Muqadimah Bidayatul Hidayah

Muqaddimah

 

 

Dengan menyebut nama Allah Yung Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Katakanlah sesungguhnya petunjuk yang benar adalah milik Allah”

Berkata seorang Syekh yang besar, imam yang sangat terkemuka, Al-Alim Al-Allamah, pembela Islam, pembawa banyak berkah bagi manusia, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali, semoga Allah mensucikan ruh beliau dan menyinari kuburnya. Amin

Segala puji dan syukur untuk Allah dengan sebenar-benarnya pujian, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, yaitu Nabi Muhammad SAW, seorang utusan dan hamba Allah  yang telah mengemban risalah dengan sebaik-baiknya, juga kepada segenap keluarga dan para sahabatnya, serta para generasi yang hidup pada masa setelahnya.

Ketahuilah, wahai orang  yang bersemangat dalam menimba ilmu agama, yang terlihat dari dirinya kesungguhan cinta dan tingginya dahaga kepada pengetahuan agama;  bahwa jika engkau di dalam mencari ilmu memiliki tujuan untuk bersombong, merasa lebih dari orang lain, mencari pujian di hadapan manusia dan mengumpulkan materi dunia dengan memperalat ilmu agama untuk kepentingan nafsu belaka, maka sesungguhnya engkau telah melangkah dalam menghancurkan agamamu, merusak jati dirimu dan menjual akhiratmu demi duniamu. Dengan demikian, maka akan rugi “perdagangan” agamamu dan akan rusak urusan akhiratmu, bahkan orang yang mengajarkan agama kepadamu seakan-akan telah menolongmu di dalam melaksanakan kemaksiatan. Dia seakan-akan telah menemanimu di dalam kerugian dan dia tidak jauh beda dengan orang yang menjual pedangnya kepada para perampok yang ingin mem­bunuhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“Barang siapa membantu sebuah kemaksiatan walaupun hanya dengan separuh kata, maka dia mendapatkan dosa yang sama dengan orang yang melakukannya “.

Adapun jika tujuanmu di dalam mencari ilmu adalah untuk menggapai ridha Allah dan mencari lentera hidayah dalam beribadah, bukan sekedar untuk mengetahui ataupun bercerita, maka herbahagialah engkau! Tataplah keberuntunganmu di hari kiamat yang pasti akan gemilang. Para malaikat senantiasa akan membentangkan sayapnya untukmu di setup perjalanan serta ikan-ikan di lautan akan membacakan istighfar untukmu di dalam setiap gerakanmu.

Hanya saja sebelum melangkah lebih lanjut, ketahuilah bahwa sesungguhnya hidayah (petunjuk Allah) adalah buah hasil dari pengamalan ilmu pengetahuan agama, dan bahwasanya hidayah tersebut memiliki permulaan dan akhiran, memiliki tingkatan dan urutan, meliputi bagian luar dan bagian dalam. Sekali-kali engkau tidak akan pernah sampai ke puncaknya, kecuali setelah engkau mendaki bukit kecilnya, engkau tidak akan dapat menemukan kedalaman hakikatnya kecuali setelah memahami bagian luarnya

Ketahuilah, dengan kitab ini aku ingin menunjukkan kepadamu permulaan-permulaan hidayah, agar engkau melatih hawa nafsumu dengan mengamalkan seluruh isinya, agar mengukur kebenaran pengakuanmu dengan mengistiqamahkan kandungan dan tuntunannya, dan agar menguji hatimu di dalam mengimplementasikan seluruh ilmunya. Jika engkau mendapat­kan hatimu tertarik kepada permulaan hidayah yang akan aku jelaskan dalam kitab ini, atau engkau mendapatkan motivasi yang tinggi karena membacanya dan hawa nafsumu tunduk serta menerimanya, maka bergegaslah engkau untuk mendaki bukit­-bukit hidayah, agar engkau segera mencapai puncaknya. Menyelamlah di dalam berbagai lautan ilmu agar engkau menemukan berbagai rahasianya. Namun apabila engkau mendapatkan hatimu menunda-nunda di dalam mengamalkan isinya, padahal ia berkali-kali selalu mendengar ajakan untuk berbuat kebaikan, maka ketahuilah bahwa nafsu yang mengajak menuntut ilmu tersebut, adalah nafsu jelek yang mengajak menuntut ilmu hanya demi memuaskan kepentingan syahwat belaka, dan semangat yang telah ia tampakkan hanyalah demi menuruti bisikan setan yang terkutuk saja. Berhati-hatilah, karena pada akhirnya ia akan menjeratmu dengan tali tipuannya, lalu ia akan menjerumuskan dirimu ke dalam jurang kerugian. Sadarlah bahwa dia telah bermaksud menawarkan kepadamu keburukan dalam merk dan label kebaikan, dan sedang mem­promosikan kesalahan dalam tampilan kebenaran. Semua itu ia lakukan dengan gigih kepadamu agar ia mampu menipumu tanpa engkau sadar, sehingga ia dapat memasukkan dirimu ke dalam golongan orang-orang yang merugi sementara engkau merasa beruntung, sebagaimana firman Allah :

“Katakanlab (Muhammad), Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-­baiknya.”(QS. Al-Kahf/18: 103-104).

Sadarilah bahwa ketika melakukan penyesatan tersebut, setan akan selalu membisikkan dan mendengungkan kepadamu berbagai keutamaan ilmu dan keagungan derajat para ulama, ia selalu menyuarakan di telingamu berbagai keterangan yang menjelaskan kemuliaan ilmu dan para ahlinya atau dengan kalimat-kalimat lainnya. Sementara itu, ia melalaikan kesadaran­mu dari hadis-hadis yang menjelaskan bahaya orang yang ber­ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Ia melupakan dirimu dari sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Barang siapa yang bertambah ilmu, namun tidak bertambah hidayah (amal) maka ia bertambah jauh dari Allah”.

Ia melalaikan dirimu dari sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya”

Dia melalaikan dirimu dari sabda Rasulullah SAW yang mengandung doa berikut ini :

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dan ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu; dari amal yang tidak terkabul, dan dari doa yang tidak  didengar (di sisi Al lahSWT)”.-

Dan ia juga melupakan dirimu dari sabda Rasulullah berikut ini :

“Ketika aku isra’ dan mi’raj aku melihat segolongan manusia yang bibir mereka dipotong-potong dengan gunting dari neraka. Aku bertanya, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang memerintah kebaikan tetapi kami tidak melaksanakannya dan kami melarang keburukan tetapi kami justru melakukannya”.

Wahai saudaraku, orang yang tidak mempelajari ilmu agama pastilah akan celaka, begitu pula orang yang alim tetapi tidak mengamalkan ilmunya, dia akan lebih celaka seribu kali lipat. Oleh karenanya, hati-hatilah! Jangan engkau tunduk pada tipu daya setan karena la akan membelenggumu dengan tali tipuannya dan akan mencelakakan dirimu dengan cara buruknya.

Kemudian ketahuilah bahwa sesungguhnya para ahli ilmu (baik para santri, kiai, ulama, ustad dlan kaum intelek lainnya), di dalam belajar, mengajar dan menyebarkan ilmu, terbagi menjadi tiga kelompok:

Pertama:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama untuk menjadikan ilmu tersebut sebagai bekalnya menuju akhirat. Ia tidak bertujuan apa pun kecuali mencari ridha Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Kelompok ini adalah yang paling beruntung di antara kelompok yang lain.

 

Kedua:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama sebagai alat di dalam meraih kesenangan duniawi, untuk mendapatkan kemuliaan dan pujian manusia serta untuk mendapatkan kedudukan,  harta dan kemewahan. Walaupun begitu, mereka mengetahui dan menyadari bahwa maksud itu adalah salah dan menjadi tanda buruknya niat, mereka juga mengakui bahwa di dalam hatinya terdapat maksud yang kotor serta tujuan yang sangat murahan. Kelompok ini termasuk golongan yang mengkhawatirkan. Mereka di antara dua kemungkinan.

Yang pertama; apabila ajal menjemput mereka, sebelum mereka sempat bertobat, maka dikhawatirkan bagi mereka akhiran yang buruk (su’ul­khatimah) dan nasib mereka di hari kiamat terserah kepada kehendak Allah SWT.

Yang Kedua, jika ia menerima taufiq (pertolongan untuk bertobat) sebelum datangnya ajal lalu ia mampu beramal sesuai dengan ilmunya dan menyesali segala kekurangannya di masa yang lalu, maka baginya ter­dapat harapan besar bahwa suatu saat la akan digabungkan dengan orang-orang yang beruntung. Berdasarkan sabda Rasulullah

“Orang yang bertobat dari dosa, (maka diampuni segala dosanya) seperti orang yang tidak mempunyai dosa “

 

Ketiga:

Yaitu kelompok orang-orang yang mencari ilmu agama sebagai alat untuk menumpuk harta, untuk berlaku sombong dan mengejar kedudukan. Dia merasa paling hebat karena banyaknya pengikut serta memperalat ilmunya untuk meraih setiap tujuan dunia. Sementara dengan semua kesalahan itu, semua keburukan itu, ia merasa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Karena ia merasa berpakaian dengan pakaian ulama, dan bergaya dengan gaya mereka, baik di dalam ucapan maupun formalitas, ditambah lagi dengan kegilaan mereka kepada dunia yang fana. Secara lahir maupun batin, dalam sudut pandang apa pun, kelompok ini adalah kelompok orang­-orang celaka dan bodoh yang tertipu dengan perasaan bangga kepada diri sendiri. Kelompok ini harapan tobatnya telah terputus, karena mereka tidak merasa bersalah bahkan mereka berprasangka bahwa mereka adalah orang-orang yang telah berbuat kebaikan. Mereka lupa terhadap firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS Ash-Shaff/61: 2-3)

Mereka itu juga termasuk golongan ulama suu’ yang di­khawatirkan bahayanya untuk umat, oleh Rasulullah SAW, se­bagaimana dalam sabda beliau :

“Ada sesuatu yang lebih aku takuti fitnahnya untuk kalian dari pada dajjal, para sahabat bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Para ulama yang jelek “

Hal demikian itu alasannya ialah karena dajjal telah jelas statusnya, nyata kesalahannya dan dengan gamblang diketahui penyesatannya. Lain halnya dengan para ulama jelek ini, mereka mengajak manusia berpaling dari  dunia dengan lisan dan ucapan, sedang dalam tindakan dan perilaku mereka mengajak manusia untuk mencintai dunia. Padahal pengaruh bahasa sikap lebih tajam daripada pengaruh bahasa lisan, dan juga watak manusia akan lebih mudah mengikuti perbuatan daripada mengikuti perkataan. Akibatnya, kerusakan-­kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka lebih banyak daripada kebaikan-kebaikan yang ditimbulkan oleh perkataan-perkataan mereka. Sebab masyarakat awam (tidak berilmu) tidak akan berani mencintai dunia, kecuali akibat dari keberanian para ‘ulama suu’ di dalam mencintainya. Sehingga ilmu mereka telah menjadi sebab atas keberanian masyarakat untuk melanggar hukum-hukum Allah SWT. Lebih fatal lagi, di atas semua itu nafsu mereka yang bodoh selalu mengajak mereka untuk berangan-angan yang tinggi di sisi Allah SWT, mendorong mereka kepada perasaan telah berjasa kepada-Nya dengan ilmu mereka, dan hawa nafsu mereka menggambarkan kepada mereka bahwa mereka lebih baik dari kebanyakan manusia.

Oleh karena itu, jadilah engkau orang yang termasuk dalam kelompok pertama dan berhati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk di dalam kelompok kedua! Janganlah engkau menunda-nunda tobatmu! Berapa banyak mereka yang sering menunda-nunda akhirnya meninggal dunia sebelum dia ber­tobat, maka celakalah dia dan terputuslah seluruh harapannya. Dan awas! Jangan sampai engkau termasuk kelompok yang ketiga, karena dengan menjadi anggota kelompok ini engkau akan merugi dengan kerugian yang tiada menyisakan ke­sempatan untuk berbenah lagi, bahkan engkau akan celaka dengan kerugian yang tidak diharapkan keberuntungannya lagi. Golongan ini tidak dapat ditunggu kebaikannya untuk selama­-lamanya.

Jika engkau bertanya, “Lalu apakah permulaan hidayah itu? Tunjukkan kepadaku, agar aku dapat menguji nafsuku dengan mengamalkannya!”.  Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya permulaannya adalah takwa kepada Allah SWT secara lahiriyah dan puncaknya adalah takwa kepada-Nya secara batiniyah. Yakinlah bahwa tiada keberuntungan yang hakiki dan abadi kecuali dengan ketakwaan sebagaimana tiada hidayah yang sejati kecuali bagi orang-orang yang telah bertakwa dengan sebenar-benarnya.

Adapun takwa secara definitif, sebagaimana keterangan para ulama ialah, “Perwujudan dari melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan konsisten yang sebenar-benarnya.”

Inti takwa meliputi dua bagian; Pertama yaitu melak­sanakan segala perintah Allah SWT dan kedua adalah menjauhi segala larangan-Nya. Aku akan menunjukkan kepadamu dua bagian takwa lahir tersebut dengan penjelasan yang singkat dan akan aku tambah lagi dengan satu bagian yang berhubungan dengan amal hati agar kitab ini terasa lebih lengkap dan men­cukupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: