Sekelumit Kisah Para Pahlawan

17-11-2011

Papua dan Indonesia Irian Barat :

Antara Bingungnya Kennedy dan Keras Kepalanya Sukarno

Penulis : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Setelah selesai perjanjian KMB 1949 yang ditandatangani dengan cara terburu-buru oleh Hatta dan manut sama rayuan Washington untuk memperpendek perang, ada ganjalan kecil yang masih bikin Sukarno pusing. Perjanjian pengalihan wilayah Hindia Belanda adalah keseluruhan, tidak boleh sepotong-potong sementara dalam satu pasal perjanjian KMB yang tebelnya segede bantal itu tentang wilayah Irian Barat. Disana tercatat Belanda masih bisa menguasai wilayah Irian Barat, sebuah wilayah paling timur dari negeri yang dulunya bernama Hindia Belanda. – Itung-itungan geopolitik Sukarno : kalau Irian Barat nggak dikuasai, maka Irian Barat akan jadi pangkalan militer terpenting NATO di Asia Pasifik, atau setidak-tidaknya Amerika Serikat dan Belanda bisa bersekutu untuk membangun pangkalan militer bersama”. Untuk itu sejak 1950 Sukarno menjadikan Irian Barat sebagai masalah terpenting untuk diselesaikan.

Setelah kegagalan ekspedisi militer Belanda 1947 dan 1948, Belanda mengambil pelajaran terpenting “jangan terlalu percaya pada Amerika Serikat sekutunya sendiri”. Kegagalan menguasai Indonesia adalah langkah mundur sejarah bagi Belanda untuk itu harus dibangun benteng baru, “Sebuah Pelabuhan Banten baru seperti jaman Cornelis de Houtman tapi letaknya di timur”. Sesungguhnya Irian Barat adalah markas mereka sebelum mereka kembali akan berhadapan dengan Indonesia di sebelah barat. Di kalangan konservatif, menguasai Hindia Belanda adalah tugas sejarah dan merupakan tanggung jawab generasi muda untuk menghidupkan kembali kejayaan Hindia Belanda seperti di jaman kuno.

Semangat seperti itulah yang membuat Irian Barat adalah pertaruhan terakhir bagi Belanda, setelah mereka menyadari kegagalan Van Mook dalam menguasai Indonesia, di Belanda muncul satu rezim pemerintahan baru di mana Joseph Luns orang yang jauh konservatif ketimbang Van Mook muncul ke permukaan dan menjadi pemain politik paling penting dalam melobi jaringan politik di Amerika Serikat untuk kepentingan Belanda di Irian Barat.

Sementara sepeninggal Harry S Truman, politik luar negeri Amerika Serikat dilanda kekacauan. Truman mengambil politik setengah-setengah, sikapnya yang selalu ragu terhadap Cina Komunis bikin Truman kehilangan kekuatan politik luar negerinya, gara-gara politik pengecut saat berhadapan dengan Mao, Presiden Truman kehilangan Jenderal Douglas MacArthur orang yang paling paham geopolitik Asia Pasifik dan juga pahlawan Amerika dalam perang pasifik. –MacArthur ini akan divisi-kan oleh para senator Amerika Serikat untuk jadi Presiden Amerika Serikat berikutnya, karena bagi Amerika masalah Asia Pasifik sangat penting mereka takut Komunis akan masuk ke Asia Pasifik dengan cara menunggangi negara-negara nasional. Bagi Truman menjaga kesatuan Cina itu akan lebih mudah ketimbang Cina yang terpecah, padahal banyak analis politiknya saat itu menekan “biarlah Cina terpecah dan kelompok Komunis hanya menguasai wilayah utara, suatu saat wilayah utara bisa ditaklukan” Tapi pertimbangan Truman lain, bila Cina terpecah maka kondisi keamanan di wilayah Asia akan sangat terganggu.

Karena politik terlalu hati-hati inilah akhirnya Tentara Merah pimpinan Mao berhasil menguasai seluruh daratan Cina, dan menjadi penerus kekaisaran Cina lama, sementara para kaum Nasionalis disingkirkan ke Taiwan. Di kalangan deplu AS kegagalan ini sangat mencoreng mereka, dan dijadi’in pelajaran penting untuk langkah-langkah selanjutnya di Asia Tenggara, -satu satunya wilayah penting Asia yang masih tersisa dan belum jatuh ke tangan kuasa Komunis

Sedianya pengganti Truman itu mustinya Jenderal MacArthur, tapi setelah Truman memarahi MacArthur soal perang Korea dimana MacArthur mau maen perang dengan Cina, MacArthur ngambek dan bicara di depan kongres AS “Old Soldier never die, he just fade away, seorang serdadu tua tak akan pernah mati, dia hanya berlalu”- ucapan yang banyak bikin nangis anggota senat dan selama 10 menit mendapatkan standing ovation dari senat. MacArthur lalu turun dari podium dan menolak untuk dicalonkan jadi Presiden AS.

Mundurnya MacArthur semakin memperjelas posisi Dwight Eisenhower alias Ike yang dikatakan sebanding kepahlawanannya pada Perang Dunia II. Ike ini adalah Jenderal Salon, dia hanya perwira tinggi militer yang nggak pernah pegang pasukan sebelum kejadian Perang Dunia II. Namun rangkaian kejadian di Eropa saja yang bikin karir Ike naik. Ike adalah seorang komunikator yang tangguh, ia berpikiran dangkal, tidak memiliki visi, dunianya hanya film koboy, ia mencerminkan pragmatisme Amerika dalam warna sesungguhnya. Saat itu ada pertarungan ambisi di antara Jenderal-Jenderal Amerika Serikat dan Inggris untuk tampil dalam panggung sejarah di Eropa, sebuah medan tempur yang amat teatrikal. Disana ada Jenderal Inggris bernama Montgomery jagoan perang Al Amien, Mesir dan sangat paham perang di Afrika Utara, hanya Monty yang berhasil menghajar pasukan serigala gurun Rommel, di sisi lain ada Jenderal serampangan bergaya Amerika seperti Jenderal Patton yang jago maen tank di medan-medan berat, ada juga Jenderal Buttler dan banyak Jenderal, bahkan Perancis yang sudah dipecundangi Jerman-pun masih belagak ingin jadi pemimpin perang Eropa, De Gaulle ampe berkali-kali tidak mau hadir dalam rapat sekutu apabila bukan dirinya yang ditunjuk dalam memimpin pendaratan pasukan sekutu di Perancis. Roosevelt akhirnya minta nasihat Churchill, saat itu Churchill sedang duduk-duduk sore dan mendapatkan telpon dari sohibnya FDR. Lalu FDR curhat soal penentuan Jenderal ini, dengan tertawa Churchill berkata : “Tuan FDR….kau tau Monty, dia orang amat kaku….hanya bisa dikalahkan oleh orang yang justru lebih lemah daripadanya, dia nggak mau dikalahin. Kita tidak mencari ‘Rommel’ disini tapi kita disini mencari seorang dirijen pengatur perang, carilah Jenderal yang jago administrasi bukan jagoan tempur” kata Churchill yang awalnya memang kepengen Jenderal Inggris pimpin perang, tapi ia akhirnya ngerasa nggak enak dengan Amerika yang kirim pasukan paling banyak dalam konfigurasi pasukan sekutu.  Akhirnya dipilihlah Ike, yang dinilai FDR adalah jenderal Salon tapi bisa dimanfaatkan untuk merobohkan ego para Jenderal-Jenderal perang.

Jenderal Salon itupun jadi Presiden AS, sifat Ike yang paling ketara adalah ia tidak mau berpikir dalam-dalam, apabila ia sudah percaya sama staf atau Jenderalnya ia tidak mau ambil keputusan, semuanya diserahkan para bawahannya. Di masa perang Eropa 1941, ia jadi komandan tertinggi sekutu, kerjanya hanya mendengarkan omongan para Jenderal-jenderal lalu mencatat dan memberikannya pada asistennya untuk dibuat notulen, lalu setelah itu staf lingkaran intinya disuruh ngumpul dan baca notulen laporan Jenderal-Jenderal, staf intinya ini yang disuruh mikir, setelah dapet keputusan ia sendiri yang akan berdiri depan teater brifing untuk memutuskan hasil keputusannya. Jadi ia bukan mengendalikan situasi atas otaknya. Inilah yang terjadi ketika Ike memimpin AS, dia melakukan politik luar negeri bukan atas kendali pemikirannya tapi atas kendali pikiran anak-anak buahnya. Terutama munculnya Dulles bersaudara yang akan banyak berpengaruh terhadap masa depan Indonesia.

Tahun 1951 di Amerika Serikat, ada senator yang naek daon namanya Joseph MacCarthy, ini orang kerjanya tiap hari membangkitkan ketakutan-ketakutan atas bahaya komunisme. Tindakan MacCarthy – yang mungkin sekarang agak-agak mirip Geerd Wilders ini – ternyata dapet dukungan banyak dari rakyat AS. Ketakutan MacCarthy ini meluas sampe pada ketakutan-ketakutan yang aneh, pemerintahan Roosevelt-Truman dianggap bertanggung jawab soal kejatuhan Cina ke tangan Mao, dan mengatakan bahwa “Sebentar lagi akan berduyun-duyun orang Kominis akan datang ke kota-kota kita, karena bagaimanapun Cina adalah pintu terdepan AS” orang AS sejak lama menganggap Cina adalah sekutunya yang paling setia, tapi setelah Mao, Cina rupanya gagal disetir. “Politik Ketakutan” pada bahaya laten komunis inilah yang bikin agenda politik luar negeri dibawah Ike Eisenhower menginginkan Indonesia terpecah.

Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia yang pertama adalah Hugh S Cumming. Ia dipilih atas rekomendasi Direktur CIA Allen Dulles yang ia berikan memo referensinya ke kakaknya sendiri Menlu AS, John Foster Dulles. Lalu John membawa memo itu ke Ike. Tak lama kemudian Hugh S Cumming dipanggil ke Washington. Saat makan siang di gedung putih, di Red Room (Ruang Merah Cina), Hugh dipesankan oleh Allen Dulles “Hugh kamu harus hati-hati jangan terpengaruh keadaan di Indonesia, tolong jangan ikatkan dirimu ke dalam suatu kebijakan untuk menjaga kesatuan Indonesia”. Hugh mengangguk dan berkata “Ia setuju Indonesia terpecah-pecah dan tidak dibawah komunis, lalu kita bisa menyatukannya lagi”

Pandangan Dulles yang punya visi untuk mecahin Indonesia ini akhirnya juga didengar oleh Sukarno. Tapi Sukarno mendengarnya agak terlambat, sampai pada tahun 1957 Sukarno masih amat percaya dengan Amerika Serikat. Di tahun 1952 kondisi di tubuh militer memanas, Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dipercaya menjadi Menteri Pertahanan berkonsultasi dengan Hatta, saat itu tentara di Indonesia jumlahnya 200.000 sementara Sultan pengen tentara kita ramping tapi kuat dan profesional, menurut perkiraan Sultan jumlah tentara 100.00 itu cukup efektif. Ide ini didukung oleh Nasution dan TB Simatupang. Perwira-perwira di luar daerah banyak yang marah dengan ide ini karena kalo ide ini dijalankan mereka bakalan kehilangan banyak pasukan, sementara mereka paham bahwa anak buahnya juga dulu berjasa berperang lawan Belanda.

Sukarno yang dapat laporan ide Sultan ini menolak rencana Sultan, sebab ia tak ingin ada kejadian ‘Madiun kedua’. Di beranda Istananya Sukarno bicara dengan Ali Sastroamidjojo dan beberapa pemimpin politik “Aku tak ingin melihat lagi, Amir-Amir lain yang dibawa dari benteng Vredenburg dan ditembak mati di satu wilayah sepi, aku tak ingin bangsa ini terpecah lagi” . Pikiran Sukarno ini kemudian didukung PNI , PKI dan beberapa partai sekuler garis keras. Sementara ide Rasionalisasi didukung oleh Menteri Pertahanan, Komandan Militer Pusat dan Partai-Partai yang bersahabat dengan Angkatan Darat. Akhirnya muncul ide dari kelompok perwira Angkatan Darat yaitu : Membubarkan Parlemen dan memaksa diadakannya Pemilihan Umum. Nasution sendiri datang ke Istana dan meminta Presiden Sukarno membubarkan parlemen, jawab Sukarno “Apa aku sudah gila kau suruh aku bubarkan Parlemen, jangan paksa aku jadi Diktator, Nas…jangan paksa aku” lalu Sukarno mendengar ribut-ribut diluar, ia melihat banyak massa dateng, tak lama kemudian massa dateng. Sukarno melihat barisan tank yang ternyata dipimpin komandan artileri Siliwangi Mayor Kemal Idris yang mengarahkan meriam-nya ke Istana. Sukarno marah besar dengan pengarahan meriam itu, demo dan tuntutan itu gagal total karena opininya sudah bergeser ke arah “Pengarahan Meriam Tank tepat ke Muka Sukarno”.

Akhirnya Sukarno memecat Nasution, TB Simatupang ngamuk-ngamuk dan membanting pintu kerja Sukarno, tak lama Sim juga pensiun. Pemecatan Nasution ini sesungguhnya berdampak amat fatal bagi Indonesia, karena ketika Nas berpakaian sipil ia mendirikan Partai bernama IPKI (Ikatan Pejuang Kemerdekaan Indonesia), IPKI inilah yang kemudian menjalin jaringan dengan Partai-Partai Politik sipil, sejak kejadian 1952 Militer Indonesia tidak steril lagi dari pengaruh sipil dan ini amat berbahaya bagi masa depan Indonesia. Di kemudian hari Hatta kerap marah bila ia dituduh turut mencampurkan militer ke dalam pengaruh sipil, Hatta selalu berkata “Silahkan tanya ke Nasution soal itu”.

Menjelang hajatan besar KTT Non Blok di Bandung 1955, Sukarno sudah mulai membaca arah sejarah. Ia mendapatkan banyak laporan tentang kemana sesungguhnya Amerika Serikat ini berdiri – yaitu : memecah Indonesia jadi potongan-potongan kecil agar bisa membendung komunisme- tapi kecurigaan itu disimpan Sukarno sampai ia melihat buktinya sendiri. . Di tahun 1954, Sukarno menunggu perkembangan Internasional, ia melihat sebuah langkah prospektif yang dilakukan Ali ketika Ali berhasil dalam konferensi Kolombo, Konferensi ini akan mengikatkan suatu gabungan negara-negara Internasional untuk meredusir taktik intervensi Amerika Serikat dan Sovjet Uni ke negara-negara baru. Akhirnya di tahun 1955 KTT Nonblok diselenggarakan, pidato Gandhi menjadi acuan : “Merupakan suatu kehinaan bagi bangsa Asia dan Afrika apabila mereka menjadi pengikut suatu blok kekuasaan di dunia”. Martabat bangsa-bangsa Asia saat itu bisa jadi hitungan politik yang lugas untuk menghadapi Amerika Serikat, inilah yang ada dalam pikiran Sukarno.

Tapi keadaan terus berkembang. Ike Eisenhower terus menekan untuk segera membereskan Indonesia dari incaran Sovjet Uni, Tahun 1956 Menlu John Foster Dulles akhirnya memutuskan ke Djakarta. Disana ia dijamu Sukarno dan ngobrol berdua di ruang kerja Sukarno yang juga penuh dengan buku-buku “Tuan banyak membaca juga?” kata Dulles
“Ya, sama banyaknya saya nonton film Amerika” kata Sukarno tertawa
“Tuan Sukarno, apakah anda lupa Amerika Serikat adalah negara yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, kami terpaksa juga harus agak mengkhianati sekutu penting kami di Eropa yaitu : Belanda”……

Lalu Sukarno mengambil wine-nya dan memutar-mutarkan gelas wine. Sukarno tidak meminum wine itu, karena ia langsung menaruh “ Anda merokok?” kata Sukarno kepada John F Dulles. “Tidak, terima kasih”

Setelah menghisap rokoknya tiga kali Sukarno berkata pada Dulles dengan pandangan menerawang “ Tuan Dulles, masalah bangsa-bangsa Asia bukanlah masalah pro atau anti kominis, tapi masalah nasionalisme, seluruh panggung Asia saat ini terbakar api nasionalisme. Oke, Tuan Dulles saya berterima kasih pada anda soal anda bilang bantuan Amerika Serikat saat kami perang dengan Belanda tahun 1945-1949, tapi saya masih ingat Tuan…masih ingat sekali …posisi waktu itu ‘posisi Amerika sama sekali tidak jelas’ dukung Belanda atau Indonesia?….dan posisi yang ambigu itu masih diperlihatkan sekarang, sementara bagi Komunis mereka jelas mendukung kemerdekaan negara-negara baru di Asia”

John Foster meradang mendengar jawaban Sukarno yang dianggap tidak tau terima kasih ini, tapi sebagai diplomat ia harus bersikap santun. “Tuan datanglah ke Amerika Serikat, rakyat kami ingin mengenal anda”

Sukarno bergembira ketika ia diundang resmi ke Amerika Serikat. Ia langsung teringat masa kecilnya yang seneng mengumpulkan gambar-gambar bintang film hollywood dari korek api. Dan sembari tertawa memamerkan gingsulnya Sukarno berkata pada John Foster Dulles “Saya mengagumi negeri Tuan, kebudayaan Tuan, gedung-gedung yang tinggi itu, dan dulu ketika saya masih kecil saya selalu berkhayal tentang Amerika, saya kenal baik dengan Jefferson, Lincoln dan Washington, saya catat mereka sebagai teman di dalam membaca buku”

Sebenarnya ucapan Sukarno ini apabila ditilik merupakan jawaban bahwa “Amerika Serikat janganlah bersikap sombong!..perhatikan Sukarno”. Tapi Ike Eisenhower memang bukan pemimpin yang cerdik membacai arah politik.

Akhirnya 16 Mei 1956 Sukarno datang ke Amerika Serikat, seluruh negeri itu dipenuhi berita-berita tentang siapa Sukarno. Rakyat mendengarkan radio dan membaca koran. Hari kedatangan Sukarno ditanggapi meriah oleh rakyat Amerika, di Washington berbondong-bondong orang Amerika ingin tau Sukarno dan menyambutnya di pinggir-pinggir jalan mereka mengibar-ngibarkan bendera. Di New York, Sukarno disuruh naik ke podium di sebuah Gedung depan jalan yang dulu sempat dijadikan pesta kemenangan besar Amerika Serikat pada Perang Dunia II, rakyat New York menyambut Sukarno dengan parade Pita. Rakyat New York berbaris-baris mengelu-elukan Sukarno, yang tertawa-tawa melihat sambutan rakyat negeri Paman Sam itu. Dimana-mana Sukarno dianugerahi doktor honoris causa dari Universitas-Universitas ternama di Amerika Serikat. Namun sambutan paling mengesankan bagi Sukarno justru ketika ia diberikan kesempatan bicara di depan Kongres.

Ide bicara di depan kongres sebenarnya dari beberapa asosiasi jurnalis Amerika Serikat yang kagum dengan cara pidato Sukarno, dulu wartawan-wartawan senior perang sekutu terpesona dengan gaya Sukarno bahkan Richard Straub wartawan BBC saat mendengarkan pidato Sukarno berkata “Abraham Lincoln masih hidup di dunia..!” pesona pidato Sukarno inilah yang kemudian dijadikan kasak kusuk para anggota senat, mereka ingin tau apa yang ada dalam pikiran Sukarno. Dan bagi Sukarno ini sama saja memberikan makanan lezat, karena bila pidato ia laksana dewa yang mampu membuat diam seluruh angkasa raya.

Sukarno naik podium dan membuka pidatonya dengan bahasa sejarah yang mencengangkan “Saudara-saudara, tembakan yang pertama diperdengarkan di Lexington pada tanggal 19 April 1775 terdengar sampai ke seluruh penjuru dunia. Bunyinya masih bergaung di hati semua bangsa yang baru saja memenangkan kemerdekaan mereka, bunyinya itu menggetarkan kesadaran bangsa-bangsa di Asia dan Afrika….di pelosok-pelosok bumi, orang-orang yang merasa terjajah membacakan sejarah tembakan Lexington sebagai penggugah untuk bangun dari tidur mereka, tidur yang ditindih oleh kesakitan-kesakitan, Dan apa yang terjadi di Amerika adalah pelajaran penting untuk membebaskan dirinya, Ya…Ya….inilah Asia dan Afrika bangkit kembali”…………

Selesai pidato selama 45 menit, seluruh anggota senat berdiri, wartawan-wartawan berteriak “Bravo…Bravo…Mr. Sukarno” saat itu seseorang memperhatikan Sukarno dengan cermat ia adalah John F Kennedy. Pesona Sukarno telah membangkitkan kesadaran bagi Senator muda ini……

Beda dengan Sukarno yang cerdas dan mampu memikat massa, Ike Eisenhower lebih memilih sebagai orang tua yang nggak pedulian. Ia mengundang Sukarno untuk nonton film Amerika. Sukarno bertanya pada Ike “Tuan nonton film-film apa selain koboy, saya suka film sejarah seperti Ben Hur” kata Sukarno.

“Tidak saya tak suka film selain film koboy, dar der dor…seru” kata Ike dengan senyum kocaknya.
Sukarno mengernyitkan dahi, lalu ia berkata “Tuan saat ini bangsa-bangsa Asia bergolak, kami tak ingin negara-negara Asia dijajah terus oleh negara-negara Eropa” disisi ini Ike tampak nggak mau mendengarnya. Ia terus memperhatikan film. Sukarno amat tidak suka dengan kelakuan Ike.

Sepulang dari Amerika Serikat perkembangan politik di Indonesia memanas, beberapa kelompok yang anti KMB seperti Partai Murba mulai melakukan move politik, mereka mendesak pembatalan KMB. Sementara pihak Parlemen menyambut usulan Murba dan akhirnya diutus delegasi ke Belanda untuk melakukan negosiasi ulang KMB soal Irian Barat, Belanda malah marah-marah dengan usulan negosiasi ini. Inilah yang kemudian menjadikan isu politik penting untuk segera merobek-robek perjanjian KMB 1949.

Akhirnya KMB 1949 dibatalkan, Hatta mundur karena ia yang menandatangani KMB 1949 dan kemudian muncullah semangat baru untuk membentuk satu sistem politik yang kuat. Setelah pulang dari AS semakin jelas bagi Sukarno bahwa agenda terpenting Amerika dibawah Ike Eisenhower adalah memecah-mecah Indonesia, dan menyatukannya kembali apabila perlu asal tidak kemasukan Komunis. Demokrasi Liberal amat rentan dengan kepentingan ini, sehingga keutuhan wilayah menjadi pertaruhannya”.

Sukarno harus bertindak cepat menyelamatkan Indonesia dari perpecahan, setelah mundurnya Hatta. Sukarno mendapatkan banyak laporan tentang korupsinya para politikus-politikus baik di Parlemen maupun Partai. Suatu saat ia memanggil beberapa menterinya sambil menendang kaki meja dan terdenger keras Sukarno menyatakan kegeramannya terhadap para koruptor yang tak paham arah bangsa Indonesia dan hanya mengganggu saja kerjanya. Di tanggal 30 Oktober depan Konferensi Perhimpunan Guru, Sukarno berpidato : “Aku, Sukarno….nggak ingin jadi seorang diktator Saudara Saudari….itu berlawanan dengan semangat saya, dengan jiwa saya…!!Saya adalah seorang demokrat. Saya benar-benar seorang Demokrat…!! tetapi demokrasi saya bukanlah demokrasi liberal, Yang ingin saya lihat ini demokrasi terpimpin, demokrasi yang mengarahkan, tapi ya tetap demokrasi”……….

Akhirnya Sukarno mengakhiri pemerintahan parlementer yang gonta ganti terus, ia memanggil Djuanda untuk bikin kabinet kerja (zaken kabinet). Disitu ia juga menarik Semaun yang dimintanya langsung untuk datang ke Indonesia, Semaun disuruh Sukarno menjadi penasihat bagi Djuanda, begitu juga dengan Chaerul Saleh. Hampir tiap sore Semaun datang dengan sarungan ke tempat Djuanda dan bicara serius soal pembangunan dari Semaun inilah kemudian Sukarno mendapatkan kontak-kontak penting di Moskow, Sukarno perlu modal Moskow untuk mulai gertak Amerika Serikat. Lalu di suatu hari Sukarno memanggil juga Subandrio untuk bantu soal-soal luar negeri terutama yang terpenting adalah soal Irian Barat.

Statemen demokrasi terpimpin Sukarno pada Oktober 1956 inilah yang kemudian dijadikan basis penting untuk melancarkan pemberontakan bagi para politisi-politisi yang kecewa dengan Sukarno. – Sementara Ike yang masih kebelet menguasai Indonesia disarankan agar tidak main kasar, jangan keliatan Amerika Serikat intervensi langsung ke Indonesia, mereka harus menggunakan orang dalam agar ‘Sukarno bertempur dengan Jenderal-Jenderalnya sendiri’.

Sukarno berhadapan pada situasi pelik, ia akhirnya memanggil Nasution untuk kembali pegang militer. Nasution punya anak buah yang amat berani dan bisa diandalkan, dialah Ahmad Yani yang langsung oleh Nasution dikirim ke luar Jawa untuk menggebuk pemberontakan daerah. Banyak bukti Amerika Serikat bermain atas pemberontakan daerah PRRI dan Permesta di tahun 1957-1958. Termasuk tertembaknya pilot pesawat Allen Pope.

Dubes Hugh Cumming diganti oleh Allison. Pesan Ike Eisenhower tetap sama saja, ‘Jangan dekati Sukarno” tapi Allison ini orang yang punya hati, masa akhir jabatannya di Indonesia ia menulis dalam memoarnya “Sukarno adalah orang dari Asia yang paling mengesankan yang pernah saya temui dalam hidup saya”. Allison heran dengan laporan-laporan bahwa orang Indonesia brutal-brutal, ia menemui fakta bahwa Isterinya senang di Indonesia dengan orang-orangnya yang ramah. Allison tidak memuaskan Ike Eisenhower.

Tahun 1960 Nixon, Wakil Ike Eisenhower kalah tarung Pemilu di Amerika Serikat dan sejarah mencatat nama John F Kennedy menjadi Presiden AS. Kennedy ini beda dengan Ike yang hanya mengandalkan otak anak buahnya, JFK lebih kepada mengandalkan otaknya sendiri, tapi memang JFK terlihat belum berpengalaman dalam politik luar negeri, ia juga masih terlalu bersemangat soal mimpi ‘Perdamaian dunia’. Sebelumnya JFK pernah datang ke Indonesia tahun 1957, ia belajar soal Indonesia. Sama seperti Kahin yang mengambil kesimpulan bahwa Indonesia bukanlah negara komunis, Indonesia diisi oleh para intelektual berbakat besar. Bersahabat dengan Indonesia adalah rekomendasinya yang utama. Kennedy memilih besahabat dengan Sukarno ketimbang tetangganya sendiri, Castro.

Di awal pemerintahannya JFK mendapatkan malu luar biasa karena ia gagal ekspansi militer ke Kuba. Gara-gara info penting berhasil disadap wartawan, penyerangan Kuba gagal total. Para pendarat jadi makanan empuk tembakan pasukan Castro. Begitu juga dengan peristiwa adu tank di Berlin yang hampir saja meletuskan perang dunia ketiga. Dengan Irian Barat, Kennedy harus hati-hati karena bila Sovjet Uni menurunkan pasukannya di Asia Tenggara maka perang di kawasan ini akan pecah. Setelah mempelajari situasi Kennedy lebih suka Irian Barat jatuh ke tangan Indonesia ketimbang ke tangan Belanda kemudian dijadikan alasan pihak Komunis untuk membebaskan Irian Barat.

Sikap JFK ini kemudian dibaca oleh banyak pihak yang berkepentingan. Pertama kali bulan februari 1961, Perdana Menteri Robert G Menzies Australia datang ke Washington untuk meyakinkan Kennedy jika Belanda dibiarkan pergi dari wilayah Nusantara, maka keseimbangan politik bagi Australia akan berbahaya. “Indonesia akan jatuh ke tangan kominis” kata Menzies, namun JFK menanggapinya dengan dingin. Dalam hal ini JFK masih memilih netral dalam soal Irian Barat. Ia pengen tau arahnya kemana? Tentu saja Belanda marah-marah, di depan parlemen Belanda di Den Haag Menlu Luns diteriaki anggota Parlemen “Apa-apaan ini sekutu kita sendiri malah asyik bermain dengan Sukarno”

Desakan parlemen Belanda itulah yang kemudian memaksa Menlu Luns dengan diantara dubes belanda untuk Amerika Serikat Van Roijen datang menemui Presiden Kennedy. Mereka marah pada JFK ini soal sikap diamnya tidak membela sekutu Belanda dalam menghadapi Indonesia. Bahkan ditengah kemarahan ini, Menlu Luns menunjuk-nunjuk ke hidung Kennedy. JFK diam saja namun ia dongkol juga, setelah Roijen menekan ingin tau sikap Amerika Serikat, dengan tidak sopan JFK berdiri dan langsung ke belakang, dia diteriaki Luns “Mau kemana” JFK menjawab seenaknya “Saya mau maen baseball”.

Sukarno mendapat kabar posisi Kennedy merasa gembira, ia memerlukan datang ke Washington juga membujuk agar Kennedy memihak kepada Sukarno. Saat kunjungan itu Sukarno diperlakukan amat hormat oleh Kennedy, ia dibawa ke ruang kamar pribadi JFK, lalu JFK menunjukkan koleksi foto-fotonya. Pertemuan itu dilukiskan sebagai pertemuan dua sahabat lama. Sukarno terkesan dengan anak muda tampan ini yang mengingatkannya sewaktu ia masih muda dulu.

Di tengah obrolan antar teman itu JFK nanya “Apa sih yang bikin Tuan Sukarno ingin dari Irian Barat, ras melanesia beda dengan ras melayu”

Sukarno menjawab sambil memainkan tongkatnya “You tau, wilayah itu adalah bagian dari negara kami, Irian Barat harus segera dilepaskan”. Lalu Kennedy membalas “Tetapi orang Papua adalah ras yang berbeda”…..

Sukarno menjawab lagi “Tuan Kennedy, jangan lupa di Amerika Serikat itu lebih rupa-rupa lagi ras-nya. Kelak bisa saja Amerika punya Presiden Kulit Hitam atau Menteri Pertahanan ras Arab. Sebuah negara tidak ditentukan oleh ras, sebuah nation tidak dibangun dari prasangka-prasangka rasial, tapi sebuah negara dibangun dari keinginan bersama untuk membebaskan dirinya untuk masa depan lebih baik”…….

Akhirnya Kennedy mengerti jalan politik Indonesia, tapi ia punya posisi terkunci. Sukarno akhirnya bermain-main taruhan modal untuk menggebuk Belanda sendirian, sebenarnya Bandrio sudah memberi usul “Baiknya total diplomasi saja, Amerika tidak mau perang disini” tapi kata Bung Karno “Saya tau watak orang Belanda, kalau tidak diserang militer, mereka itu bisa memainkan fakta, orang Belanda takut dengan perang beneran”….

Kemudian Sukarno memanggil Adam Malik untuk membantu permodalan militer Indonesia. Adam Malik meminta Nasution memaintain pinjaman militer besar-besaran dari Moskow, sekejap Indonesia mendapatkan duit Moskow. Lalu Indonesia membangun pertahanan militer terbesar di Asia. Kapal-kapalnya siap bertempur dan membuat Belanda gemetar.

Ada satu hal yang terlupa disini, adalah Sukarno terlalu ceroboh meminjam hampir 1 milyar dollar sementara devisa Indonesia belum cukup, kondisi ini kelak akan memicu inflasi. Ini sudah diperhitungkan bagi intel-intel CIA. Justru mereka menunggu dulu sikap JFK yang masih saja membela Sukarno.

Ternyata lewat jalan berliku Irian Barat direbut Indonesia, Belanda marah besar pada Amerika Serikat bahkan perebutan itu tanpa duit sama sekali seperti kejadian KMB 1949. Tapi ada hal paling penting disini, Indonesia udah kebanyakan pinjaman kepada Sovjet Uni, Sukarno akan rapuh secara ekonomi, inilah yang diperhitungkan maka langkah intelijen Amerika Serikat yang amat tidak suka Sukarno adalah : Menetralisir Kennedy dan membuat Sukarno terjebak dalam perang baru……………

Lalu Inggris mendapatkan bola untuk mempermainkan Sukarno soal Malaysia.

Akhirnya John F Kennedy ditembak, Sukarno mati di Wisma Yaso. Hati-hati dengan persoalan Irian Barat, karena inilah pulau dimana Amerika Serikat juga memiliki kesejarahan historis yang amat kuat. Jangan sampai terjebak provokasi, seperti cerita Kolonel Lubis soal tawaran CIA untuk meledakkan pangkalan minyak milik Caltex agar pasukan Marinir ada alasan untuk menjaga investasinya. Persoalan Irian Barat sekarang amat pelik, mungkin hanya satu penyelesaiannya : “Mengembalikan Kesadaran Nasional dan Tujuan Bangsa ini ke depan, tanpa ini justru rasa kasihan kita bila Papua lepas maka itu akan memancing satu persatu Pulau di Indonesia merdeka. Hentikan politik kekerasan di Papua, karena ini adalah fase awal dari pemecahan Indonesia sesungguhnya”

Sumber : http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=6403&type=4

Republika, Rabu, 09 November 2011

OH PAHLAWANKU…

Oleh Selamat Ginting

Cukup sudah kesalahan pemimpin di masa lalu, tidak kita ulang dengan kesalahan yang sama. Kuncinya: jiwa besar!

Hartini tak kuasa membendung ta ngis saat suaminya dinyatakan wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta. Suami tercinta wafat dalam pelukannya. Penyakit gagal ginjal tak bisa diselamatkan. Tak ada upaya keras untuk melakukan cuci darah. Negara menyerah! Itulah peristiwa memilukan bagi bangsa ini pada 21 Juni 1970. Sang proklamator Bung Karno wafat.

Walaupun bukan first lady, Hartini mendampingi Bung Karno selama 16 tahun, termasuk mendampingi perjalanan dinas sang presiden ke sejumlah negara. Suka dan duka dialami Hartini hingga akhir hayat ‘Putra Sang Fajar’. Masih dengan tangis yang terisak-isak, Hartini teringat akan wasiat suaminya. Soekarno telah menulis wasiat dua kali kepadanya, pada 16 September 1964 dan 24 Mei 1965. Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan, jika wafat Bung Karno ingin dimakamkan di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Sejak menikah dengan Bung Karno pada 7 Juli 1953, Hartini menempati salah satu paviliun Istana Bogor. Di tempat ini, Hartini belajar menyanyi keroncong kesukaan Bung Karno, menari lenso, dan membaca. Bung Karno datang ke Istana Bogor setiap Jumat sore dan balik lagi ke Jakarta pada Senin pagi. Itulah masamasa indah kedua pasangan, menonton film, makan sate, atau keliling Kota Bogor tanpa pengawalan pasukan pengamanan presiden. Dari perkawinannya dengan Soekarno, Hartini dikaruniai dua anak, Taufan dan Bayu.

Kebahagiaan Hartini mulai terampas ketika kekuasaan Soekarno memudar seiring terbitnya Surat Perintah 11 Maret. Setelah pidato Nawaksara ditolak MPRS, pada 1967, Bung Karno menjadi tahanan rumah di Istana Batutulis, Bogor. Selang beberapa lama kemudian, ia diasingkan ke Wisma Yaso dan mengembuskan napas terakhir di RS Gatot Subroto, Jakarta. Sejak dirawat di RSPAD, setiap hari Hartini membesuk dengan membawa makanan kesukaan Bung Karno. Hartini memijat, memberi obat, sambil membesarkan hati Bung Karno. “Selama tiga tahun, setiap hari saya tempuh perjalanan Bogor-Jakarta menjenguk Bapak di Wisma Yaso. Berangkat pagi, pulang sore,” ungkap Hartini semasa masih hidup. Bukan cuma Hartini yang menerima surat wasiat perihal pemakaman. Istri Bung Karno yang lain, Ratna Sari Dewi juga menerima surat serupa. Bahkan, surat itu sudah lebih dulu diterima pada 20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962. Isinya sama: “Jika aku wafat, aku ingin dimakamkan di bawah pohon nan rindang di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat,” tulis Bung Karno.

Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Pemakaman presiden pertama Republik Indonesia dilakukan di Blitar, Jawa Timur. Hal itu berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44/1970, tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Soeharto berkonsultasi dengan berbagai tokoh masyarakat. Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Soekarno, ia mengundang pemimpin partai. Di sini jelas bahwa pemakaman Bung Karno tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan politik.

Menurut peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, Soeharto melakukan hal itu dengan pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di Kebun Raya Bogor, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam rombongan yang sangat banyak. Padahal, jarak Bogor dengan Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi menjelang Pemilu 1971.

Jenazah Bung Karno akhirnya dibaringkan di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala, Jakarta). Ya, berbeda dengan ketika berkuasa, hari-hari terakhir panglima besar revolusi ini sangat pahit. Ia tersingkir dari kehidupan ramai sehari-hari. Ia terasing dengan kondisi sakit yang akut di rumahnya. Soekarno menjadi tahanan kota. Ia tidak diperbolehkan menerima tamu dan bepergian. Mendengar Soekarno wafat, ulama terkemuka Buya Hamka pun pergi untuk bertakziah. Ia tak peduli lagi dengan aturan kenegaraan. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari lahirnya Pancasila setiap 1 Juni. Alasannya, antara lain, Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan terlibat dalam percobaan kudeta (G 30S 1965) untuk menggulingkan dirinya sendiri. Pemeriksaan kemudian dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin parah.

Tidak cukup hanya dengan bertakziah, Hamka kemudian mengajukan diri sebagai imam shalat jenazah mantan presiden pertama itu. Padahal, banyak yang takut untuk menshalatkan Bung Karno. Permintaan itu akhirnya dikabulkan Presiden Soeharto. Banyak yang terkejut dan bingung ketika Hamka bersedia hadir dalam acara tersebut. Mereka tahu Soekarno dahulu yang memutuskan untuk memasukkannya dalam penjara tanpa pengadilan. Saya sudah memaafkannya. Di balik segala kesalahannya sebagai manusia, Soekarno itu banyak jasanya, kata Hamka. Seusai shalat jenazah, Presiden Soeharto melepas almarhum proklamator itu.

Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Bandara Halim Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang, disediakan mobil jenazah yang sudah tua milik Angkatan Darat, kemudian jenazah dibawa ke Blitar. Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang proklamator di pinggir jalan. Menangis, seolah tak percaya, bapak bangsa pergi untuk selamanya. Sama tak percayanya, orang yang berjasa sangat besar untuk bangsa ini hanya dikubur di pemakaman umum, di samping makam ibunya. Bukan di taman makam pahlawan maupun pemakaman sesuai wasiatnya kepada Hartini dan Ratna Sari Dewi. Sang pahlawan mendapatkan perlakuan mengenaskan.

Mahakarya Hamka Dipenjara

Dari balik jeruji penjara, seorang ulama menyelesaikan sebuah karya besar. Tafsir Al-Azhar. Itulah salah satu mahakarya dari Buya Hamka, yang ia kerjakan di dalam penjara. Karya tersebut dihargai dengan gelar profesor dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Tafsir 30 juz isi Alquran dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami. Menakjubkan, karena ia menyelesaikannya di dalam penjara.

Tanpa melalui pengadilan, ia dipenjara oleh sahabatnya, Bung Karno
. Seorang presiden dan juga panglima besar revolusi Indonesia. Buya dipenjara karena tidak setuju dengan pemikiran Soekarno soal Nasakom, atau kepanjangan dari nasionalisme, agama (Islam), dan komunisme. Bagi saya, agama Islam tak dapat dicampur dengan komunis. Tidak mungkin, kata Buya Hamka. Ia pun menentang keras pemikiran Soekarno melalui kampanye terbuka, baik saat berdakwah maupun dalam pertemuan-pertemuan terbuka.

Buya Hamka juga terus-menerus mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) waktu itu. Majalah yang dibentuknya, Panji Masyarat, pun pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul Demokrasi Kita yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno.

Sampailah pada suatu ketika, saat sedang memberikan pengajian kepada ratusan ibu-ibu pada bulan Ramadhan, ia ditangkap aparat keamanan atas perintah Presiden Soekarno. Pengalaman itu menerbitkan rasa pahit pada Hamka. Namun, ia mudah memaafkan dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Ia tetap menjalin silaturahim dengan keluarga Bung Karno.

Ketika Bung Karno wafat, Buya Hamka memberanikan diri untuk menjadi imam shalat jenazah bagi masyarakat yang telah berduyun-duyun memadati Wisma Yoso (Kini Museum Satria Mandala, Jakarta). Ia tak dendam pada Bung Karno yang pernah memenjarakannya tanpa pengadilan. Ia juga tak takut pada pemerintahan baru pimpinan Jenderal Soeharto. Saat ada yang bertanya, mengapa dia mau memimpin shalat jenazah bagi orang yang pernah menzaliminya? Buya Hamka menjawab, Karena Bung Karno sahabat saya.

Hamka memang bukan sekadar ulama besar, ia juga sastrawan dan wartawan. Karyanya, antara lain, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj, dan Merantau ke Deli. Banyak karya Hamka tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit nasional seperti Balai Pustaka dan Pustaka Bulan Bintang, tetapi juga diterbitkan di beberapa negara asing. Bahkan, dirilis juga di berbagai situs, blog, dan media informasi lainnya.

Siapa pun tak bakal menyangka jika seorang yang pada awalnya belajar secara otodidak, belakangan justru banyak mendapatkan gelar profesor dan doktor honoris causa dari beberapa perguruan tinggi terkemuka. Karya-karyanya terutama di bidang sastra telah melambungkan nama bangsa dan mengharumkan nusantara hingga ke mancanegara.

Hamka merupakan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada 1975-1981. Dia berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara umat Islam. Hamka menolak mendapat gaji sebagai ketua umum MUI. Mantan menteri agama Mukti Ali mengatakan, Berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri.

Ia turut mengisi tempat yang penting di dalam perjuangan kemerdekaan nasional di Sumatra Barat. Pada 1950-an, dia aktif dalam Dewan Pimpinan Masyumi. Salah satu statemen yang melukiskan muruah (martabat) sebagai pemimpin umat antara lain tatkala politik menjadi panglima sekitar 1950-an, dia mengatakan, Kursi-kursi banyak dan orang yang ingin pun banyak. Tetapi, kursiku adalah buatanku sendiri.

Sebagai pengawal akidah umat, Hamka sebagai ketua umum MUI menyampaikan masukan kepada Presiden Soeharto soal toleransi antarumat beragama. Menurutnya, kalau hendak menciptakan kerukunan antarumat beragama, orang yang sudah beragama jangan dijadikan sasaran untuk propaganda agama yang lain.

Sampailah suatu masa, ketika Hamka menulis surat kepada Menteri Agama Letjen Alamsyah Ratuperwiranegara, tertanggal 21 Mei 1981. Isinya pemberitahuan bahwa sesuai dengan ucapan yang disampaikannya pada pertemuan Menteri Agama dengan pimpinan MUI pada 23 April, Hamka meletakkan jabatan sebagai ketua umum MUI.

Apa alasan Hamka? Ia mengungkapkan pada pers, pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinya mengharamkan umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa. Menghadiri perayaan antaragama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain, misa, kebaktian, dan sejenisnya.

Fatwa itu sempat menyudutkan Menteri Agama Alamsyah. Hingga, Alamsyah sempat menyatakan bersedia berhenti sebagai menteri. Fatwa itu sebenarnya wajar saja, namun keburu bocor dan heboh. Melihat kehebohan itu karena ada desakan pencabutan fatwa, Hamka bersikap.

Tidak tepat kalau Saudara Menteri Agama yang harus berhenti. Itu berarti gunung yang harus runtuh. Sayalah yang bertanggung jawab atas beredarnya fatwa tersebut. Jadi, sayalah yang mesti berhenti, kata Hamka. Dua bulan setelah itu, ulama besar Hamka wafat di Jakarta pada Jumat, 24 Juli 1981 (22 Ramadhan 1401 H) dalam usia 73 tahun. Buya Hamka, seorang ulama, pemimpin, pujangga, pengarang, sejarawan, dan pendidik dalam arti yang luas, sudah lama meninggalkan kita. Namun, pengabdian, karya, dan sumbangannya dalam membangun kesadaran umat Islam dan cita-cita bangsa tetap dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.

Kemarin, akhirnya pemerintah menobatkan tujuh pahlawan nasional. Tiga di antaranya tokoh Islam ternama, yakni Buya Hamka, Sjafruddin Prawiranegara dan Idham Chalid. Buya Hamka bukan cuma dikagumi di dalam negeri, di Malaysia, misalnya, ia menjadi anutan bagi pemuka-pemuka agama. Bahkan, Museum Hamka di tanah kelahirannya, justru dibangun oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), bukan oleh pemerintah negeri ini. Ironis.

Begitulah sosok seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA, ulama besar kelahiran Negeri Sungai Batang, di pinggir Danau Maninjau yang molek di tanah Minangkabau, Sumatra Barat. Seorang ulama yang hingga kini menjadi ikon pendakwah besar yang tak mau digaji oleh pemerintah dan berani menentang dua presiden, Soekarno dan Soeharto. (oleh : selamat ginting).

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/147351/OH_PAHLAWANKU

 

 

Rabu, 09 November 2011

PETISI PERLAWANAN

Oleh Selamat Ginting

Nama-nama besar yang pernah mengharumkan nama bangsa dikerangkeng akibat kertas 50 tanda tangan.

Rapat Pimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Pekanbaru, Riau, 27 Maret 1980. Presiden Soeharto selaku panglima tertinggi ABRI di depan para jenderal tampak begitu percaya diri. Apalagi, para jenderal itu umumnya masih junior di matanya. Kecuali beberapa jenderal saja, seperti Menhankam/ Panglima ABRI Jenderal M Jusuf dan Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo.

Dengan suara beratnya, Soeharto berpidato dan didengarkan secara saksama oleh peserta rapim. Ia menyinggung soal asas tunggal Pancasila. Menurutnya, di masa lalu Pancasila dirongrong oleh ideologi-ideologi lain dan partai politik. “Saya meminta ABRI mendukung Golkar dalam pemilihan umum,” kata Soeharto dalam pidato tanpa teksnya.

Pada 1980, menjadi salah satu puncak perseteruan dua faksi di tubuh ABRI. Satu kelompok yang menikmati kekuasaan dengan memangku pelbagai jabatan publik mendukung Soeharto. Kelompok lain menentang gagasan ini dan menginginkan ABRI netral, artinya tidak mendukung partai politik, dalam hal ini Golkar.

Tiga pekan kemudian, di Markas Kopashanda, Cijantung, 16 April 1980, Soeharto menegaskan kembali seruannya. Bahkan, kali ini lebih mengejutkan lagi. “Lebih baik kami culik satu dari dua pertiga anggota MPR yang akan melakukan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 agar tidak terjadi kuorum.”

Tidak cukup hanya itu, ia pun bereaksi terhadap sejumlah pengkritiknya. “Yang mengkritik saya berarti mengkritik Pancasila.” Sebuah kalimat otokrat, mempersonifikasikan dirinya dengan Pancasila.

Dua pernyataan Jenderal Soeharto itu sontak membuat sekelompok jenderal purnawirawan gundah. Bekas pemimpin ABRI yang tergabung dalam Forum Studi dan Komunikasi Angkatan Darat (Fosko TNI-AD) segera berkumpul di gedung Grahadi di kawasan Semanggi.

Fosko berada di bawah Yayasan Angkatan Darat, Kartika Eka Paksi. Tugasnya menyiapkan konsep-konsep intern untuk pengembangan Angkatan Darat. Mereka memberikan masukan kepada KSAD Jenderal Widodo. Anggota Fosko, antara lain, beberapa pensiunan perwira tinggi senior, seperti bekas KSAD pertama Jenderal (Purn) GPH Djatikusumo, juga ada Letjen (Purn) HR Dharsono, Letjen (Purn) Sudirman, dan Letjen (Purn) M Jasin.

Fosko kemudian mengundang tokoh dan aktivis sipil untuk membahas pidato Soeharto. Dalam pertemuan 5 Mei 1980 itu, kemudian menyimpulkan bahwa Presiden Soeharto perlu menjelaskan apa maksud dari pernyataan tersebut. Kemudian, mereka sepakat mengumpulkan tanda tangan sejumlah tokoh untuk mendukung enam butir pernyataan keprihatinan. Adalah AM Fatwa, salah seorang penanda tangan yang rajin mencari pendukung pernyataan yang teksnya dibuat oleh Slamet Bratanata, bekas menteri pertambangan pada kabinet pertama Orde Baru.

Hasilnya, pernyataan keprihatinan itu ditandatangani 50 orang tokoh militer, polisi, anggota parlemen, dosen, birokrat, bekas pejabat, pengusaha, dan aktivis. Mereka membuat pernyataan atas nama Lembaga Kesadaran Berkonstitusi, sebuah forum yang didirikan pada 1978 oleh mantan wakil presiden Muhammad Hatta dan mantan kepala staf ABRI Jenderal (Purn) AH Nasution. Disepakati, pernyataan itu akan disampaikan melalui Dewan Perwakilan Rakyat dan meminta lembaga itu meminta penjelasan dari sang presiden.

Semuanya serbacepat. Pada 13 Mei 1980, 30 dari 50 orang penanda tangan itu mendatangi gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Tokoh senior, bekas perdana menteri M Natsir, ditunjuk kelompok tersebut untuk menemui Ketua DPR Jenderal Daryatmo. Bagi seorang presiden, pidato lisan atau tertulis sama nilainya di mata masyarakat. Kami ingin bertanya apa maksud pidato itu, ujar Natsir.

Bagai petir di siang bolong, pemerintah pun bereaksi keras. Apalagi di belakang penanda tangan pernyataan keprihatinan terdapat nama-nama tokoh nasional, termasuk tokoh militer dan kepolisian. Misalnya, ada bekas gubernur DKI Jakarta Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin, bekas panglima Angkatan Kepolisian RI Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng, bekas deputi KSAD Letjen (Purn) M Jasin, dan Letjen (Purn) AY Mokoginta. Juga ada tokoh senior bangsa, Sjafroeddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap.

Mereka bukan tokoh sembarangan. Soeharto menjawabnya lewat surat ke DPR tertanggal 1 Juni. Menteri Penerangan Letjen (Purn) Ali Moertopo menganggap pernyataan itu menyinggung pemerintah karena menyiratkan usul pergantian pemimpin nasional. Ia pun menyebut surat keprihatinan para tokoh tersebut sebagai Petisi 50.

Alasannya sederhana, lebih singkat dan gampang diingat. Nama Petisi 50 lebih dikenal publik sampai sekarang. Petisi 50 kemudian dianggap sebagai penyakit bagi pemerintah Soeharto. Rezim Orde Baru pun memberi ganjaran menyakitkan kepada tokoh-tokoh yang layak menjadi pahlawan bangsa itu.

Mereka dilarang bepergian ke luar negeri. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit, bisnis keluarga mereka kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan, sempat ada rumor Soeharto ingin membuang mereka ke Pulau Buru, tempat bekas pembuangan tahanan politik pengikut Partai Komunis Indonesia. Rencana keji itu batal setelah Panglima ABRI Jenderal M Jusuf menentang rencana tersebut. Ia memang dikenal sebagai kelompok militer yang menolak tentara terlibat dalam kegiatan politik. Ia berseberangan dengan Ali Murtopo.

Akibat pencekalan itu, misalnya, Natsir batal bertemu dengan para pemimpin sejumlah organisasi Muslim dunia, juga batal menghadiri pelbagai konferensi di negara-negara lain. Ia sudah biasa dengan perlakuan buruk pemerintah. Ia pernah bentrok dengan Soekarno soal gagasan Nasakom.

Sewaktu pengumuman cekal pemerintah Soeharto diumumkan, Natsir hanya berujar, Mungkin karena sudah tua, mereka takut saya nyasar, kata Natsir dalam buku Di Persimpangan Jalan (1984). Tindakan itu, tulisnya, suatu kebiasaan dalam sistem diktator atau feodal abad pertengahan.

Petisi, menurut salah seorang penanda tangan, Chris Siner Keytimu, menjadi tempat pertemuan kembali para tokoh pendiri bangsa. Misalnya, Ali Sadikin pernah marah besar kepada Natsir karena menentang kebijakannya melegalkan judi dan melokalisasi pelacur di Kramat Tunggak. Kalau Pak Natsir ke luar rumah harus pakai helicopter karena jalan Jakarta saya bangun dari uang judi, ujar Ali Sadikin.

Petisi 50 menjadi salah satu tempat berkumpulnya para tokoh pendiri bangsa, tokoh nasional, tokoh militer dan kepolisian, tokoh partai politik, akademisi, serta aktivis. Yang sangat disayangkan adalah perlakuan negara, dalam hal ini Orde Baru, terhadap tokoh-tokoh senior bangsa.

Kritik melalui pernyataan keprihatinan dibalas dengan perlakuan tak layak bagi sejumlah pahlawan bangsa. Sebuah pelajaran yang tak boleh ditiru oleh anak bangsa ini terhadap kusuma bangsa.


“Sekarang Bung, Sekarang!”

Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, kota kecil dekat Karawang, Jawa Barat, terjadi perdebatan panas. Rabu siang itu, kawanan penculik memerintahkan Bung Karno dan Bung Hatta menuruti kemauan mereka. “Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu ….”

“Lalu apa?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara. Bung Karno akhirnya duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”

Soekarno mengaku tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan. Namun, ia merasakan dalam kalbunya bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama, umat Islam sedang berada dalam bulan suci Ramadhan saat Muslim menjalankan puasa.

“Artinya, itulah saat yang paling suci, apalagi tanggal 17 bersamaan dengan hari akbar, hari Jumat. Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan pada tanggal 17, umat Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” kata Bung Karno kepada para penculiknya, seperti ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).

Bung Karno menjelaskan hal tersebut kepada sekelompok pemuda yang tidak sabar dan mendesak segera memproklamasikan kemerdekaan. Terutama, setelah mengetahui tentara Jepang menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945.

Diawali pertemuan di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta, pada 15 Agustus 1945, sekitar pukul 22.00. Sekelompok pemuda terlibat pembicaraan serius dengan Bung Karno mengenai proklamasi kemerdekaan. “Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi!” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang.

“Kita harus segera merebut kekuasaan!” tukas Sukarni berapi-api.” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari.

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari! Hatta kemudian memperingatkan Wikana;

Perdebatan dengan argumen masing-masing, buntu. Tidak ada kesepakatan antara Bung Karno dan Bung Hatta serta di satu sisi dengan para pemuda di sisi yang lain. Para pemuda tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Kedua tokoh itu pun berunding dengan sejumlah tokoh tua. Hatta menyampaikan keputusan bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta.

Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda tampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Pukul 04.00 dini hari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi penculikan itu sangat mengecewakan Bung Karno. Ia marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat.

Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, akhirnya dibawa serta ke Rengasdengklok.

Sementara itu, di Jakarta, antara Ahmad Soebardjo dari golongan tua dan Wikana dari golongan muda terus berdebat membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta. Setelah Ahmad Soebardjo memberikan jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00, akhirnya komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta pada 16 Agustus 1945, sekitar pukul 23.00. Mereka langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No 1. Rumah Laksamana Maeda dipilih sebagai tempat penyusunan teks proklamasi karena Maeda memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan Bung Hatta.

(ed. selamat ginting)


Tokoh Menteng 31
YANG TERLUPAKAN

Sukarni (lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 dan meninggal di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun), yang nama lengkapnya adalah Sukarni Kartodiwirjo, dalam peristiwa Rengasdengklok berperan untuk mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Chaerul Saleh Datuk Paduko Rajo, atau lebih dikenal dengan nama Chaerul Saleh (lahir di Sawah Lunto, Sumatra Barat, 13 September 1916 dan meninggal di Jakarta, 8 Februari 1967 pada umur 50 tahun), adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, dan ketua MPRS antara 1957 sampai 1966. Ia bersama Wikana, Sukarni, dan pemuda lainnya dari Menteng 31, menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok agar kedua tokoh ini segera menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada 1945.

Wikana (lahir di Sumedang, Jawa barat, 18 Oktober 1914–1966?) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama Chaerul Saleh, Sukarni, dan pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, dia ikut menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. Setelah kemerdekaan Wikana ditunjuk menjadi ketua Angkatan Pemuda Indonesia (API), yang mempunyai tujuan memperteguh negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperjuangkan kemakmuran yang merata pada masyarakat.

Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo (lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896 dan meninggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun) adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia adalah Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Mr Achmad Soebardjo merupakan salah seorang tokoh dari golongan tua yang berperan dalam mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Mr Achmad Soebardjo menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Karno dan Bung Hatta.

Burhanuddin Mohammad Diah (lahir di Kutaraja, yang kini dikenal sebagai Banda Aceh, 7 April 1917 dan meninggal di Jakarta, 10 Juni 1996 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha Indonesia. Berperan menyebarkan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan RI.

Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 22 Juli 1917 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah mantan menteri Indonesia pada beberapa departemen. Antara lain, beliau pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Ia juga pernah menjadi wakil presiden Indonesia yang ketiga. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, beliau pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung ke pemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di Lapangan Ikada, Jakarta.

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatra Utara, 26 Juli 1962 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai Si Binatang Jalang (dari karyanya yang berjudul Aku adalah penyair terkemuka Indonesia). Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh HB Jassin sebagai pelopor Angkatan 45 dan puisi modern Indonesia.

Soerastri Karma Trimurti (lahir 11 Mei 1912 dan meninggal di Jakarta, 20 Mei 2008 pada umur 96 tahun) atau lebih dikenal dengan SK Trimurti adalah seorang wartawati, penulis, pengajar, dan istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Amir Sjarifuddin II.

Sayuti Melik yang nama aslinya Mohamad Ibnu Sayuti adalah tokoh pemuda yang juga sangat berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Peran Sayuti Melik mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan setelah ia sempurnakan dari tulisan tangan Bung Karno.

Latif Hendraningrat, S Suhud, dan Trimurti. Mereka berperan penting dalam pengibaran bendera merah putih pada acara Proklamasi 17 Agustus 1945. Trimurti sebagai pengibar baki bendera merah putih.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/147353/PETISI_PERLAWANAN

 

 

Rabu, 09 November 2011

SMILING GENERAL TERSANDERA

Oleh Selamat Ginting

Di tengah pro dan kontra, pemerintah belum berani menetapkan Soeharto sebagai pahlawan nasional.

Rabu Kliwon, 13 Dulkangidah Jemakir 1905. Kalender Jawa yang bertepatan dengan 27 November 1974, seorang ibu beranak enam mencangkul gundukan tanah yang berada di kawasan perbukitan di Gunung Bangun. Gunung itu berada 666 meter di atas permukaan laut.

Lokasinya berada di sebelah timur Kota Surakarta, Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Girilayu, Kecamat an Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35 km dari Surakarta. Tempat itu kemudian dinamakan Astana Giribangun. Tepat di atasnya terdapat Astana Mangadeg, sebuah kompleks pemakaman para penguasa Mangkunegaran, salah satu pecahan Kesultanan Mataram. Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan Giribangun pada 666 meter dpl. Di Astana Mangadeg dimakamkan Mangkunegara (MN) I alias Pangeran Sambernyawa, MN II, dan MN III.

Ibu yang mencangkul tanah di kawasan Giribangun itu bukan sembarang orang. Ia adalah Ibu Negara, Suhartinah, atau yang dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Dia juga keturunan Mangkunegara III. Di situlah awal mulanya pembangunan sebuah pemakaman khusus keluarga Presiden Soeharto. Pembangunan pemakaman itu selesai pada 23 Juli 1976. Lengkap dengan sembilan bangunan pendukung lainnya.

Di antaranya masjid, rumah tempat peristirahatan keluarga jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga, dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga. Unik sebuah keluarga mempersiapkan pemakaman cukup mewah. Dan yang paling dinantikan, tentu saja sang raja keluarga tersebut.

Siapa lagi kalau bukan Jenderal Besar Soeharto, penguasa 32 tahun republik ini. Soeharto praktis berkuasa sejak menjadi bagian dari triumvirat yang menjalankan roda pemerintahan negeri ini, kendati masih ada Presiden Soekarno yang perlahan-lahan mulai kehilangan kekuasaannya. Saat itu Jenderal Soeharto sebagai panglima ABRI/menteri pertahanan keamanan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam negeri, dan Adam Malik Batubara sebagai menteri luar negeri.

Tak ada yang tahu akhir hidup seseorang. Sampai akhirnya pada Ahad, 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, Indonesia kehilangan seorang tokoh besar, Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto. Setelah lebih 30 tahun mempersiapkan kompleks pemakaman, Pak Harto wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Jenazahnya presiden yang lengser pada 21 Mei 1998 itu disemayamkan di kediamannya, Jalan Cendana, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Semua petinggi negara mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua DPR Agung Laksono, para pe tinggi negara lainnya hadir. Tak ada yang takut bertakziah di kediaman Pak Harto kendati bukan lagi sebagai presiden. Senin pagi, 28 Januari 2008, jenazah mantan orang nomor satu RI itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di Astana Giribangun. Ketua DPR Agung Laksono melepas jenazah dari kediaman almarhum. Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin pelepasan di Bandara Halim Perdanakusumah. Dan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi inspektur upacara di Astana Giribangun. Sebuah perlakuan yang layak kepada mantan kepala negara.

Namun, hingga kini namanya terus menjadi kontroversi setiap menjelang peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Adalah Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri yang mengembuskan bahwa mantan presiden itu berpeluang mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional. Hal ini terkait usulan dari berbagai pihak yang menyodorkan nama Soeharto.

Silang pendapat seperti itulah yang terus mengemuka. Para aktivis hak asasi manusia (HAM) menilai pemberian gelar pahlawan nasional untuk Pak Harto, sangat menyakiti hati para korban pelanggar an HAM. Ya, memang selama Soeharto berkuasa 32 tahun, telah banyak kemajuan yang dialami negeri ini. Namun, tidak bisa begitu saja mengesampingkan berbagai macam pelanggaran HAM yang dilakukannya.


Jasa masa lalu

Menteri Salim Segaf mengakui wacana untuk menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional telah digulirkan oleh beberapa lembaga dan personal, mengingat jasa-jasa dari Soeharto pada masa lalunya. Namun, pihaknya masih mengkaji dan melihat perkembangan seberapa banyak yang akan mengusulkan nama Soeharto masuk dalam daftar pahlawan nasional. “Wacana ini sempat bergulir, namun pro dan kontra. Tapi, kita tunggu usulan kembali dan undang-undang memberikan ruang untuk itu,” kata Salim.

Salim menjelaskan pemberian gelar pahlawan nasional bagi seseorang melewati penelitian dan pertimbangan yang matang. Siapa pun boleh mengusulkan nama-nama yang dianggap kredibel dan akan diseleksi oleh Dewan Tanda Kehormatan. Gelar pahlawan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dicabut lagi. “Siapa pun berhak mendapatkan gelar pahlawan selama semasa hidupnya benarbenar bela bangsa dan mengabdi untuk rakyat,” ujar Salim.

Tahun lalu, nama Soeharto nyaris mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Namanya pertama kali diusulkan oleh masyarakat Karanganyar, Jawa Tengah. Nama penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu, masuk seleksi dari 30 tokoh yang diajukan masyarakat untuk mendapat gelar pahlawan nasional.

Namun, Soeharto dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), belum lolos juga. Tahun ini pemerintah menetapkan tujuh pahlawan nasional. Mereka adalah Buya Hamka, Sjafroeddin Prawiranegara, Idham Chalid, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, I Gusti Ketut Pudja, Sri Susuhunan Pakubuwono X, dan IJ Kasimo Hendrowahyono.

Nama-nama tersebut merupakan hasil kajian tim yang beranggotakan 13 orang yang tergabung dalam Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan Kepresidenan. Dewan ini dipimpin Menko Polhukam Marsekal (Purn) Djoko Suyanto.

Menurut Djoko, pemberian gelar pahlawan nasional kepada seseorang tidak sembarangan. Tidak hanya syarat administratif, tetapi juga ada faktor publik, sosiologis, dan psikologis. Selain itu, ada masukan dari masyarakat. Menurutnya, gelar pahlawan merupakan gelar yang sangat mulia, dan sangat membanggakan, baik bagi almarhum maupun keluarganya.

Sehingga gelar yang mulia itu, kata dia, seyogianya diberikan dan tidak menjadikan beban keluarga yang ditinggalkan dan tanpa ada kendala apa pun, papar Djoko.

Djoko mengaku, tahun ini tidak ada yang mengusulkan Pak Harto dan Gus Dur. Walau pun tahun lalu, nama keduanya sudah masuk dalam daftar calon pahlawan nasional.

Apakah keduanya tersandera oleh persyaratan umum dan persyaratan khusus sesuai definisi pahlawan menurut UU No.20/2009? Atau karena pertimbangan politis, sosiologis dan psikologis? Kita tunggu saja nasib kedua mantan presiden tersebut.

DEMI NEGARA

Predikat pahlawan umumnya diberikan pada figur yang memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Kata pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu pahla dan wan. Pahla mengandung makna buah, sedangkan wan sebutan bagi orang yang bersangkutan. Pengertian secara luas, pahlawan adalah orang yang menghasilkan karya atau pejuang yang berani mengorbankan jiwa raga untuk kepentingan bangsa dan negara.

DEFINISI PAHLAWAN MENURUT UU NO 20/2009:

“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada WNI atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah NKRI yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia”.

Pahlawan nasional berarti orang yang berjasa kepada bangsa. Oleh karena itu, penilaian yang sama bahwa orang tersebut benar-benar berjasa harus diberikan oleh seluruh komponen masyarakat. Akan tetapi, tidak selamanya pengajuan seseorang menjadi pahlawan nasional berjalan mulus. Hal ini terjadi karena sifat penilaian yang diberikan lebih bersifat subjektif dan normatif. Subjektif, karena bergantung pada pribadi seseorang dalam memberikan penilaian, kedekatan emosional, ataupun berdasarkan pengalaman masa lalu ketika tokoh tersebut berkuasa. Normatif, karena arti kata berjasa sangat beragam interpretasinya. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, dalam pasal 25 dan 26, untuk memperoleh gelar pahlawan terdapat syarat khusus dan umum.

ENAM SYARAT KHUSUS:

Pertama, pernah memimpin; melakukan perjuangan bersenjata atau politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan; serta mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Kedua, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.

Ketiga, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya.

Keempat, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang menunjang pembangunan.

Kelima, menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Keenam, memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi. Ketujuh, melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

ENAM SYARAT UMUM:

Pertama. warga negara Indonesia yang berjuang di wilayah NKRI.

Kedua, memiliki integritas moral dan keteladanan.

Ketiga, berjasa terhadap bangsa dan negara.

Keempat, berkelakuan baik.

Kelima, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara.

Keenam, tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum paling singkat lima tahun penjara.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/0/147352/SMILING_GENERAL_TERSANDERA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: