Seluruh Rakyat Mesti Sadar, Apakah Wajah Sesungguhnya dari Para Pemimpinnya

Republika, Selasa, 08 Februari 2011 pukul 13:50:00

Wajah Amerika di Mesir

Oleh :Abdillah Toha, Mantan Ketua BKSAP DPR

Amerika memang bermain di mana-mana. Kali ini permainannya di Mesir makin terkuak. Ketika Ben Ali jatuh di Tunisia dan disusul dengan pergolakan pemuda di Mesir, Amerika mulai khawatir. Berbeda dengan ketika ada demo besar di Iran yang menentang Ahamadinejad di mana pemerintah Obama dengan segera dan serta-merta mendukung pendemo, kali ini Amerika sangat lamban dan terkesan menunggu perkembangan situasi.

Setelah polisi dan aparat keamanan Mesir gagal menghambat pemrotes dengan kekerasan dan kemudian militer mengambil alih dengan lebih bijak, Amerika baru mengeluarkan pernyataan meminta Mubarak tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi gerakan masa di sana. Pernyataan ini disusul dengan permintaan agar pemerintah Mesir melakukan reformasi dan mengadakan dialog dengan rakyatnya.

Sebagaimana biasa, sekutu Amerika di Eropa, utamanya Inggris, kemudian membeo dan meminta Mubarak agar mereformasi SISTEM pemerintahannya, bukan pemerintahnya. Belakangan Departemen Luar Negeri Amerika membuat pernyataan yang lebih “maju” lagi ketika Hillary Clinton meminta Mesir untuk melaksanakan proses transisi dengan tertib (orderly transition). Tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan transisi.

“Desakan” Amerika ini segera diikuti dengan setia oleh Mubarak dengan pertama mengangkat orang dekatnya sebagai wakil presiden setelah 30 tahun negeri itu tidak punya wakil presiden, kemudian  mengganti perdana menteri dan beberapa menteri lain termasuk menteri dalam negeri yang membawahkan aparat keamanan Mesir yang dikenal bengis.

Terakhir, setelah menyaksikan ketahanan dan semangat gerakan masa yang makin meningkat dengan turunnya sejuta lebih massa pada ini Selasa 2 Februari, Obama mengirim utusan khusus ke Mesir dan meminta Presiden Mubarak membuat pernyataan tidak akan maju lagi dalam pemilihan presiden di Mesir pada September mendatang.

Permintaan Gedung Putih ini menyusul pernyataan Senator Kerry yang meminta Mubarak bekerja sama dengan militer dan masyarakat madani untuk membentuk pemerintahan transisi. Mengingatkan kita kepada upaya akhir Soeharto membentuk kabinet reformasi yang ditolak masa.

Dengan serta-merta Mubarak menurut dan mengumumkan melalui televisi bahwa dia tidak akan maju lagi namun berjanji akan menjaga keamanan dan proses penggantian pemerintahan sampai pemilu September nanti.

Taktik Menunda

Sejak awal, siapa pun dengan mudah dapat membaca sikap dan posisi Amerika. Ada kesan kuat bahwa satu per satu langkah Mubarak secara berurutan menunggu arahan dari Washington. Pemerintah Amerika yang dikejutkan dengan perkembangan cepat di Timur Tengah merasa kecolongan dan panik. Obama dalam waktu seminggu terakhir berkali-kali mengadakan rapat-rapat darurat dengan berbagai pembantu utamanya membahas situasi mutakhir di Mesir, seakan-akan seperti sedang membahas pemberontakan di Texas atau California.

Mubarak adalah sekutu setia Amerika dan Israel di Timur Tengah yang telah berperan menciptakan “kestabilan” dan memelihara perdamaian dengan Israel selama 30 tahun terakhir. Mubarak bahkan membantu Israel dalam upaya melemahkan Hamas, musuh utama Israel di Gaza.

Jatuhnya Mubarak akan menciptakan ketidakpastian bagi kepentingan Barat dan Israel. Belum lagi dibayang-bayangi dengan kekhawatiran kemungkinan munculnya Ihwanul Muslimin pasca-Mubarak. Segala jalan harus ditempuh Amerika dan kawan-kawan untuk sebisa mungkin mempertahankan Mubarak. Bila ini tidak mungkin, setidaknya Amerika perlu waktu untuk memengaruhi proses pergantian penguasa di Mesir. Satu-satunya jalan, ketika Mubarak sudah dalam posisi terpepet, adalah dengan melakukan taktik menunda.

Dengan demikian, Amerika berharap akan tampak berpihak kepada rakyat Mesir dengan meminta Mubarak tidak maju lagi dalam pemilu presiden mendatang. Yang sebenarnya adalah bahwa Amerika dan sisa-sisa pendukung Mubarak di Mesir hanya sekadar membeli waktu untuk mengatur strategi berikutnya.

Langkah ini, menurut saya, sudah sangat terlambat. Rakyat Mesir tidak akan membeli tawaran terbaru Amerika. Mereka tidak terlalu bodoh untuk bisa membacanya. Jika Amerika memang tulus menghendaki kedaulatan rakyat di Mesir, mengapa baru sekarang mereka bertindak setelah terjadi pergolakan besar dan jatuh ratusan korban tewas serta ribuan cedera di kalangan rakyat?

Rakyat Mesir sekarang hanya mengenal satu kata “irhal” (pergilah) bagi Mubarak yang berulang-ulang diteriakkan  saat demonstrasi. Elbaradai, tokoh moderat Mesir mantan ketua IAEA yang belakangan beroposisi terhadap Mubarak, menyatakan kecewa atas sikap Amerika yang plin-plan. Wajah Amerika di Mesir sudah telanjur tercoreng. Tuntutan rakyat Mesir tidak kurang dan tidak lebih dari hengkangnya Mubarak dari tampuk kekuasaan Mesir.

Sikap Amerika yang bermuka dua ini bukanlah hal baru. Meneriakkan demokrasi sambil memelihara penguasa-penguasa otoriter di berbagai negara. Menganjurkan perdamaian sembari mengirim tentara untuk berperang di mana-mana dan menjual senjata ke mana-mana. Melarang Iran memiliki kekuatan Nuklir tapi membiarkan Israel sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah. Mempromosikan kebebasan pers tetapi mengebom kantor berita Aljazeera di Baghdad dan melarang TV Almanar menjangkau Amerika. Memberikan sanksi terhadap negara-negara yang melanggar HAM tetapi melanggar HAM berat sendiri baik di dalam maupun di luar negeri.

Bila dari kasus pergolakan di Timur Tengah yang tampaknya tidak ada titik baliknya ini Pemerintah Amerika masih tetap tidak mampu mengambil pelajaran berharga darinya dengan meninjau kembali politik luar negerinya untuk kepentingan nasional Amerika jangka panjang, maka merugilah rakyat Amerika yang berkali-kali memilih presiden dan wakil rakyatnya yang tidak salah visi dan sekadar berorientasi politik jangka pendek.

 

Sumber :

http://republika.co.id:8080/koran/24

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: