Sejarah Pembukuan Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Sejarah Pembukuan Hadis

Oleh Heri Ruslan

Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik.

Memasuki abad ke-8 M, satu per satu penghafal hadis meninggal dunia. Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga membuat para penghafal hadis terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tengah kondisi itu, upaya pemalsuan hadis demi memuluskan berbagai kepentingan merajalela.

Kondisi itu mengundang keprihatinan Umar bin Abdul Aziz (628-720 M), khalifah  Dinasti Umayyah kedelapan yang berkuasa pada 717-720 M. Guna mencegah punahnya hadis, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadis-hadis yang dikuasai para penghafal. Gagasan pembukuan hadis itu pun mendapat dukungan dari para ulama di zaman itu.

Sang khalifah yang dikenal jujur dan adil itu segera memerintahkan Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (wafat 117 H), untuk mengumpulkan hadis dari para penghafal yang ada di tanah suci kedua bagi umat Islam itu. Saat itu, di Madinah terdapat dua ulama besar penghafal hadis, yakni Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

“Kedua ulama besar itu paling banyak menerima hadis dan paling dipercaya dalam meriwayatkan hadis dari Aisyah binti Abu Bakar,” tulis Ensiklopedi Islam. Selain itu,  Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat 124 H) untuk menghimpun hadis yang dikuasai oleh para ulama di Hijaz dan Suriah.

Sejarah peradaban Islam mencatat az-Zuhri sebagai ulama agung dari kelompok tabiin pertama yang membukukan hadis. Memasuki abad ke-2 H atau abad ke- 8 M, upaya  pengumpulan, penulisan, serta pembukuan hadis dilakukan secara besar-besaran.

Para ulama penghafal hadis mencurahkan perhatian mereka untuk menyelamatkan “sabda Rasulullah SAW” yang menjadi pedoman kedua bagi umat Islam setelah Alquran. Ulama di berbagai kota peradaban Islam telah memberi kontribusi yang besar bagi pengumpulan, penulisan, dan pembukuan buku di abad ke-2 H.

Di Kota Makkah, ulama yang getol dan fokus menyelamatkan hadis adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Pembukuan hadis di Kota Madinah dilakukan oleh Malik bin Anas atau Imam Malik dan Muhammad bin Ishak. Kegiatan serupa juga dilakukan ulama di kota-kota peradaban Islam, seperti Basrah, Yaman, Kufah, Suriah, Khurasan, dan Rayy (Iran) serta Mesir.

Upaya pengumpulan, penulisan, dan pembukuan hadis pada masa itu belum sesuai harapan. Pada masa itu, masih terjadi percampuran antara sabda Rasulullah SAW dan fatwa sahabat dan tabiin. Hal itu tampak pada kitab al-Muwatta  yang disusun oleh Imam Malik.

Pada zaman itu, isi kitab hadis terbilang amat beragam. Dengan demikian, ada ulama yang menggolongkannya sebagai al-musnad, yakni kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat yang menerima hadis dari Rasulullah SAW.

Selain itu, ada pula yang memasukkan pada kategori al-jami, yakni kitab hadis yang memuat delapan pokok masalah, yaitu akidah, hukum, tafsir, etika makan-minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi SAW, akhlak, serta perbuatan baik dan tercela.

Ada pula yang menggolongkan kitab hadisnya sebagai al-mu’jam, yakni kitab yang memuat hadis menurut nama sahabat, guru, kabilah, atau tempat hadis itu didapatkan; yang diurutkan secara alfabetis.

Berbagai upaya dilakukan para ulama periode berikutnya. Para tabiin dan generasi sesudah tabiin mencoba memisahkan antara sabda Rasulullah SAW dengan fatwa para sahabat dan tabiin. Para ulama pun menuliskan hadis yang termasuk sabda Rasulullah lengkap dengan sanadnya atau dikenal sebagai al-musnad.

Ulama generasi pertama yang menulis al-musnad adalah Abu Dawud Sulaiman al- Tayasili (133-203 H).  Setelah itu, ulama generasi berikutnya juga menulis al-musnad. Salah seorang ulama terkemuka yang menulis kitab hadis itu adalah Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali. Kitab hadisnya dikenal sebagai Musnad al-Imam Ahmad Ibnu Hanbal.

Meski telah memisahkan antara hadis sabda Rasulullah SAW dn fatwa sahabat dan tabiin, al-musnad dianggap masih memiliki kekurangan karena masih mencampurkan hadis sahih, hasan, daif, bahkan hadis palsu alias maudhu.

Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik. Abad ini disebut sejarah Islam sebagai era tadwin atau pembukuan Alquran. Pada masa ini, muncul ulama-ulama ahli hadis yang membukukan sabda Rasulullah SAW secara sistematis.

Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu, antara lain; Imam  Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad at-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam an-Nasai menyusun kitab Sunan an-Nasai, dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah  atau kitab hadis yang enam.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkan hadis keenam pada jajaran al-Kutub as-Sittah. Sebagian ulama berpendapat, kitab yang keenam itu adalah Sunan Ibnu Hibban karya Ibnu Hibban al-Busti (270-354 H). Ulama lainnya menempatkan al-Muwatta karya Imam Malik sebagai kitab hadis keenam.  berbagai sumber

Ulama Penulis Kitab Hadis

Oleh
Heri Ruslan

Imam Bukhari
Ia terlahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 21 Juli 810 M. Beliau adalah ahli hadis termasyhur. Imam Bukhari dijuluki amirul mukminin fil hadits atau pemimpin kaum mukmin dalam hal ilmu hadis. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari.

Tak lama setelah lahir, Imam Bukhari kehilangan penglihatannya. Bersama gurunya Syekh Ishaq, ia menghimpun hadis-hadis sahih dalam satu kitab, dari satu juta hadis yang diriwayatkan 80 ribu perawi disaringnya menjadi 7.275 hadis. Ia menghabiskan waktunya untuk menyeleksi hadis sahih selama 16 tahun. Shahih Bukhari adalah salah satu karyanya yang paling fenomenal.

Imam Muslim
Imam Muslim lahir pada 204 H atau 819 M. Ada pula yang berpendapat beliau lahir pada 202 H atau 206 H. Seorang ahli hadis kontemporer asal India, Muhammad Mustafa Azami, lebih menyetujui kelahiran Imam Muslim pada 204 H. Azami dalam  Studies In Hadith Methodology and Literature, mengatakan, sejarah tidak dapat melacak garis keturunan dan keluarga sang imam.

Sejarah hanya mencatat aktivitas Imam Muslim dalam proses pembelajaran dan periwayatan hadis. Pada masa beliau, rihlah (pengembaraan) untuk mencari hadis merupakan aktivitas yang sangat penting. Imam Muslim pun tak ketinggalan mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat pengajaran hadis. Adz-Dzahabi dalam karyanya  Tadzkirat al-Hufazh menyebutkan bahwa Imam Muslim mulai mempelajari hadis pada 218 H. Ia menulis kitab al-Musnad ash-Shahih atau yang lebih dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab yang satu ini menempati kedudukan istimewa dalam tradisi periwayatan hadis. Dan, dipercaya sebagai kitab hadis terbaik kedua setelah kitab Shahih Bukhari karya Imam Bukhari.

Imam Abu Dawud

Ia bernama lengkap Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amru bin Amir al-Azdi al-Sijistani. Dunia Islam menyebutnya Abu Dawud. Beliau adalah seorang imam ahli hadis yang sangat teliti dan merupakan tokoh terkemuka para periwayat hadis. Ia dilahirkan pada 202 H/817 M di Sijistan.

Menurut Syekh Muhammad Said Mursi, dalam Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Imam Abu Dawud dikenal sebagai penghafal hadis yang sangat kuat. Ia menguasai sekitar 500 ribu hadis. Sejak kecil, Abu Dawud sudah mencintai ilmu pengetahuan.

Imam at-Tirmidzi
Imam at-Tirmidzi adalah orang pertama yang mengelompokkan hadis dalam kategori hasan, di antara sahih dan daif. Imam at-Tirmidzi adalah satu dari enam ulama hadis terkemuka. Nama besarnya mengacu pada tempat kelahirannya, yaitu Turmudz, sebuah kota kecil di bagian utara Iran.

Nama lengkapnya Muhammad bin Isa bin Saurah bin adh-Dhahak as-Salami al-Bughi. Ia sering dipanggil Abu Isa. Lahir pada bulan Zulhijjah tahun 209 Hijriah. Yusuf bin Ahmad al-Baghdadi menuturkan, Abu Isa mengalami kebutaan pada masa menjelang akhir usianya.

Semenjak kecil, at-Tirmidzi sudah gemar mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk ilmu hadis. Ia mulai mempelajari ilmu hadis ketika berumur 20 tahun di sejumlah kota-kota besar di wilayah kekuasaan Islam saat itu, di antaranya adalah Kota Khurasan, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Ray, Mesir, dan Syam.

Ibnu Majah
Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah al Quzwaini. Ia dilahirkan pada 207 Hijriah dan meninggal pada hari Selasa, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan tahun 275. Ia menuntut ilmu hadis dari berbagai negara hingga beliau mendengar hadis dari Mazhab Maliki dan al Laits. Sebaliknya, banyak ulama yang menerima hadis dari beliau. Ibnu Majah menyusun kitab Sunan Ibnu Majah, salah satu kitab yang masuk dalam Kutub As-Sittah.

Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133727/Sejarah_Pembukuan_Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Kitab-Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

Pembukuan Alquran mulai dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-2 Hijriah.

Sejak kapan penulisan dan pembukuan hadis dilakukan? Ada ahli hadis yang menyakini proses penulisan sabda Rasulullah SAW-pedoman hidup umat Islam kedua, setelah Alquran itu-dimulai pada era Nabi Muhammad. Namun, ada juga ahli hadis yang berpendapat bahwa Nabi SAW melarang umatnya pada waktu itu untuk menulis hadis.

“Tulislah (hadis itu!) Demi Allah, tidak keluar dari Rasul itu kecuali kebenaran,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Perintah itu disampaikan Rasulullah kepada sahabat Abdullah bin Amr bin As. Hadis ini dijadikan dasar bolehnya penulisan hadis sejak zaman Nabi SAW masih hidup.

Namun, ahli hadis lainnya berpandangan, justru Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis hadis, karena khawatir bercampur dengan Alquran. “Jangan kamu menuliskan apa-apa yang datang dariku, siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain Alquran, maka hapuslan,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal.

“Kedua hadis itu benar,” ungkap ulama dari al-Azhar Kairo, Syekh Abdul Halim Mahmud. Larangan menulis hadis yang disampikan Rasulullah itu bersifat umum, sedangkan diperbolehkannya menulis sabdanya bersifat khusus. Hadis yang membolehkan, kata ahli hadis dari Suriah, Syekh Muhammad Ajaj al-Khatib, justru lebih kuat.

Di zaman Khulafa ar-Rasyidun, banyak sahabat yang berminat untuk menulis hadis. Namun, mereka tak melakukannya karena khawatir umat Islam akan lebih mencurahkan perhatiannya kepada hadis, dibandingkan Alquran. Sehingga, Abu Bakar dan Umar terpaksa harus membakar sekitar 500 hadis yang mereka kumpulkan.

Pengumpulan, penulisan, dan pembukuan Alquran mulai dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-2 Hijriah. Saat itu, dunia Islam dikuasai oleh Kekhalifahan Umayyah di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin yang dikenal jujur dan adil itu memerintahkan pengumpulan, penulisan, dan pembukuan hadis.

Saat itu, satu per satu penghafal hadis meninggal dunia. Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga membuat para penghafal hadis terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tengah kondisi itu, upaya pemalsuan hadis demi memuluskan berbagai kepentingan merajalela.

Pada abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik. Abad ini disebut sejarah Islam sebagai era tadwin atau pembukuan hadis. Pada masa ini, muncul ulama-ulama ahli hadis yang membukukan sabda Rasulullah SAW secara sistematis.

Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu, antara lain, Imam Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad at-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam an-Nasai menyusun kitab Sunan an-Nasai, dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini menyusun Sunan Ibnu Majah. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah atau kitab hadis yang enam.
Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133733/Kitab_Kitab_Hadis

Republika, Ahad, 24 April 2011

Enam Kitab Hadis Utama

Oleh Heri Ruslan

Imam az-Zahabi mengatakan, kitab hadis yang ditulis Imam Bukhari merupakan kitab yang tinggi nilainya dan paling baik setelah Alquran.

Di antara sederet kitab hadis yang ditulis para ulama sejak abad ke-2 Hijriah, para ulama lebih banyak merujuk pada enam kitab hadis utama atau Kutub as-Sittah. Keenam kitab hadis yang banyak digunakan para ulama dan umat Islam di seantero dunia itu adalah Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai,  serta Sunan Ibnu Majah.

Sahih al-Bukhari
Kitab hadis ini disusun oleh Imam Bukhari. Sejatinya, nama lengkap kitab itu adalah al-Jami al-Musnad as-Sahih al-Muktasar min Umur Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam wa Sunanihi. Kitab hadis nomor satu ini terbilang unggul karena hadis-hadis yang termuat di dalamnya bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

“Sekalipun ada hadis yang sanadnya terputus atau tanpa sanad sekali, namun hadis itu hanya berupa pengulangan,” tulis Ensiklopedi Islam. Karena kualitas hadisnya yang teruji, Imam az-Zahabi mengatakan, kitab hadis yang ditulis Imam Bukhari merupakan kitab yang tinggi nilainya dan paling baik setelah Alquran.

Dengan penuh ketekunan dan semangat yang sangat tinggi, Imam Bukhari menghabiskan umurnya untuk menulis Shahih al-Bukhari. Ia sangat prihatin dengan banyaknya kitab hadis pada zaman itu yang mencampuradukkan antara hadis sahih, hasan, dan daif tanpa membedakan hadis yang diterima sebagai hujah (maqbul) dan hadis yang ditolak sebagai hujah (mardud).

Imam Bukhari makin giat mengumpulkan, menulis, dan membukukan hadis karena pada waktu itu hadis palsu beredar makin meluas. Selama 15 tahun, Imam Bukhari berkelana dari satu negeri ke negeri lain untuk menemui para guru hadis dan meriwayatkannya dari mereka.

Dalam mencari kebenaran suatu hadis, Imam Bukhari akan menemui periwayatnya di mana pun berada sehingga ia betul-betul yakin akan kebenarannya. Beliau pun sangat ketat dalam meriwayatkan sebuah hadis. “Hadis yang diterimanya adalah hadis yang bersambung sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.”

Tak hanya itu, ia juga memastikan bahwa hadis itu diriwayatkan oleh orang yang adil dan kuat ingatan serta hafalannya. Tak cukup hanya itu, Imam Bukhari juga akan selalu memastikan bahwa antara murid dan guru harus benar-benar bertemu. Contohnya, apabila rangkaian sanadnya terdiri atas Rasulullah SAW-sahabat-tabiin-tabi at tabiin-A -B-Bukhari, beliau akan menemui B secara langsung dan memastikan bahwa B menerima hadis dan bertemu dengan A secara langsung.

Menurut Ibnu hajar al-Asqalani, kitab hadis nomor wahid ini memuat sebanyak 7.397 hadis, termasuk yang ditulis ulang. Imam Bukhari menghafal sekitar 600 ribu  hadis. Ia menghafal hadis itu dari 90 ribu perawi. Hadis itu dibagi dalam bab-bab yang yang terdiri atas akidah, hukum, etika makan dan minum, akhlak, perbuatan baik dan tercela, tarikh, serta sejarah hidup Nabi SAW.

Sahih Muslim
Menurut Imam Nawawi,  kitab Sahih Muslim memuat 7.275 hadis, termasuk yang ditulis ulang. Berbeda dengan Imam Bukhari, Imam Muslim hanya menghafal sekitar 300 ribu hadis atau separuh dari yang dikuasai Imam Bukhari. “Jika tak ada pengulangan, jumlah hadis dalam kitab itu mencapai 4.000,” papar Ensiklopedi Islam.

Imam Muslim meyakini, semua hadis yang tercantum dalam kitab yang disusunnya itu adalah sahih, baik dari sisi sanad maupun matan. Seperti halnya Shahih Bukhari, kitab itu disusun dengan sistematika fikih dengan topiknya yang sama.

Sang imam tergerak untuk mengumpulkan, menulis, dan membukukan hadis karena pada zaman itu ada upaya dari kaum zindik (kafir), para ahli kisah, dan sufi yang berupaya menipu umat dengan hadis yang mereka buat-buat sendiri. Tak heran, jika saat itu umat Islam sulit untuk menilai mana hadis yang benar-benar dari Rasulullah SAW dan bukan.

Soal syarat penetapan hadis sahih, ada perbedaan antara Imam Bukhari dan Imam Muslim. Shahih Muslim tak menerapkan syarat terlalu berat. Imam Muslim berpendapat antara murid (penerima hadis) dan guru (sumber hadis) tak harus bertemu, cukup kedua-duanya hidup pada zaman yang sama.

Sunan Abi Dawud
Kitab ini memuat 5.274 hadis, termasuk yang diulang. Sebanyak 4.800 hadis yang tercantum dalam kitab itu adalah hadis hukum. “Di antara imam yang kitabnya masuk dalam Kutub as-Sittah, Abu Dawud merupakan imam yang paling fakih,” papar Ensiklopedi Islam.

Karenanya, Sunan Abi Dawud dikenal sebagai kitab hadis hukum. Para ulama hadis dan fikih mengakui bahwa seorang mujtahid cukup merujuk pada kitab hadis itu dan Alquran. Ternyata, Abu Dawud menerima hadis itu dari dua imam hadis terdahulu, yakni Imam Bukhari dan Muslim. Berbeda dengan kedua kitab yang disusun kedua gurunya itu,  Sunan Abi Dawud mengandung hadis hasan dan daif. Kitab hadis tersebut juga banyak disyarah oleh ahli hadis sesudahnya.

Sunan at-Tirmidzi
Kitab ini juga dikenal dengan nama Jami’at-Tirmidzi.  Karya Imam at-Tirmidzi ini mengandung 3.959 hadis, terdiri dari yang sahih, hasan, dan daif. Bahkan, menurut Ibnu Qayyim al-Jaujiyah, di dalam kitab itu tercantum sebanyak 30 hadis palsu. Namun, pendapat itu dibantah oleh ahli hadis dari Mesir, Abu Syuhbah.

“Jika dalam kitab itu terdapat hadis palsu, pasti Imam at-Tirmidzi akan menjelaskannya,” tutur Syuhbah. Menurut dia, at-Tirmidzi selalu memberi komentar terhadap kualitas hadis yang dicantumkannya.

Sunan an-Nasa’i

Kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan al-Mujtaba. An-Nasa’i menyusun kitab itu setelah menyeleksi hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang juga ditulisnya berjudul as-Sunan al-Kubra  yang masih mencampurkan antara hadis sahih, hasan, dan daif. Sunan an-Nasa’i  berisi 5.671 hadis, yang menurut Imam an-Nasa’i adalah hadis-hadis sahih.

Dalam kitab ini, hadis daif terbilang sedikit sekali sehingga sebagian ulama ada yang meyakini kitab itu lebih baik dari Sunan Abi Dawud dan Sunan at-Tirmidzi. Tak heran, jika para ulama menjadikan kitab ini rujukan setelah Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Sunan Ibnu Majah
Kitab ini berisi 4.341 hadis. Sebanyak 3.002 hadis di antaranya terdapat dalam al-Kutan al-Khasah dan 1.339 hadis lainnya adalah hadis yang diriwaytkan Ibnu Majah. Awalnya, para ulama tak memasukkan kitab hadis ini ke dalam jajaran Kutub as-Sittah karena di dalamnya masih bercampur antara hadis sahih, hasan, dan daif. Ahli hadis pertama yang memasukkan kitab ini ke dalam jajaran enam hadis utama adalah al-Hafiz Abu al-fadal Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat 507 Hijiriah). N berbagai sumber


Ranking Kualitas Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

Kesahihan sabda Rasulullah SAW yang terkandung dalam sebuah kitab hadis tentu akan menentukan kualitas kitab itu. Para ulama pun menetapkan kitab hadis berdasarkan kualitas sabda Rasulullah SAW ke dalam empat ranking atau peringkat:

”    Peringkat pertama ditempati Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.  Ada pula ulama yang memasukan kitab al-Muwatta karya Imam Malik dalam peringkat pertama.

”     Peringkat kedua ditempati oleh Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, dan Sunan an-Nasai. Para ulama masih berbeda pendapat tentang Sunan Ibnu Majah yang masuk dalam Kutub as-Sittah untuk ditempatkan dalam peringkat kedua.

”    Peringkat ketiga adalah kitab yang banyak memuat hadis daif atau lemah, seperti Musnad Ibnu Abi Syaibah, Musnad Abi Dawud Sulaiman at-Tayalisi, Musnad Abdillah Ibnu Hamid, dan Mussanaf Abd ar-Razzaq.

”    Peringkat keempat adalah kitab-kitab hadis yang ditulis oleh ahli kisah, pendakwah, dan para sufi, seperti Musanaf Ibnu Mardawih dan Musanaf Abi Syaikh.

Beragam Kitab Hadis

Oleh Heri Ruslan

”    Al-ajza.  Kitab yang menghimpun hadis dalam satu topik tertentu. Contohnya Kitab al-Fara’id, yang menghimpun hadis tentang masalah waris. Kitab itu disusun oleh Zaid bin Sabit.

”    Al-atraf.  Kitab yang menghimpun hadis hanya pada awal matannya tanpa menyebut matan hadis seutuhnya. Contohnya, penulisan hadis yang artinya “setiap amalan itu dimulai dengan niat”, hadis riwayat jamaah ahli hadis.

”    Al-Mustadrak. Kitab yang menghimpun hadis tertentu yang memenuhi syarat hadis yang ditulis oleh imam terdahulu, tetapi belum dicantumkan dalam kitabnya. Misalnya, al-Mustadrak ala as-Sahihain yang disusun oleh al-Hakiman an-naisaburi.

”    Al-Mustakhraj. Kitab yang menghimpun hadis yang diambilkan dari salah satu kitab hadis dengan menggunakan  sanad yang berbeda dengan sanad hadis yang dirujuknya atau buku induknya. Misalnya, Mustakhraj yang disusun oleh Muhammad bin Ya’qub asy-Syaibani an-Naisaburi.

”    Al-Jami. Kitab yang menghimpun delapan pokok masalah, seperti akidah, hukum, tafsir, etika makan dan minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi SAW, akhlak, serta perbuatan baik dan buruk.

”    Al-Musnad. Kitab hadis yang penyusunan hadisnya didasarkan atas urutan nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Contohnya, Musnad Ibnu Hanbal.

”    Al-Mu’jam. Kitab hadis yang merupakan kamus besar yang di dalamnya memuat hadis berdasarkan nama sahabat, guru, kabilah, atau menurut tempat hadis didapatkan yang diurut secara alfabetis.

”    As-Sunan, Kitab Hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fikih yang di dalamnya bercampur antara hadis sahih, hasan, dan daif dengan memberi penjelasan terhadap hadis itu. Contohnya, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sunan an-Nasai.

Sumber : http://www.koran.republika.co.id/koran/153/133726/Enam_Kitab_Hadis_Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: