Tiga Teori Kedatangan Islam ke Indonesia

Ahad, 20 Muharram 1432 H

Tiga Teori Kedatangan Islam ke Indonesia

Oleh Nidia Zuraya

Ada tiga isu utama yang menjadi perdebatan para sejarawan terkait awal mula masuknya Islam ke nusantara, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.

Sejak awal Masehi,  kawasan Asia Tenggara telah berfungsi sebagai jalur lintas perdagangan yang menghubungkan wilayah Asia Timur dan Asia Selatan. Dari kawasan Asia Selatan, hubungan pelayaran antar benua terus berlanjut ke barat hingga mencapai Eropa.

Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya yang bertajuk Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia mengungkapkan, sejak abad ke-5 M, kawasan Asia Tenggara menjadi lebih ramai dengan hadirnya pedagang dan pelaut dari berbagai negara yang biasa berlayar melalui wilayah itu.

Globalisasi perdagangan itu juga menjadi saluran bagi masuknya berbagai pengaruh tradisi besar di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya adalah ajaran Islam. Sejak dulu hingga kini, ada beragam teori tentang masuknya Islam ke Indonesia.

Ada tiga isu utama yang menjadi perdebatan para sejarawan terkait awal mula masuknya Islam ke nusantara, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.

Dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Ahmad Mansur Suryanegara membaginya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat, India melalui peran para pedagang India Muslim pada sekitar abad ke-13 M.

Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab Muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.

Prof Dr Hamka dalam buku Sejarah Umat Islam mengungkapkan, berdasarkan naskah kuno Tiongkok, sekitar 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatra Barat, tepatnya di daerah Barus. Marcopolo-seorang penjelajah dari Venesia-saat singgah di Pasai pada 1292 M mengungkapkan, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam di nusantara.

Ibnu Batutah, seorang pengembara Muslim dari Fes, Maroko, dalam catatan perjalanannya berjudul Ar-Rihla mengungkapkan, ketika singgah di Aceh pada 1345 telah tersebar mazhab Syafii.

Perkembangan Islam di nusantara semakin pesat pada abad ke-16 M. Islam telah menyebar secara merata ke seluruh wilayah nusantara. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17 M, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Perkembangan Islam yang demikian pesat di bumi nusantara ini membawa dampak pada masyarakat. Ajaran Islam yang berasal dari Timur Tengah dan masuk ke Indonesia melalui para pedagang Arab membuat banyak masyarakat kesulitan dalam memahami istilah-istilah Arab. Dari sinilah, kemudian muncul sejumlah tokoh Muslim yang menguasai bahasa Arab untuk memperkenalkan ajaran Islam sesuai dengan tradisi lokal.

Para tokoh Muslim ini mengajarkan agama Islam menurut bahasa dan adat istiadat setempat. Mereka inilah yang memiliki peran besar dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di Indonesia. Sebagian besar nama-nama mereka telah melegenda, seperti Walisongo.


Bermula dari Dakwah Kultural

Oleh Nidia Zuraya

Sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran sembilan ulama penyebar Islam yang dikenal sebagai Walisongo. Mereka mengembangkan agama Islam antara abad ke-14 dan ke-16 M, menjelang dan setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Para wali itu tak hanya berperan sebagai mubaligh yang mengajarkan kaidah Islam kepada masyarakat dan pembesar kerajaan, tetapi juga menjadi pemimpin masyarakat dan pendamping raja. Karenanya, mereka diberi gelar Sunan (susuhunan atau junjungan), yaitu gelar para raja di Jawa.

Bukti kebesaran Walisongo terlihat, antara lain, melalui peninggalan-peninggalan mereka berupa bangunan, kesenian, dan tradisi Islam di sepanjang pesisir Jawa, mulai dari Gresik (Jawa Timur), Demak (Jawa Tengah), hingga Cirebon dan Banten (Jawa Barat).

Dalam menyiarkan agama Islam, Walisongo menggunakan cara yang tak dirasakan asing oleh masyarakat. Agar dakwah mereka mudah diterima, para Walisongo ini mempelajari bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Karena masyarakat Jawa dikenal sangat menyukai kesenian, para wali itu menggunakan berbagai bentuk kesenian tradisional sebagai media dakwah dengan menyisipkan napas Islam di dalamnya. Di antaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan pertunjukan wayang dengan lakon Islami.

Sunan Kalijaga, misalnya, mengembangkan wayang purwa, yakni wayang kulit bercorak Islam. Selain itu, Sunan Kalijaga juga menciptakan corak batik bermotif burung (kukula) yang mengandung ajaran etik agar seseorang selalu menjaga ucapannya.

Dakwah kultural semacam itu juga dilakukan oleh Sunan Drajat melalui tembang Jawa ciptaannya yang hingga kini masih digemari, yaitu tembang pangkur. Sementara Sunan Bonang menghasilkan Suluk Sunan Bonang atau primbon Sunan Bonang, yaitu catatan-catatan pendidikan yang dituangkan dalam bentuk prosa. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya.

Walisongo dikenal sangat peka dalam beradaptasi. Cara mereka menanamkan akidah dan syariat Islam sangat memperhatikan kondisi masyarakat setempat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi sebaliknya acara tersebut diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah.

Demikian juga dengan penggunaan istilah. Sunan Ampel yang dikenal sangat hati-hati, misalnya, menyebut shalat dengan ‘sembahyang’ yang berasal dari kata sembah dan hyang. Dia juga menamai tempat ibadah dengan langgar, yang mirip dengan kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan ciri khas genteng bertingkat-tingkat. Bahkan, di antara bangunan masjid tersebut memadukan corak bangunan Hindu, seperti Masjid Agung Kudus yang dilengkapi dengan menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren, yang menurut sebagian sejarawan, mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik calon pemimpin agama.

Sumber : Koran Republika, Ahad, 20 Muharram 1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: