Peningkatan Ketaqwaan Setelah Ibadah di Bulan Ramadhan

Republika, Jumat, 02 September 2011

Menapaki Syawal

Oleh Damanhuri Zuhri

Diharapkan ada peningkatan ibadah.

Hal ini disampaikan oleh Prof.  Nasaruddin Umar mengenai bulan Syawal. Ia mengatakan, Syawal dapat dijadikan sebagai pengukur apakah Ramadhan seseorang mabrur atau sebaliknya. Dan, mabrur tidaknya sebuah ibadah mahdah, ujar dia, teridentifikasi setelah pelaksanaannya, seperti ibadah haji.

“Mabrur atau tidaknya haji kita diukur berdasarkan tingkat perubahan dan keistiqamahan,” katanya, Kamis (25/8). Jika seseorang dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya dan konsisten dalam nilai-nilai luhur ibadah, tanda-tanda kemabruran ada pada dirinya. Meski, kepastian kemabruran itu hanya Allah SWT (RasulNya dan para WaliNya yg dianugerahi pengetahuan olehNya) yang tahu.

Menurut dia, bekal yang perlu dipertahankan Muslim pada bulan Syawal adalah kebiasaan untuk senantiasa berlaku sabar, ikhlas, tekun, menjaga keluhuran budi pekerti, kejernihan batin, kebersihan hati, dan kelurusan jalan pikiran. “Bekal ini penting karena itulah yang akan membentengi kita dari berbagai godaan agar kita tidak jebol,” jelasnya.

Hal tersebut terkait dengan target puasa Ramadhan yang mestinya dipahami benar oleh setiap Muslim. Ia mengatakan, sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW, contohlah akhlak Allah (dan RasulNya). Salah satu target berpuasa ialah memperoleh derajat ketakwaan kepada Allah yang bisa diprogram dan ditakar di dalam diri masing-masing.

Ibarat panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari. Setelah 11 bulan hidup di dalam suasana power struggle, penuh persaingan, over masculine, dan sesekali muncul konflik, maka pada bulan suci, Muslim berada di dalam bulan yang feminin, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Jika di luar Ramadhan terasa Tuhan transenden, jauh dari kita, maka pada Ramadhan terasa Tuhan itu imanen, dekat sekali.

Transendensi Tuhan terasa manakala seseorang terlalu dalam dicengkeram oleh logika dan pemikiran, seolah-olah semuanya harus dilogikakan. Sesuatu yang tidak masuk akal, tidak ada tempatnya di dalam diri. Akibatnya, pragmatisme menjadi pandangan hidup. Baik buruknya sesuatu diukur berdasarkan kepentingan dan selera biologis. Oleh karena itu, tentu hidup terasa melelahkan, kering, dan tak pernah tenang.

Kedekatan (kepada) Tuhan (dan RasulNya), jelas Nasaruddin, terasa ketika seseorang memberi sedikit ruang kepada batin guna merasakan kehangatan belaian kasih sayang Tuhan di dalam dirinya. “Puasa diharapkan mampu melembutkan jiwa dan meluruskan jalan pikiran kita,” tambahnya. Ia pun mengevaluasi apa yang terjadi pada Ra madhan lalu sebagai sebuah introspeksi.

Menurut dia, ada dua fenomena sosial keagamaan yang muncul setiap bulan Ramadhan, yaitu syiar dan kesemarakan serta fenomena penghayatan dan pendalaman makna. Yang pertama melibatkan emosi jamaah untuk merayakan Ramadhan dan yang kedua lebih menekankan kesadaran dan kekhidmatan beribadah. Idealnya, kedua fenomena ini diintegrasikan jika menghendaki umat yang produktif.

Sayangnya, umat Islam selama ini masih lebih banyak berorientasi pada kesemarakan dan mengabaikan aspek penghayatan dan pendalaman makna. Hasilnya, masih terdapat jarak antara perilaku umat dengan esensi tujuan agama. Dengan kata lain, masih terdapat jarak antara umat dan ajaran agamanya yang melahirkan paradoks antara kesalehan individu dan sosial.

Sering kali ditemukan amar makruf tidak berbanding lurus dengan nahi mungkar. Mereka beribadah sama rajinnya dengan melakukan maksiat dan pelanggaran lainnya. “Seolah tak ada hubungan antara shalat, puasa, haji, dan korupsi. Ketaatan beragamanya tak memproteksi dirinya dari kebatilan,” kata Nasaruddin. Malah ada fenomena, yang berkali-kali haji dan umrah berulang kali korupsi berjamaah.

Pakar Al Qur’an Muchlis M Hanafi meng uraikan, Syawal terambil dari akar kata yang terdiri atas syin, waw, dan lam. Maknanya berkisar pada kata naik, meningkat, ringan. Dahulu, orang Arab menamakan bulan dengan keadaan atau peristiwa yang terjadi saat itu, seperti Ramadhan yang datang saat panas terik. Dalam situasi panas, unta tidak menghasilkan susu. Itulah saat Syawal.

Menurut pakar bahasa, al-Farra, dinamakan demikian karena saat itu unta sering mengangkat ekornya akibat panas. Dulu, masyarakat Arab menganggapnya sebagai bulan yang tidak baik untuk menikah sebab perempuan tidak akan mau digauli oleh suaminya seperti yang dilakukan unta dengan mengangkat ekornya. Pandangan ini dibatalkan oleh Islam sebab semua hari itu baik.

Rasulullah menikahi Aisyah di bulan Syawal dan ternyata beliau menjadi istri yang sangat istimewa bagi Rasul. Apa pun sebab penamaan Syawal, yang jelas setelah melewati bulan Ramadhan dengan segala aktivitas ibadah di dalamnya diharapkan ada peningkatan dalam amal ibadah. “Pembiasaan pada Ramadhan semoga dapat membuat kita ringan beramal kebajikan di kemudian hari.”

Latihan fisik dan olah jiwa selama bulan Ramadhan dengan melakukan pelbagai amal ibadah, ujar Muchlis, menjadi bekal dalam memasuki masa-masa berikutnya. Agar perilaku terpuji tetap terjaga dan bahkan meningkat, diperlukan istiqamah. “Salah satu pertanda amal ibadah kita diterima Allah yaitu munculnya dorongan dalam jiwa untuk terus melakukannya.”

Dengan demikian, jangan hanya pada bulan Ramadhan berlaku baik dan rajin beribadah. Sifat pemaaf, sabar, dermawan, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang dibiasakan pada bulan Ramadhan hendaknya dipertahankan. Dan, agar terasa ringan dalam melakukan itu semua diperlukan keikhlasan. Setia menjalankan perintah agama itu berat, tetapi dengan keikhlasan akan terasa ringan.

Muchlis menuturkan, salah satu bentuk istiqamah dalam meneladani sunah Rasulullah pada bulan Syawal yaitu berpuasa enam hari, yang dalam hadis riwayat Muslim disebut bernilai seperti puasa selama setahun. ed: ferry kisihandi

(Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/52)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: