Pemimpin itu harus memperhatikan Sunatullah

Republika, Jumat, 04 Februari 2011 pukul 11:00:00

Mesir!

Oleh Zaim Uchrowi

Tahun 1978, itu tahun pertama saya kuliah. Dalam pertemuan awal mata kuliah agama, saya membayangkan akan membahas tema ‘Tauhid’. Membahas betapa Mahakuasa dan Mahaagung Allah SWT. Membahas bagaimana manusia semestinya tunduk dan mengagungkan Sang Khalik. Ternyata bukan itu.

Sunnatullah. Dosen menuliskan kata itu dengan kapur di papan tulis. Papan putih ‘white board’ belum musim masa itu. Apalagi, LCD yang menayangkan materi kuliah dari komputer. Tapi, sang dosen bukan sekadar menjadi mesin pengajar. Ia sungguh-sungguh meyakini hal yang disampaikannya. Mengajar baginya merupakan jalan berbagi keyakinan yang mendalam.

Penghapal Alquran dan Hadis sungguh seorang luar biasa. Tak banyak yang mampu mencapai tingkat itu. Namun, tanpa memahami ‘sunnatullah’, mereka tetap akan kesulitan memahami Alquran dan hadis seutuhnya. Apalagi melaksanakannya. Karena itu, belajar ‘sunnatullah’ juga wajib. ‘Sunnatullah’ adalah hukum alam. Berlaku bagi semua. Baik pada orang beriman maupun kafir. Misalnya, api terasa panas; benda di tangan akan jatuh bila dilepas; dan lain-lain. Hukum alam itu juga hukum Allah SWT.

Realitas alam akan selalu beriringan dengan Alquran dan hadis. Akal selalu berdampingan dengan hati. Bila keduanya belum sejalan, hampir pasti karena ada pemahaman yang belum pas. Bisa saja Tuhan membuat pengecualian. Sebagai Yang Maha Kuasa, apa pun yang dikehendakinya akan terwujud. Tapi, bukan pengecualian itu penting yang diperhatikan. Justru hukum umum ‘sunnatullah’ yang harus didalami. Sikap abai pada ‘sunnatullah’ menjadikan umat lemah dan terpinggirkan. Begitu kira-kira yang diajarkan dosen itu dulu.

Sekarang, setelah 33 tahun berselang, materi kuliah ‘sunnatullah’ itu teringatkan lagi.

Krisis Mesir menunjukkan bahwa melanggar ‘sunnatullah’ dapat berakibat fatal. Dalam hal ini ‘sunnatullah’ dalam kepemimpinan.

Kapasitas manusia dalam memimpin jelas terbatas. Tak mungkin orang mampu memimpin secara baik berlama-lama.

Nabi Muhammad SAW menunjukkan, masa kepemimpinan puncak yang ideal tak lebih dari 10 tahun. Itu terjadi dalam kepemimpinan di masyarakat di Madinah (0-10 Hijriah atau 622-632 Masehi).

Lama kepemimpinan Husni Mubarak sudah tiga kali ukuran ‘sunnatullah’. Siapa pun memimpin melebihi batas itu akan gampang terjerumus membuat kerusakan. Itu yang terjadi sejak masa Firaun. Itu bahkan terjadi di negeri ini. Baik di masa Soekarno maupun Soeharto. Mubarak mencoba melawan ‘sunnatullah’ itu. Dapat dimengerti bila sekarang ia harus mengakhiri kekuasaan dengan cara menyakitkan. Terlalu banyak kerusakan yang telah dibuatnya akibat melanggar ‘sunnatullah’ itu.

Pengabaian ‘sunnatullah’ lain juga menjadi faktor penentu krisis Mesir.

Agama mengajarkan, “takutlah meninggalkan generasi lemah”. Ajaran itu benar-benar diabaikan dalam kehidupan masyarakat Muslim. Ledakan penduduk terjadi hampir di seluruh wilayah Islam. Mesir salah satunya. Kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial lain menumpuk. Siapa pun yang memimpin akan menghadapi bom waktu itu. Apalagi, Mubarak yang otoriter. Keadaan semacam juga melilit hampir di semua bangsa Muslim. Itulah yang meruntuhkan bangsa-bangsa Asia Selatan dan Afrika Utara. Sebagian mereka akan sulit, bahkan tak akan pernah mampu, bangkit sampai kiamat nanti menjemput.

Saudi pun tak bebas dari masalah itu. Negara makmur ini mulai menyimpan angka kemiskinan dan pengangguran serius. Apalagi kita, bangsa berlimpah sumber daya alam, namun gagal mengoptimalkannya untuk membangun kesejahteraan bersama. Daerah-daerah beridentitas Islam adalah daerah dengan ledakan penduduk luar biasa. Lingkungan biasanya juga rusak. Kemiskinan pun mengakar. Bahkan, di daerah sangat subur seperti Dieng sekalipun.

Pangkal semua itu adalah pengabaian ‘sunnatullah’. Para pemimpin umat kita umumnya masih tak mau tahu hukum Allah berupa ‘sunnatullah’. Tafsir keberagamaan kita masih mengacu ke zaman sebelum antibiotik ditemukan, ketika laju natalitas masih berimbang dengan laju mortalitas. Tafsir kependudukan kita sama dengan Katholik Roma. Wajar bila jumlah penduduk meledak, lingkungan rusak, lalu kemiskinan dan masalah sosial pun bertambah.

Krisis Mesir 2011 bukan semata krisis politik. Krisis itu juga muara krisis sosial yang kronis akibat pengabaian ‘sunnatullah’. Terutama dalam kependudukan dan lingkungan. Semestinya kita dapat sungguh-sungguh becermin pada keadaan itu.

Sumber :

http://republika.co.id:8080/koran/28/128500/Mesir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: