sanggup menyediakan dana talangan kepada mereka?

Letak permasalahan utama sekarang ini justru ada pada European Financial Stabilization Fund atau EFSF. Skema ini sudah memiliki cacat sejak lahir.

Ide dasar dari EFSF adalah sebagai berikut:

Negara yang telah mencapai tingkat utang berbahaya selalu menghadapi tingginya tekanan pasar yang semakin khawatir dengan risiko terjadinya gagal bayar. Surat utang yang diterbitkan akan diturunkan peringkatnya sehingga kemudian pasar menginginkan imbal hasil lebih tinggi. Naiknya suku bunga justru akan mempercepat terjadinya gagal bayar.

Menerbitkan surat utang baru untuk menutupi defisit anggaran dan membayar utang lama jelas menjadi semakin mahal. Karena itu, negara yang kesulitan menerbitkan surat utang di pasar komersial dapat meminta pinjaman dari EFSF dengan suku bunga enam basis poin (0,06 persen) di atas suku bunga obligasi yang diterbitkan oleh EFSF.

Karena obligasi EFSF ini dijamin oleh negara-negara yang lebih ‘sehat’, maka suku bunganya akan relatif lebih rendah. EFSF bukanlah dana segar yang sudah tersedia sejak awal pendiriannya, sehingga setiap ada permintaan bail out dari sebuah negara ataupun bank maka kemudian harus dicarikan dananya melalui penerbitan obligasi di pasar komersial.

Ada perbedaan yang nyata antara dana segar yang sudah tersedia untuk bail out dan dana yang masih harus dicarikan dari pasar komersial. Ketersediaan dana bail out menjadi sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan dan tingkat kepercayaan pasar untuk menyerap obligasi yang diterbitkan.

Sejauh ini memang pasar masih merespons secara positif penerbitan obligasi EFSF. Tetapi, di masa yang akan datang, apakah kepercayaan ini akan bertahan masih menjadi tanda tanya besar.

Persoalannya adalah ketika semakin banyak negara atau bank yang membutuhkan talangan, maka mandat yang dibebankan kepada EFSF menjadi semakin besar. Bagaimana kalau sebuah negara sebesar Italia yang memiliki utang 1.300 miliar dolar AS harus ditalangi secara total?

Dengan kebutuhan dana yang semakin besar, maka hampir bisa dipastikan pasar akan menuntut tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Selain itu, sementara negara-negara yang lebih sehat juga membutuhkan dana dari pasar, maka pasar menjadi crowded. Padahal, skema yang paling ideal adalah mengeluarkan negara-negara yang bermasalah dari mekanisme pasar atau mencari dana secara off the market.

Dana talangan EFSF merupakan komitmen yang pencairannya bertahap disesuaikan dengan progres negara debitur dalam memenuhi conditionality yang disepakati sejak awal. Hal ini tentunya tidak menutup kemungkinan suatu ketika debitur mengumumkan gagal bayar karena berbagai conditionality sangat sulit untuk dipenuhi akibat adanya hambatan teknis maupun politis.

Program pengetatan anggaran dan privatisasi biasanya mengundang protes yang kuat dari masyarakat dan oposisi. Protes dan tensi sosial yang terjadi secara luas di Yunani, Portugal, Irlandia, Inggris, dan Italia menunjukkan bahwa berbagai program pengetatan lebih sering dianggap merugikan secara sosial. Adalah tidak mengherankan bila Perdana Menteri Yunani merasa takut kehilangan jabatan ketika dipaksa mengadopsi program pengetatan anggaran.

Persyaratan pencairan EFSF juga merupakan copy-paste dari program pengetatan buatan IMF yang pernah dipaksakan kepada Indonesia dan negara-negara yang menjadi pasien IMF. Maklum, dalam setiap skema EFSF selalu melibatkan IMF sebagai ‘partner’ pemberi talangan. Padahal, IMF sudah kehilangan kredibilitasnya semenjak gagal menangani negara-negara Asia.

Sebagaimana biasa, program di Eropa juga diberi tagline reform supaya kelihatan memberi janji perbaikan kepada negara yang melaksanakannya. Persoalannya, reformasi tersebut tampaknya akan sulit membawa hasil di Eropa. Kalau Eropa ingin tumbuh dengan cepat maka ia harus memenangkan pertarungan dagang dengan negara lainnya di seluruh dunia.

Sejauh ini, hanya Jerman yang secara konsisten selalu menang. Terlalu banyak negara yang tidak lagi memiliki daya saing.

Mengubah pecundang menjadi pemenang tidak bisa ditempuh dengan melakukan reformasi ala IMF. Resepnya sudah terlalu banyak gagal.

Sekali lagi, tampaknya kita tak boleh terlalu berharap bahwa krisis di Eropa akan segera usai. Minimal yang kita harapkan adalah agar badai tersebut tidak terlalu berdampak terhadap Indonesia. Karena itu, pemerintah dan swasta harus menyiapkan langkah antisipatif.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: