PENYESATAN DAN PENIPUAN SETAN

Kita semua mengetahui bahwa setan adalah musuh manusia yang beriman. Al Qur’an memberikan informasi bahwa syaitan itu musuh manusia dan agar dijadikan sebagai musuh.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS 35:6)

Al Qur’an juga memberikan informasi mengenai perlunya manusia mengenal dirinya sendiri :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS 41:53)

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS 17:14)

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Q 51:20-21).

Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ghazali “Man arafa nafsahu, faqod arafa rabbahu”, artinya “Barang siapa telah mengenal dirinya sendiri, maka benar-benar dia akan mengenal Tuhannya”.

Penulis menafsirkan kalimat itu, kalau kita mengenali

–         kekuatan dan kelemahan diri kita,

–         siapa saja pembela-pembela kita yang sesungguhnya, termasuk utusan-utusan Nya,

–         musuh kita yang yang ada dalam diri kita  dan yang mengganggu  kita,

maka kita akan memahamiNya, melalui ilham yang berasal dari utusan-utusan Nya. Utusan-utusan itu adalah Nabi Muhammad SAW, dan hamba-hamba yang soleh sebagai utusan yang mewakili Nabi Muhammad SAW.

Hal ini berdasar ayat Al Qur’an :

–         Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS 3:164).

–         Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS 35:32).

Imam Ghozali mengatakan bahwa barang siapa mencari kimia kebahagiaan kepada selain “hadlirah nubuwah”, maka dia akan salah jalan.  Maksudnya bahwa mencarai kebaghagiaan yang hakiki itu, haruslah dengan bimbingan Nabi SAW atau utusan yang mewakili Nabi Muhammad SAW.

Atas berkah dan rakhmat Allah kepada para hambaNya, sehingga  Dia mengutus sebanyak 124 000 nabi, yang mengajar manusia mengenai kimia kebahagiaan itu. Saat ini, di alam ruhaniyah, Nabi Muhammad SAW adalah  imam/pemimpin para Nabi yang berjumlah 124 000  itu.

Filosof Cina Sun Tzu, juga mengatakan “Bila seorang Panglima Perang sudah mengenali kelemahan/kekuatan pasukan diri sendiri dan dan mengenali kelemahan/kekuatan pasukan musuhnya, berarti dia mempunyai peluang yang lebih besar dalam memenangkan peperangan .

Kesimpulannya, mengenal diri sendiri dan musuh diri adalah permulaan untuk mencapai kimia kebahagiaan.

Memahami syaitan (sebagai musuh manusia) itu dimulai melalui suatu keyakinan pada diri manusia  bahwa syaitan itu (jenis jin maupun jenis manusia) memang ada, sangat mengganggu  manusia sehingga manusia itu menjadi sesat. Manusia itu juga harus sungguh-sungguh menjadikan syaitan itu  sebagai musuh.

Keyakinan itu dibuktikan dengan pembenaran di hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dengan perbuatan nyata. Tidaklah cukup keyakinan itu kalau hanya di hati dan lisan tanpa perbuatan yang nyata.

Contoh perbuatan nyata dalam memahami syaitan adalah berusaha mempelajari sungguh dengan semua referensi yang bisa didapat,  termasuk, mempelajarinya dari ulama-ulama yang telah memahami syaitan dan rekayasanya. Dari referensi-referensi yang ada tersebut, kita diharapkan bisa memahami bagaimana

– sifat-sifat syaitan itu,

– metoda rekayasanya, serta

– bagaimana cara mencegah  dan mengobatinya bila sudah terkena rekayasa syaitan itu.

Ulama pewaris ilmu para nabi,  spesialis masalah syaitan, perlu diminta bantuannya untuk mendiagnosa diri kita, sejauh mana penyakit rohani kita yang diakibatkan oleh rekayasa syaitan yang terkutuk itu. Dan yang paling utama adalah ulama itu dan kita sendiri mengalami “hadlirah nubuwah”, yaitu bimbingan Nabi SAW, dan/atau utusannya, yang mengajarkan manusia yang mengimani masalah yang sangat pelik ini, baik di alam mimpi maupun di alam kesadaran bukan mimpi.

Nabi besar Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa sesorang ulama adalah warashah al-anbiya’  (pewaris para nabi). Penghuni langit mencintai mereka. Demikian pula dengan penghuni di bumi, bahkan ikan-ikan dalam lautan sekalipun memuji mereka hingga hari kiamat.
Allah juga berfirman seperti disebutkan dalam Alquran :“…sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…….” (QS Al-Fathir : 28)
Untuk memahami lebih lanjut pengenalan diri itu dan rekayasa syaitan itu, dapat dibaca kitab-kitab karya Imam Gozali, antara lain Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin dan  Ihya Ulumuddin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: