Pengikut Setanlah Yang Merusak Citra Islam

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (TQS Al Baqarah 120).

 

Republika, Rabu, 13 April 2011 pukul 13:52:00

Aliran Sesat Jerat PNS

Diduga kelompok lama untuk merusak citra Islam.

JAKARTA — Aksi aliran sesat yang menggunakan simbol-simbol Islam, datang silih berganti. Kini diduga sedang kembali bergerilya, kelompok tertentu yang menjerat korbannya dengan menghilangkan kesadaran diri lalu memberikan instruksi yang menyesatkannya.

Seorang pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Laila Febriani alias Lian (26 tahun), misalnya, sempat dibuat hilang ingatan selama empat hari. Ia ditemukan di kawasan Masjid Atta’awun, Puncak, Bogor, Jawa Barat, dalam keadaan linglung.

Mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII), Al Chaidar, menyatakan, pemerintah berada di balik kemunculan aksi aliran sesat semacam itu. Termasuk NII tandingan Komandemen Wilayah (KW)-9, nabi palsu Musaddeq, dan ajaran Millata Abraham di kawasan Aceh.

Keterlibatan pemerintah itu, menurut Al Chaidar, berlangsung sejak Orde Baru dan bertahan hingga sekarang. Tetapi, pemerintah tidak pernah mengakui keterlibatannya. “Diakui pun tidak. Ini program belakang layar,” katanya, kepada Republika, Selasa (12/4).

Dalam konteks sekarang, pemerintah memandang Pancasila dalam ancaman gerakan-gerakan Islam radikal dan terorisme. Dengan memunculkan aliran-aliran sesat itu, lanjut Al Chaidar, maka lambat tapi pasti akan memicu lahirnya kebencian dan ketidakpercayaan terhadap ideologi negara Islam.

“Sengaja membuat masyarakat terjerat, kapok, dan hilang harapan terhadap sistem kekuasaan (khilafah) Islam,” tegas Al Chaidar.

(* Dalih membela Pancasila ini hanya digunakan sebagai kedok untuk menghancurkan citra Islam yang benar. Tujuan mereka sebenarnya adalah agar supaya umat Islam tidak melaksanakan Islam sepenuhnya, sehingga umat Islam menjadi lemah dan mudah dikendalikan dan diperbudak ).

Tentang Lian

Mengenai kasus yang menimpa Lian Febriani, terungkap ketika suaminya, Andika Teguh, mendatangi Polda Metro Jaya, Jumat (8/4). Ia memasukkan aduan mengenai hilangnya sang istri dengan tidak pulang sejak Kamis (7/4).

Di tempat terpisah, pada hari yang sama sekitar pukul 16.00 WIB, seorang wanita berbusana gamis hitam dan bercadar turun dari angkutan umum Mitsubishi L-300 jurusan Bogor-Sukabumi, Jawa Barat. Ia berhenti tepat di depan Masjid Atta’awun, Puncak, Bogor.

Wanita tersebut hanya membawa sebuah tas warna biru yang terdapat inisial huruf “TY” warna merah, seperti sulaman yang tidak rata pembuatannya. Setelah turun dari angkutan, ia langsung masuk ke pelataran masjid dan shalat Ashar.

Kemudian, ia menunggu di tempat penitipan sandal sampai pukul 19.00. Namun, setelah cukup lama menunggu, ia mulai kebingungan. Hal ini menarik perhatian Eddi Irawan, satpam masjid.

Eddi menghampiri untuk menanyakan identitasnya. “Nama saya Maryam. Saya menunggu dijemput Umi Aisyah,” jawab wanita itu. Maryam juga mengaku ingin pulang ke tempat yang banyak wanita memakai cadar, dan pria dengan jenggot panjang serta tebal. Eddi mengatakan, tidak ada tempat seperti itu di sekitar masjidnya.

Karena merasa buntu, Eddi tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia lalu mempersilakan Maryam menginap di mess masjid. Keesokan harinya, Sabtu (9/4) sekitar pukul 09.00, Eddi menghubungi Dadan Hermawan, Babinmas Tugu Selatan, Polsek Cisarua.

Karena ada halangan, Dadan baru datang ke masjid sekitar pukul 14.00, dan melanjutkan interogasi. Saat inilah Maryam mulai mau membuka cadar. Ketika Dadan dan Eddi menanyakan alamat rumah, Maryam tidak ingat. Ia hanya menyebutkan Monas, gedung tinggi, taman, rel kereta, landasan, pos satpam, dan seragam biru-biru.

Mereka kemudian bertanya pada Maryam, bagaimana ia bisa tiba di Masjid Atta’awun. Ia bercerita bahwa pada Kamis setelah istirahat siang di kantor, ia dijemput dua wanita dan seorang pria.

Dalam perjalanan menggunakan kereta, Maryam mengaku diberi minuman yang membuatnya tertidur. Ketika bangun, ia kembali diberi minuman dan tertidur lagi. Begitu seterusnya sampai ia muntah-muntah.

Ketika muntah, salah satu wanita yang menjemputnya mengatakan, “Kalau kamu muntah itu berarti bagus. Dosa-dosamu telah hilang.” Ketika siuman, Maryam mengingat tiba di sebuah pondok pesantren yang entah di mana lokasinya. Yang ia ingat, seluruh wanitanya bercadar, sedangkan kaum pria memiliki jenggot yang panjang dan tebal.

Malam harinya ia dimandikan dan diberi dua gelas kopi. Esoknya Maryam disuruh oleh seseorang untuk pergi ke Masjid Atta’awun, dengan pesan bahwa di sana akan dijemput oleh Umi Aisyah

Eddi dan Dadan melanjutkan pertanyaan lain. “Adakah nomor yang diingat? Nomor telepon atau apa saja?” Maryam lalu menyerahkan selembar kertas, kemudian menuliskan angka dari satu sampai sepuluh.

Sambil mengingat-ingat dengan keras, Maryam menuliskan sebuah nomor telepon. Nomor yang kemudian diketahui milik Andika Teguh, suaminya. Ini terjadi sekitar pukul 20.00, Sabtu malam.

Sekitar pukul 23.30, Teguh datang ke Polsek Cisarua. Ia ditemani oleh ibu dan saudaranya. Sedangkan keluarga kandung dari Maryam baru tiba pukul 01.00, Ahad (10/4). Pihak keluarga yang datang terdiri atas orang tua, anak yang masih bayi, dan saudara kandungnya.

Teguh segera diantar oleh aparat menuju mess Masjid Atta’awun. Ia langsung mengenali bahwa perempuan bernama Maryam adalah istrinya, Lian Febriani. Namun, Lian tak dapat mengenali wajah suaminya. Malah sempat menolak ajakan Teguh untuk bersalaman karena menganggapnya bukan muhrim.

Ketika Teguh menunjukkan foto diri Lian, juga lupa. “Ini siapa?” tanya Lian. Begitu juga ketika dipertemukan dengan anaknya. Akhirnya, pukul 03.00 Lian dibawa pulang ke Jakarta.

Barang bukti

Dari tas yang dibawa Lian, Polsek Cisarua menemukan barang bukti berupa dua buku warna hijau berjudul Mutiara Quran dan Hadits dan Hakekat Agama dalam Kehidupan Manusia. Ditemukan juga sepatu wanita warna hitam dan uang tunai senilai Rp 25 ribu.

Saat ini kondisi Lian dalam masa penyembuhan. “Setelah pulang dari Bogor, Lian langsung dirukyah,” ujar Novita, adik Lian saat ditemui di kediamannya, Jalan Kran 5, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Novi menambahkan, Lian sudah mulai mau menyuapi anaknya yang berumur 1,5 tahun, Nadin Tiar Simanjuntak. c06/c13/c08 ed: asep nur zaman

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/133073/Aliran_Sesat_Jerat_PNS

(* komentar As Salyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: