Mengaku muslim tetapi berkeyakinan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW adalah penodaan agama Islam

Catatan As Salyan:

Kami menilai bahwa sebenarnya kelompok Ahmadiyah ini adalah kelompok binaan Inggris. Sebagaimana banyak yang memahami bahwa Inggris ini adalah negara di bawah binaan kapitalis-imperialis internasional. Mirza Ghulam Ahmad, seorang yang diangap nabi oleh kelompok Ahmadiyah , ini pernah menfatwakan bahwa haram hukumnya berjihad melawan Inggris, dan Inggris adalah negara yang harus dicintai, walapun Inggris saat itu adalah penjajah banyak bangsa termasuk bangsa-bangsa  di asia selatan.

Ditambah dengan banyak kesesatan Ahmadiyah yang tertulis dalam artikel dibawah, terutama keyakinan, bahwa adanya nabi setelah nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, maka jelaslah bahwa kasus Ahmadiyah kasus yang diciptakan oleh kelompok yang mengikuti kesesatan setan dan didalangi oleh para pengikut setan.

Republika, Jumat, 18 Februari 2011

Ahmadiyah, Penodaan Agama

KH Ali Mustafa Yaqub
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa

Tragedi penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang telah mencoreng wajah Islam yang ramah dan rahmat bagi seluruh penghuni jagat raya ini. Dugaan sementara, sekurang-kurangnya ada tiga skenario untuk mengetahui siapa dalang alias aktor intelektual di balik tragedi tersebut.

Pertama, tragedi itu didalangi oleh musuh-musuh Islam secara global. Sasarannya adalah untuk membenarkan bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan, anarkis, radikal, bahkan teroris.

Kedua, tragedi Cikeusik itu didalangi oleh mantan-mantan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Sasarannya adalah untuk mengadu domba antarumat beragama.

Ketiga, tragedi itu didalangi oleh orang-orang Ahmadiyah sendiri. Sasarannya untuk memperoleh simpati. Sebab, di Indonesia ada kamus politik, semakin banyak dizalimi, akan semakin banyak mendapatkan simpati.

Penodaan Agama

Selama ini ada kesan bahwa kaum Muslim tidak siap berbeda pendapat, sehingga ketika ada kelompok lain yang berbeda paham, mereka harus dihabisi. Kaum Muslim seolah-olah hanya menganggap pahamnya sendiri yang benar, yang lain salah.

Kesan seperti ini tentulah berlawanan dengan ajaran Islam. Sebab, Islam mengakui eksistensi agama lain tanpa mengakui kebenaran ajarannya. Islam mengakui pluralitas agama (bukan pluralisme agama), dengan prinsip lakum dinukum wa liya din (bagi kamu agama kamu dan bagi saya agama saya).

Pluralitas agama tidak hanya diakui oleh Islam, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa Nabi Muhammad SAW, sekurang-kurangnya ada lima agama yang hidup berdampingan secara damai, yakni Islam, Nasrani, Yahudi, Majusi, dan Animisme.

Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran dan hadis Nabi yang membolehkan, apalagi menyuruh orang Muslim melakukan kekerasan atau membunuh orang lain karena perbedaan agama. Dalam praktik juga tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa orang Islam membunuh orang lain karena perbedaan agama.

Salah seorang mertua Nabi SAW, ayahanda Ummul Mukminin Shofiyah, yang bernama Huyai bin Akhtab, adalah pemeluk Yahudi. Tetapi, Rasul SAW tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya.

Masalah Ahmadiyah sebenarnya bukan soal perbedaan akidah (keyakinan), melainkan masalah penodaan agama Islam. Sekiranya orang Ahmadiyah tidak mengklaim dirinya Muslim dan tidak menodai Alquran dan hadis Nabi, maka tidak ada masalah dengan umat Islam. Orang Ahmadiyah mau mengimani bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu nabi atau bahkan tuhan, umat Islam tidak akan mempermasalahkan hal itu, asalkan mereka tidak menodai agama Islam.

Ahmadiyah sudah jelas menodai Alquran dan hadis, baik secara material maupun interpretasi (penafsiran). Penodaan secara material, contohnya, mereka telah membajak atau mengoplos sejumlah ayat Alquran (wahyu), dan ditambahkan dengan perkataan Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang terkandung dalam Haqiqat al-Wahyi.

Contoh nyata pengoplosan ayat adalah surah al-Baqarah [2] ayat 35 tentang perintah Allah SWT agar Adam tinggal di surga.  Kata ‘Ya Adam’ justru diganti dengan ‘Ya Ahmad’.

Pengoplosan ayat lainnya adalah surah al-Anfal [8] ayat 17. Dalam ayat ini disebutkan  “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar…”

Oleh Ahmadiyah maknanya adalah “Ya Ahmad, Kami mengutus engkau dari Qadian, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar,…”

Inilah di antara contoh penodaan Alquran secara materi oleh Ahmadiyah. Tak hanya dua ayat di atas, tetapi jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan ayat.

Sedangkan, penodaan secara interpretasi atau penafsiran makna ayat adalah pada surah al-Ahzab [33] ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”

“Pada akhir zaman nanti, akan keluar 30 orang pembohong yang semuanya mengaku sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada nabi sesudah aku (La nabiyya min ba’diy)”. (HR Tirmidzi).

Dalam ayat di atas, secara tegas Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup nabi-nabi. Namun oleh Ahmadiyah, ayat tersebut dimaknai sebagai nabi yang paling mulia. Karena itu, dalam pemahaman Ahmadiyah masih terbuka jalan kenabian, memungkinkan adanya nabi baru. Inilah yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dalam hadis di atas dijelaskan bahwa tidak ada nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, orang yang mengaku dirinya nabi adalah pembohong atau pendusta, seperti Musailamah al-Kadzdzab (sang pembohong besar). Masih banyak hadis lain yang diriwayatkan oleh para ahli hadis seputar Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi.

Ketika kelompok Ahmadiyah didebat soal ini, mereka senantiasa berkelit dan menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaru). Ini sama dengan yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah di Pakistan, yakni membuat kamuflase untuk mencari keselamatan.

Sumpah mereka dengan menggunakan dua kalimat syahadat juga tidak bisa diterima karena tidak konsisten dalam memahaminya. Ahmadiyah mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi tidak mau mempercayai akan hadis-hadisnya.

Karena itu, jika Mirza Ghulam Ahmad sudah jelas melakukan kesesatan, tentu saja orang yang mengikutinya juga tersesat, kendati mereka melakukan shalat, puasa, atau haji. Ibaratnya, walau 99,9 persen ibadahnya sama dengan yang dilakukan umat Islam, 0,1 persen berbeda dan itu adalah hal prinsip, maka mereka jelas berbeda dengan Islam.

Bagi kaum liberal yang menyatakan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh menghakimi akidah seseorang, hal itu tidak bisa diterima juga, mengingat pemimpin Ahmadiyah telah mengajak orang untuk memahami akidah yang salah. Misalnya, jika ada orang Islam mengatakan tuhannya adalah kerbau dan nabinya adalah sapi, sebagai umat Islam, apakah kita tidak boleh untuk meluruskannya?

Allah telah memberikan pikiran (akal) kepada kita untuk membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang salah. Bila tidak, sama saja kita tidak mengakui dua kalimat syahadat. Inilah pentingnya membedakan antara orang Islam dan Mukmin, dengan orang yang bukan Islam.

Dua opsi

Oleh karena itu, menurut hemat saya, hanya ada dua pilihan (opsi) dalam penyelesaian Ahmadiyah. Pertama, Ahmadiyah berdiri sendiri sebagai agama baru dan melepaskan semua atribut Islam sehingga mereka bisa hidup berdampingan dengan umat Islam.

Pilihan kedua, pemerintah harus tegas untuk membubarkan Ahmadiyah sebagaimana fatwa MUI tahun 1980 dan 2005, serta fatwa Rabithah ‘Alam Islami (RAI/Liga Islam Dunia) tahun 1974 yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Tidak ada jalan keluar untuk menghindari tragedi serupa seperti di Cikeusik, kecuali melalui jalur hukum dengan mengacu kepada Undang-Undang No 1/1965. Pimpinan, tokoh, dan mubalig Ahmadiyah harus diadili dan dihukum karena jelas-jelas mengajarkan paham yang salah. Padahal, Lia Eden, pendiri Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden, yang juga menodai Alquran, sudah dua kali diadili dan divonis penjara.

Jika penodaan agama Islam oleh Ahmadiyah ini tidak diselesaikan secara hukum, gesekan (bentrokan) antara Ahmadiyah dan Islam dikhawatirkan akan terus terjadi. Kita berharap, dengan ketegasan sikap pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini secara hukum, masalah Ahmadiyah di Indonesia bisa selesai. Insya Allah.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24/129392/Penodaan_Agama

4 Tanggapan

  1. mohon kirim tulisan baru

  2. mohon kirim tulisan baru

  3. Ada banyak hadis menyebutkan bahwa di akhir zaman akan datang nabi Isa kedua kali berpangkat nabi. nah bagaimana dengan hadis tersebut?
    Dan pastinya nabi Isa yang akan datang itu dari ummat Islam karena :
    1.Nabi Isa yang dahulu untuk Bani Israil (Ali Imran :49)
    2.Nabi Isa yang Dahulu sudah wafat (Al-Maidah:117, Ali Imran:55, dst)
    3.Ada Hadist Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: ”Bagaimana sikap kamu apabila turun Ibnu Maryam di tengah-tengah kamu dan menjadi Imam dari antara kamu.” (HR Muslim)dari antara kamu artinya bahwa Nabi Isa yang dijanjikan harus dari Ummat Islam.
    4.Allah berfirman:“Dan, apabila dijelaskan Ibnu Maryam sebagai misal, tiba-tiba kaum engkau meneriakan suara protes” (QS Az-Zukhruf : 57) jadi ungkapan Ibnu Maryam itu hanya semisal saja, bukan nabi Isa yang dahulu, kebanyakan ummat Islam protes.
    5.dalam Mukhtamar NU ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 : Di akhir zaman nanti nabi Isa akan datang kembali dan akan mengikuti syariat Islam.artinya pasti ummat Islam tidak mungkin agama lain, atau Nabi Isa yang dahulu.
    6.Oleh sebab itu Allah berfirman:Dan, barang siapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada rnereka Allah memberikan nikmat, yakni :nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati.(An Nisa:69), artinya barangsiapa yang Taat Kepada Allah dan Nabi Muhammad akan mendapat derajat tersebut.
    7. PERLU DICATAT BAHWA KENABIAN YANG TETAP TERBUKA TERSEBUT ADALAH KENABIAN YANG TIDAK MEMBAWA SYARIAT, HANYA MENGIKUTI SYARIAT NABI MUHAMMAD, SEPERTI TELAH DIURAIKAN DI ATAS.
    8..masih banyak dalil lain. jadi bila Al-Quran, Hadis bahkan NU mempercayai ada lagi “nabi” sesudah nabi Muhammad, apakah anda berani mengatakan mereka keluar dari Islam?

    • Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau “tawaffaitany” (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (TQS Al Maidah 117).

      (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada “mutawaffiuka” (wafatmu) dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (TQS Ali Imran 55)

      Kata “tawaffaitany” pada surat Al Maidah 117, dlm terjemah Al Qur’an versi Departemen Agama diterjemahkan wafat (angkat). Sebagian kalangan menafsirkannya wafat, sebagiannya lagi menafsirkannya diangkat dan belum wafat.
      Sedangkan kata “mutawaffiuka” pada surat Ali Imran 55 diterjemahkan wafatmu. Sebagian kalangan menafsirkannya telah wafat, sebagiannya lagi menafsirkanya akan wafat nanti setelah turun di akhir jaman.
      Kami memilih untuk mempercayai bahwa Nabi Isa bin Maryam as belum wafat dan nanti akan turun di akhir jaman.
      Nabi Isa bin Maryam as bukan nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW, tetapi beliau adalah Nabi utusan Alloh (sebelum Nabi Muhammad SAW) untuk kaum bani israil supaya mereka bertauhid dan menjalankan syariat Islam versi Nabi Isa as.
      Setelah diutusnya Nabi Nabi Muhammad SAW seharusnya semua umat manusia mengikuti syariat agama Islam versi Nabi Muhammad SAW, termasuk kaum bani israil.
      Nabi Isa as. yang akan Alloh SWT turunkan nanti adalah pengikut Nabi Muhammad SAW dan menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW. Saat kemunculan beliau itu, Nabi Isa as bukan bertugas sebagai nabi dan rasul yg membawa ajaran baru. Tetapi beliau memperkuat aqidah dan syariat Al-Islam yang di akhir jaman seolah-olah “asing” dan mengkoreksi agama Yahudi dan Nasrani.
      Beliau menegakkan kalimah bahwa Tiada tuhan selain Alloh, Muhammad adalah utusan Alloh, Nabi Uzair a.s adalah hamba Alloh, Nabi Isa a.s. adalah hamba Alloh, Ummi Maryam adalah Hamba Alloh. Beliau memerangi kepercayaan yg bertentangan dg ketauhidan-keesaan Alloh SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: