Contoh Kaum Yang Dimurkai Alloh, Membantu Kaum Munafik

Republika, Rabu, 12 Oktober 2011
Jakarta Punya ’Kudeta’ Pinochet Punya Junta
Oleh Selamat Ginting

Diduga sangat kuat bahwa kedua peristiwa, baik di Santiago, Cile, maupun Jakarta, Indonesia, samasama didukung oleh kekuatan intelijen Amerika Serikat, CIA.

Presiden Cile Salvador Allende terkejut ketika dari balik jendela istana ia melihat puluhan tank mengepung Istana Presiden. Sebuah peristiwa berdarah yang dinamakan Gerakan 29 Juni 1973 itu menjadi awal jatuhnya kekuasaan sang presiden. Gerakan yang dipimpin Komandan Resimen Tank Kolonel Kavaleri Roberto Souper tak ayal menjadi langkah awal gerakan kudeta militer.

Namun, kudeta ini dapat digagalkan. Tetapi, sejumlah petinggi militer dicopot akibat peristiwa ini. Presiden Allende mengangkat Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Prats merangkap sebagai Menteri Pertahanan pada 9 Agustus tahun itu. Pilihan ini tidak disukai sejumlah petinggi militer sehingga Jenderal Prats hanya menjabat selama 13 hari. Prats dianggap tidak becus mengendalikan militer.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Tidak hanya jabatan Menteri Pertahanan yang dilepas dari Jenderal Prats. Ia juga kehilangan jabatan Panglima Angkatan Bersenjata Cile. Allende kemudian menunjuk Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Auguto Pinochet sebagai panglima angkatan bersenjata.

Suasana di Cile semakin kacau-balau pascaperistiwa kudeta yang gagal itu. Saat itu, unjuk rasa menjadi santapan sehari-hari. Mahkamah Agung secara resmi mengeluhkan ketidakmampuan pemerintah menegakkan hukum karena demonstrasi semakin tak terkendali.

Anggota parlemen dari kelompok kanan, seperti Demokrat Kristen dan Partai Nasional, meminta militer bertindak mengatasi kekacauan itu. Kekacauan itu memaksa Allende membuat dekrit presiden. Tetapi, dekrit itu ditentang parlemen dan dianggap melanggar undang-undang.

Demonstrasi yang didukung kekuatan politik serta operasi intelijen militer kemudian meminta Presiden Allende mundur dari jabatannya. Namun, Allende menolak dengan alasan ia terpilih melalui pemilihan umum yang demokratis pada 1970.

Saat instabilitas politik terjadi, tiba-tiba pada 11 September 1973 pesawat tempur Hawker Hunter menembaki Istana Presiden. Saat itu Presiden Allende tewas di dalam istana. Versi resmi, ia bunuh diri dengan senapan otomatis hadiah dari Pemimpin Kuba Fidel Castro. Namun, hingga kini peristiwa tersebut masih misterius, apakah Allende tewas bunuh diri atau ditembak.

Pertanyaan pentingnya, siapa di belakang aksi penembakan ke Istana dan membuat Presiden Allende tewas? Ternyata peristiwa 11 September 1973 satu rangkaian dengan peristiwa Gerakan 29 Juni 1973 yang dipimpin Kolonel Roberto Souper. Juga ada benang merahnya dengan pencopotan Jenderal Prats.

Semula ada empat pemimpin junta militer yang sudah bersepakat akan bergiliran menjadi presiden. Selain Jenderal Pinochet dari angkatan darat, ada Marsekal Gustavo Leigh Guzman dari angkatan udara, Laksamana Jose Toribio Merino Castro dari angkatan laut, dan Jenderal Polisi Cesar Mendoza Duran dari polisi nasional alias Gendarmerie.

Tapi, akhirnya diputuskan Jenderal Phinochet sebagai pemimpin junta. Dua hari kemudian, kongres dibubarkan. Stadion Nasional menjadi tahanan raksasa. Dalam tiga tahun, 130 ribu orang menjadi tawanan. Ribuan orang lenyap tak berbekas dan ribuan lagi disiksa.

Kasus kudeta yang dilakukan Jenderal Pinochet ini memiliki kemiripan dengan peristiwa yang terjadi di Jakarta pada 1965-1966. Sebelum kudeta terhadap Presiden Allende, beredar dokumen yang meresahkan tentang perencanaan pembunuhan beberapa jenderal dan komandan-komandan militer. Dikenal dengan istilah dokumen rencana ‘Z’. Beredar daftar perwira tinggi Angkatan Darat yang akan dibunuh kalangan tokoh buruh, politikus, dan elite militer Cile.

Beredar pula isu yang menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan politik dalam negeri. Di kalangan masyarakat, terutama serikat buruh militan dan jenderal-jenderal konservatif, mendapat kiriman kartu-kartu kecil. Mau tahu apa bunyi kalimatnya? “Jakarta Se Acerca”. Artinya, Jakarta Sudah Mendekat.

Diduga sangat kuat bahwa kedua peristiwa, baik di Santiago, Cile, mau pun Jakarta, Indonesia, sama-sama di dukung oleh kekuatan, Central Intelligence Agency (CIA) yang merupakan agen rahasia pemerintah Amerika Serikat. Baru-baru ini, sebuah dokumen operasi intelijen CIA 1964-1966 yang lengkap dari Amerika Serikat telah dibuka pada publik internasional. Dokumen tersebut antara lain berisi tentang kejatuhan Presiden Soekarno.

Perang Dingin
Dokumen itu membuktikan peristiwa tersebut terencana sangat matang dan canggih. Apalagi, Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno memainkan peranan penting dalam kancah Perang Dingin antara blok Barat yang dipimpin AS dan blok Timur yang terdiri atas negaranegara sosialis.

Kepemimpinan Indonesia terlihat dalam menggalang kekuatan internasional dalam Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok ataupun NEFO (New Emerging Forces) sebagai garis politiknya untuk menghadapi imperialisme dengan OLDEFO. Dokumen CIA yang sebelumnya merupakan dokumen rahasia yang berisi sejumlah informasi penting seputar peristiwa tersebut kini telah terbuka untuk publik.

Dokumen serupa telah dibuka untuk peristiwa jatuhnya Presiden Cile Salvador Allende. Di situ diungkap, melalui Operasi Jakarta, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menggunakan CIA untuk membantu junta militer Cile mengudeta Presiden Salvador Allende dan menaikan Wakil Panglima Ang katan Bersenjata Cile Augusto Pinochet Agurte.

Pemimpin junta militer Cile Jenderal Pinochet meniru beberapa langkah yang dilakukan Jenderal Soeharto di Indonesia sebelum lengsernya Presiden Soekarno. Di Indonesia juga terjadi pertentangan yang sangat keras antara tiga kekuatan saat itu, yakni Presiden Soekarno, angkatan darat yang dipimpin Jenderal AH Nasution, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Jangan lupa, di Jakarta juga beredar dokumen Gilchrist, sebuah dokumen yang banyak dikutip surat kabar pada 1965 soal keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia. Dokumen ini berasal dari sebuah telegram dari Duta Besar Inggris di Jakarta yang bernama Andrew Gilchrist yang ditujukan pada Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris. Telegram ini mengacu pada rencana gabungan intervensi militer AS dan Inggris di Indonesia.

Ada gerakan dari Resimen Tjakrabirawa di bawah pimpinan Letkol Untung yang menamakan dirinya sebagai dewan revolusi. Gerakan 30 September 1965 pimpinan Untung targetnya adalah tujuh perwira tinggi. Tak tanggung-tanggung, sasarannya adalah Menteri/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution dan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani. Hanya Nasution yang selamat, tapi putrinya tewas, begitu juga dengan ajudannya.

Di Cile pun ada Resimen Tank yang dipimpin Kolonel Roberto Souper. Buntut aksi tersebut, Panglima Angkatan Bersenjata Cile Jenderal Prats dicopot dari jabatannya. Wakilnya, Jenderal Pinochet, akhirnya diangkat sebagai panglima Angkatan Bersenjata Cile.

Pinochet sadar benar akan persamaan ini, apalagi Presiden Soekarno pun dituding Amerika Serikat lebih condong ke Uni Soviet. Maka, sandi saat mengudeta Presiden Allende diberi nama sandi Operasi Jakarta. Saya khawatir Cile akan dikuasai rezim komunis, tegas Pinochet.

Apalagi, Presiden Allende yang berideologi sosialis lebih dekat dengan raja komunis dunia saat itu, Uni Soviet. Dan, Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi salah satu sebab terjadinya perebutan kekuasaan di sejumlah negara termasuk di Indonesia pada 1965 dan Cile 1973.

Yang membedakan antara Cile dan Indonesia adalah Presiden Cile tewas terbunuh di istananya, sedangkan Presiden Soekarno tidak dibunuh. Ia dicopot dari jabatannya oleh MPRS yang dipimpin Jenderal AH Nasution. Kemudian, Jenderal Soeharto pemegang Surat Perintah 11 Maret 1966 dilantik menjadi pejabat presiden. Lima tahun setelah peristiwa 1965 itu, Soekarno wafat akibat sakit dalam status tahanan rumah pada 1970.

Pesan Santiago Berkaca dari Mahasiswa

Puluhan ribu mahasiswa, pengajar, dan masyarakat bergerak dari Universitas Santiago menuju ke Istana Presiden Cile, La Moneda, untuk menuntut reformasi. Pimpinan demonstran mengklaim, lebih dari 150.000 orang ikut serta dalam aksi itu. “Ini adalah satu unjuk rasa besar, melebihi yang kami perkirakan,” kata pemimpin mahasiswa Giorgio Jackson.

Namun, klaim itu dibantah Gubernur Santiago Cecila Perz. Menurutnya, jumlah pengunjuk rasa pada 22 September 2011 itu sekitar 50.000 orang. Mana yang benar soal jumlah pengunjuk rasa? Kini tak lagi diperbincangkan. Tetapi, inilah demonstrasi terbesar di Cile sejak kekuasaan diktator militer Jenderal Augusto Pinochet berakhir pada 1990 lalu.

Sedikitnya 50 pengunjuk rasa ditahan saat terlibat bentrok dengan polisi dalam satu demonstrasi menuntut subsidi pendidikan yang lebih besar. Demonstrasi itu juga sekaligus memperingati peristiwa 11 September 1973, saat terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Pinochet terhadap Presiden Cile Salvador Allende.

Demonstasi itu bahkan lebih besar dari unjuk rasa yang berlangsung sejak Juni, Juli, dan Agustus 2011 lalu. Jumlah massa yang banyak membuktikan bahwa tuntutan mahasiswa tetap didukung rakyat. Besarnya massa juga menunjukkan bahwa para mahasiswa tidak kehilangan kekuatan.

Presiden Cile Sebastian Pinera, konglomerat yang berhaluan kanan tengah yang berkuasa sejak Maret 2010, menolak tuntutan-tuntutan para demonstran. Kegagalan perundingan antara mahasiswa dan pemerintah pekan lalu menambah kemarahan para pengunjuk rasa.

Camila Vallejo, pemimpin mahasiswa berusia 23 tahun, mengemukakan kekecewaan atas buruknya kondisi pendidikan di Cile sudah ada sejak Pinochet berkuasa. Masyarakat memahami bahwa krisis dalam pendidikan pada faktanya adalah satu krisis yang telah terjadi selama pemerintah diktator itu. Itu bukan terjadi pada pemerintah sekarang, tetapi model neoliberal, katanya.

Dia mengatakan, kondisi belajar di negara itu bertentangan dengan citra umum Cile sebagai satu negara yang modern dan berhasil di Amerika Latin. Sistem kami tertinggal 30 tahun dan menciptakan banyak ketidaksamarataan. Sistem itu tidak menjamin kualitas (pendidikan), integrasi sosial, serta membuat warga sadar dan bertanggung jawab, katanya.

Demonstrasi mahasiswa kali ini tentu saja berbeda dengan peristiwa kudeta 11 September 1973. Diharapkan, aparat keamanan, dalam hal ini polisi maupun militer, tak lagi menggunakan kekerasan menghadapi unjuk rasa damai yang menuntut reformasi pendidikan. Apalagi, demonstrasi kali ini pun bukan menuntut presiden untuk mundur dari jabatannya.

Tetapi, demonstrasi melalui gerakan mahasiswa di istana bisa menggemparkan penguasa. Cile pernah merasakan hal itu. Jenderal Pinochet yang berkuasa melalui kudeta militer pada 11 September 1973 hanya bisa bertahan sekitar 15 tahun.

Pada pengujung 1980-an, dalam sebuah referendum nasional, rakyat Cile menolak dilanjutkannya pemerintah militer. selamat ginting
(-)
http://koran.republika.co.id/koran/0/145302/Jakarta_Punya_Kudeta_Pinochet_Punya_Junta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: