Guru Tarekat H Mengaku Bisa “Menyelamatkan Jiwa” Yang Penasaran Di Alam Barzah

Guru Tarekat H Mengaku Bisa “Menyelamatkan Jiwa” Yang Penasaran Di Alam Barzah

Penulis dikenalkan dengan guru tarekat H di Kota C, yang bernama T. Katanya, beliau itu seorang yang dikaruniai kemampuan kasyfiyah. Beliau juga dikatakan bisa menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yang sudah meninggal yang masih penasaran dan belum mencapai alam kebahagiaan.

Karena ada teman yang bernama  SW, yang menginginkan jiwa ibunya yang sudah meninggal diselamatkan, maka penulis bersama teman itu dan seorang teman yang bernama AR (murid T) berkunjung ke rumah T. Dalam perbincangan dengan T, penulis sampaikan bahwa penulis juga pernah belajar mengenai tarekat H dari TM di Kota G. Ternyata beliau mengenalinya. Tetapi beliau mendapatkan ijazah tarekat H dari kakeknya sendiri mamah S, bukan dari mamah TM.

Proses penyelamatan jiwa penasaran itu memerlukan seorang medium, yang katanya menjadi tempat sementara jiwa itu, untuk ditanya bagaimana keadanya sekarang, dan maukah dia diselamatkan?. Identitas jiwa yang akan diselamatkan berupa tulisan nama dan bapaknya. Dengan doa-doanya sambil membaca nama jiwa yang akan diselamatkan, medium berdiam diri dan menyediakan tubuhnya untuk dijadikan tempat sementara “jiwa” itu.

Setelah yang dianggap “jiwa” ibunya (yang katanya masih penasaran) dipanggil dan masuk dalam tubuh medium, maka medium tadi menjerit dan bergerak-gerak seperti orang yang susah dan kesakitan. Jiwa itu ditanya oleh T, “apakah mau dijalurkan ke arah alam cahaya yang membahagiakan”, dijawab olehnya “mau”. Kemudian tubuh medium ditutup dengan sarung. Beberapa saat kemudian,  proses “penyelamatan” dikatakan selesai. SW menanyakan bagaimana keadaan “ibunya”, dijawab oleh “ibunya”:  “terimakasih, sebagai anak soleh, kamu sudah menyelamatkan ibumu”.

Dalam kesempatan itu, penulis minta supaya jiwa kakek penulis juga diselamatkan. Dengan proses yang sama akhirnya “jiwa kakek” berhasil “diselamatkan”. Setelah dikatakan, selamat di alam cahaya, penulis mengajak “jiwa kakek” untuk mengucap kalimat syahadat dan kalimat Nabi Isa bin Maryam ‘abdullah, dengan cara bersalaman dengan mediumnya. Tetapi yang terjadi medium berteriak “silau” dan yang dikatakan “jiwa kakek” terus pergi.

Dalam kesempatan yang lain, bersama teman yang sama yaitu SW dan AR, penulis berkunjung ke rumah U. U adalah murid T dan sudah mempelajari ilmu “penyelamatan” jiwa penasaran dari T. U sudah diijinkan untuk menjalankan proses “penyelamatan” dengan teman-teman mediumnya.

Kali ini SW meminta supaya jiwa bapaknya diselamatkan, dengan proses yang sama, “jiwa bapaknya” diselamatkan. Sayapun meminta supaya jiwa paman saya (yang aktualnya masih hidup, tetapi penulis tidak mengatakan masih hidup atau sudah meninggal) diselamatkan. Saat “jiwa paman” yang dikatakan sudah diselamatkan, saya minta mengucap kalimat syahadat dan kalimat Nabi Isa bin Maryam ‘abdullah, dengan cara bersalaman dengan mediumnya. Medium itu bisa mengucapkannya dengan baik. Waktu saya meminta supaya saya bisa bertemu dan berbicara dengan alm. Mamah TM dan alm Kakek, mediumya mengatakan tidak mampu dijadikan medium untuk jiwa beliau-beliau yang bersinar sangat cermerlang.

Dalam kesempatan itu penulis minta supaya kami dilihat, bagaimana keadaan disekitar tubuh-tubuh kami. Medium itu berdoa dan bermeditasi untuk melihat kami. Kemudian medium itu, dalam keadaan memejamkan mata, mengatakan bahwa SW didampingi oleh 6 ekor harimau, tetapi penulis dan AR tidak terlihat pendampingnya.

Kata si medium 6 ekor hari mau tadi adalah hasil wiridan yang ditentukan jumlahnya dengan jumlah tertentu. Jumlah dengan angka tertentu itu adalah semacam kode untuk memanggil jin-jin tertentu.

Analisis Proses “Penyelamatan Jiwa” Penasaran Ala T Dari Tarekat H

Terdapat perbedaan hasil antara proses penyelamatan yang dilakukan oleh T dengan U, yang kemungkinan disebabkan oleh medium yang berbeda. Medium yang digunakan oleh U, kelihatannya lebih banyak mengetahui cara-cara syaitan dalam menipu manusia. Terbukti bahwa dengan medium yg digunakan oleh U itu :

–         “Jiwa” yang telah diselamatkan bisa mengucapkan kalimat keimanan dengan baik.

–         Medium merasa tidak mampu untuk menjadi medium dari jiwa yang berderajat tinggi.

–         Medium bisa melihat bentuk-bentuk binatang pada seseorang, lebih sesuai dengan tulisan Imam Ghozali dan Imam Khomeini.

Persamaan diantara keduanya, kelompok itu tidak mewaspadai akan banyaknya tipu daya syaitan yang akan menyesatkan manusia. Dengan tidak mewaspadai banyaknya tipu daya syaitan, maka tarekat itu tidak banyak mempelajarinya dan mempraktekkan cara-cara mengatasinya, sehingga risiko tertipu oleh syaitan sangat besar kemungkinannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: