Kematian itu Dekat

Kematian itu Dekat

Oleh : Fathimatuz Zahra *)

 

Kematian demi kematian akan selalu terdengar ringan karena hampir sepanjang hari di setiap titik pelosok penjuru akan selalu terjadi. Maka, itulah kematian itu dekat dengan kehidupan kita. Hal ini disebabkan di dalam ayat al-Qur’an pun telah disebutkan setiap yang hidup pasti akan mati. Namun, dekatnya kematian justru banyak ditakuti setiap manusia, sehingga banyak manusia memilih menjauhi kematian karena dianggap menakutkan.

Menjauhi kematian yang amat sangat dekat inilah yang banyak dilakukan dengan jalan memanjangkan angan-angan akan kehidupan duniawi. Berdasarkan hal inilah, maka muncul cita-cita, harapan, target yang kesemuanya dilakukan dengan harapan dapat melupakan dekatnya sebuah kematian tersebut. Hal inilah, menurut pendapat penulis, merupakan akar masalah dari segala problematika kehidupan. Ingin menjauhi kematian adalah tipu daya yang akan menjerumuskan manusia pada titik depresi maupun penyakit  yang lain.

Disadari atau tidak, kehidupan sehari-hari adalah sakaratul maut karena akan selalu bertemu dengan pilihan-pilihan yang membutuhkan kejelian. Dalam setiap pilihan kehidupan yang dipilih, apakah hal tersebut akan menyelamatkan atau menjerumuskan kehidupan kita. Hal inilah fungsinya seorang manusia diberi kemampuan akal, yakni agar dalam pilihan itu dapat menyelamatkan kehidupannya.

Kehidupan seperti apakah yang menyelamatkan? Sebab banyak orang menganggap bahwa kehidupan bergelimang harta, pekerjaan menjanjikan, pujian tak pernah berhenti dilontarkan, dan hal-hal yang menyenangkan merupakan bagian dari hidup yang selamat ini. Walaupun berbagai hal kesenangan tersebut mengabaikan kejujuran, kepedulian terhadap sesama. Kehidupan seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari pelarian terhadap takut datangnya kematian.

Kehidupan yang menyelamatkan yakni kehidupan yang bertujuan untuk bekal kematian kelak. Dalam era sekarang ini, prinsip kehidupan seperti ini dianggap sebagai prinsip yang tidak modern. Namun, hal ini merupakan kunci segala permasalahan kehidupan. Sebenarnya hal ini, bukan solusi yang asing di tengah berbagai solusi permasalahan yang ditawarkan. Prinsip ini pun telah sering didengar, sebagaimana para walisongo terdahulu menyimpulkan dari berbagai hadis maupun qur’an, bahwa urip mung mampir ngombe (Hidup itu hanya untuk sekedar pelepas dahaga).

Hal ini, merupakan hal yang sederhana namun manfaatnya lebih dari kesederhanaan prinsip tersebut. Dalam berbagai teori kekinian, dengan menggunakan prinsip dasar bahwa hidup hanyalah untuk bekal kematian, maka akan menimbulkan efek rileks dalam mengejar berbagai target dalam alam kehidupan manusia. Efek rileks inilah yang justru akan mampu meningkatkan tingkat efektivitas pencapaian target kehidupan, karena tekanan yang tidak terlampau berat justru akan meningkatkan hasil. Maka dunia justru akan menghamba tanpa harus diminta sekalipun.

Namun, sayang hal ini telah sering dilupakan. Bahkan, perlakuan terhadap kematian yang seharusnya hal ini menjadi sarana pengingat kehidupan manusia pun telah berubah. Kematian seolah permainan yang akan menutup kehidupan, tanpa disadari bahwa justru inilah awal kehidupan yang sebenarnya. Ketika disadari bahwa kematian itu adalah gerbang kehidupan, maka kematian bukan hal yang harus ditakuti tetapi justru harus selalu diingat.

Idealnya, apabila dalam sebuah masyarakat akan selalu teringat akan kematian, maka kehidupan dalam masyarakat tersebut akan menjadi tentram dan harmonis. Karena dengan mengingat kematian, banyak tindakan-tindakan negatif yang terpikir atau akan dilakukan pun terkendali. Serta dengan pikiran yang ringan segala permasalahan akan menemukan solusinya dengan ringan.

Maka, detik ini saatnya mulai kita camkan dalam tiap langkah kehidupan bahwa kematian itu dekat, kematian itu indah, kematian itu adalah solusi, serta kematian adalah gerbang kehidupan. Maka kehidupan akan menjadi lebih dinamis, tidak banyak beban, serta nyata. Sedangkan kehidupan adalah gerbang kematian keinginan.

 

*) Penulis adalah alumni Program Studi Cross Religion and Cross Cultural Studies UGM

 

Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Puasa sebagai Jalan Ruqyah Ruhaniah

Oleh : Fathimatuz Zahra *)

 

Dalam haditsnya, Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam bersabda, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang diutamakan dibanding dengan bulan lainnya.  Pada bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, sehingga manusia seharusnya menjadi khusyuk dan ta’at beribadah pada bulan ini, serta dapat meninggalkan sikap-sikap buruk setelah Ramadhan berakhir.

Namun, yang menjadi pertanyaan hingga kini, mengapa seseorang yang beribadah di bulan Ramadhan tak pernah meninggalkan jejak yang positif setelahnya? Hal ini tampak dari tindakan-tindakan negatif yang merugikan satu dengan yang lain masih saja terjadi, misalnya pemimpin yang tidak peduli apapun yang terjadi dengan rakyatnya. Maka di sinilah perlu dicoba dipahami puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah.

Ruqyah Ruhaniah

Ruqyah merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi pada masa kini, ruqyah selalu identik dengan pengobatan penyakit dengan cara mengambil makhluk-makhluk gaib yang ada dalam diri seorang manusia. Bagitu pula harapan kita terhadap puasa Ramadhan yang kita lalui saat ini, dengan harapan seluruh penyakit ruhani akan hilang sehingga kita akan menjadi manusia seutuhnya.

Diperlukannya ruqyah ruhaniah karena pada setiap diri manusia selalu berisiko ditumpangi oleh makhluk Alloh lainnya, yakni syetan dan kawan-kawannya. Walaupun mereka berwujud ghaib, dan manusia modern menganggapnya sebagai hal yang irasional. Namun, satu hal yang tidak dapat dilupakan, dengan meminjam pendapat dari Ibnu Sina bahwa Alloh itu ada, serta selalu baik.

Jangan dilupakan bahwa syetan juga selalu menumpangi kehidupan manusia sebagaimana janjinya pada Tuhan saat penciptaan Adam. Syetan berjanji serta mendapatkan ijin dari Tuhan untuk bebas menggoda setiap manusia. Di sinilah syetan selalu mencari peluang untuk masuk ke dalam diri manusia, serta mengendalikan semua perbuatan manusia tersebut agar menyimpang dari rasa kemanusiaannya serta menuruti hawa nafsu syaithan.

Hal ini tidak terkecuali dilakukan pula terhadap para nabi dan rasul-rasul utusan  Alloh. Alloh pun mewahyukan pada surat al-Isra’  bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tetapi Alloh selalu bersikap baik, pada hamba-hambanya, apalagi untuk hamba-hambanya yang terpilih dengan jalan melakukan ruqyah ruhaniah. Hal ini dilakukan karena para utusan Alloh tersebut bertugas menyampaikan kalam-Nya  yang tentunya akan meterjemahkan dan memancarkan Nur Illahiahnya kepada seluruh umatnya.

Sebagai contoh yang dilakukan pada Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam pada usia dua bulan, dua puluh lima tahun serta yang paling terkenal serta baru saja kita peringati bersama yakni peringatan peristiwa Isra’  mi’raj yang berkaitan dengan perintah ibadah sholat bagi kaum Muslim. Setelah dilakukan  ruqyah ruhaniah inilah, maka turun perintah shalat dan puasa setelahnya.

Ruqyah ruhaniah ini dilakukan dengan jalan membedah secara ghaib tubuh manusia untuk mengeluarkan syetan, jin, iblis yang menumpang pada tubuh seorang manusia. Hal ini perlu dikeluarkan karena dalam sifat hewaniahnya yang dibawa oleh makhluk-makhluk dalam tubuh tersebut, yang mendorong manusia pada arah negatif. Ruqyah ini hanya dapat dilakukan dengan perintah Tuhan melalui  malaikat Jibril.

Dengan dilakukannya ruqyah ruhaniah ini, maka manusia itu, bersamaan dengan keluarnya syetan dan kawan-kawan dari tubuhnya, akan menjadi manusia seutuhnya. Karena mereka mampu menerima signal-signal Nur-Nya. Tentunya Alloh akan memercikkan sifat-sifat ke-Ilahiannya sehingga akan tercermin dalam kehidupan manusia tersebut.

Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa wajib yang dilakukan umat Islam setahun sekali serta dilaksanakan selama sebulan penuh. Puasa ini bertujuan membentuk manusia seutuhnya. Serta banyak hal lain yang telah banyak kita ketahui pedoman serta petunjuknya sebagaimana banyak tertayang pada acara-acara Ramadhan di televisi.

Namun, yang masih sangat disayangkan saat ini banyak ummat Islam hanya menjalani puasa sebagai rutinitas, pengguguran kewajiban serta euphoria pada saat Ramadhan itu masih di depan mata, namun tidak meninggalkan perubahan setelah Ramadhan itu berakhir.

Banyak yang melupakan keterikatan sejarah antara Isra’  mi’raj  sebagai sebuah substansi yakni ketika Nabi Muhammad sholalloohu ’alaihi wassalam diruqyah ruhaniah oleh malaikat Jibril maka pewahyuan kenabiannya pun dimulai.

Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi ini, semestinya pun mampu memercikkan nur Tuhan dalam tingkah lakunya sehari-hari.

Untuk itulah Tuhan memberikan ajaran-ajaran peribadatan pada seluruh manusia dengan tujuan utama agar manusia tersebut mampu menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini sehingga pelestarian bumi ini dapat tetap berfungsi bagi manusia itu sendiri. Salah satu jalan yang diperintahkan adalah puasa, yang diturunkan pada umat-umat sebelumnya pula. Puasa merupakan jalan untuk membuka pintu agar ruqyah ruhaniah itu dapat dilakukan.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan semua setan akan dibelenggu, namun perlu diingat bahwa setan itu mempunyai banyak posisi, ada yang berada di dalam tubuh manusia maupun di luar yang mengelilingi seluruh lingkungan manusia. Setan yang dibelenggu ini hanya yang ada dalam tubuh manusia tersebut, dengan puasa maka setan tersebut dipersempit ruang geraknya, karena seiring dengan sedikitnya makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Dengan demikian, ketika seorang manusia berpuasa, maka kekuatan setan itu menurun, walaupun setan tetap melakukan godaannya pada manusia yang berpuasa. Di sinilah fungsi seorang manusia mengendalikan hawa nafsunys, yakni dengan melakukan perang terhadap setan sebagai musuh yang nyata. Di sinilah pintu untuk melakukan ruqyah ruhaniah menjadi terbuka.

Untuk itu, maka disediakan malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan. Hal ini diperuntukkan bagi ummat yang berpuasa sebagai pembuka pintu ruqyah ruhaniah, saat inilah para malaikat melakukan ruqyah tersebut.

Sehingga ummat-ummat yang mampu melakukan puasa yang benar-benar dilakukan dengan berperang melawan musuh nyatanya tersebut,  menjadi manusia sejati kembali sehingga Ramadhanya mampu mencerahkan kesebelas bulan lainnya dengan jalan serta sifat-sifat positif.

***

Untuk itu, sebagai langkah agar bangsa ini mampu menjadi bangsa seutuhnya karena masyarakat, pejabat, pemimpin bangsa in terdiri dari manusia-manusia seutuhnya. Dengan momentum puasa sebagai jalan ruqyah ruhaniah ini, maka diharapakan sebelas bulan setelah Ramadhan ini berakhir terjadi penurunan peringkat-peringkat negatif yang melekat pada bangsa ini.

Dengan momentum puasa ini pula, seluruh bangsa bersama-sama bertekad untuk berjihad melawan setan yang merupakan musuh yang nyata yang memicu kebobrokan bangsa ini berdasar pada rayuan-rayuan untuk melakukan korupsi, saling mencelakai satu dengan yang lain, kanibalisme, dsb.

*) Penulis adalah alumni Program Studi Cross Religion and Cross Cultural Studies UGM

Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

Sejarah Nabi Uzair bin Imron ‘Abdulloh, melengkapi kisahnya

                                                Oleh : Muhammad Abdul Sholeh          

Nama beliau sebagai nabi kurang banyak dikenal oleh kalangan umat Islam sendiri, padahal nama beliau tercantum dengan jelas dalam ayat al-Qur’an Q. S At –Taubah: 30. Namun, mungkin kurang banyak dikenal tersebut dikarenakan banyak kajian tentang beliau yang diduga dihapus oleh gerakan freemansonry (dikutip dari makalah Abdullah Patani), serta tidak ada keingin-tahuan umat Islam untuk mengetahui mengenai beliau. Kegelisahan inilah yang menggerakkan penulis untuk merangkum sedikit sejarah yang tercecer mengenai beliau.

Beliau merupakan sesosok hamba yang lahir pada era zaman nabi Sholeh ‘alaihissalam (sekitar tahun 2000-3000 SM). Kata “Uzair” itu diambil dari kata “Azaro” yang berarti mengkoreksi. Beliau mempunyai prinsip mengkoreksi akan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan sebagaimana mestinya. Keteguhan prinsipnya itulah yang membuat beliau dipercaya memegang tampuk birokrasi sebagai hakim pemerintahan. Kejujuran dan kecerdasan beliau membuat  umat-umat yang lain pada zamannya sangat iri.

Dikisahkan, suatu hari beliau berjalan-jalan hingga ke suatu tempat yang telah gersang, tak ada satu pohon pun yang berdaun. Kemudian beliau turun dari kuda dan bersujud kepada Alloh , sambil berkata “Siapakah gerangan yang bisa menghidupkan daerah ini, ya Alloh?”. Kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala mewahyukan untuk masuk kepada alam batin. Dalam hal kekinian, hal ini disebut mokswa, beliau menghilang masuk pada perjalanan alam batin. Seratus tahun lamanya pendidikan alam batin (mokswa) ini beliau tempuh.

Dalam pendidikannya ini beliau diberikan ilmu untuk menata rias (mengelola) negara dengan sempurna. Setelah bekal untuk menata negara ini dirasa cukup, maka beliau dikembalikan pada jasadnya untuk hidup seperti biasa kembali.

Hal ini terdapat dalam keterangannya dalam al-Qur’an QS Al Baqoroh:259. Yang artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang melalui suatu negeri yang temboknya telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”. Maka itulah tanda kekuasaan Alloh mematikan seorang hamba seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”. Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari” Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada keledai kamu yang telah menjadi tulang belulang, Kami (Alloh Subhanahu wa ta’ala) akan menjadikan kamu sebagai tanda kekuasan kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang itu, kemudian Alloh Subhanahu wa ta’ala menyusunnya kembali, kemudian kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya, melihat bagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala menghidupkan yang telah mati. Beliaupun menjawab “Hamba yakin bahwa Alloh Subhanahu wa ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu.

Maka, dengan izin Alloh serta ilmu yang telah didapatkannya, beliau berusaha menata rias daerah tersebut yang semula sangat gersang. Dengan perjuangan beliau, maka negeri tersebut diatur dengan birokrasi yang berdasarkan kewahyuan. Hal ini membuat seluruh masyarakatnya beriman kepada Alloh. Serta diceritakan negeri ini makmur, tentram, dan sejahtera. Masa ini terjadi  selama tujuh puluh lima tahun..

Kenegarawanan beliau ini kemudian tersebar dan sampai ke Kerajaan Namrud, pada masa sebelum nabi Ibrohim ‘alaihissalam  lahir. Hal ini membuat Namrud tidak suka, sehingga kerajaan beliau diserang oleh kerajaan Namrud. Melihat keadaan itu, beliau lebih memilih berpulang ke alam Batin (mokswa).

Sepindahnya beliau ke alam batin ini, membuat rakyatnya bingung karena tidak ada yang meneruskan perjuangan kenegaraan beliau. Pada masa inilah muncul rekayasa setan yang ingin menguasai keimanan umat Nabi Uzair. Setan ini mengubah dirinya berjasad manusia serta berkata pada umat Nabi Uzair untuk membuat patung Uzair agar makmur, sentosa dan sejahtera. Serta oleh rekayasa setan, disebabkan oleh ketinggian ilmu beliau serta segala hal yang sangat mulia dari beliau, maka dibisikkan kepada umatnya (dengan niat setan untuk menghina Alloh subhanahu wa ta’ala dan juga menghina Nabi Uzair ‘alaihissalam), bahwa beliau itu adalah anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Sepeninggal beliau berpulang ke alam batin, maka patung yang digunakan untuk menghinakan beliau justru disembah serta beliau dianggap anak Tuhan. Namun, Alloh akan selalu memperjuangkan ketauhidan dan keislaman maka diutuslah nabi berikutnya yakni Nabi Ibrohim ‘alaihissalam.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.(TQS At Taubah 33).

Kisah ini diharapkan agar mampu menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam, karena tanpa disadari kita semua pun ikut menghinakan nabi Uzair karena lisan-lisan umat Islam hingga kini akhir zaman sangat jarang yang mengucapkan bahwa beliau itu ‘abdulloh (hamba Alloh), bukan seperti direkayasakan setan bahwa beliau adalah ibnulloh atau anak Alloh (naudzubillahi min dzalik).

Invasi AS ke Irak Bukan Hanya Demi Minyak

AsSalyan :

Tujuan memperoleh minyak hanyalah masalah lahiriyah yg kelihatan, tetapi tujuan yg lebih besar dari invasi ke Irak adalah :

  • Mengadu domba umat muslim dengan memperbesar perbedaan sektarian antara sunny dan syiah, sehingga antara umat muslim menjadi terpecah belah, saling memerangi dan akhirnya lemah. Diantaranya dengan menciptakan faham ekstrim salafi/wahabi dan alqaida.
  • Menjarah benda-benda purbakala bukti sejarah, dengan itu mereka akan bisa memalsukan sejarah.
  • Menjarah kitab-kitab ulama untuk diubah dan diterbitkan kembali, sehingga ummat islam menjadi salah pemahamannya mengenai agama Islam.

Memperlemah secara lahiriyah dan batiniyah, itulah tujuan mereka (para setan itu) sebenarnya.

Invasi AS ke Irak Semua Demi Minyak

Oleh Teguh Setiawan/ Wartawan Senior Republika

Pekan lalu, pers AS ramai-ramai menurunkan tulisan mengenai 10 tahun invasi Paman Sam ke Irak untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Di Irak, sebuah bom yang ditanam Alqaidah di Irak (AQI) meledak, menewaskan 65 orang dan melukai 200.

Pers AS tidak sedang merayakan sukses negaranya memenangkan perang di Irak, tapi cuci tangan atas ulah mereka menabuh genderang perang dan membentuk opini publik untuk mendukung kebijakan Washington menginvasi Irak. Pers pula yang menjadi agen penyebar kebohongan Presiden George W Bush tentang adanya senjata pemusnah massal yang ditimbun Saddam Hussein.

Di Irak, AQI seolah ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa hasil invasi AS ke Irak adalah meletusnya konflik sektarian antara Sunni dan Syiah, serta antara pemukim Arab dan Kurdi. Bahwa, AS telah gagal membangun infrastruktur negara demokratis pascakejatuhan Saddam Hussein.

Kabar terakhir, yang mungkin lebih menarik, adalah kunjungan Menlu AS John Kerry ke Baghdad. Ini bukan kunjungan bangsa penakluk ke negara taklukan, tapi kunjungan yang menegaskan kegagalan sang penakluk menciptakan republik boneka.

Kerry, dalam kunjungan itu, meminta Nouri al-Maliki, perdana menteri Irak dari faksi Syiah sekuler, untuk tidak menjadikan wilayahnya sebagai wilayah terbang pesawat-pesawat Iran yang membantu Pemerintah Suriah menghadapi pemberontak. Sebelum pertemuan dengan PM al-Maliki, Kerry juga sempat mengatakan, perilaku Irak selama ini menjadi masalah serius bagi upaya AS menggulingkan Bassar al-Assad. Irak, katanya, tidak bertindak sebagai partner.

Bukan Maret 2003
Banyak kontroversi sekitar invasi AS ke Irak. Pers AS selalu menulis invasi dilakukan pada Maret 2003. Namun, Michael Smith, wartawan Inggris yang menulis artikel berdasarkan memo Downing Street, mengatakan, George W Bush dan PM Inggris Tony Blair memulai perangnya di Inggris tidak pada Maret 2003, tapi pada akhir Agustus 2002, enam pekan sebelum Kongres AS menyetujui tindakan militer terhadap Irak.

Memo berasal dari pertemuan kabinet perang Blair pada 23 Juli 2002. Saat itu, Sir Richard Dearlove, kepala intelejen luar negeri Inggris, membuat pernyataan  bahwa Inggris sedang memperbaiki data intelijen sebelum terjun ke perang di Irak. Dalam memo itu terdapat kutipan Menhan Inggris Geoff Hoon bahwa “AS sudah meningkatkan aktivitasnya untuk menekan rezim di Irak.”

Menurut Smith, Inggris dan AS bermaksud memprovokasi Irak. Jika Irak merespons provokasi dengan melancarkan serangan ke pasukan AS yang ditempatkan di perbatasan Irak-Kuwait, AS dan Inggris bisa menjadikan respons Saddam Hussein untuk memulai perang. Dalam kamus perang, semua ini disebut cassus belli.

Bahkan, masih menurut Smith, Inggris telah melakukan pengeboman di selatan Irak pada Mei 2002, dengan jumlah bom yang dijatuhkan 10 ton. Sedangkan ‘special spike’ dimulai Agustus, dengan jumlah bom yang dijatuhkan lebih banyak lagi. Pada September 2002 saja, demikian Smith, jumlah bom Inggris yang dijatuhkan di selatan Irak mencapai 54,6 ton.

Inggris dan AS mengatakan, pengeboman dilakukan sebagai tindakan pengamanan atas pesawat-pesawat mereka di zona larangan terbang. Irak mengajukan protes ke PBB tapi tidak terperangkap ke dalam jebakan. Saddam Hussein tahu apa yang sedang dilakukan Inggris dan AS, dan tidak melakukan pembalasan.

Situasi ini memaksa AS dan Inggris mencari pembenaran lain. Segalanya harus tersedia dalam waktu cepat karena perang melawan Irak, dalam bahasa George W Bush, sangat mendesak dan penting.

Setidaknya ada dua nama yang berperan penting dalam situasi ini; Achmad Chalabi, pembangkang nomor wahid Irak, dan Bernard Lewis, sejarawan Yahudi yang memicu Islamofobia di Eropa dan godfather kelompok neo-conservatif di Washington.
Chalabi memberikan data intelejen tentang 30 situs penimbunan senjata kimia, biologis, dan pemusnah massal milik Saddam Hussein. Ia juga berceloteh tentang adanya program nuklir Irak. Lewis meyakinkan pentingnya perang ini agar AS bisa mengontrol sumur-sumur minyak di dunia Islam.

Tidak ingin berlama-lama lagi menginvasi Irak, Blair dan Bush menggunakan data Chalabi sebagai pembenar. Pers di seluruh dunia terus memberitakan alasan Paman Sam dan Inggris sampai terbentuk ‘kebenaran’ yang diterima secara umum.

Noam Chomsky, kritikus kebijakan luar negeri AS dalam It’s Imperialism, Stupid, menulis,  invasi ke Irak bukan sekadar perang melawan teror. Ia yakin Inggris dan AS telah merencanakan perang ini sedemikian lama agar bisa mengontrol sumber minyak dunia.

Diabaikan
Chomsky juga memaparkan sebuah laporan rahasia dari National Intelligence Council (NIC), pusat komunitas intelijen untuk pemikiran strategis. Dalam laporan yang dibuat pada malam invasi itu, NIC meramalkan invasi AS hanya akan meningkatkan dukungan bagi Islam politik dan menghasilkan masyarakat Irak yang terpecah-pecah, serta rentah terhadap konflik internal.

Douglas Jehl dan David E Sanger dari New York Times mengutip laporan NIC secara lebih terperinci. Menurut NIC, Irak kemungkinan akan menjadi ladang pembibitan teroris. Lebih dari itu, menurut NIC, teroris yang dihasilkan dari invasi AS ke Irak lebih profesional dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris jauh lebih baik.

Chomsky yakin prioritas lain, yang tentunya lebih tinggi, membuat para perencana perang di Washington mengabaikan laporan rahasia ini. Terdapat kesan, Bush dan Blair lebih suka mengambil risiko akan meningkatnya terorisme, demi penguasaan ladang minyak.

Abdulrahman Al-Rashed dari Al Arabiya menulis, yang juga dilupakan AS saat menginvasi Irak adalah tidak memahami sikap Suriah dan Iran, serta keengganan negara-negara Teluk mendukung kebijakan penggulingan Saddam Hussein. Suriah, yang bekerja sama atas nama Iran, memperlihatkan dukungan terhadap tindakan AS di Irak. Namun, sejak Saddam Hussein jatuh, Suriah dan Iran menjadi pengendali situasi perang di Irak, berkat pengaruh kedua negara di kelompok Syiah.

Iran membentuk kelompok-kelompok perlawanan terhadap pendudukan AS di Irak. Suriah, berkat kemampuannya menjaga perbatasan kedua dengan tenang, menyalurkan senjata ke orang-orang Syiah di Baghdad. Di sisi lain, Alqaidah membuka franchise-nya di Irak, dengan tujuan memerangi Syiah dan AS. AQI melihat invasi AS sebagai hasil rekayasa pembangkang Syiah, yang bertujuan menggulingkan Saddam Hussein.

Pada akhirnya, dunia menyaksikan invasi Paman Sam menghasilkan dua hal; nyaris membangkrutkan AS dan menghancurkan Irak. Jika ada yang diuntungkan dari perang ini mungkin hanya perusahaan-perusahaan minyak, seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, dan Halliburton.

Halliburton adalah perusahaan milik Dick Cheney, wapres AS saat itu. Mereka menguasai sumur-sumur minyak tanpa perlu mengikuti tender, membawa pulang hasilnya, seraya meninggalkan sekian juta rakyat Irak tanpa listrik dan air. Lebih 80 persen minyak Irak diekspor perusahaan asing, yang bekerja sama dengan kedutaan AS di Baghdad.

Entah bagaimana sejarah dunia akan mencatat peristiwa invasi AS dan Inggris ke Irak. Yang pasti, kedua negara, serta beberapa penyokongnya, tidak ubahnya bajak laut yang menjarah suatu negara, lalu meninggalkannya dalam keadaan compang-camping.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/04/02/mkm7ca-invasi-as-ke-irak-semua-demi-minyak

 

 

Kisah Invasi AS ke Irak

Sepuluh Tahun, Sepuluh Masalah

Rabu, 03 April 2013

REPUBLIKA.CO.ID, Prospektus palsu yang mendasari perang itu diperkirakan akan membuat Washington terbebani sedemikian banyak biaya untuk perawatan kesehatan para veteran dan membayar bunga pinjaman. Perang Irak diperkirakan akan menjadi sangat mahal bagi AS. Berikut 10 masalah yang dihadapi AS dari keputusannya menginvasi Irak pada 2003.

1. Alqaidah tidak pernah hadir di Irak sebelum invasi AS tahun 2003. Setelah AS dan sekutunya masuk ke Irak, sebuah organisasi yang bernama Alqaidah di Irak (AQI) terbentuk, dan secara regular menyerang pasukan AS, Irak, dan penduduk sipil. Pada 2013, AQI memperluas basis dan kemampuan teknis tempurnya ke Suriah, Yordania, dan Libya. Jika Irak menjadi ‘front’ bagi perang melawan terorisme, ini adalah front buatan AS.

2. Konflik diperburuk oleh Perang Irak. Iran dan Korea Utara sama sekali tidak terintimidasi oleh invasi AS ke Irak pada 2003, dan tidak menghentikan niat keduanya memiliki senjata pemusnah massal. Perang di Afghanistan juga menjadi lebih panjang akibat invasi AS ke Irak, dan kekerasan di Pakistan terus meningkat, yang mengakibatkan besarnya biaya militer dan nyawa yang hilang.

3. AS berniat membangun negeri yang lebih demokratis di atas puing-puing republik yang ditinggalkan Saddam Hussein. Kenyataannya, ketika Irak membangun institusi dan mempraktikkan demokrasi, korupsi merajalela. Situasi menjadi lebih parah ketika PM Nouri al- Maliki membentuk Fedayeen al-Maliki, kelompok paramiliter beranggotakan 6.000 Pasukan Khusus untuk dirinya. Pasukan di bawah komando langsung al-Maliki. Nadje al-Ali, dari London’s School of Oriental and African Studies (SOAS), menemukan keterwakilan wanita secara politik di pemerintahan dan dunia kerja masih sangat kecil. Sedangkan, sebagian besar penduduk tidak memiliki pekerjaan, buta huruf, dan miskin.

4. Tentara yang kembali dari medan perang Irak dan Afghanistan berisiko mengalami penyakit pernapasan dan kardiovaskular, dibanding prajurit yang kembali dari medan perang lainnya. Partikel debu beracun di Irak berukuran 2,5 sampai 10 mikron yang terlalu kecil untuk disaring paru-paru manusia. Roger Miller, pakar paru-paru RS Universitas Vanderbilt, mengatakan, residu beracun dari pembakaran belerang atau ledakan ranjau kemungkinan menjadi penyebab gangguan pernapasan sejumlah veteran Perang Irak. Situasi lebih mengerikan dihadapi penduduk Irak, yang harus hidup selamanya dengan debu beracun dan polusi yang dihasilkan pesawat tempur.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/04/02/mkmo4f-sepuluh-tahun-sepuluh-masalah

 

Apakah Kita Akan Membiarkan Merajalelanya Riba Atau Bahkan Menikmatinya?

Depok, 14 Januari 2013
Pangkal Masalah Kita Adalah Riba
Zaim Saidi – Direktur Wakala Induk Nusantara

Sumber sebagian besar masalah sosial dan ekonomi dunia hari ini adalah riba. Setiap Muslim wajib turut memeranginya.

Dalam satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam bersabda,

“Akan datang suatu masa ketika semua orang memakan riba. Mereka yang tidak mau makan riba pun pasti terkena debunya.”

Masa itu adalah hari ini, dan itu artinya kita semua tengah terlibat dengan riba. Sebab, di masa ini, seluruh tata kehidupan kita telah bercampur dengan riba hingga kita tak bisa menghindarinya. Riba telah menjadi cara hidup kita. Perhatikanlah bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari saat ini.

Untuk memiliki sebuah rumah, kendaraan, bahkan peralatan rumah tangga (tivi, perabot elektronik, mebel, dsb), pada umumnya, kita membayarnya dengan kredit berbunga. Sebab harga-harga kebutuhan hidup ini kalau harus dibeli secara tunai sudah semakin tidak terjangkau. Lebih dari itu, untuk kebutuhan sekunder pun, seperti untuk ongkos pendidikan dan biaya kesehatan, malah untuk kehidupan hari tua, kebanyakan kita mengandalkan layanan yang juga berbasis kredit berbunga. Entah namanya tunjangan atau asuransi, dana pensiun atau tabungan hari tua.

Bisakah kita menghindari riba, setidaknya debunya, ketika riba telah menggurita menjadi sistem? Untuk bepergian pun, apalagi kalau melewati jalan tol, Anda otomatis terlibat dengan sistem riba – karena ongkos tol dan pajak jalan yang kita bayarkan mengandung riba, sebab investasinya berasal dari kredit perbankan. Membeli bahan bakar dan gas pun mengandung riba. Menggunakan jasa listrik dan telepon tidak bersih dari riba. Bahkan seluruh layanan sosial yang disediakan oleh pemerintah pun, dalam bentuk apa pun, sesungguhnya dibiayai dari utang berbunga dari perbankan.

Bukankah untuk menggaji Pegawai Negeri Sipil, berserta segala tunjangan dan dana pensiunnya, pun pemerintah mengandalkan APBN (Anggaran Pendapaan dan Belanja Negara) yang berasal dari utang berbunga dari perbankan?

Sedangkan riba mengakibatkan kesengsaraan bagi semua orang. Allah , subhanahu wa ta’ala, menyatakan riba menyebabkan manusia “menganiaya dan dianiaya”. Riba membuat beban kehidupan menjadi semakin tidak tertanggungkan, biaya dan harga apa pun menjadi berlipat ganda. Sekali lagi perhatikan kenyataan di sekeliling kita: belum lama di masa lalu setiap keluarga secara relatif mudah dapat memiliki tanah dan sebuah rumah yang layak. Tapi, ketika tanah-tanah mulai dikuasai oleh para bankir melalui pengembang-pengembang, memiliki rumah menjadi kemewahan.

Dengan dalih menolong masyarakat para bankir menciptakan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Apa akibatnya? Justru harga rumah semakin tak terjangkau. KPR yang semula ditujukan untuk rumah bertipe 70, harus diturunkan untuk tipe 60, lantas untuk tipe 45, lalu tipe 36, dan kini semakin kecil lagi untuk tipe 21. Itu pun hanya bisa dibeli oleh sedikit orang, karena harganya yang semakin mahal.

Juga untuk biaya kesehatan dan pendidikan. Lagi-lagi dengan dalih membantu masyarakat untuk “meringankan” biaya jasa sosial ini para rentenir menciptakan berbagai bentuk kredit, asuransi, tunjangan, dan sejeisnya, yang semuanya berbasis pada utang berbunga. Lagi-lagi akibatnya adalah justru biaya kesehatan dan pendidikan semakin tidak terjangkau. Sebab, selain membayar ongkos untuk jasa pendidikan dan kesehatan itu sendiri, masih harus ditambah dengan biaya bunganya. Dan jangan lupa bunga itu adalah bunga berganda, berlipat-lipat dengan berjalannya waktu.

Sistem perbankan memastikan riba sekecil apa pun menjadi berlipat ganda. Pelipatgandaan ini bukan saja terjadi secara linier, pada utang berbunga yang secara langsung dikenakan oleh perbankan pada kredit yang dikeluarkannya, tetapi efek rentetan yang terjadi pada setiap transaksi yang mengandung utang berbunga, yang ditanggung oleh seluruh masyarakat dalam bentuk beban hidup yang semakin mahal. Maka dalam Al Qur’an Allah , subhanahu wa ta’ala, melarang pemraktekan riba dengan sangat keras.

Riba mempengaruhi semua sektor ekonomi riil karena melibatkan unsur cost of money, disebut bunga atau tidak, yang juga mematikan sejumlah sektor riil ini karena hambatan “biaya uang” tersebut. Akibat lanjutnya adalah tertutupnya kesempatan jutaan lapangan pekerjaan. Dalam prakteknya pinjam-meminjam uang berbunga ini merupakan kegiatan sewa-menyewa uang. Sehingga masyarakat tidak terdorong menginvestasikan uangnya ke sektor produktif. Berapa juta lapangan pekerjaan yang tertutup dengan uang masyarakat yang disewakan kepada perbankan atau lembaga keuangan nonbank, dengan bunga katakanlah 15%/tahun, misalnya, dibandingkan dengan bila uang-uang tersebut diproduktifkan dalam kegiatan ekonomi riil melalui skema bagi hasil, misalnya?

Ambillah contoh keadaan saat ini ketika perbankan – disebut bank konvensional atau bank syariah – maupun turunannya, termasuk BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) dan BMT (Baitul Mal wa Tamwil), yang tidak lain adalah skama kredit mikro, mengenakan bunga atau cost of money pada pinjaman sebesar 15% tersebut di atas, maka kegiatan usaha produktif yang memberikan keuntungan kurang dari 15% dianggap tidak layak. Apa akibatnya? Banyak lapangan kerja yang tertutup dan ekonomi yang tidak efisien karena tambahan biaya akibat riba.

Belum lagi ditambahkan beban riba berbentuk aneka rupa pajak, yang juga berlapis-lapis adanya, mulai dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan, bea dan cukai, sampai bea materai. Akibat lanjutnya adalah harga barang dan jasa yang tidak bisa lagi murah, karena pertama-tama harus ditambahkan dengan harga sewa uang atau modal yang dipakai dalam menghasilkan barang dan jasa tersebut, serta pajak-pajak yang dikenakan atas seluruh proses produksi itu, pada produknya sendiri, bahkan pada prose jual-belinya. Denyut ekonomi kita adalah denyut riba. Kita menyebutnya sebagai sistem kapitalisme.

Jadi, akar persoalan kita adalah riba. Tapi, solusi yang ditawarkan pun, adalah riba berikutnya!

Dan, boleh jadi ini akan yang mengagetkan Anda, bahwa seluruh rangkaian sistem riba ini dimulai dari isi dompet kita sendiri, yakni keberadaan uang kertas. Kenyataan bahwa uang kertas adalah riba akan kita bahas secara lebih rinci di belakang nanti. Berikut kita pahami dulu posisi riba di hadapan Allah, subhanahu wa ta’ala, dan RasulNya salallahualaihi wassalam.

Dosa Riba Sesudah Syirik
Kenyataan bahwa kita hidup di tengah samudra riba tidak boleh kita biarkan. Keterlibatan kita semua, sebagaimana Allah , subhanahu wa ta’ala, indikasikan dalam al Qur’an, adalah sebagai pelaku (menganiaya) sekaligus korban (dianiaya). Sistem riba adalah rantai kezaliman. Karena itu menjadi kewajiban setiap muslim untuk menghentikannya. Allah , subhanahu wa ta’ala, mengancam hukuman yang berat bagi para pelaku riba. Dosa yang harus kita tanggung karena keterlibatan kita dengan riba adalah dosa terbesar kedua sesudah syirik. Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat dengan riba – langsung atau tidak langsung – yaitu “yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang menyaksikannya” adalah sama (H.R. Muslim). Kita semua berdosa atasnya. Dan, ketahuilah, bahwa dosa karena riba ini tidaklah main-main.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah serta Baihaqi bahwa Abu Hurairah, semoga Allah meridhoinya, mengatakan bahwa Rasulullah, salallahu alaihi wassalam, mengatakan:

“Riba terdiri atas 70 jenis yang berbeda-beda, yang paling ringan dosanya ialah setara dengan seorang lelaki bersetubuh dengan ibu kandungnya di Masjidil Haram.”

Dalam riwayat lain oleh Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dikatakan Rasulullah, salallahu alaihi wassalam, menyatakan:

“Satu dirham riba, yang diterima oleh seorang lelaki dengan sepengetahuannya, lebih buruk dibanding berzina tiga puluh enam kali.”

Kalau dosa riba begitu besar, bagaimana hukuman bagi para pelakunya? Kembali Abu Hurairah (HR Ahmad, Ibnu Majah) meriwayatkan Rasulullah, salallahu alaihi wassalam, yang bersabda:

“Pada malam aku naik ke surga aku mendatangi orang-orang yang perutnya sebesar rumah penuh dengan ular yang terlihat dari luar. Aku bertanya kepada Jibril siapa mereka dan dia menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan riba.”

Riwayat lain dari Samurah bin Jundab mangabarkan bahwa Rasulullah, salallahu alaihi wassalam, mengatakan bawa pemakan riba akan hidup dalam sungai darah.

Dalam hadis sahih dari Bukhari tersebut Rasul salallahu alaihi wassalam, mengatakan:

“Semalam aku bermimpi melihat dua lelaki mendatangiku dan membawaku ke tempat suci lalu dari sana kami melanjutkan perjalanan hingga ke sebatang sungai darah, di sana ada seorang lelaki berdiri di tengahnya dan di satu tepiannya berdiri seorang lelaki dengan batu-batu di tangannya. Lelaki yang berada di tengah sungai mencoba untuk keluar tetapi lelaki satunya melemparkan sebuah batu ke dalam mulutnya dan memaksanya kembali ke tempat semula. Setiap kali dia mencoba untuk keluar dari sungai tersebut setiap kali pula lelaki yang lain melemparkan sebuah batu ke dalam mulutnya yang memaksanya kembali ke tengah sungai. Aku bertanya: ‘Siapa orang ini?’ Aku diberi jawaban: ‘Orang yang berada di tengah sungai ialah orang yang memakan riba.'”

Mengapa semua berdosa dan dosanya begitu besar?

Sudah dijelaskan sebelumnya riba menyebabkan manusia saling menganiaya dan menjadikan kehidupan kita tidak lagi sesuai dengan fitrah. Seorang dokter terpaksa mengenakan tarif yang sangat mahal kepada pasien, karena untuk menjadi seorang dokter dia harus membayar sangat mahal untuk pendidikannya. Biaya sekolah bulanan (SPP) tinggi karena tidak hanya dipakai untuk membiayai ongkos belajar-mengajar tetapi juga untuk mengembalikan kredit investasinya. Gedung dan peralatan rumah sakit pun dibiayai oleh para bankir dengan bunga berbunga. Pagawai negeri terpaksa korupsi karena gajinya tak mencukupi. Banyak kehidupan suami-istri tidak tentram akibat terlilit utang. Penagih utang (debt collector) menjadi profesi yang sangat dibutuhkan saat ini. Belakangan kita acap mendengar berita seorang ibu atau ayah yang melakukan bunuh diri akibat tidak tahan menanggung biaya hidup.

Itu sebabnya Allah , subhanahu wa ta’ala, mengancam para pelaku riba dengan hukuman

“menghuni neraka, kekal di dalamnya” (QS: 2: 275).

Orang-orang yang terlibat dengan riba, dan untuk saat sekarang itu berarti hampir semua orang, disebutkan oleh Allah , subhanahu wa ta’ala, sebagai

“tidak dapat berdiri dengan tegak, melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran penyakit gila.” (QS: 2:276).

Ya, betul sekali, “seperti kerasukan setan dan berpenyakit gila”, bukankah itu yang kita alami saat ini? Semua orang hidupnya gelisah, khawatir dengan masa depan, tidak berani menghadapi hidup, menjadi kikir dan bakhil serta enggan bersedekah, egois dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan saling membunuh. Namun, justru karena itu pulalah, industri riba – asuransi, kredit, tunjangan pensiun, dan lain sebagainya semakin merajalela. Psikosis massal diperlukan bagi suburnya industri riba ini.

Sedemikian luas dan halusnya sistem riba ini melingkungi hidup kita, sampai-sampai kita tidak dapat membedakan lagi, mana yang riba dan mana yang bukan. Allah , subhanahu wa ta’ala, menyatakan bahwa mereka yang memakan riba itu bahkan telah menyatakan “riba sama dengan berdagang.” (QS: 2:278). Berbagai komoditas, mulai dari rumah sampai rice cooker, mobil sampai sepeda motor – baru maupun bekas – tidak lagi diperdagangkan secara halal, tetapi sekadar dijadikan alat untuk bermain riba. Bahkan, alat tukar yang kita gunakan pun, uang kertas bernama rupiah atau dolar atau ringgit, adalah instrumen riba.

Tetapi bagi kita, orang-orang beriman, bukan tidak ada jalan keluarnya. Allah , subhanahu wa ta’ala, mengharamkan riba, tapi menghalalkan perdagangan. Lagi pula, Allah , subhanahu wa ta’ala, menyatakan bahwa pada akhirnya (hasil) riba akan dimusnahkannya,

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS:2:276).

Harta riba itu bisa jadi dimusnahkan secara keseluruhan dari tangan pemiliknya ataupun dihilangkan berkah dari harta tersebut sehingga pemiliknya tidak dapat mengambil manfaatnya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

“Apa yg kalian datangkan dari riba guna menambah harta manusia maka sebenarnya riba itu tidak menambah harta di sisi Allah.”

Rasul sallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang banyak terlibat riba kecuali akhir dari perkaranya adalah harta yang menjadi sedikit.”

Begitulah riba pada akhirnya harus musnah. Kita mentaati perintah untuk meninggalkannya atau membangkangnya Allah , subhanahu wa ta’ala, memastikan keruntuhannya. Dalam bahasa yang sangat tegas Allah , subhanahu wa ta’ala, dan Rasul-Nya menyatakan perang atas riba (QS: 2:279). Dan peperangan atas sistem riba ini telah mulai kita lihat wujudnya dalam peristiwa-peristiwa yang kita kenali sebagai “krisis finansial” atau “krisis moneter”, yang kini terjadi di mana-mana.

 

Sumber : http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Pangkal.Masalah.Kita.Adalah.Riba./1363/id

Pajak atau Zakat

Terjemah Al Qur’an :

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hukum/hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (TQS Al Baqarah/2:188).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridlo di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (TQS AnNisa/4:29).
Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (TQS AnNisa/4:30).

Terjemah Hadis :

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Uthman ibn Abul’As, Saya mendengar Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Daud a.s. di malam hari akan membangunkan keluarganya dan berkata: hai keluarga Daud, bangun dan berdoa karena saat seperti ini adalah saat dimana Allah subhanahu wa ta’ala akan segera mengabulkan doa kecuali doa tukang sihir/tenung dan penarik pajak. (HR At-Tirmidhi).
Telah diceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Abdullah al Qaththan, dari ibnu Maghra; dari ibnu Ishaq, ia berkata: orang yang mengambil sepersepuluh dari orang-orang, maka adalah mengambil pajak (kharaj) yang zalim. (HR Abu Daud)
Telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Muhammad An Nufaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Masalamah dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin AbuHabib dari Abdurahman bin Syamasah dari Uqbah bin Amir, ia berkata: saya mendengar Rasulullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidak akan masuk sorga, orang yang mengambil pajak secara zalim. (HR Abu Daud).
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda,
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (pajak/upeti)13, harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka:
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (TQS. An Nisa’: 159)”14
13 An Nawawi menjelaskan, “Maksudnya, jizyah tidak akan diterima lagi. Dan tidak akan diterima dari orang kafir kecuali Islam. Dengan sekedar menyerahkan jizyah, maka itu tidaklah cukup. Yang diterima hanyalah Islam atau dibunuh.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/190)
14 HR. Bukhari no. 3448 dan Muslim no. 155.

Hukum di negara USA :
Untuk warga negara USA, mereka wajib membayar pajak US dimana saja mereka tinggal dan cari nafkah dan walaupun sudah menanggalkan kewarganegaraan US nya masih harus terus membayar pajak sampai 10 tahun.
(Ref : http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/#ixzz1ylUzSCt3).

Depok, 22 Januari 2013
Pajak Menurut Syariat
Zaim Saidi – Direktur Wakala Induk Nusantara

Keluarnya maklumat sejumlah tokoh masyarakat yang menyerukan boikot pajak menjelang akhir 2012 lalu terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja. Fakta bahwa maklumat itu dikeluarkan di Pondok Pesantren sekelas Tebu Ireng, Jombang, menambah dimensi dan bobotnya. Meskipun begitu KH Sholahudin Wahid, sebagai pimpinan Ponpes Tebu Ireng, menyatakan maklumat itu tidak mewakili ponpesnya. Selain sejumlah individu seruan itu juga dikumandangkan oleh Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI).

Alasan utama seruan boikot itu adalah karena uang pajak rakyat banyak dipakai untuk membayar bunga hutang rekapitulasi bank-bank penerima BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Seharusnya bunga bank rekapitulasi ini dibayar oleh para pemilik bank bermasalah tersebut, bukan oleh pajak dari rakyat. Dari perspektif Islam pandangan seperti ini sudah sangat tepat, bahkan seharusnya dipertajam, sehingga posisi penolakannya memiliki landasan yang lebih kuat dan syar’i.

Dengan perspektif syariah secara tajam kita bisa memosisikan hutang berbunga dari perbankan dan pajak sebagai saudara kembar. Meski sekilas tampak berasal dari sumber berbeda yaitu perbankan swasta di satu sisi dan pemerintah di lain sisi, keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu riba. Allah, subhanahu wa ta’ala, dan RasulNya, dengan sangat tegas, mengharamkan riba ini karena kezalimannya. Sebagaimana kita ketahui pembiayaan pengelolaan pemerintahan, dan bukan hanya kasus rekapitulasi BLBI itu saja, pada dasarnya bersumber dari hutang berbunga ini.

Pada gilirannya pemerintah menarik pajak, yang tak lain adalah perampasan hak milik rakyat yang dilegalkan, dengan berdalih bahwa pajak diperlukan untuk membiayai kepentingan umum: pembangunan jalan, gedung sekolah, selokan dan sebagainya. Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya benar, sebab hampir seluruh anggaran belanja pemerintah dibiayai dari utang yang berasal utamanya dari rentenir asing itu. Pajak menyusul belakangan, harus ditarik dari setiap warga untuk mencicil utang tersebut, beserta bunganya yang terus berlipat ganda.

Republik Indonesia berdiri sebagai negeri merdeka tanpa hutang. Tetapi, karena dipaksa mengambilalih utang pemerintahan kolonial, yang nilainya “hanya” empat milyar dolar AS, negeri ini sekarang menanggung utang 202 milyar dolar AS atau hampir Rp 2000 triliun. Penggelembungan utang ini terutama akibat formula bunga ber bunga, dan utang terus-menerus yang diambil setiap tahunnya. Akibatnya untuk membayar cicilan dan bunganya, seluruh pajak yang ditarik itu masih juga tak mencukupi, dan harus ditambal lagi dari utang baru.

Dari kacamata syariat Islam kita rujuk perintah Allah , subhanahu wa ta’ala, yang melarang perolehan harta seseorang kecuali atas dasar “perdagangan sukarela” (An Nisa, 29). Pajak adalah pungutan paksa yang dilakukan oleh satu pihak, yang merusak transaksi muamalat, dan menambah harga dan biaya yang tidak ada imbal-baliknya. Dalam Surat Al A’raf ayat 86, secara lebih eksplisit Allah, subhanahu wa ta’ala, melarang pemajakan: “Janganlah kamu duduk di tepi jalan dengan mengancam dan menghalang-halangi orang beriman di jalan Allah dan membelokkannya.”

Para mufassir menjelaskan makna “mengancam dan manghalang-halangi” dalam ayat ini sebagai pemajakan. Nilai pajak yang lazim dikenakan di jalanan pada waktu itu adalah 10% atau lebih. Dulu para pemajak mengancam para pedagang secara fisik, yang tentu saja dari syariat Islam merupakan perbuatan kriminal. Kini, dalam sistem pemerintahan ribawi, yang terjadi adalah sebaliknya: para pedagang (yang tak mau menyerahkan pajak) diancam hukuman penjara, sementara para pemajaknya dilindungi undang-undang.

Lebih jauh Rasul, sallalahu ‘alayhi wa sallam, dengan tegas juga menyatakan larangan atas pengenaan pajak perdagangan. Dalam hadisnya (HR Ahmad dan Abu Dawud) Rasulullah, sallalahu ‘alayhi wa sallam, mengatakan, “Tidak akan masuk surga orang yang memungut cukai”. Dalam riwayat lain ia mengatakan, “Sungguh orang yang memungut cukai berada dalam neraka.” Cukai yang dirujuk dalam hadis ini adalah sejenis pajak pertambahan nilai, yang disebut sebagai al ‘asyir, yang nilainya adalah 10%.
Di zaman kita kini PPN umumnya juga dikenakan sebesar antara 10%-15%.

Karena pajak tidak dibenarkan dalam Islam maka dalam bahasa Arab murni bahkan tidak dikenal adanya istilah pajak. Yang ada adalah kata dharibah yang makna aslinya adalah upeti yang dikenakan oleh para majikan kepada budak sebagai imbalan atas izin bagi mereka untuk bekerja dan mencari upah di luar. Dalam bahasa Arab modern kata dharibah digunakan untuk memberi pengertian pada konsep pajak ini, khususnya pajak penghasilan (PPh).

Jelaslah, dalam perspektif syariat Islam, negara modern, atau negara fiskal, di mana pembiayaannya berasal dari utang berbunga di satu sisi dan pemajakan paksa kepada warganya di sisi lain, tidak lain adalah sistem perbudakan (modern) itu sendiri. Dan, sebagai saudara kembar riba, pajak pun harus diharamkan dan dihentikan, bukan diboikot. Satu-satunya pungutan wajib yang dibolehkan di dalam syariat Islam adalah zakat yang ditarik setahun sekali dan dengan tarif yang murah.

*) Sebelumnya artikel ini pernah dimuat di Harian Umum Republika, 18 Januari 2013

Sumber : http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Pajak.Menurut.Syariat/1370/id

Berita : Polda Jabar Kunjungi Pondok Pesantren Darul Khodir As Salyan

Polda Jabar Kunjungi Pondok Pesantren Di Cisarua Lembang

 

KABUPATEN BANDUNG BARAT – Terkait dengan peringatan HUT Bhayangkara ke 66 tahun, Kepolisian Daerah Jawa Barat pada selasa siang (26/06/12) menggelar rangkaian kunjungan dan silahturahmi kebeberapa tempat seperti panti jompo di Cibeber Kota Cimahi dan pondok pesantren di Kampung Cipesing Kecamatan Cisarua Lembang. Di lokasi Pondok Pesantren Darul Khodir As Salvan, rombongan pejabat utama Polda Jawa Barat langsung disambut dengan musik Islami. Selain mengadakan kunjungi silahturahmi, rombongan Polda Jawa Barat pun memberikan santunan sembako sebagai salah satu program bakti sosial dalam rangka HUT Bhayangkara ke 66.

“Kunjungan ke beberapa pondok pesantren ini selain untuk bersilahturahmi juga ingin membina hubungan dengan beberbagai para santri untuk sama-sama menjaga keamanan dan kondusifitas lingkungan” tutur Suwarno, Karo SDM Polda Jabar Kombes Polisi. “Adanya kunjungan ke beberapa pondok pesantren ini pun nantinya dapat terdata para santri yang belum memiliki pekerjaan dan akan dibantu disalurkan ke perusahaan di wilayah Jawa Barat sesuai dengan bakat dan keterampilan yang dimiliki para santri” tambahnya.

 

(Anwar Raharjo, Kabupaten Bandung Barat – Jawa Barat)

Sumber : http://www.pjtv.co.id/berita/detail/berita-daerah/2742/polda-jabar-kunjungi-pondok-pesantren-di-cisarua-lembang.html