Solusi Indonesia Menghadapi Krisis Finansial Global

Solusi Indonesia Menghadapi Krisis Finansial Global

Didin S Damanhuri
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Pengajar STEI Tazkia
Republika, Kamis, 20 November 2008

Kekhawatiran masuknya kembali IMF ke Indonesia dalam menghadapi krisis finansial global (baca: KFG) sudah banyak dibahas (Republika, 18/11). Namun, apa dan bagaimana alternatifnya, terutama tak hanya menyangkut dana talangan yang mungkin diperlukan Indonesia jika terjadi kesulitan likuiditas yang diramalkan terjadi pada 2009?

KFG sebagai gejala makro ekonomi, antara lain dapat dianalisis terutama sejak awal 1990-an akibat adanya gap yang makin menganga antara sektor finansial dan riil (decoupling), baik di tingkat global maupun di masing-masing negara. Terutama yang mengalami revolusi pasar finansial (pasar modal, pasar uang, dan pasar utang).

Dalam catatan tahun 2006, secara global pasar finansial omzetnya dua triliun dolar AS per hari, sementara pasar barang dan jasa hanya tujuh triliun dolar AS per tahun. Jadi, omzet pasar finansial 700 kali dibandingkan dengan pasar barang dan jasa. Ini yang kemudian oleh Peter Drucker dinamakan adanya proses decoupling yang menimbulkan ekonomi balon.

Di Indonesia terjadinya ekonomi balon tersebut juga mulai berkembang sejak liberalisasi perbankan tahun 1988 dan meletus pada saat krisis moneter tahun 1998 akibat gelembung utang jangka pendek swasta yang mencapai lebih dari 75 miliar dolar AS (kurs rupiah Rp 2.200 per dolar) yang diinvestasikan umumnya dalam proyek properti dalam transaksi rupiah yang bersifat jangka panjang serta menjamurnya pendirian bank-bank (sekitar 270 bank) serta tumbuh pesatnya pasar modal. Kemudian, proses decoupling dan ekonomi balon tak berhenti pada masa pemerintahan pasca-Orde Baru.

Misalnya, pada 2007 sektor finansial (pasar modal dan pasar perbankan, belum dihitung pasar utang berupa utang negara kepada masyarakat berupa SUN, obligasi , SBI) sudah 12 kali lebih besar dibandingkan dengan sektor riil (proxy GDP) dan gejalanya akan terus makin menajam. Apalagi bila masih terus dianutnya rezim devisa bebas seperti selama ini.

Karena terjadinya ekonomi balon seperti digambarkan di atas, dengan terjadinya KFG kemudian meletus sehingga diperkirakan dunia akan menderita kerugian 25 triliun dolar AS. Sementara, di Indonesia kapitalisasi pasar modal saja menurun dari Rp 1.800 triliun dalam satu bulan menjadi hanya Rp 1.200 triliun.

Dapat dibayangkan efek bergandanya terhadap tingkat pengangguran dan kemiskinan. Sekarang saja akibat menurunnya permintaan dunia terhadap komoditas CPO yang telah menjatuhkan harga yang sebelumnya berkisar 1.800 dolar AS menjadi 300 dolar AS per ton banyak perusahaan perkebunan maupun petani bangkrut. Di sektor tekstil diperkirakan pada 2009 akan terjadi PHK 70 ribu buruh.

Perkiraan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang dapat mencapai Rp 1.400 per dolar jelas dampaknya akan menyeluruh terhadap pelbagai sektor yang ujungnya dapat terjadi PHK massal. Kalau dalam krismon 1998 melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh Rp17 ribu justru banyak petani yang menikmati tingginya harga komoditas ekspor, sekarang permintaan dunia justru turun karena krisis yang menimpa Eropa dan AS yang menjadi tujuan pasar ekspor komoditas pertanian.

Dengan demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat dalam menghadapi KFG dalam jangka pendek harus ekstra diwaspadai dalam jangka menengah (2009-2010) di mana resesi dunia diperkirakan berjalan 2-3 tahun. Ini sebagai akibat terjadi kekeringan likuiditas global dan resesi bahkan depresi ekonomi (inflasi dan pengangguran tinggi serta bangkrutnya banyak industri) serta kecenderungan proteksi akibat fokusnya semua negara, yang kemungkinan dipelopori oleh Obama di AS, untuk memulihkan ekonominya masing-masing.

Belum lagi disertai efek traumatisme terhadap liarnya pasar bebas yang memiskinkan sebagian besar negara dan penduduk dunia yang telah terjadi beberapa tahun sebelum KFG meledak tahun 2008.

Efek Obama
Ketika Obama mulai memerintah 20 Januari 2009, dapat perkirakan akan ada beberapa efek terhadap hubungan internasional dan ekonomi dunia. Untuk menjurus pada proteksionisme ekstrem tidak akan terjadi, di samping sudah ditegaskan Obama bahwa perdagangan bebas dunia akan tetap dipertahankan.

Tapi, karena KFG yang membawa efek resesi ekonomi dalam negeri AS, kecenderungan berkurangnya impor AS yang sensitif terhadap berkurangnya kesempatan kerja warga AS, misalnya akibat begitu leluasanya industri otomotif dan elektronik berasal dari Asia kelihatannya akan mulai diregulasi kembali. Begitu juga dengan industri lain yang dipandang punya efek yang sama.

Kalau ini menjadi kenyataan, bisa terjadi perlakuan yang sama oleh negara-negara yang merasa dirugikan oleh kebijakan AS dengan melakukan asas timbal balik. Ini bisa menjadi kecenderungan baru dalam perdagangan global ke depan.

Juga ada kecenderungan akan adanya semacam regulasi pembatasan pasar bebas finansial. Maka boleh jadi dunia yang sebelumnya menikmati rezim devisa bebas, seperti yang dialami Indonesia, tak akan bisa lagi menikmati capital inflow secara mudah. Itu baik lewat pasar modal, pasar uang maupun pasar utang.

Ini akibat negatif yang dirasakan dunia sebelumnya dengan terlalu liarnya pasar finansial yang berujung terjadinya KFG. Makna konkretnya akan terjadi kekeringan likuiditas. Itu tak hanya karena kempesnya balon ekonomi global akibat krisis, tapi juga karena efek berganda secara psikologis yang diinginkan oleh dunia untuk membatasi pasar bebas finansial yang sangat spekulatif.

Efek Obama yang lain adalah kecenderungan mengedepankan kriteria HAM dalam hubungan internasional. Maka, efek lebih jauh secara ekonomi bisa terjadi penggunaan senjata terselubung untuk melindungi ekonomi AS dengan memberlakukan isu HAM.

Kepada negara yang penegakan HAM-nya lemah, bisa diberlakukan pembatasan impor barang dan jasa-saja tertentu. Misalnya, pembatasan impor AS dari Malaysia karena dianggap terjadi diskriminasi rasial yang melanggar HAM. Tentu masih banyak lagi perubahan yang perlu diantisipasi akibat efek Obama dalam bidang ekonomi.

Kebijakan spesifik Indonesia
Dengan Latar belakang analisis seperti di atas, terdapat beberapa solusi kebijakan yang perlu dikembangkan Indonesia sehingga tak terjebak lagi dengan kebijakan generik ala IMF (pengetatan moneter, penghapusan subsidi, liberalisasi dan privatisasi) seperti menghadapi krisis 1998. Pertama, sebaiknya melanjutkan lagi kalau bukan kontrol, setidaknya lebih sistematis memberlakukan sistem monitoring devisa, seperti telah dirintis oleh Bank Indonesia.

Kedua, menciptakan sistem insentif secara luas untuk menggalakkan pasar dalam negeri di samping merintis pasar ekspor nonkonvensional. Misalnya, ke Timur Tengah dan Afrika. Ini untuk mengantisipasi macetnya ekspor ke pasar-pasar AS dan Eropa.

Ketiga, mencoba menjajaki lebih serius lagi realisasi adanya semacam Kaukus Asia seperti yang dirintis Mahathir Muhammad untuk memperkuat jangkar moneter (alternatif sumber likuiditas) maupun perdagangan antaranegara Asia. Keempat, berupaya lebih keras dan sistematis menarik investor dari Timur Tengah yang masih terdapat dana melimpah, tetapi mereka sangat menuntut syarat tertentu.

Yang utama umumnya diperlukan saluran perbankan syariah. Adalah menjadi hikmah dengan tumbuh pesatnya perbankan syariah di Indonesia serta prinsipnya yang antispekulasi hendaknya Indonesia lebih proaktif menjadi bagian untuk mengoreksi ekonomi dunia yang sangat spekulatif (ribawi) yang terbukti menciptakan KFG 2008 yang dahsyat maupun dampak sosial ekonominya secara global. Perlu mengutamakan lagi sistem perbankan syariah dalam sistem ekonomi nasional.

Kelima, mempercepat reformasi birokrasi yang telah menjadi tuntutan mutlak agar tercipta pelayanan yang cepat, mudah, dan efisien sehingga dapat membantu berkembangnya ekonomi pasar domestik serta mengonkretkan ramalan akan terjadinya Indonesia sebagai next giant after China and India.

Ikhtisar:
–    Kepemimpinan Barack Obama akan memengaruhi perubahan ekonomi dan hubungan internasional.
–    Indonesia perlu menerapkan beberapa strategi pemulihan ekonomi agar tak terjebak pada pola lama.

http://republika.co.id:8080/koran/0/15220/Solusi_Indonesia_Menghadapi_Krisis_Finansial_Global

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: