Pemerintah seharusnya sadar bahwa mengembangkan industri hilir komoditas perkebunan bakal memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi negara

Sukses Malaysia Mengembangkan Industri Hilir

Bus yang kami tumpangi langsung menuju Butik Cokelat Beryl’s di Jalan Utara, Kuala Lumpur, tak jauh dari Bukit Bintang, kawasan pusat niaga di ibu kota Malaysia itu. Sebenarnya, agak kaget ketika perusahaan travel seperti ”memaksa” rombongan wartawan dari Indonesia itu mengunjungi Butik Cokelat Beryl’s hanya beberapa saat setelah mendarat di Kuala Lumpur International Airport.

Memaksa karena tentu bagi kebanyakan orang yang tinggal di negara-negara tropis seperti Indonesia, rasanya butik cokelat bukan pilihan menarik. Berbeda jika kita mengunjungi negara seperti Swiss, Belgia, atau Belanda yang memang terkenal sebagai penghasil cokelat terbaik di dunia. Tetapi ini Malaysia.

Meski enggan, akhirnya kami turun juga untuk melihat apa yang disebut Butik Cokelat Beryl’s itu. Setelah disambut senyuman penjaga yang menempelkan stiker berisi nomor urut kedatangan rombongan, pegawai perempuan Melayu bernama Faizma langsung bertutur tentang bagaimana sebuah biji kakao menjadi cokelat, baik putih maupun hitam, hingga bubuk cokelat. Mungkin karena terlalu sering melihat wajah orang Indonesia, Faizma langsung nyerocos dengan bahasa Melayu. Padahal, di lain kesempatan, dia lancar menjelaskan dalam bahasa Jepang ketika datang dua pasang turis dari negara tersebut.

Layaknya sebuah butik, yang dipajang di Butik Cokelat Beryl’s adalah berbagai jenis cokelat dengan aneka rasa. Menurut Faizma, paling sedikit ada 200 macam cokelat dengan rasa berbeda. Mulai dari cokelat dengan biji hazelnut yang biasa ada di Eropa hingga cokelat rasa durian. Pilihannya durian murni atau hanya esens. Tentu yang murni lebih mahal. Yang aneh bagi lidah Eropa tentu saja cokelat dengan rasa cabai. Pedasnya betulan. Pada awal dikunyah, rasa cokelat yang berasa. Tetapi kemudian yang tersisa adalah pedas, seperti kita makan sambal.

Hari itu kami rombongan ke-96 yang mengunjungi Beryl’s. ”Biasanya memang kami menjadikan kunjungan ke Butik Cokelat Beryl’s sebagai salah satu pilihan utama untuk city tour di Kuala Lumpur,” ujar pemandu wisata kami, Arumugan AL Chelliah.

Arumugan mengakui, bagi turis Eropa, Beryl’s mungkin bukan pilihan menarik, tetapi bagi turis Asia seperti dari Indonesia, Jepang, China, India, atau mereka yang berkantong tebal dari Timur Tengah, butik cokelat made in Malaysia itu jadi sesuatu yang menarik.

 

Kakao dari Indonesia

Yang mencengangkan, menurut pengakuan Faizma, sebagian biji kakao yang dibuat menjadi cokelat di Beryl’s berasal dari Indonesia. ”Yang utama memang kami mengambil dari Ghana karena kakao dari sana terkenal sebagai yang terbaik. Tetapi ada juga yang diambil dari Indonesia,” katanya.

Indonesia, berdasarkan catatan International Cacao Organization, menjadi negara eksportir biji kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading. Tahun 2000/ 2001 Pantai Gading mengekspor 1 juta ton biji kakao, sementara Indonesia mengekspor 365.000 ton dan Ghana menjadi pengekspor terbesar ketiga dunia dengan volume 285.000 ton.

Faizma mengatakan, di sekitar Jalan Utara, Kuala Lumpur, setidaknya ada empat butik cokelat yang seperti Beryl’s. Mereka menjual buatan Malaysia. ”Sebagian di antaranya diekspor juga, tak hanya dijual di sini,” katanya.

Melihat catatan statistik ekspor biji kakao, Indonesia sepantasnya bisa lebih unggul untuk urusan industri hilir komoditas ini. Beryl’s yang baru berusia 15 tahun telah menjadi salah satu daya tarik yang bisa dijual kepada wisatawan asing.

Indonesia dengan kekayaan hayatinya punya banyak komoditas perkebunan yang sebenarnya bisa lebih memberikan nilai tambah jika industri hilirnya dikembangkan. Bayangkan jika Anda duduk di kedai kopi Starbucks dan menyeruput kopi sumatera. Anda harus membayar sekitar Rp 90.000 untuk biji kopi sumatera yang dikemas Starbucks seberat 200 gram dengan nama Sumatra Decaf.

Padahal, biji kopi arabika ini asli dari tanah Sumatera. Bisa dihargai lebih mahal karena Indonesia hanya mengekspor kopi dalam bentuk green bean (biji hijau). Berikutnya oleh Starbucks biji hijau dari kopi arabika asal Lintong Nihuta di Sumatera Utara ini dipanggang (roasted) dan dikemas untuk dijual di semua gerai mereka di dunia, termasuk Indonesia.

Tak hanya pada komoditas kakao dan kopi, Indonesia tak punya industri hilir yang membanggakan. Hampir di semua komoditas perkebunan, Indonesia hanya jadi pemain barang mentah atau paling banter setengah jadi.

 

Lebih fokus

Andai saja Pemerintah Indonesia mau serius menggarap industri hilir komoditas perkebunan, niscaya hari ini tak perlu ada ketakutan dari petani kelapa sawit akan boikot pembelian minyak kelapa sawit dari pembeli Eropa karena menganggap Indonesia tak serius melindungi hutan dari ancaman pembukaan kebun secara besar-besaran. Indonesia juga tak perlu khawatir terjadi krisis global yang menenggelamkan industri otomotif dunia sehingga harga karet alam turun drastis karena merosotnya permintaan dari industri ban mobil.

Data statistik dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Indonesia (PPKS) menunjukkan, dari total produksi minyak sawit Indonesia tahun tahun 2008 sebesar 19.330.000 ton, 14.470.000 ton di antaranya diekspor. Artinya, jumlah yang diekspor dalam bentuk raw material itu masih mendominasi.

”Malaysia memiliki 150-200 jenis industri hilir sawit, sementara Indonesia mungkin hanya sekitar 50 jenis industri hilir. Kita kalah jauh dari mereka. Teknologi dan insentif yang diberikan industri hilir sawit di Indonesia relatif terbatas dibanding Malaysia,” ujar Kepala Urusan Kerja Sama Penelitian PPKS Yohanes Samosir.

Demikian halnya dengan karet. Dari total produksi karet alam Indonesia pada tahun 2007 sebesar 2,55 juta ton, pada tahun yang sama 2.121.863 di antaranya diekspor dalam bentuk Standard Indonesia Rubber (SIR) atau bahan setengah jadi dari karet alam yang biasanya digunakan untuk industri ban mobil.

”Malaysia bisa menjadi pemain dunia untuk industri sarung tangan. Nilai ekspor sarung tangan Malaysia cukup besar. Mereka lebih unggul dalam soal mengembangkan industri hilir karet dibanding Indonesia,” ujar Direktur Pusat Penelitian Karet Chairil Anwar.

Industri hilir komoditas perkebunan di Indonesia memang belum berkembang. Indonesia hanya jadi negara pengekspor bahan mentah dan setengah mentah, sementara selanjutnya jadi negara pengimpor untuk produk-produk akhirnya. Ironis, bukan?

Indonesia menjadi eksportir minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia, tetapi dalam waktu bersamaan, Indonesia juga menjadi sasaran pasar produk akhir yang menggunakan CPO sebagai bahan setengah jadinya. Jika tak percaya, silakan datang ke supermarket dan cari barang-barang consumer goods seperti sabun, sampo, hingga kosmetik. Hitung saja berapa di antara barang-barang itu yang asli merek lokal Indonesia?

Demikian halnya dengan karet. Indonesia menjadi eksportir karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, tetapi berapa banyak pemain lokal dalam industri ban.

Hampir semua pemain dalam industri ban mobil nasional merupakan perusahaan asing, yang tentu saja bisa sewaktu-waktu cabut dari negara ini apabila mereka pikir tak menguntungkan menanamkan modalnya di Indonesia.

Sesungguhnya, pemerintah sadar bahwa mengembangkan industri hilir komoditas perkebunan bakal memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi negara.

”Bicara soal kebijakan pemerintah untuk industri hilir memang agak klise. Malaysia bisa maju industri hilir perkebunannya karena di sana infrastruktur mendukung, jalan-jalan bagus, listrik juga tak pernah padam. Sebetulnya, banyak pelaku industri sarung tangan dari Malaysia ingin bikin pabrik di Medan, tetapi tak ada jaminan pasokan energi membuat mereka tak berani berinvestasi di sini,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sumut Parlindungan Purba.

Parlindungan enggan membandingkan pemerintah di dua negara. ”Bicara korupsi, di Malaysia juga ada korupsi. Tetapi pemerintah mereka memang fokus untuk memajukan negaranya. Di sini cuma menang lebih demokratis saja,” kata Parlindungan.

Jika industri skala kecil seperti cokelat saja Malaysia cukup percaya diri untuk dijadikan tujuan wisata, bisa dibayangkan dengan komoditas lain di mana negeri jiran itu menjadi pemain utama dunia seperti kelapa sawit. Mestinya kita belajar dari Malaysia dibanding selalu ”iri” dengan kesuksesan mereka. Jadi, seperti slogan negara jiran itu, untuk urusan pengembangan industri hilir perkebunan, Malaysia boleh! (KHAERUDIN)

Sumber : Koran Kompas  22 Februari 2011

 

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/22/04444833/sukses.malaysia.mengembangkan.industri.hilir.

 

2 Tanggapan

  1. Kenapa kita selalu ketinggalan. Biasa murid kan di kemudian hari selalu lebih dari gurunya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: