Nabi Isa bin Maryam Mematahkan Salib di Akhir Jaman

Bulan Desember dalam kalender masehi adalah bulan dimana dirayakan hari natal atau hari yang diyakini sebagai kelahiran tuhan yesus kristus. Peringatan natal ini bila dilihat dalam pandangan mukasyafah, terlihat perayaan para setan menghina Nabi Isa bin Maryam yang dihinakan sebagai anak Tuhan Allah, perayaan ini juga berarti penghinaan kepada Ibu Maryam yang dihinakan sebagai istri Tuhan Allah. Penghinaan-penghinaan itu pada dasarnya adalah penghinaan kepada Alloh SWT. Kaum yang beriman kepada Ke Maha Esaan, ketauhidan Alloh SWT, tentunya tidak membiarkan penghinaan ini terus berlangsung. Apabila seorang yang mengaku muslim membiarkan penghinaan ini dan malahan rela dan menikmati perayaan ini, berarti orang tersebut masih belum beriman kepada ketauhidan Alloh SWT. Tetapi dengan situasi dan kondisi kaum yang beriman kepada Ke Maha Esaan, ketauhidan Alloh SWT saat ini, ketidakrelaan terhadap penghinaan-penghinaan ini perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, supaya tidak menjadikan kerugian yang besar bagi kaum yang beriman itu. Tindakan mencegah dan memberantas penghinaan-penghinaan itu tidak boleh didasari oleh hawa nafsu. Pencegahan dan pemberantasaan penghinaan-penghinaan itu haruslah berdasarkan perintah Alloh SWT melalui RasulNya, serta melalui WaliNya. Pencegahan dan pemberantasaan penghinaan-penghinaan itu secara fisik yang berdasarkan perintah Alloh SWT melalui RasulNya akan dilakukan oleh Imam Mahdi RA dan Nabi Isa bin Maryam AS, berdasarkan sabda Nabi dalam hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim yang adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak menerima upeti. Harta akan melimpah, sehingga tak seorang pun mau menerimanya (Shahih Muslim).

Perintah Alloh melalui RasulNya dan para Walinya saat ini untuk pencegahan dan pemberantasaan penghinaan-penghinaan itu masih berupa tindakan batiniyah/ruhaniyah yang perlu dilakukan oleh setiap mukminin dan mukminat.

Dalam rangka pencegahan dan pemberantasaan penghinaan-penghinaan itu berupa tindakan batiniyah/ ruhaniyah dan juga menyongsong kedatangan Imam Mahdi R.A. dan Nabi Isa bin Maryam A.S. di akhir jaman ini, wajib hukumnya bagi setiap mukmin untuk melaksanakan pekerjaan utama yang diridloi Alloh SWT., sebagaimana yang akan dilaksanakan oleh Nabi Isa bin Maryam. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, Nabi Isa bin Maryam A.S akan melakukan :

  1. Menjadi Hakim yang adil, artinya untuk umat Islam adalah :  setiap muslim diharuskan menjadi hakim yang adil, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kedudukannya. Pikirkan, selesaikan, dan putuskan semua masalah dan perkara dengan seadil-adilnya, sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
  2. Mematahkan salib, artinya untuk umat Islam adalah :  salib adalah simbol penghalang kepada jalan yang lurus, salib adalah simbol jalan yang dimurkai oleh Alloh SWT dan yang sesat, salib adalah simbol kemusyrikan yang paling munkar, yaitu menuduh Alloh SWT mempunyai anak dan istri. Untuk itu setiap muslim diharuskan mematahkan dan menghancurkan simbol salib yang ada dalam diri masing-masing, dengan cara membuat salib (dengan kayu atau bahan lain yg mudah dipatahkan) dan kemudian dipatahkan dan dihancurkan dan dibakar, sebagai simbol membantah kemusyrikan. Untuk saat ini, umat Islam dilarang melakukan perbuatan anarkis tanpa perintah Khalifah Rasulillah, yaitu mematahkan salib milik non muslim atau salib bukan miliknya sendiri. Besar dan jenis material simbol salib yang ada dalam diri, mencerminkan besar dan nilai potensi kemusyrikan dalam diri seseorang. Misalnya besarnya salib satu meter, dengan bahan dari emas. Besar dan jenis material simbol salib itu dapat dilihat oleh seorang hamba Alloh SWT yang mendapat anugerah mukasyafah atau melihat ke dalam alam batin manusia. Tahapan awal dalam proses mematahkan dan menghacurkan salib dala diri itu, dimulai dengan meyakini, meyakinkan dan menanamkan keyakinan dalam diri, bahwa : Nabi Uzair bin Imron adalah hamba Alloh, Nabi Isa bin Maryam adalah hamba Alloh, Ibu Maryam adalah hamba Alloh. Keberhasilan keyakinan dalam diri itu dapat dilihat oleh hamba Alloh yang bermukasyafah dengan melihat seberapa besar dan dari bahan apa sisa salib itu di dalam diri seseorang.
  3. Membunuh babi, artinya untuk umat Islam adalah, babi adalah simbol sifat binatang yg haram dimakan, yang rakus (tamak), walaupun babi adalah binatang ternak yang jinak (bahaimiyah). Sifat babi ini seharusnya dibuang dari diri manusia sejati. Binatang lain yg sifatnya lebih baik adalah binatang ternak yg halal dimakan, tetapi tetap tidak seharusnya manusia bersifat bagai binatang ternak itu. Sifat binatang yg lebih buruk adalah binatang buas. Binatang buas itu selain tamak, juga sombong dan suka membunuh yag lain untuk memuaskan nafsu makannya (subaiyah). Makhluk yang paling buruk sifatnya adalah setan, yang suka mencelakakan manusia dan jin sebagai kesukaannya (syaithoniyah). Semua sifat binatang dan setan itu seharusnya dibuang dari diri manusia, sehingga manusia menjadi bersifat rabbaniyah, yaitu sifat manusia yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa. Bentuk-bentuk ruhani manusia yg bersifat binatang atau setan itu dapat dilihat oleh hamba Alloh yang bermukasyafah. Tahapan awal dalam proses mengalahkan dan menghilangkan bentuk ruhaniyah yg bersifat binatang atau setan itu adalah dengan pengakuan diri penuh dengan dosa dan kedzloliman, dengan banyak ber istighfar dan ber iktorob (robbanaa dzolamnaa anfusanaa ….. dst. doa nabi Adam AS). Keberhasilan proses mengalahkan dan menghilangkan bentuk ruhaniyah yg bersifat binatang atau setan itu dapat dilihat oelh hamba Alloh yang yang bermukasyafah, masih adakah atau sudah tergantikan dengan bentuk cahaya yang menerangi alam-alam batiniyah manusia itu.
  4. Tidak menerima upeti, artinya untuk umat Islam adalah, upeti adalah pemberian kepada yang sedang berkuasa. Upeti ini termasuk suap, tidak boleh diterima oleh manusia sejati yang sedang memegang kekuasaan apapun. Dengan suap atau upeti ini manusia penerima upeti bisa melakukan perbuatan yang melanggar aturan.

Urutan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh muslim yang menginginkan menjadi manusia sejati yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada Alloh SWT, berdasarkan hadis di atas adalah :

  1. Membunuh babi dan sejenisnya.
  2. Mematahkan salib.
  3. Tidak menerima upeti.
  4. Menjadi hakim yang adil.

Proses menjadi manusia sejati yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada Alloh SWT perlu dibimbing oleh seorang hamba Alloh yang sebagai guru mursyid yang mendapat wewenang dari Rasulullah SAW, melalui para wali Alloh, sebagaimana firman Alloh : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (tafsir QS 3/ Ali Imran 64).

Untuk itulah kepada kaum muslimin dan muslimat, bunuhlah babi-babi dan sejenisnya di dalam diri kita, patahkanlah salib yang menjadikan penghalang perjalanan yang lurus, janganlah menyuap dan menerima suap dan jadilah hakim yang adil di manapun kalian berada. Setelah semua proses itu dilalui, barulah kita akan menjadi kaya secara batiniyah. Kita akan mempunyai banyak teman di kalangan orang-orang soleh baik lahiriyah maupun batiniyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: