Kelemahan Sistem Pemerintahan Demokrasi Saat Ini

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Tafsir Al Qur’an Surat Al An’am 114-115).

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).  Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (Tafsir Al Qur’an Surat Al An’am 116-117).

Negara demokrasi yang mengatur kehidupan berdasarkan ketetapan-ketetapan yang dibuat oleh manusia (legislatif), dan karena itu kekuasaan (sovereignty) ada di tangan beberapa orang (yang disebut sebagai Parlemen itu).

Dalam demokrasi, dengan sendirinya, diciptakan kelas politisi, yang mengklaim diri mereka mewakili warga negara lainnya, tetapi dalam kenyataannya hanya bertindak untuk menjaga kepentingan tertentu yang diabdinya.. Biasanya mereka itu menghamba kepada orang atau sekelompok orang yang memegang kekayaan dunia. Paling dekat, mereka mewakili kepentingan pribadi mereka.

Sebab teori politik modern didasarkan kepada keyakinan bahwa ‘Kekuasaan” ada di tangan ‘rakyat’ dan di luar itu diberi arti sebagai “tirani”.

Pada kenyataannya, sekelompok orang yang memegang kekayaan dunia ini, mengatur informasi dunia dan hiburan dan tayangan-tayangan lain, untuk mengarahkan semua penduduk, sehingga mayoritas penduduk mempunyai opini/pendapat atau image/citra, sesuai dengan kepentingan mereka. Kalau mereka ingin bahwa kaum muslim adalah kaum yang terbelakang dan penuh kekerasan (teroris), maka diciptakanlah pencitraan itu. Bila perlu mereka merekayasanya demi pencitraan itu. Itulah yang mereka katakan sistem demokrasi dan bukan tirani.  Contoh rekayasanya termuat pada berita ini :” AS Melatih Penegak Hukumnya Takut Pada “Terorisme” Islam

(http://www.suaramedia.com/berita-dunia/dunia-islam/40011-as-melatih-penegak-hukumnya-takut-pada-qterorismeq-islam.html)

Apalagi mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi memprihatinkan keadaan ini dengan mengatakan :

“Saat ini sulit mencari pemimpin yang memiliki kejujuran, karena pemimpin politik yang memegang jabatan berangkat dari demokrasi yang transaksional. ujar mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan saat acara Tasyakuran Kemenangan Cabup-Cawabup Tuban, KH Fathul Huda-Noornahar Husein di Tuban, Senin (7/3/2011).

Menurut pimpinan Ponpes Al-Hikmah Malang ini, Indonesia bukannya kekurangan orang pintar. Namun negeri ini kekurangan orang yang jujur.

“Saat ini demokrasi telah menjadi industri, demokrasi yang terjadi adalah demokrasi transaksional. Siapapun yang kaya bisa menjadi pemimpin. Dalam kondisi seperti ini sulit orang yang jujur karena orang miskin tidak bisa menjadi pemimpin,” terang tokoh yang lahir di Tuban ini.

Akan tetapi, tambah dia, fenomena yang berkembang  saat ini kejujuran pribadi mulai bergeser pada kejujuran sosial. Artinya, seorang tokoh yang jujur saat menjadi pemimpin bisa saja kejujurannya merosot karena dikelilingi orang yang tidak jujur. Padahal, mereka ikut andil ketika pemimpin itu memegang kekuasaan.

“Kondisi inilah yang merepotkan juga, karena meskipun memiliki kompetensi, pemimpin tersebut tak bisa berbuat banyak terhadap perilaku orang di sekelilingnya. Ini yang sering terjadi,” terangnya.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/03/07/142626/1586044/10/hasyim-muzadi-reshuffle-tak-pengaruhi-keterpurukan-negara?n991102605

Banyak diantara warga negara Indonesia yang tidak memahami bahwa betapa babak belurnya Indonesia akibat menerapkan sistem demokrasi yang telah dilaksanakan sampai saat ini. Lihatlah artikel di

http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/03/07/13645/atas-nama-demokrasi-indonesia-babak-belur/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+voa-islam-com+%28Voice+of+Al+Islam%29

Pelaksanaan pemilu yang merupakan  salah satu pilar demokrasi ini telah menelan biaya yang luar biasa besarnya. Padahal notabene anggaran yang digunakan adalah mengambil uang rakyat.

Biaya yang sangat besar tersebut ternyata gagal menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Begitu pula buah dari demokrasi prosedular  telah berdampak negatif bagi kehidupan spiritual masyarakat, di mana kasus money politik dan suap menyuap  ini rentan terjadi di tingkat kelurahan sampai tingkat pusat yang mungkin tak terhitung lagi jumlahnya.

Demokrasi memiliki asas kedaulatan di tangan rakyat. Artinya rakyatlah yang membuat hukum atau Undang-Undang. Fakta di Indonesia, rakyat mengamanahkan para wakilnya yang duduk di parlemen yang terpilih dalam pemilu. Namun pada kenyataannya yang berdaulat adalah para pemilik modal.

Kemudian munculnya UU Migas, UU Air, RUU Investasi, UU listrik, dll adalah bukti nyata adanya intervensi asing, bahkan diakui sendiri oleh anggota Komisi IV DPR RI Siswono Yudhohusodo, bahwa setidaknya ada 60 produk perundangan Indonesia yang dipengaruhi kepentingan perusahaan asing dan sangat merugikan kepentingan nasional. (RM online 20/10/10).

 

Lebih lanjut mengenai kelemahan sistem demokrasi dapat dibaca pada artilek di bawah ini :

 

Depok, 07 Maret 2011
Demokrasi Versus Nomokrasi
Zaim Saidi – Direktur Wakala Induk Nusantara
(Sebuah penjelasan yang jarang diperoleh tentang tata pemerintahan Islam versus humanis-atheis).

Pengorganisasian masyarakat Islam dilaksanakan dalam suatu tatanan masyarakat kesejahteraan yang dijalankan oleh suatu Daulah, mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam syariah. Menurut Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi (2002) dalam Sultaniyya kata Daulah (Arab: Dawla) memiliki akar kata dal-alif-lam dan memiliki arti ‘merubah setiap saat, mengambil giliran, menggantikan dan memutar’. Kata ini juga bermakna ‘memenangkan dan mengungguli'; juga memiliki arti ‘menukar, dan meneruskan’.

Dari sini dijelaskan pengertiannya yang lebih luas bahwa tatanan politik Islam harus didasarkan kepada pergerakan dan pemerataan kekayaan.

Tiga kekuatan yang melekat di dalamnya yang akan menggerakkan kekayaan ini adalah: pasar dan perdagangan, zakat, dan sebagai instrumen pemerataan terakhir, melalui jalan pembagian harta pampasan perang (ghanam).

Nomokrasi

Tatanan politik Islam in dapat dikenali sebagai Nomokrasi: bermakna ‘hukum yang berkuasa’ (rule of law).

Berbeda dari demokrasi yang mengenal tiga pilar sebagaimana disebut di atas nomokrasi hanya mengenal dua pilar: eksekutif dan yudikatif. Dalam tata pemerintahan Islam tidak dikenal lembaga legislatif. Dengan kata lain, berbeda dari negara demokrasi yang mengatur kehidupan berdasarkan ketetapan-ketetapan yang dibuat oleh manusia (legislatif), dan karena itu kekuasaan (sovereignty) ada di tangan beberapa orang (yang disebut sebagai Parlemen itu), nomokrasi Islam mengatur kehidupan berdasarkan hukum sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariah.

Konsekuensi pertama dari tata pemerintahan yang berbeda ini adalah ada atau tidaknya ‘kelas politisi’.

Dalam demokrasi, dengan sendirinya, diciptakan kelas politisi, yang mengklaim diri mereka mewakili warga negara lainnya, tetapi dalam kenyataannya hanya bertindak untuk menjaga kepentingan tertentu yang diabdinya. Paling jauh mereka mewakili kepentingan pribadi mereka.

Dalam nomokrasi Islam tidak dimungkinkan terciptanya ‘kelas politisi’, apalagi ‘kelas kapitalis’, karena dua alasan.

Pertama, Islam tidak mengenal konsep perwakilan politik sebagaimana telah disebutkan di atas.

Kedua karena riba dilarang dalam Islam, mekanisme utama terbangunnya kapitalisme tidak dimungkinkan.

Untuk mempertegasnya, sekali lagi, tata pemerintahan Islam tidak dijalankan atas dasar kekuasaan pada manusia (konstitusi, Parlemen) melainkan atas dasar ketentuan hukum (rule of law, syariah).

Hukum buatan manusia bukanlah hukum yang sebenarnya yang bertujuan menciptakan keadilan, melainkan cerminan kepentingan-kepentingan mereka yang menyusunnya. Dalam nomokrasi, kalaupun ada semacam Parlemen maka perannya bukanlah membuat dan menetapkan undang-undang, tetapi merupakan lembaga konsultatif, yang dikenal sebagai shura. Hukum syariah juga bukan ‘milik’ eksekutif, karena ia bersifat abadi.

Para fuqaha yang mengendalikan cabang eksekutif semata-mata hanya menafsirkan syariah berdasarkan ketentuan fikih. Kita akan kembali membahas soal ini nanti, dan menunjukkan kekeliruan para pembaru Islam, yang mengajukan suatu konsepsi yang disebut sebagai ‘sistem hukum modern berdasarkan syariah’.

Pembentukan otoritas dalam nomokrasi Islam, yang sekaligus menjadi sumber legitimasinya, tidak dilakukan dengan cara ‘pemilihan umum’ sebagaimana dalam sistem demokrasi, melainkan melalui pengakuan langsung atas otoritas sang pemimpin (baiat).

Penegakkan Amr

Pengakuan dan pembentukan otoritas (amr), dalam Islam, wajib hukumnya.

Al Mawardi dalam bukunya, Al Ahkam as-Sultaniyyah mengatakan, ‘Kepemimpinan ditetapkan untuk melanjutkan kerasulan sebagai cara untuk menjaga dien dan mengelola urusan dunia’.

Ibn Khaldun, dalam bukunya Muqaddimah, juga menyatakan hal yang sama. Ia mengatakan, ‘otoritas untuk dapat melakukannya (memenuhi ketetapan syariah dan urusan dunia) dipegang oleh wakil hukum agama, yakni Rasul; dan kemudian pihak yang meneruskannya, para khalifah’. Dan otoritas yang terbentuk ini, seperti telah disinggung di atas, tidak mewakili kehendak kolektif rakyat – yang bisa benar atau salah – tetapi mewakili kehendak Allah, yang tidak mungkin salah.

Satu-satunya standar untuk mengevaluasi otoritas bersangkutan adalah apakah ia accountable atau tidak terhadap ketetapan syariah. Dengan kata lain, sang pemimpin, harus tunduk terhadap ketetapan otoritas yang lebih tinggiyang bukan datang dari manusia lain (yang diklaim sebagai ‘rakyat’ [Konstitusi] dalam sistem demokrasi), tetapi dari Allah. Di sini fungsi sebenarnya para fuqaha adalah sebagai kekuatan pengendali para pemegang otoritas, bukan seperti yang terjadi di zaman kini ketika para ulam ajustru mengambilalih kepemimpinan umat. Akibatnya, terbentuklah semacam ‘kerahiban’ di satu sisi, dan kevakuman kepemimpinan politik umat di lain sisi.

Dalam buku-buku teks ilmu politik pandangan semacam ini, tentu saja, tidak pernah dituliskan. Sebab teori politik modern didasarkan kepada keyakinan bahwa ‘Kekuasaan” ada di tangan ‘rakyat’ dan di luar itu diberi arti sebagai tirani.

Dalam Islam otoritas tertinggi dan valid tiada lain, tentu saja, adalah yang ada pada Allah sendiri. Inilah nomokrasi yang, secara pejoratif, acap dilabelisasi sebagai teo-krasi.

Nomokrasi merupakan tatanan masyarakat yang berdasarkan pada fitrah.

Sedangkan demokrasi, atau tepatnya sistem negara struktural, adalah tatanan masyarakat yang dikendalikan oleh sebuah mesin kekuasaan, sistem yang dirancang atas dasar rasionalisme. Tujuan negara struktural adalah untuk mengendalikan dan menindas hak-hak pribadi warga negaranya sendiri.

Dalam konteks ini dengan mudah dapat ditunjukkan inkonsistensi ‘teori politik Islam’ yang mengajarkan tentang ‘demokrasi Islam’. Seorang pemimpin yang menetapkan bahwa ‘riba itu haram’ berarti ia bertindak ‘mewakili’ Allah dengan menjalankan syariah. Ia menjadi penguasa yang accountable.

Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak. Seandainya mayoritas, kehendak kolektif publik, mengatakan bahwa ‘riba itu halal’ dan penguasa mengikutinya dan memutuskan bahwa ‘riba itu halal’, ia telah bertindak demokratis. Tapi, keputusan ini tidak lantas menafikan ketetapan syariah, bahwa ‘riba itu haram’. Hal ini hanya membuktikan bahwa ‘perwakilan rakyat’, bagaimana pun, tidak dapat melangkahi otoritas Allah.

Daulah Islam, berbeda dengan negara fiskal, tidak menarik pajak dari warganya. Satu-satunya ‘pajak’ yang ditariknya, secara terbatas kepada orang kaya saja dan dalam proporsi yang sangat kecil (tergantung komoditas yang terkena ketentuan), adalah zakat. Zakat, tidak seperti pajak, tidak sedikitpun yang dibolehkan untuk dipakai membiayai keperluan pemerintahan, melainkan sepenuhnya harus didistribusikan kepada anggota masyarakat yang berhak. Pembagian zakat harus dilaksanakan dalam waktu yang sangat segera dan karenanya tidak dimungkinkan terjadinya penimbunan(yang dalam konteks sekarang berarti berada dalam sistem perbankan). Pendapat sejumlah orang yangmengatakan bahwa pajak adalah ‘zakat modern’ sungguh keblinger. Zakat bukan (sumber) pendapatan pemerintah, tetapi merupakan bagian dari kewajiban pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Islam Tak Mengenal Negara

Di sini sangat penting bagi kita untuk memahami makna istilah ‘negara’ secara tepat. Kita harus menemukan padanan yang paling sesuai dengan hukum Islam untuk suatu pengertian yang mengacu kepada suatu fungsi otoritas. Istilah yang tepat untuk itu hanyalah ‘pemerintahan’ (government) bukan ‘negara’ (state) yang secara lebih tepat berarti ‘negara fiskal’ (fiscal state) sebagaimana telah diuraikan di atas. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dan akan kita buktikan segera di sini, negara fiskal adalah konsepsi negara kapitalis yang asing bagi Islam.

Dengan sangat mudah dapat dibuktikan, di dalam mesin kekuasaan negara fiskal – negara-negara republik dan demokratis atau monarki parlementer atau negara sosialis – sebgaian besar pajak yang dikumpulkan negara dari rakyatnya berasal dari atau kembali kepada (sistem) perbankan. Modus ini beroperasi sejak awal terbentuknya negara fiskal ini, mengikuti diakhirinya tata pemerintahan personal di Eropa pada awal abad ke-18 dan abad ke-19. Perubahan radikal tata pemerintahan ini dimulai oleh Revolusi Perancis (1789), kemudian Revolusi 1848 (gerakan republikanisme) yang terjadi di berbagai wilayah Eropa.

Dalam kapitalisme lanjut di zaman modern kini negara-bangsa justru kembali menjadi tidak relevan. Kedaulatan politik pada tingkat pemerintahan nasional telah hilang karena telah dipisahkan dari motor sumber kekuasaan itu, yakni uang. Rezim pemerintahan sah yang dibentuk melalui prosedur demokrasi (Pemilihan Umum) tidak lagi menjadi kewenangan, karena telah diambilalih oleh ‘Kekuatan Uang’ internasional. Prosedur pemilu demokratis itu sendiri telah sepenuhnya menjadi sekadar formula aritmatik yang berfungsi sebagai mesin politik yang menghasilkan pemimpin-pemimpin berkualitas buruk yang sebelumnya – melalui mekanisme partai politik – telah ditapis oleh kekuatan uang. Siapapun yang mampu mengumpulkan angka (suara) terbanyak;, yang dapat diperoleh dengan kekuatan uang (tanpa harus berarti membeli suara), dia yang akan memimpin.

*Kutipan dari buku “Ilusi Demokrasi” Bab 1- buku ini dapat diperoleh di Dinar Shop

Sumber : http://wakalanusantara.com/detilurl/Demokrasi.Versus.Nomokrasi/715/id

2 Tanggapan

  1. Apapun bentuk pemerintahan yang kita anut, tetapi ingat semuannya berpulang kepada rakyat. dan bagi para pejabat jangan terlalu banyak jual janji sebab rakyat membutuhkan sebuah bukti dari apa yang kalian katakan .

    • Benar bung Yohan,
      Media massa tayangan-tayangan saat ini sangat berpengaruh dlm mengarahkan rakyat.
      Di AS pun rakyat dibohongi untuk mendukung pemimpin dan tindakannya yg didasari oleh alasan palsu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: