Inilah Berita-Artikel Yang Bisa Dipercaya : Kenangan Bersama Muammar Qaddafy

Sebagian berita mengenai Libya dan Muamar Qaddafy (almarhum) yang sampai kepublik adalah berita yang besumber dari kantor berita barat, seperti AP, AFP, Reuters, BBC dsb. Biasanya berita dari barat mengenai Muamar Qaddafy (almarhum) sangat negatif, tidak pernah diberitakan sisi positifnya.

Contoh kalimat berita di Koran Republika Jumat, 21 Oktober 2011 yang bersumber dari BBC : “Berakhir sudah petualangan mantan pemimpin Libya Muamar Qadafi”. Seorang pemimpin negara yang memperjuangkan dan mempertahankan negaranya dari penjarahan asing dikatakan “petualang”.

 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (TQS Al Hujuraat/49:6).

 

Alloh SWT memperingatkan kepada supaya memeriksa dengan teliti berita dari orang fasik, apalagi berita dari orang kafir,  lebih-lebih berita dari kaum yg sesat dan dimurkainya. Sikap dasar mukmin bila mendengar berita dari barat, atau dari kaum kafir, seharusnya adalah jangan dipercaya dulu sebelum ada bukti yang membenarkannya.

 

Tetapi ternyata Koran Republika selama tiga hari berturut-turut memuat artikel yang mengesankan lebih positif kepada pribadi Almarhum Muamar Qaddafy .

Artikel ini berdasarkan wawancara dengan Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah  Buya Ahmad Syafi’i Maarif dan Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi

 

Kita mengetahui bahwa beliau-beliau itu bukan pribadi yang suka berbohong, sehingga bisa dikatakan berita ini bisa dipercaya.

 

 

Sabtu, 22 Oktober 2011 pukul 08:24:00

Imam Shalat Pengetuk Kalbu

Kenangan Bersama Qadafi (Bagian 1)

Oleh Mohammad Akbar

Senja baru saja menyelimuti langit Tripoli, Libya. Di satu sudut kota, di sebuah lapangan terbuka, ribuan massa tumpah ruah. Mereka semua berdiri membentuk barisan berbanjar. Rupanya, ritual shalat Maghrib sedang dilakukan di areal terbuka.

Sebagian besar lelaki menangis. Air mata mereka mengalir bukan karena sedih meratap, tapi karena mendengar lantunan ayat Alquran yang dibaca penuh khidmat. Ustaz Muhammad Arifin Ilham mengingat suara imam itu berintonasi rendah, namun seperti mampu menerabas relung hati yang mendengarnya.

Ada semacam ketukan yang terasa dalam setiap kali sang imam membacakan ayat suci Alquran itu. Lantunannya juga tak tergesa-gesa. Bagi Arifin, suara bacaan imam shalat bagaikan seorang manusia senja yang sedang mengajak dialog anaknya dengan penuh kasih sayang.

Sang imam adalah penguasa Libya Muamar Qadafi, memimpin shalat Maghrib bagi ribuan orang di lapangan Tripoli. Peristiwa itu terjadi sekitar Februari 2011, menjelang gonjang-ganjing politik yang membakar negeri itu dan akhirnya meruntuhkan kekuasaan rezim Qadafi yang telah berkuasa selama 42 tahun.

Kenangan itu masih saja membekas dalam ingatan pemimpin Majelis Zikir Az Zikra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, itu. ”Saya sampai ikut menangis juga,” kenang Arifin ketika berbincang dengan Republika, Jumat (21/10) siang. Dia mengaku tidak hanya sendirian menangis karena dari barisan shaf-shaf jamaah di dekatnya terdengar pula isakan tangis.

Saat itu shalat Maghrib dijamak (digabung) dengan shalat Isya. Mungkin itu adalah shalat terpanjang yang pernah dialaminya karena menghabiskan waktu dari seusai mentari tenggelam sampai waktu Isya tiba. ”Arifin menangis bahagia karena melihat ada pemimpin dunia yang bisa memimpin shalat dengan bacaan yang sepanjang ini. Suaranya juga seperti orang berdialog, pendek-pendek.”

Ritual itu menjadi lama, kata pemimpin Majelis Zikir Az Zikra ini, karena dalam satu rakaat Qadafi mampu melantunkan ayat Alquran hampir satu juz. ”Kalau tak salah pernah dalam satu rakaat itu sampai 140 ayat dari surah al-Baqarah,” ujar Arifin.

Arifin tidak hanya sekali saja mendapat kesempatan menjadi makmum dengan imam shalatnya adalah Qadafi. Kali pertama Arifin menjadi makmum shalat dengan imam Qadafi terjadi sekitar tiga tahun silam, saat kali kedua menyambangi Libya. Sebelum shalat dimulai, Qadafi biasanya melakukan proses pengislaman. Saat di Tripoli, ada 456 mualaf yang membaca syahadat, kebanyakan berasal dari suku-suku di Afrika.

Arifin mengaku sudah tiga kali diundang ke Libya. Kunjungan pertamanya terjadi sekitar 2005 walau tak sempat bertemu Qadafi. Namun, kenangan shalat Maghrib berjamaah di Tripoli itu memang menjadi yang terakhir. Sang imam yang dianggap rakyatnya sebagai tiran itu telah tewas setelah dua bulan bertahan menghadapi gempuran pasukan oposisi revolusioner di kota kelahirannya, Sirte, Kamis (20/10).

Meski sudah tiga kali berkunjung, namun Arifin mengaku tidak pernah berbicara empat mata dengan Qadafi. Pertemuannya dengan lelaki gurun itu hanya selintas saja. Walau hanya bertemu sekelebatan saja, tapi Arifin tetap menyimpan kesan mendalam.

Selain soal imam shalat, Arifin juga melihat sosok Qadafi jauh dari kesan arogan. Ia menceritakan bagaimana pengawalan terhadap Qadafi jauh dari umumnya pengawalan pejabat di Indonesia. Meski tak terlalu ingat berapa jumlah pastinya, ia menaksir jumlah pengawal Qadafi setiap kali datang ke sebuah acara kurang dari 10 orang.

Para pengawalnya juga murah senyum, tidak bersikap kaku layaknya pengawal pejabat di negeri ini. ”Yang pasti tidak seperti di negara kita kalau presiden mau datang. (Pengawalan) Qadafi tidak ketat. Tidak ada juga metal detector,” ujar Arifin. ”Pengawalannya tidak rumit. Kalau kita mau bunuh, (sepertinya) bisa langsung.”

Ia memang sempat menyinggung perihal pengawal Qadafi yang berasal dari perempuan. Namun, Arifin menyangkal jika Qadafi adalah penggemar pengawal perempuan cantik. ”Mungkin mata Arifin yang salah. Tapi, kayaknya sih nggak cantik, biasa-biasa saja. Badannya malah kekar-kekar. Mereka juga nggak pegang senjata.”

Selain pengawalan yang begitu terbuka, Arifin juga melihat sosok Qadafi itu terbilang unik. Dari mana sisi uniknya? Salah satunya adalah pakaian berlapis yang berwarna cokelat kekuningan yang selalu dilihatnya dalam dua kali pertemuan.

Lantas sebagai sosok pemimpin, kata Arifin, Qadafi juga menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap para musuh umat Islam. Ia menyebut sikap Qadafi terhadap Amerika Serikat dan Yahudi yang mengabaikan hak bangsa Palestina ditunjukkan dari pidatonya dalam bahasa Arab.

”Dia bisa berbicara lembut tetapi juga bisa begitu berapi-api. Biasanya kalau sudah berapi-api, dia bicara soal Yahudi dan Amerika yang membombardir Palestina. Itu yang membuat dia marah sekali.”

Arifin juga mengakui, Qadafi tergolong sosok yang dermawan. Dua kali datang ke Libya, dua kali pula ia melihat acara serah terima kunci pembangunan Islamic Centre maupun masjid di berbagai penjuru dunia. Salah satu masjid sumbangan Qadafi di Tanah Air adalah Masjid Muammar Qaddafy yang dibangun di atas tanah seluas lima hektare di Sentul, Bogor. Semua biaya pembangunan yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp 40 miliar berasal dari Libya.

Awalnya, masjid seluas 1.200 meter persegi itu hendak diberi nama Masjid Az-Zikra. Namun, atas inisiatif Arifin, masjid itu akhirnya diberi nama Muammar Qaddafy. ”Jadi, nama masjid itu bukan permintaan beliau dan juga bukan permintaan Lembaga Dakwah Libya. Ini sebagai ucapan terima kasih atas jasa beliau,” katanya.

Terlepas dari kesan positif yang pernah terpatri di hati, Arifin tetap tidak mau mengultuskan sosok Qadafi. ‘‘Tentunya setiap orang itu tak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Tapi, inilah kesan yang Arifin tangkap dari beliau. Semoga beliau bisa diterima dengan baik di sisi-Nya,” kata Arifin memanfaatkan harapan. n ed: rahmad budi harto

Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/0/146032/Imam_Shalat_Pengetuk_Kalbu

 

————————————————————————————————————

 

Republika, Senin, 24 Oktober 2011

Harus Sabar Bertemu Sang Kolonel

Esthi Maharani

Kenangan Bersama Qadafi (Bagian 2)

Untuk bertemu dengan sosok Muamar Qadafi ternyata tidak mudah. Layaknya pimpinan berbagai negara, ada prosedur dan pengamanan ketat yang diberlakukan. Tetapi, hal yang paling perlu disiapkan adalah waktu.

Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif menceritakan beberapa pertemuannya dengan tokoh yang berkuasa di Libya selama kurang lebih 40 tahun ini. Pertemuan pertama terjadi pada 1999. Saat itu, Syafi’i mendampingi Amien Rais yang menjabat ketua MPR.

“Memang kami bertemu, tapi itu harus benar-benar ekstrasabar karena waktu untuk bertemu susah ditentukan,” kata Syafi’i kepada Republika, akhir pekan lalu.

Pernah suatu kali, pertemuan dengan ‘Sang Kolonel’ sudah diagendakan pukul 08.00 malam waktu setempat. Setelan jas lengkap sudah dipakai. Namun, tiba-tiba pertemuan dibatalkan. Harus menunggu lagi dan lagi. Bahkan, seringkali tidak ada kejelasan. Sambil menunggu waktu pertemuan disusun lagi, tak jarang tamu-tamu kehormatan, termasuk rombongan dari Indonesia berjalan-jalan dulu di Libya.

Sebelum bertatapan langsung dengan pimpinan yang naik tampuk kekuasaan dengan menyingkirkan Raja Idris ini, pun mesti melalui pemeriksaan ketat. Pengamanannya berlapis-lapis. “Banyak yang aneh dari pimpinan Libya ini,” kesan Syafi’i saat pertama kali bertemu.

Qadafi memiliki nama lengkap Muamar Abu Minyar al-Qadafi dan memimpin Libya sejak 1969. Jabatan yang disandangnya bukan merupakan jabatan resmi, tetapi ia menyandang ”Guide of the First of September Great Revolution of the Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya” atau ”Brotherly Leader and Guide of the Revolution”.

Unik dan lucu adalah dua kata yang sering diungkapkan Syafi’i begitu ditanya mengenai sosok Qadafi setelah beberapa kali bertemu dengannya. Penilaiannya itu disimpulkan dari cara Qadafi berperilaku sehari-hari, mulai dari cara berpakaian hingga pemikiran. Sang pemimpin Libya itu selalu menganggap dirinya intelek, meski temperamennya sering kali mengejutkan dan membuat orang bungkam.

Menurut Syafi’i, cara berpakaian Qadafi cukup nyentrik dan khas untuk ukuran pimpinan negara Islam. Para pengamat fesyen, menyebut pakaian yang dikenakan Qadafi diadopsi dari pakaian suku-suku di Afrika. Belum lagi, ia sangat menyenangi tinggal di dalam tenda. Tapi, tenda miliknya bukan sembarang tenda, melainkan tenda ajaib berwarna-warni yang sangat mewah.

Konon, tenda yang dilengkapi dengan hiasan mewah itu selalu dibawanya setiap berkunjung ke mancanegara. Keunikan lain yang dikatakan Syafi’i adalah pengawal-pengawal wanita yang selalu ada di samping Qadafi.

Setidaknya, ia memiliki 40 pengawal wanita yang kerap disebut masih perawan, memiliki keahlian bela diri, menembak, dan ditempa di akademi khusus. Qadafi sendirilah yang memilih mereka untuk berada di samping dan melindunginya. Para perempuan ini direkrut dari negara Ukraina, Kuba, dan Afrika.

Sedangkan dari segi pemikiran, Syafi’i mengaku sedih dan geli. Terlebih lagi saat pertemuan dengan Qadafi itu membahas pemikiran Islam, terutama Muhammadiyah di Indonesia.

“Saya berdialog dengan dia dan apa yang saya sampaikan dipahami dengan baik. Dia mengapresiasi perkembangan Islam di Indonesia,” tuturnya.

Tak ada sikap resistan atau percakapan yang alot antara para pimpinan Islam dari Indonesia dan Qadafi waktu itu. Qadafi memahami konsep Islam secara utuh.

Yang disayangkannya, implementasi dari nilai-nilai Islam tak diterapkan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam pengelolaan ketatanegaraan di Libya. Menurut dia, Qadafi lebih memilih menyimpan uangnya dan hidup lebih ‘sederhana’ dibandingkan harus menyejahterakan dan mengikuti keinginan rakyatnya.
(Catatan AsSalyan: kalau keinginan rakyat yg berdasarkan hawa-nafsu tentunya tidak perlu diikuti. Keinginan rakyat yg berdasarkan hawa-nafsu itu sering disebabkan oleh tayangan-tayangan media massa dari barat).

“Saya sudah memprediksikan dan mengatakan rezim Qadafi akan segera berakhir,” ujar Syafi’i. Seharusnya, Qadafi bisa melihat keinginan rakyat atas dirinya. Syafi’i menyatakan pemimpin jangan memaksakan untuk terus berkuasa, padahal rakyat sudah menolak secara terang-terangan.

Bukan hanya itu, pemikiran uniknya tergambar saat Qadafi mendorong warga negara lain untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintahan negaranya.

Qadafi memberikan bantuan uang untuk melakukan tindakan revolusioner, termasuk bantuan pendidikan militer. ed: budi raharjo

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/146132/Harus_Sabar_Bertemu_Sang_Kolonel

——————————————————————–

Republika, Rabu, 26 Oktober 2011

Nyentrik dan Hormat pada Ulama

Nashih Nasrullah

Kenangan Bersama Qadafi (Habis)

Sudah sepekan mantan pemimpin Libya Muamar Qadafi menemui ajalnya di tangan milisi revolusioner Dewan Transisi Nasional (NTC). Kematiannya hingga kini masih menyisakan pertanyaan karena Qadafi ditangkap dalam kondisi hidup-hidup di kota kelahirannya, Sirte.

Tetapi, bayangan kesederhanaan tokoh yang memimpin Libya sejak 1969 ini masih membekas di benak Sekretaris Jenderal Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim se-Dunia (ICIS) Hasyim Muzadi. Sosok Qadafi di mata pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, itu tidak terbius dengan gemerlap materi dan kekayaan yang dimilikinya.

Qadafi, kata Hasyim, masih sering tidur di bawah tenda yang didirikan tidak permanen. Tempat itu ia pilih ketimbang istananya yang juga jauh dari kesan mewah. ”Ia pribadi sederhana,” kata Hasyim kepada Republika, Selasa (25/10).

Pimpinan Pondok Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, ini pernah bertatap muka dengan Qadafi dan diterima hangat di kantornya yang terletak di Ibu Kota Tripoli. Pertemuan itu berlangsung dua kali pada 2005 dan 2006. Dalam pertemuan itu, Hasyim dan Qadafi membicarakan perkembangan dunia, terutama masalah yang dihadapi umat Islam.

Saat bertemu dengannya, tak tertangkap kesan Qadafi yang kerap digambarkan media Barat selama ini sebagai pribadi yang keras dan sulit diajak bicara. Pada pertemuan kedua bahkan perbincangan berjalan begitu mengalir. ”Kami saling memberikan pandangan soal solusi masalah yang dihadapi dunia Islam,” ungkapnya mengenang kembali pertemuan tersebut.

Kesan singkat yang dilihat Hasyim, Qadafi adalah sosok yang cakap dan menguasai ilmu agama. Ini tergambar pula dari ratusan kitab keagamaan klasik ataupun kontemporer yang tersimpan di rak buku di ruang kerja Qadafi. Menurut Hasyim, Qadafi memang berwatak keras, tetapi ia luluh di hadapan para ulama. ”Ia tetap tawaduk,” ujarnya.

Mantan ketua umum PBNU ini juga mengingat Qadafi sebagai sosok yang nyentrik. Ia lawan arogansi dan hegemoni Barat. Namun pada saat bersamaan, mantan pemimpin tertinggi Libya itu membiarkan anaknya berdagang dengan pebisnis Barat. Ia membedakan dirinya dengan Barat dalam tiga hal, yaitu budaya, agama, dan politik.

Bagi Qadafi, nyentrik seakan telah menjadi bagian hidup sehari-harinya. Hasyim menceritakan kisah batalnya kedatangan pendiri Islamic Call Society itu ke Indonesia beberapa tahun silam. Sempat ketika masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Hasyim mengundangnya datang ke Tanah Air.

Sang Kolonel mengajukan dua syarat, yakni seluruh ormas Islam diundang dan meminta kesempatan berkhotbah di Masjid Istiqlal. ”Permintaan itu sulit dipenuhi, tapi juga memperlihatkan bahwa ia memang nyentrik,” kata Hasyim.

Menurut Hasyim, Qadafi mungkin banyak melakukan kesalahan. Tetapi, ia tidak seburuk citra yang dilekatkan media Barat.

Wasiat Qadafi

Sebelum menemui ajalnya, Qadafi rupanya telah menulis surat wasiat yang dititipkan kepada kerabatnya di Sirte. Dalam surat wasiat yang tidak disebut tanggal pembuatannya itu, ia mengungkapkan keinginan terakhirnya kepada rakyat Libya. Pria yang menguasai Libya selama 42 tahun ini menjelaskan alasan tindakannya selama ini dilakukan semata-mata untuk melindungi negaranya dari cengkeraman negara-negara Barat.

Berikut isi surat wasiat Qadafi, seperti yang ditulis BBC. ”Ini adalah kehendakku. Aku, Muamar bin Muhammad bin Abdussalam bin Humaid bin Abu Manyar bin Humaid bin Nayil al Fuhsi Qadafi, bersumpah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi Allah. Aku berjanji bahwa aku akan mati sebagai Muslim.”

“Jika harus dibunuh, aku ingin dikubur, sesuai dengan ritual Islam, dalam pakaian yang kupakai pada saat kematianku dan tubuh yang tidak dimandikan, di pemakaman di Sirte, di samping keluarga dan kerabatku. Aku ingin keluargaku, khususnya perempuan dan anak-anak, diperlakukan dengan baik setelah kematianku.”

“Rakyat Libya harus melindungi identitas, prestasi, sejarah, dan citra terhormat leluhur dan pahlawannya. Rakyat Libya jangan menyia-nyiakan pengorbanan dari orang-orang bebas dan terbaik. Saya meminta para pendukung saya untuk melanjutkan perlawanan dan memerangi setiap agresor asing terhadap Libya, hari ini, besok, dan selalu.”

“Biarkan orang-orang di dunia mengetahui bahwa kita bisa saja menawar lebih dan menjual kepada negara asing sebagai imbalan untuk kehidupan pribadi yang aman dan stabil. Kami menerima banyak tawaran itu. Tetapi, kami memilih untuk berada di garda depan konfrontasi sebagai simbol tanggung jawab dan kehormatan.”

“Bahkan, jika kami tidak segera memperoleh kemenangan, kami akan memberikan pelajaran kepada generasi mendatang bahwa memilih untuk melindungi bangsa adalah suatu kehormatan. Sedangkan menjualnya kepada asing adalah pengkhianatan terbesar dan sejarah akan mengingat selamanya meskipun akan ada upaya untuk memutarbalikkan kenyataan kepada kalian.”  ditto pappilanda ed: budi raharjo

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/14/146299/Nyentrik_dan_Hormat_pada_Ulama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: