Runtuhnya Kejayaan Kaum Muslimin, Karena Para Pemimpinnya Tidak Menjalankan Islam Sepenuhnya

Republika, Ahad, 13 Maret 2011

Ambruknya Dinasti-Dinasti “Islam” (Lebih cocok “Dinasti Muslim”)

Oleh Heri Ruslan

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran [3]: 140).

Gelombang aksi unjuk rasa tengah melanda negara-negara di Timur Tengah. Rakyat di berbagai negara yang ada di wilayah itu berupaya melengserkan para pemimpinnya. Penguasa Tunisia dan Mesir–dua negara berpenduduk Muslim telah dijatuhkan. Kini, rakyat Libya, Yaman, serta Bahrain juga melakukan upaya yang sama.

Seperti tercantum dalam Alquran surah Ali Imran ayat 140, sudah menjadi sunatullah,  kejayaan dan kehancuran sebuah kekuasaan akan berlangsung secara bergiliran. Peradaban Islam yang sempat menguasai dunia selama beberapa abad juga diwarnai dengan jatuh-bangunnya berbagai dinasti Islam.

Sejarawan Islam, Prof Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam, membagi perjalanan imperium Islam ke dalam beberapa periode. Pertama, masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kedua, periode kemajuan Islam I (650-1000 M). Pada masa ini, peradaban Islam berada di bawah kekuasaan Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah, dan Khilafah Bani Abbas.

Setelah Khilafah Rasyidah berakhir setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh pada 660 M, berdirilah Dinasti Umayyah di bawah Umayyah bin Abi Sufyan.  Dinasti yang berpusat di Damaskus Suriah itu berdiri pada 661 M dan ambruk pada 750 M. Pada masa itu, kekuasaan Islam semakin meluas. Namun, kekuasaan Dinasti Umayyah tak mencapai satu abad.

Memasuki tahun ke-90, kekuasaan Dinasti Umayyah dihancurkan oleh Dinasti Abbasiyah. “Dinasti Umayyah digulingkan oleh berbagai gerakan oposisi yang memandang bahwa pemerintahan ini tidak sah,” papar Nur Ahmad Fadhil Lubis Phd dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah. Setelah itu, berdirilah Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada 750 M.  Abbasiyah berkuasa selama lima abad (750-1258 M).

Periode ketiga, disebut Prof Badri Yatim sebagai masa disintegrasi (1000-1250 M). Pada era itu, kejayaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad, Irak, mulai meredup. Dinasti-dinasti yang sebelumnya berada dalam kendali Baghdad, satu per satu mulai memerdekakan diri. Sejak 945 M, Abbasiyah pun hanya tinggal nama karena yang berkuasa sebenarnya Dinasti Buwaih (945-1055) dan Dinasti Dinasti Seljuk (1055-1258).

Periode keempat disebut sebagai masa kemunduran (1250-1500 M). Pada 1258, kekuasaan Abbasiyah benar-benar ambruk, setelah Baghdad diserang dan dihancurkan bangsa Mongol. Pusat kebudayaan dunia itu pun hancur ketika Hulagu Khan membumihanguskan Baghdad. Kejayaan (umat) Islam pun mulai meredup.

Periode kelima, disebut Prof Badri Yatim, sebagai masa munculnya tiga kerajaan besar Islam (1500-1800), yakni Kerajaan Turki Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan pada masa kekuasaan tiga kerajaan ini.

Kejayaan ketiga kerajaan itu pun meredup sejak 1700 hingga 1800 M. Tak hanya redup, tapi juga benar-benar ambruk dan hancur.  Setelah tenggelamnya kejayaan Islam, sebagian besar wilayah kekuasaan imperium Islam berada dalam jajahan negara-negara Barat. Dan, kemajuan berpindah dari peradaban Islam ke Barat.

Laporan utama pada edisi ini akan mengulas bagaimana setiap dinasti mengalami kemunduran dan kehancuran. Tentu saja, agar kita dapat menjadikannya sebagai pelajaran.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130905/Ambruknya_Dinasti_dinasti_Islam

———————————————————————————————————————————–

Republika, Ahad, 13 Maret 2011

Runtuhnya Dinasti Umayyah

Oleh Nidia Zuraya

Pemberontakan terhadap Dinasti Umayyah umumnya dipicu ketidakpuasan rakyat terhadap kepala daerah yang ditunjuk Khalifah.

Sudah menjadi sunatullah sebuah kekuasaan akan mengalami kejayaan dan keruntuhan. Ketika peradaban Islam menguasai dunia, secara bergantian dinasti-dinasti Islam memegang tampuk kekuasaan. Setiap kerajaan atau kesultanan Islam yang berkuasa tentu pernah mengalami masa-masa keemasan.

Tak dapat dimungkiri, sejarah telah membuktikan dinasti-dinasti Islam di era keemasannya telah memberikan kontribusi yang begitu besar bagi peradaban manusia. Tanpa kejayaan peradaban Islam, barangkali dunia Barat pun belum tentu mencapai kemajuan. Diakui atau tidak, Barat banyak belajar dari peradaban Islam.

Sejarah selalu kaya akan hikmah dan pelajaran. Yang dapat dipelajari dan diambil hikmah dari peradaban Islam tak hanya masa keemasannya saja. Era kejatuhan dan ambruknya dinasti-dinasti Islam juga menarik untuk dipelajari. Redup dan tenggelamnya sebuah dinasti Islam pada masa silam itu tentu mengandung begitu banyak pelajaran.

Setelah terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib pada 20 Ramadhan 40 Hijirah (660M), era Khilafah Rasyidah berakhir, lalu muncullah Dinasti Umayyah yang didirikan pada 661 M oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan. “Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun,” ungkap Sejarawan Islam Prof Badri Yatim dalam buku bertajuk Sejarah Peradaban Islam.

Dinasti Umayyah yang melanjutkan tradisi kerajaan-kerajaan pra-Islam di Timur Tengah mengundang kritik keras dan memunculkan kubu oposisi. Kelompok oposisi terbesar yang sejak awal menentang pemerintahan keluarga Bani Umayyah adalah kelompok Syiah, yaitu para pengikut dan pecinta Ali bin Abi Thalib serta keturunannya yang merupakan Ahlulbait (keturunan Nabi Muhammad SAW yang berasal dari anak dan menantunya, Fatimah dan Ali).

Selain kelompok Syiah, pemerintahan Dinasti Umayyah juga mendapat penentangan dari orang-orang Khawarij. Kelompok Khawarij ini merupakan orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib, karena mereka merasa tidak puas terhadap hasil tahkim atau arbitrase dalam perkara penyelesaian persengketaan antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah.

Usaha menekan kelompok oposisi terus dijalankan oleh penguasa Umayyah bersamaan dengan usaha memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga Afrika Utara dan Spanyol.

Selain menghadapi persoalan eksternal, para penguasa Umayyah juga menghadapi persoalan internal, yaitu pemberontakan dan pembangkangan yang dilakukan oleh orang-orang dekat khalifah di berbagai wilayah kekuasaan Umayyah, seperti di Irak, Mesir, Palestina, dan Yaman.

Pemberontakan yang terjadi selama pemerintahan Dinasti Umayyah umumnya dipicu oleh faktor ketidakpuasan terhadap kepala daerah yang ditunjuk oleh khalifah. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II), misalnya, terjadi sejumlah pemberontakan di wilayah kekuasaannya.

Di Mesir, kerusuhan terjadi karena gubernur yang diangkat Marwan II menghentikan pemberian tunjangan yang dulu diperintahkan oleh Yazid III untuk diberikan kepada para anggota baru dalam angkatan darat dan laut. Sementara di Yaman, kerusuhan timbul antara lain karena pemerintah setempat memungut pajak sangat tinggi dari orang Arab.

Kesibukan Marwan II dalam menumpas pemberontakan membuat wilayah Khurasan dikuasai Bani Abbas (dinasti yang didirikan Abu Abbas as-Saffah). Gerakan Bani Abbas ini merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup Dinasti Umayyah.

Setelah Khurasan dapat dikuasai, gerakan Bani Abbas bergerak menuju Irak dan dapat merebut wilayah itu dari pejabat Bani Umayyah. Setelah menguasai wilayah Irak sepenuhnya, pada 132 H/750 M, Abu Abbas as-Saffah dibaiat sebagai khalifah yang menandai berdirinya Dinasti Abbasiyah.

Sejak saat itu, Bani Abbas mulai melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang dahulu dikuasai oleh Dinasti Umayyah pun berhasil direbut. Bahkan, pasukan Bani Abbas berhasil membunuh Marwan II dalam sebuah pertempuran kecil di wilayah Bushair, Mesir. Kematian Marwan II menandai berakhirnya Dinasti Umayyah yang berkuasa dari 41 H/661 M-133 H/750 M.

Sebab keruntuhan
Runtuhnya Dinasti Umayyah bukanlah semata-mata disebabkan oleh serangan Bani Abbas. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah menyebutkan, terdapat sejumlah faktor yang sangat kompleks, yang menyebabkan tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah.

* Pengangakatan lebih dari satu putra mahkota

Sebagian besar khalifah Bani Umayyah mengangkat lebih dari seorang putra mahkota. Biasanya, putra tertua diwasiatkan terlebih dahulu untuk menduduki takhta. Setelah itu, wasiat dilanjutkan kepada putra kedua dan ketiga, atau salah seorang kerabat khalifah, seperti paman atau saudaranya. Putra mahkota yang lebih dahulu menduduki takhta cenderung mengangkat putranya sendiri. Hal itu menimbulkan perselisihan.

* Timbulnya fanatisme kesukuan
Sejak pertama kali diturunkan, ajaran Islam berhasil melenyapkan fanatisme kesukuan antara bangsa Arab Selatan dan Arab Utara, yang telah ada sebelum Islam. Namun, pada masa Bani Umayyah, fanatisme ini muncul kembali, terutama setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Yazid I).

Bangsa Arab Selatan yang pada masa itu diwakili kabilah Qalb adalah pendukung utama Muawiyah dan putranya, Yaid I. Ibu Yazid I yang bernama Ma’sum berasal dari Kabilah Qalb. Pengganti Yazid I, Muawiyah II, ditolak oleh bangsa Arab Utara yang diwakili oleh kabilah Qais dan mengakui kekhalifahan Abdullah bin Zubair (Ibnu Zubair). Ketika terjadi bentrokan di antara kedua belah pihak, kabilah Qalb dapat mengalahkan kabilah Qais yang mengantarkan Marwan I ke kursi kekhalifahan.

* Kehidupan khalifah yang melampaui batas

Beberapa khalifah Umayyah yang pernah berkuasa diketahui hidup mewah dan berlebih-lebihan. Hal ini menimbulkan rasa antipati rakyat kepada mereka. Kehidupan dalam istana Bizantium agaknya memengaruhi gaya hidup mereka. Yazid bin Muawiyah (Yazid I), misalnya, dikabarkan suka berhura-hura dengan memukul gendang dan bernyanyi bersama para budak wanita sambil minum minuman keras. Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) juga tidak lebih baik dari Yazid I. Ia suka berfoya-foya dengan budak wanita. Putranya, al-Walid II, ternyata tidak berbeda dengan ayahnya.

* Fanatisme kearaban Bani Umayyah
Kekhalifahan Bani Umayyah memiliki watak kearaban yang kuat. Sebagian besar khalifahnya sangat fanatik terhadap kearaban dan bahasa Arab yang mereka gunakan. Mereka memandang rendah kalangan mawali (orang non-Arab). Orang Arab merasa diri mereka sebagai bangsa terbaik dan bahasa Arab sebagai bahasa tertinggi.

Fanatisme ini menimbulkan kebencian penduduk non-Muslim kepada Bani Umayyah. Oleh karena itu, mereka ikut ambil bagian setiap kali timbul pemberontakan untuk menumbangkan Dinasti Umayyah. Keberhasilan Bani Abbas dalam menumbangkan Bani Umayyah disebabkan antara lain oleh dukungan dan bantuan mawali, khususnya Persia, yang merasa terhina oleh perlakuan pejabat Bani Umayyah.

* Kebencian golongan Syiah

Bani Umayyah dibenci oleh golongan Syiah karena dipandang telah merampas kekhalifahan dari tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Menurut golongan Syiah, khilafah (kepemimpinan atau kekuasaan politik) atau yang mereka sebut ‘imamah’ adalah hak Ali dan keturunannya, karena diwasiatkan oleh Nabi Muhammad SAW.  ed; heri ruslan

—————————————————————————————————————————————

Ambruknya Sang  Adidaya Dinasti Abbasiyah
Oleh Nidia Zuraya

Setelah tumbangnya kekuasaan Dinasti Umayyah, kemudian muncullah Dinasti Abbasiyah sebagai penguasa dunia Islam. Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam terlama, yakni menguasai dunia selama lebih dari lima abad (750-1258 M). Pada era kekuasaan Abbasiyah, peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya.

Dinasti Abbasiyah mulai melemah setelah banyaknya mazhab yang menentang pemerintahan. Selain itu, berbagai pemberontakan dan gerakan yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan pusat bermunculan di berbagai wilayah. Tak cuma itu, munculnya perdebatan intelektual yang dalam berbagai hal menjurus kepada konflik juga membuat adidaya dunia di era kekhalifahan itu meredup.

Para raja kecil

Tumbuhnya negeri-negeri yang berhaluan Syiah dan Khawarij di wilayah pinggiran,  serta sejumlah gubernur yang diangkat oleh Abbasiyah menjadi begitu kuat dan berpengaruh, membuat mereka membangun dinasti sendiri di daerahnya dan mewariskan kedudukannya kepada keturunannya.

Salah satu contohnya adalah Dinasti Aglabid di Afrika Utara. Dinasti ini didirikan oleh seorang gubernur Abbasiyah yang dikirim oleh Khalifah Harun ar-Rasyid ke Tunis pada tahun 800 M.

Keutuhan wilayah Abbasiyah juga terancam dengan hadirnya armada angkatan laut Bizantium (Romawi Timur) yang mendarat di delta Sungai Nil. Ahmad bin Tulun yang dikirim oleh Abbasiyah pada 868 M untuk mengamankan Mesir justru memproklamirkan kemerdekaan dari Abbasiyah dengan mendirikan Dinasti Tulun.

Elite militer dan pedagang

Disintegrasi Abbasiyah menjadi sejumlah dinasti provinsi yang independen menunjukkan adanya perubahan yang mendasar dalam struktur pemerintahan dan masyarakat. Munculnya elite militer bekas budak dan sistem pengaturan konsesi lahan semakin memperjelas bahwa tidak saja penguasa Abbasiyah yang semakin lemah, akan tetapi memang juga terjadi pergeseran kekuasaan dari elite lama ke elite baru.

Transformasi sistem sosial dan politik itu telah dimulai pada abad ke-9 M. Pemerintahan Abbasiyah awal didirikan atas koalisi pejabat pemerintahan pusat dengan keluarga pengusaha dan tuan tanah di daerah. Setelah beberapa abad, para pejabat pemerintahan pusat cenderung semakin didominasi oleh keturunan birokrat istana dan meminggirkan mereka yang berasal dari keluarga penguasa daerah.

Ketika generasi birokrat semakin berkuasa, Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah kehilangan kontak dengan daerah taklukannya, hingga akhirnya birokrasi menjadi organisasi yang berbasis di ibu kota dan jarang terkait dengan provinsi. Pejabat dan para stafnya tidak lagi mewakili kepentingan berbagai ragam penduduk.

Kebijakan sentralisasi fiskal yang diterapkan pemerintahan Abbasiyah mendorong kalangan elite pedagang untuk menggeser para penguasa tradisional dan tuan tanah di daerah. Bahkan, keberadaan para elite pedagang ini juga menandingi korps birokrat dan perwira militer.

Persoalan ekonomi

Kebangkrutan ekonomi pada akhirnya memorak-porandakan kekuasaan Abbasiyah. Permasalahan besar yang dihadapi dinasti ini pada masa akhir kekuasaannya adalah menurunnya sumber pendapatan penguasa.

Perang saudara yang tiada henti dan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Qaramitah membuat daerah-daerah kantong pertanian menjadi terbengkalai. Kondisi ini tidak saja memperlemah kedudukan Abbasiyah, tetapi sekaligus justru makin memperkuat posisi lawannya.

Pada 326 H/937 M, Muhammad bin Ra’iq, panglima militer Kota Wasit yang terletak di tepi Sungai Tigris, menghancurkan Bendungan Nahrawan dan merusak saluran irigasi. Hal ini dilakukan dengan harapan bisa menenggelamkan tentara lawannya dan memutuskan sumber logistik mereka. Ternyata, hal ini justru merusak sumber bahan makanan pihaknya sendiri dan seluruh warga Kota Baghdad.

Pecahnya Bendungan Nahrawan adalah peristiwa paling dramatis yang menandai hancurnya perekonomian dan melemahnya kekuasaan Abbasiyah. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Muhammad bin Ra’iq untuk mendesak Khalifah ar-Radi  agar menyerahkan pemerintahan sipil dan militer kepadanya.  ed; heri ruslan

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130899/Runtuhnya_Dinasti_Umayyah

———————————————————————————————————————————–

Redupnya Kekhalifahan di Andalusia

Oleh Heri Ruslan

Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mulai meredup ketika Hisyam naik takhta pada usia 11 tahun.

Spanyol dikuasai peradaban Islam pada era kekuasaan Kekhalifahan Umayyah. Ketika itu, Bani Umayyah yang berbasis di Damaskus, Suriah, dipimpin Khalifah Al-Walid (705-715 M).  Awalnya, kekuasaan Islam di Andalusia berada di bawah kendali Dinasti Umayyah. Setelah digulingkan Dinasti Abbasiyah, kendali berada di Baghdad.

Sejak 912 M, pada era kepemimpinan Amir Abdurrahman III, kekuasaan Islam di Andalusia memerdekakan Abbasiyah. Sejak itu, berdirilah Kekhalifahan Umayyah di Spanyol. Penguasanya mulai menggunakan gelar khalifah. Peradaban Islam di Spanyol sempat mencapai masa keemasannya dalam berbagai bidang.

Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mulai meredup ketika Hisyam naik takhta pada usia 11 tahun. Akibatnya, kekuasaan dikendalikan para pejabat.  Memasuki era 1013-1086 M, Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan yang berpusat di satu kota, seperti Toledo, Sevilla, Cordoba, dan sebagainya.

Menurut sejarawan Islam, Prof Badri Yatim, Kekhalifahan Umayyah di Andalusia hancur karena berbagai faktor. Pertama, konflik Islam dengan Kristen. “Para penguasa Muslim tak melakukan Islamisasi secara sempurna,” tutur Prof Badri. Penguasa Muslim hanya puas dengan menagih upeti kepada kerajaan-kerajaan Kristen.

Padahal, kehadiran Arab Islam di Spanyol telah memperkuat kebangsaan orang-orang Kristen. Pertentangan pun tak terelakkan. Pada abad ke-11 M, umat Kristen mengalami kemajuan yang pesat. “Sedangkan, umat Islam mengalami kemunduran,” ujar Prof Badri. Umat Islam pun terusir dari Spanyol pada 1492 M.

Kedua, tak adanya ideologi pemersatu. Salah satu kelemahan Umayyah Spanyol adalah tak menempatkan para mualaf tak diperlakukan sejajar dengan orang-orang Arab. Menurut Prof Badri Yatim, sebagaimana politik Dinasti Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tak pernah menerima orang-orang pribumi. Akibat merasa direndahkan, kelompok etnis non-Arab akhirnya menggerogoti kekuasaan.

Ketiga, kesulitan ekonomi. Pada paruh kedua Islam di Spanyol, para penguasa lalai memperkuat sektor ekonomi. Mereka, menurut Prof Badri Yatim, lebih serius membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Akibatnya, keuangan negara  menjadi lemah dan berimbas pada kekuatan politik dan militer.

Keempat, tak jelasnya sistem peralihan kekuasaan. Akibatnya, terjadi perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Inilah yang membuat Bani Umayyah di Spanyol runtuh dan berubah dikuasai oleh raja-raja dari berbagai golongan atau Muluk al-Thawaif.

Kelima, menurut Prof Badri Yatim, peradaban Islam di Spayol sulit untuk meminta bantuan dari kekuatan Islam di tempat lain, kecuali Afrika Utara sehingga basis kekuasaan Islam di Spanyol habis setelah diusir Kerajaan Kristen.


Serangan Hulagu Khan Hingga Timur Lenk

Pada 1258 M, Kota Baghdad-ibu kota peradaban Islam-jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan.  Sebanyak 200 ribu tentara Mongol meluluhlantakkan Baghdad.  Menurut Prof Badri Yatim, sejak itulah, peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan lenyap dibumihanguskan.

Kekuatan politik umat Islam pun menjadi rapuh. Kota Baghdad yang kaya akan bangunan-banguna megah diratakan dengan tanah. Pascaserangan yang sangat dahsyat itu, umat Islam kembali bangkit dari kehancuran. Upaya itu dilakukan selama satu abad.

Namun, upaya untuk bangkit itu kembali tersungkur setelah  keturunan Hulagu Khan bernama Timur Lenk menyerang dan menghancurkan kota-kota Islam yang menjadi pusat peradaban. Serangan itu terjadi setalah 100 tahun Baghdad diserang Hulagu Khan.

Sejatinya, Timur Lenk sudah beragama Islam. Namun, jiwa penakluk yang diwariskan nenek moyangnya membuat Timur Lenk menyerang dan menghancurkan kota-kota Islam. Baghdad pun kembali diluluhlantakkan Timur Lenk. Akibatnya, sulit bagi peradaban Islam untuk kembali bangkit.


Dinasti yang Lepas dari Khalifah Abbasiyah

Persia:
1.    Thahiriyyah di Khurasan (820-872 M)
2.    Shafariyah di Fars (868-901 M)
3.    Samaniyah di Transoxania (873-998 M)
4.    Sajiyyah di Azerbaijan (878-930 M)
5.    Buwaihiyyah (932-1055 M)

Turki
:
1.    Thuluniyah di Mesir (837-903 M)
2.    Ikhsyidiyah di Turkistan (932-1163 M)
3.    Ghaznawiyah di Afghanistan (952-1189 M)
4.    Dinasti Seljuk

Arab:

1.    Idrisiyyah di Maroko (788-985 M)
2.    Aglabiyyah di Tunisia (800-900 M)
3.    Dulafiyah di Kurdista (825-898 M)
4.    Alawiyah di Tabaristan (864-928 M)
5.    Hamidiyah di Allepo  (929-1002 M)
6.    Mazyadiyyah di Hillah (1011-1150 M)
7.    Ukailiyyah di Maushil (929-1002 M)
8.    Mirdasiyyah di Allepo (1023-1079)

Kurdi:

1.    Al-Barzuqani (959-1015 M)
2.    Abu Ali (990-1095 M)
3.    Ayubiyah (1167-1250 M)

Spanyol:

1.    Kekhalifahan Ummayah di Andalusia
Mesir :
1.    Kekhalifahan Fatimiyah

————————————————————————————————————————————— 

Hancurnya Tiga Imperium Raksasa
Oleh Heri Ruslan

Selama tiga abad-1500 hingga 1800 M-peradaban Islam masih memiliki tiga kekuatan yang tersebar di Turki, Persia, dan India. Di Istanbul, Turki, berdiri sebuah kerajaan besar yang juga sempat menjadi adikuasa selama lebih dari 600 tahun bernama Turki Usmani atau Ottoman.

Turki Usmani disegani dan memiliki pengaruh yang begitu hebat setelah menaklukkan Bizantium pada 1453 M. Sebagai adikuasa, Kesultanan Turki Usmani mampu menguasai sebagian benua Asia, Eropa, dan Afrika. Puncak keemasannya dicapai pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566 M).

Di Persia, berdiri sebuah kerajaan Islam yang besar, yakni Safawi. Kerajaan ini didirikan oleh Syah Isma’il pada 1501 M di Tabriz, Iran. Ia memproklamasikan Syiah Isna Asyariyah sebagai agama negara.

Di India, berdiri kerajaan Islam bernama Mogul yang berkuasa dari abad ke-16 hingga 19 M. Kesultanan itu didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur-keturunan Timur Lenk, penguasa Islam asal Mongol. Pada era keemasannya,  Kerajaan Mogul berperan besar dalam mengembangkan agama Islam, ilmu pengetahuan, sastra, hingga arsitektur.


Jatuhnya Tiga Raksasa

1. Kerajaan Safawi
Kerajaan Safawi mulai mengalami kemunduran sejak Abas I turun takhta. Enam raja penggantinya tak mampu mendongkrak kemajuan, malah menunjukkan pelemahan dan kemunduran. Pada era kekuasaan Safi Mirza, Kerajaan Safawi mulai menukik. Safi Mirza yang juga cucu Abbas I, dikenal sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Berbagai kota dan wilayah yang dikuasai Safawi mulai terlepas.

Setelah itu, Safawi dipimpin Sulaiman seorang raja pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar kerajaan. “Akibatnya, rakyat masa bodoh terhadap pemerintahan,” papar Prof Badri Yatim. Selain itu, Safawi pun harus berhadapan dengan pemberontakan yang dilakukan bangsa Afghan.

Terlebih lagi, Kerajaan Safawi kerap berkonfrontasi dengan Kerajaan Turki Usmani. “Dekadensi moral yang melanda sebagian pemimpin Safawi turut mempercepat kehancuran kerajaan,” ungkap Prof Badri Yatim. Sultan Sulaeman adalah seorang pecandu berat narkotika dan senang kehidupan malam.

2. Kerajaan Mugal
Setelah satu setengah abad mencapai masa keemasan, Kerajaan Mugal di India akhirnya meredup dan hingga akhirnya hancur. Kerajaan itu hancur pada 1858 M. Faktor penyebabnya, menurut Prof Badri Yatim, antara lain:
1.Stagnasi pembinaan kekuatan militer. Akibatnya, operasi militer Inggris tak terpantau. Kekuatan militer di laut dan darat Kerajaan Mugal menurun.
2.Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik yang menyebabkan pemborosan keuangan negara.
3.Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan sehingga konflik agama sangat sukar diatasi.
4.Pewaris takhta kerajaan pada paruh akhir adalah figur-figur yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

3. Kerajaan Usmani
Menurut Prof Badri Yatim, adikuasa dunia, Kerajaan Turki Usmani, juga mengalami kehancuran karena berbagai faktor:
1.Wilayah kekuasaan yang sangat luas sehingga administrasi pemerintahan menjadi rumit dan tak beres. Di sisi lain, para penguasanya memiliki ambisi yang besar untuk memperluas wilayah kekuasaan.
2.Heterogenitas penduduk. Akibat menguasai wilayah yang luas, Turki Usmani mengendalikan berbagai etnis penduduk. Heterogenitas itu memicu banyaknya pemberontakan.
3.Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Turki Usmani dipimpin sultan-sultan yang lemah, baik kepribadian, maupun kepemimpinan. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau.
4.Budaya pungli. Perbuatan pungli melemahkan kekuatan kerajaan. Setiap orang yang menginginkan jabatan, harus menyuap atau membayar uang pelicin.
5.Merosotnya ekonomi. Peperangan yang terus dilakukan membuat perekonomian merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja untuk perang terus menguras anggaran negara.
6.Stagnasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tak dikembangkan para penguasa terakhir. Akibatnya, Turki Usmani kalah canggih dari segi persenjataan dibandingkan negara-negara Barat.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/153/130900/Redupnya_Kekhalifahan_di_Andalusia

4 Tanggapan

  1. Apa yg harus dilakukan?

  2. susah jika kita hanya cuman bisa berargument sja coba kita bisa bikin pra pemimpn kita sdar akan pentingnya ajaran agama islam pasti banyak dari pemimpin kita yg sdar bahwa yg d lakukannya itu DOSA…. bukannya malah berlomba lomba dalam korupsi….. dsar,,, mungkin setelah “MEREKA” di beri azab dari sang kuasa mereka baru sadar x….. moga2 ALLAH SWT Jangan membuat mereka menambah dosa…. Amiennnnn….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: